<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pertumbuhan Ekonomi 5,17%, Pendorongnya Konsumsi Rumah Tangga dan Industri Pengolahan</title><description>Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III 2018 sebesar 5,17%.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/11/05/20/1973463/pertumbuhan-ekonomi-5-17-pendorongnya-konsumsi-rumah-tangga-dan-industri-pengolahan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/11/05/20/1973463/pertumbuhan-ekonomi-5-17-pendorongnya-konsumsi-rumah-tangga-dan-industri-pengolahan"/><item><title>Pertumbuhan Ekonomi 5,17%, Pendorongnya Konsumsi Rumah Tangga dan Industri Pengolahan</title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/11/05/20/1973463/pertumbuhan-ekonomi-5-17-pendorongnya-konsumsi-rumah-tangga-dan-industri-pengolahan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/11/05/20/1973463/pertumbuhan-ekonomi-5-17-pendorongnya-konsumsi-rumah-tangga-dan-industri-pengolahan</guid><pubDate>Senin 05 November 2018 13:41 WIB</pubDate><dc:creator>Yohana Artha Uly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/11/05/20/1973463/pertumbuhan-ekonomi-5-17-pendorongnya-konsumsi-rumah-tangga-dan-industri-pengolahan-eIv160F2kt.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Shutterstock</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/11/05/20/1973463/pertumbuhan-ekonomi-5-17-pendorongnya-konsumsi-rumah-tangga-dan-industri-pengolahan-eIv160F2kt.jpeg</image><title>Ilustrasi: Shutterstock</title></images><description>JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III 2018 sebesar 5,17%. Lebih rendah dibandingkan kuartal II 2018 yang sebesar 5,27% yoy.
Meski demikian, pertumbuhan ini lebih baik dibandingkan kuartal III pada tahun-tahun sebelumnya. Pada kuartal III 2017 sebesar 5,06%, di 2016 5,03%.
&quot;Jadi memang pertumbuhan kuartal III 2018 paling baik dari tahun-tahun sebelumnya,&quot; ujar Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (5/11/2018).
Baca Juga: BPS: Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III-2018 Capai 5,17%
 
Kecuk, sapaan akrabnya, menjelaskan dari sisi produksi realisasi ini didorong pertumbuhan lapangan usaha dengan kontribusi tertinggi dari industri pengolahan sebesar 19,88% pada Produk Domestik Bruto (PDB). Sedangkan dari sisi pengeluaran didorong pertumbuhan konsumsi rumah tangga dengan kontribusi tertinggi yakni sebesar 2,69% pada PDB.
Dia menjelaskan, dari sisi produksi, pertumbuhan didukung semua lapangan usaha. Namun Lapangan Usaha Jasa Lainnya mengalami pertumbuhan tertinggi yakni 9,19%, tapi kontribusinya tak signifikan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, hanya sebesar 1,79% kepada PDB.
&quot;Kemudian disusul Jasa Perusahaan 8,87%, kontribusinya1,77% terhadap pertumbuhan ekonomi. Serta Informasi dan Komunikasi sebesar 8,98% dengan kontribusinya 3,75%,&quot; sebutnya dalam konferensi pers di Gedung BPS, Jakarta, Senin (6/8/2018).

Sementara, sektor Industri Pengolahan masih memegang peranan terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi, dengan pertumbuhan 4,33% atau berkontribusi 19,66% pada PDB. Secara rinci, industri batu bara dan pengilangan migas malah turun 1,63%, sementara industri non migas naik 5,01%.
Kemudian dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh komponen pengeluaran konsumsi lembaga nonprofit yang melayani  rumah tangga (PK-LNRT) sebesar 8,54%. Tak berperan signifikan, hanya menyumbang 1,19% terhadap PDB.
&quot;Menguat karena adanya berbagai kegiatan dalam rangka persiapan Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden,&quot; kata dia.
Baca Juga: BI: Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III Tak Jauh dari 5,27%
 
Seperti biasa, pertumbuhan ekonomi masih ditopang konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,01% yoy di kuartal III 2018 atau dengan berkontribusi sebanyak 55,26% terhadap PDB. Angka ini meningkat dibandingkan dari realisasi kuartal III 2017 yang sebesar 4,93%.
Adapun pendorong pertumbuhan konsumsi rumah tangga antara lain dipengaruhi penjualan eceran yang tumbuh 4,21% dan penjualan wholeshale mobil penumpangan tumbuh 8,40%. Serta peningkatan nilai transaksi kartu debit, kartu kredit, dan uang elektronik sebesar 11,94%.
&quot;Itu artinya daya beli rumah tangga itu masih bagus,&quot; ucapnya.

Sementara, dari sisi investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 6,96% atau berkontribusi 32,12% terhadap PDB. Kemudian konsumsi pemerintah tumbuh 6,28% atau berkontribusi 8,70% terhadap PDB.
Di sisi lain, kinerja ekspor yang mengalami pertumbuhan 7,52% di kuartal III 2018 atau berkontribusi 22,14% pada PDB. Namun masih kalah dari pertumbuhan impor yang sebesar 14,08% atau berkontribusi -22,81% pada PDB. Menyumbang terjadinya defisit sehingga mempengaruhi kinerja pertumbuhan ekonomi.
&quot;Impor yang tinggi menjadi pengurang sehingga defisit. Pemerintah sudah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk menekan defisit, semoga kebijakan ini lancar sehingga mengurangi defisit,&quot; jelasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III 2018 sebesar 5,17%. Lebih rendah dibandingkan kuartal II 2018 yang sebesar 5,27% yoy.
Meski demikian, pertumbuhan ini lebih baik dibandingkan kuartal III pada tahun-tahun sebelumnya. Pada kuartal III 2017 sebesar 5,06%, di 2016 5,03%.
&quot;Jadi memang pertumbuhan kuartal III 2018 paling baik dari tahun-tahun sebelumnya,&quot; ujar Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (5/11/2018).
Baca Juga: BPS: Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III-2018 Capai 5,17%
 
Kecuk, sapaan akrabnya, menjelaskan dari sisi produksi realisasi ini didorong pertumbuhan lapangan usaha dengan kontribusi tertinggi dari industri pengolahan sebesar 19,88% pada Produk Domestik Bruto (PDB). Sedangkan dari sisi pengeluaran didorong pertumbuhan konsumsi rumah tangga dengan kontribusi tertinggi yakni sebesar 2,69% pada PDB.
Dia menjelaskan, dari sisi produksi, pertumbuhan didukung semua lapangan usaha. Namun Lapangan Usaha Jasa Lainnya mengalami pertumbuhan tertinggi yakni 9,19%, tapi kontribusinya tak signifikan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, hanya sebesar 1,79% kepada PDB.
&quot;Kemudian disusul Jasa Perusahaan 8,87%, kontribusinya1,77% terhadap pertumbuhan ekonomi. Serta Informasi dan Komunikasi sebesar 8,98% dengan kontribusinya 3,75%,&quot; sebutnya dalam konferensi pers di Gedung BPS, Jakarta, Senin (6/8/2018).

Sementara, sektor Industri Pengolahan masih memegang peranan terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi, dengan pertumbuhan 4,33% atau berkontribusi 19,66% pada PDB. Secara rinci, industri batu bara dan pengilangan migas malah turun 1,63%, sementara industri non migas naik 5,01%.
Kemudian dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh komponen pengeluaran konsumsi lembaga nonprofit yang melayani  rumah tangga (PK-LNRT) sebesar 8,54%. Tak berperan signifikan, hanya menyumbang 1,19% terhadap PDB.
&quot;Menguat karena adanya berbagai kegiatan dalam rangka persiapan Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden,&quot; kata dia.
Baca Juga: BI: Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III Tak Jauh dari 5,27%
 
Seperti biasa, pertumbuhan ekonomi masih ditopang konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,01% yoy di kuartal III 2018 atau dengan berkontribusi sebanyak 55,26% terhadap PDB. Angka ini meningkat dibandingkan dari realisasi kuartal III 2017 yang sebesar 4,93%.
Adapun pendorong pertumbuhan konsumsi rumah tangga antara lain dipengaruhi penjualan eceran yang tumbuh 4,21% dan penjualan wholeshale mobil penumpangan tumbuh 8,40%. Serta peningkatan nilai transaksi kartu debit, kartu kredit, dan uang elektronik sebesar 11,94%.
&quot;Itu artinya daya beli rumah tangga itu masih bagus,&quot; ucapnya.

Sementara, dari sisi investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 6,96% atau berkontribusi 32,12% terhadap PDB. Kemudian konsumsi pemerintah tumbuh 6,28% atau berkontribusi 8,70% terhadap PDB.
Di sisi lain, kinerja ekspor yang mengalami pertumbuhan 7,52% di kuartal III 2018 atau berkontribusi 22,14% pada PDB. Namun masih kalah dari pertumbuhan impor yang sebesar 14,08% atau berkontribusi -22,81% pada PDB. Menyumbang terjadinya defisit sehingga mempengaruhi kinerja pertumbuhan ekonomi.
&quot;Impor yang tinggi menjadi pengurang sehingga defisit. Pemerintah sudah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk menekan defisit, semoga kebijakan ini lancar sehingga mengurangi defisit,&quot; jelasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
