<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pentingnya Penanganan Global untuk Atasi Sampah Plastik di Laut</title><description>Polusi laut menjadi perhatian global terutama berkaitan dengan sampah plastik.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/10/27/320/1969665/pentingnya-penanganan-global-untuk-atasi-sampah-plastik-di-laut</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/10/27/320/1969665/pentingnya-penanganan-global-untuk-atasi-sampah-plastik-di-laut"/><item><title>Pentingnya Penanganan Global untuk Atasi Sampah Plastik di Laut</title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/10/27/320/1969665/pentingnya-penanganan-global-untuk-atasi-sampah-plastik-di-laut</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/10/27/320/1969665/pentingnya-penanganan-global-untuk-atasi-sampah-plastik-di-laut</guid><pubDate>Sabtu 27 Oktober 2018 12:30 WIB</pubDate><dc:creator>Feby Novalius</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/10/27/320/1969665/pentingnya-penanganan-global-untuk-atasi-sampah-plastik-di-laut-IwLZ5lfqwm.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Reuters</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/10/27/320/1969665/pentingnya-penanganan-global-untuk-atasi-sampah-plastik-di-laut-IwLZ5lfqwm.jpg</image><title>Foto: Reuters</title></images><description>JAKARTA - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya dan Direktur Kelautan United Nation Enviroment Programm  (UNEP) Lisa Emelia Swenson melakukan  evaluasi akhir kesiapan The 4th Intergovermental Review Meeting on the Implementation of the Global Programme of Action for the Protection of the Marine Environment from Land-Based Activities (IGR-4)  yang akan dilaksanakan 31 Oktober - 1 November 2018 di kawasan Nusa Dua, Bali.

IGR meeting ke-4 ini mengambil tema Pollution in Ocean and Land Connection. Sebab polusi merupakan masalah yang sangat serius menyangkut polusi air dan udara. Polusi laut menjadi perhatian global terutama berkaitan dengan sampah plastik.

Materi yang akan dibahas meliputi hal pokok  program aksi program, yang meliputi kolaborasi untuk tindak lanjut resolusi  dan komitmen tindakan dari hasil meeting UNEA-3; konfirmasi komitmen negara untuk semua konvensi dan rencana aksi.
&amp;nbsp;Baca Juga: Menteri Susi Bakal Bersihkan Sampah Laut dari Sabang Sampai Merauke
Menurut Siti, IGR meeting ini penting untuk  setting politik negara-negara dalam penguatan kebijakan dan strategi dalam perlindungan lingkungan termasuk laut dalam kapasitas SDM, dan untuk mencapai sasaran dari pencemaran. Juga penting untuk  proses belajar dan tukar pengalaman dalam kerjasama, penguatan kebijakan dan lain-lain, penguatan inisiatif program/kegiatan secara nyata  dan langkah-langkah aksi lapangannya.

&quot;Kita berharap hasil yang baik dari IGR-4 ini,&quot; kata Siti dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Sabtu (27/10/2018).

Siti menjelaskan, Indonesia menerima mandat pelaksanaan IGR meeting ini sejak tahun 2017, tapi karena erupsi maka diundur menjadi tahun 2018 ini diselenggaralan oleh UNEP dan dilaksanakan oleh Indonesia sebagai tuan rumah.

Dari 108 negara anggota sudah  terdaftar, 89 negara yang sudah menyatakan akan hadir dengan sekitar 300-400 pejabat pemerintah di dunia yang akan hadir.
&amp;nbsp;Baca Juga: Perangi Sampah Plastik di Laut, Menko Luhut Pakai 'Senjata' Ini
Secara regional, penyelarasan  target regional dan  nasional terkait pencemaran dikaitkan dengan ageda SDGs 2030 termasuk target sukarela bebas pencemaran serta opsi-opsi operasional. &quot;Bisa juga nanti akan berkembang pada ide-ide inisiatif berbagai negara. Juga akan dibahas agenda untuk 2018-2022,&quot; paparnya.

Untuk Indonesia,  lanjut Siti komitmen mengatasi  pencemaran cukup jelas. Hanya saja dibutuhkan langkah  nyata  penanganannya.

&quot;Kita memerlukan berbagai kondisi/circumstances untuk mengatasinya  dengan nyata dan cepat,&quot; katanya.
Untuk penanganan sampah  misalnya  di  Indonesia komitmen  semakin  kuat dengan keluarnya Perpres nomor 83 tahun 2018 tentang penanganan  sampah laut pada tanggal 17 September lalu. Juga langkah-langkah inovasi   dan persiapan-persiapan  pengaturan  Extended Producer Responsibilty  (EPR), Bank Sampah, dan Bank Sampah online berbasis aplikasi smartphone  dan sebagainya.

&amp;ldquo;Kolaborasi Pemerintah, Pemda, pelaku bisnis dan masyarakat, serta  para penggiat atau aktivis merupakan kunci sukses. Pemerintah akan terus  mendorong dan fasilitasi. Kita selesaikan bersama,&amp;rdquo; ujar Siti.</description><content:encoded>JAKARTA - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya dan Direktur Kelautan United Nation Enviroment Programm  (UNEP) Lisa Emelia Swenson melakukan  evaluasi akhir kesiapan The 4th Intergovermental Review Meeting on the Implementation of the Global Programme of Action for the Protection of the Marine Environment from Land-Based Activities (IGR-4)  yang akan dilaksanakan 31 Oktober - 1 November 2018 di kawasan Nusa Dua, Bali.

IGR meeting ke-4 ini mengambil tema Pollution in Ocean and Land Connection. Sebab polusi merupakan masalah yang sangat serius menyangkut polusi air dan udara. Polusi laut menjadi perhatian global terutama berkaitan dengan sampah plastik.

Materi yang akan dibahas meliputi hal pokok  program aksi program, yang meliputi kolaborasi untuk tindak lanjut resolusi  dan komitmen tindakan dari hasil meeting UNEA-3; konfirmasi komitmen negara untuk semua konvensi dan rencana aksi.
&amp;nbsp;Baca Juga: Menteri Susi Bakal Bersihkan Sampah Laut dari Sabang Sampai Merauke
Menurut Siti, IGR meeting ini penting untuk  setting politik negara-negara dalam penguatan kebijakan dan strategi dalam perlindungan lingkungan termasuk laut dalam kapasitas SDM, dan untuk mencapai sasaran dari pencemaran. Juga penting untuk  proses belajar dan tukar pengalaman dalam kerjasama, penguatan kebijakan dan lain-lain, penguatan inisiatif program/kegiatan secara nyata  dan langkah-langkah aksi lapangannya.

&quot;Kita berharap hasil yang baik dari IGR-4 ini,&quot; kata Siti dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Sabtu (27/10/2018).

Siti menjelaskan, Indonesia menerima mandat pelaksanaan IGR meeting ini sejak tahun 2017, tapi karena erupsi maka diundur menjadi tahun 2018 ini diselenggaralan oleh UNEP dan dilaksanakan oleh Indonesia sebagai tuan rumah.

Dari 108 negara anggota sudah  terdaftar, 89 negara yang sudah menyatakan akan hadir dengan sekitar 300-400 pejabat pemerintah di dunia yang akan hadir.
&amp;nbsp;Baca Juga: Perangi Sampah Plastik di Laut, Menko Luhut Pakai 'Senjata' Ini
Secara regional, penyelarasan  target regional dan  nasional terkait pencemaran dikaitkan dengan ageda SDGs 2030 termasuk target sukarela bebas pencemaran serta opsi-opsi operasional. &quot;Bisa juga nanti akan berkembang pada ide-ide inisiatif berbagai negara. Juga akan dibahas agenda untuk 2018-2022,&quot; paparnya.

Untuk Indonesia,  lanjut Siti komitmen mengatasi  pencemaran cukup jelas. Hanya saja dibutuhkan langkah  nyata  penanganannya.

&quot;Kita memerlukan berbagai kondisi/circumstances untuk mengatasinya  dengan nyata dan cepat,&quot; katanya.
Untuk penanganan sampah  misalnya  di  Indonesia komitmen  semakin  kuat dengan keluarnya Perpres nomor 83 tahun 2018 tentang penanganan  sampah laut pada tanggal 17 September lalu. Juga langkah-langkah inovasi   dan persiapan-persiapan  pengaturan  Extended Producer Responsibilty  (EPR), Bank Sampah, dan Bank Sampah online berbasis aplikasi smartphone  dan sebagainya.

&amp;ldquo;Kolaborasi Pemerintah, Pemda, pelaku bisnis dan masyarakat, serta  para penggiat atau aktivis merupakan kunci sukses. Pemerintah akan terus  mendorong dan fasilitasi. Kita selesaikan bersama,&amp;rdquo; ujar Siti.</content:encoded></item></channel></rss>
