<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sukses Berbisnis Mobil Mewah, Pria Ini Kaya di Usia Muda</title><description>Walau terlahir di keluarga dokter, profesi dokter sepertinya kurang menarik bagi Rudy Salim.&amp;nbsp;</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/11/07/320/1974411/sukses-berbisnis-mobil-mewah-pria-ini-kaya-di-usia-muda</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/11/07/320/1974411/sukses-berbisnis-mobil-mewah-pria-ini-kaya-di-usia-muda"/><item><title>Sukses Berbisnis Mobil Mewah, Pria Ini Kaya di Usia Muda</title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/11/07/320/1974411/sukses-berbisnis-mobil-mewah-pria-ini-kaya-di-usia-muda</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/11/07/320/1974411/sukses-berbisnis-mobil-mewah-pria-ini-kaya-di-usia-muda</guid><pubDate>Rabu 07 November 2018 11:42 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/11/07/320/1974411/sukses-berbisnis-mobil-mewah-pria-ini-kaya-di-usia-muda-EQBwgYEoW5.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Koran Sindo</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/11/07/320/1974411/sukses-berbisnis-mobil-mewah-pria-ini-kaya-di-usia-muda-EQBwgYEoW5.jpg</image><title>Foto: Koran Sindo</title></images><description>JAKARTA - Walau terlahir di keluarga dokter, profesi dokter sepertinya kurang menarik bagi Rudy Salim. Dia juga lebih senang menjadi pebisnis dan sukses dalam usia muda. Lahir dari keluarga berlatar belakang profesi dokter membuat anak bungsu dari tiga bersaudara ini terdidik untuk sukses berkarier menjadi dokter.
Namun, profesi mulia ini memang bukanlah passion Rudy Salim sejak dulu. Diakui pria berusia 31 tahun tersebut, ketertarikan dan cita-citanya sejak kecil adalah menjadi arsitek dan bergelut di bidang properti.
&amp;ldquo;Saya suka bangun-membangun, tapi untuk menjadi arsitek, belajar ilmunya tidak gampang, sementara saya tidak begitu suka sekolah,&amp;rdquo; sebut Rudy saat ditemui KORAN SINDO seusai menjadi pembicara dalam business talk yang diadakan Buddhist Fellow ship Indonesia, belum lama ini.
Baca Juga: Bos VietJet Jadi Wanita Terkaya di Asean, Berapa Kekayaannya?
 
Meski tidak menjadi arsitek, keinginannya bergelut di bidang properti tetap bisa terlaksana. Rudy justru sekarang mempekerjakan arsitek untuk bisa mewujudkan visinya. Karena selain automotif yang menjadi hobinya, ada lini bisnis real estate yang kini juga sedang dia bangun bersama beberapa jenis bidang usaha lain.
Di antaranya food industry, lifestyle, technology , dan entertainment . Rudy sempat mencicipi bangku kuliah fakultas kedokteran di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta, hanya dua semester.

Lantas drop out dari kampus, dia menjual mobil pemberian orang tuanya. Kebetulan memang sang mama cukup memanjakan. Mobil tersebut bukan kelas biasa. Bahkan, saat dijual, dihargai sekitar Rp400 juta.
Kemudian anak bungsu dari tiga bersaudara ini menjadikannya modal usaha pertama, yaitu membiayai kredit secara online pada 2006 silam ketika Rudy masih berusia 19 tahun. Selang dua minggu hasil menjual mobil untuk usahanya habis untuk permodalan.
Baca Juga: Mengenang Perjalanan Vichai Srivaddhanaprabha hingga Jadi Konglomerat Thailand
 
Lalu Rudy membuka investasi dengan mencari investor baru hingga Exel Trade Indonesia, perusahaan pertamanya menjalankan koorporasi mandiri sampai sekarang. Tentu saja tak selalu mulus perjalanan bisnisnya.
Rudy juga mencoba berbagai jenis lini usaha lain. Seperti industri perfilman, dia bekerja sama dengan RA Production milik artis Raffi Ahmad yang memproduksi berbagai film seperti Dim Sum Martabak, Kesempatan Keduda, dan juga Nyai dalam genre film horor.
&amp;ldquo;Usaha itu ada naik, ada yang turun. Sementara bisnis itu harus untung. Ka rena itu, saya mem buat ba nyak peluang bisnis lain. Ada entertaint , F&amp;amp;B, automotif, juga IT. Jangan menaruh semua telur dalam satu keranjang.
Jadi ketika satu bisnis sedang lesu, bidang lain bisa menutupi,&amp;rdquo; sebut Rudy. Namun, memang dari ke semua bisnis yang dijalaninya, sejak awal Rudy mengawalinya dengan berani.Membangun kepercayaan, dari orang tidak percaya untuk berinvestasi,  lalu membuat percaya semuanya dibangun Rudy dengan kedisiplinan agar  bisa menjadi orang yang dapat dipercaya dan melakukan bisnisnya dengan  benar.
Dengan berbagai lini bisnis yang dijalaninya sekarang, tentu tidaklah  mudah. Rudy mengatakan sudah merekrut orang yang ahli di bidangnya  sehingga setiap usaha ada penanggung jawabnya dan dia rutin melakukan  meeting mingguan.
&amp;ldquo;Saya tinggal memberikan keputusan direktif mingguan. Di sini memang  tetap ada tantangan dinamika dari tiap lini bisnis, dengan kendala  berbeda, cara jualan jasa produknya berbeda-beda. Saya pun tetap belajar  tentang seluk beluk bisnis,&amp;rdquo; tuturnya.
Setelah tahun 2006 mengawali bisnisnya di usia yang sangat muda. Pada  2013 lalu pria berwajah Oriental ini mulai menggeluti lini usaha yang  terbilang cukup berisiko, yaitu menjadi distributor mobil mewah.
Rudy membuka showroom Prestige yang menjual supercar , seperti mobil  Ettore Bugatti dari produsen mobil asal Prancis, lalu ada brand  Lamborghini dari pembuat mobil asal Italia dan beberapa brand supercar  lain.
Menurut Rudy, menjadi distributor mobil mewah memang merupakan bisnis  yang risikonya besar. Impor mobil mewah merupakan kebutuhan tersier,  biasanya mobil hanya dipakai weekend atau hanya jadi pajangan di rumah,  tergantung dari pembeli.
Baca Juga: Kekayaan Miliarder Australia Bakal Makin Bertambah
 
Selain itu memang ada kendala, di antaranya pemerintah tidak menyukai  impor karena mau menggalakkan ekspor dan swasembada. Dengan adanya  impor, tentu akan ada current account deficit (CAD) karena penukaran  nilai mata uang yang menyebabkan nilai rupiah melemah.
&amp;ldquo;Meski begitu, CAD yang dihasilkan karena perdagangan mobil mewah  hanya 0,03 persen dari seluruh dari CAD Indonesia sehingga dampaknya  hampir tidak ada nilainya karena volumenya kecil,&amp;rdquo; sebut Rudy.
Tantangannya untuk bisnis mobil mewah ini memang, kata Rudy, paling  besar adalah dari segi perpajakan yang dibuat pemerintah karena mencapai  hampir 200%. Dengan demikian, pembelinya juga akan berpikir ulang  ketika akan membeli mobil mewah.
Apalagi kondisi politik ekonomi tidak menentu. Itu kembali lagi  bagaimana sebagai penjual bisa meyakinkan pembeli di kondisi seperti  ini. Jadi, memang menjadi distributor mobil mewah tidaklah mudah.&amp;nbsp;
Baca Juga: 15 Miliarder Termuda di China, Juaranya Seorang Wanita
Namun, karena mobil merupakan salah satu hobi dan passionnya, semua  kendala itu bisa dilalui Rudy. Dia pun memikirkan banyak inovasi, skema  penjualan, dan masuk ke ranah komunitas tertentu karena memang target  market mobil mewah sangat segmented .
Biasanya supercar ini diminati para pengusaha atau selebriti yang  memang hobi atau menyukai mobil mewah. Tak mengherankan bila Prestige  sempat mencatat penjualan 8-10 unit supercar per bulan.
Dalam kondisi ada yang baru maupun bekas, karena penyuka supercar  juga tahu masa kejayaan supercar tahun 2011 hingga 2013 saat itu ada  banyak unit supercar terjual.
Supercar yang second pun tetap diminati dan bisnis mobil mewah bagi  Rudy pada masa mendatang tetap bisa bertahan terus. Lima tahun silam,  bisnis mobil mewah ini dimulai dengan investasi awal Rp5 miliar,  sekarang value perusahaan sudah sampai Rp500 miliar.
(Dyah Ayu Pamela)</description><content:encoded>JAKARTA - Walau terlahir di keluarga dokter, profesi dokter sepertinya kurang menarik bagi Rudy Salim. Dia juga lebih senang menjadi pebisnis dan sukses dalam usia muda. Lahir dari keluarga berlatar belakang profesi dokter membuat anak bungsu dari tiga bersaudara ini terdidik untuk sukses berkarier menjadi dokter.
Namun, profesi mulia ini memang bukanlah passion Rudy Salim sejak dulu. Diakui pria berusia 31 tahun tersebut, ketertarikan dan cita-citanya sejak kecil adalah menjadi arsitek dan bergelut di bidang properti.
&amp;ldquo;Saya suka bangun-membangun, tapi untuk menjadi arsitek, belajar ilmunya tidak gampang, sementara saya tidak begitu suka sekolah,&amp;rdquo; sebut Rudy saat ditemui KORAN SINDO seusai menjadi pembicara dalam business talk yang diadakan Buddhist Fellow ship Indonesia, belum lama ini.
Baca Juga: Bos VietJet Jadi Wanita Terkaya di Asean, Berapa Kekayaannya?
 
Meski tidak menjadi arsitek, keinginannya bergelut di bidang properti tetap bisa terlaksana. Rudy justru sekarang mempekerjakan arsitek untuk bisa mewujudkan visinya. Karena selain automotif yang menjadi hobinya, ada lini bisnis real estate yang kini juga sedang dia bangun bersama beberapa jenis bidang usaha lain.
Di antaranya food industry, lifestyle, technology , dan entertainment . Rudy sempat mencicipi bangku kuliah fakultas kedokteran di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta, hanya dua semester.

Lantas drop out dari kampus, dia menjual mobil pemberian orang tuanya. Kebetulan memang sang mama cukup memanjakan. Mobil tersebut bukan kelas biasa. Bahkan, saat dijual, dihargai sekitar Rp400 juta.
Kemudian anak bungsu dari tiga bersaudara ini menjadikannya modal usaha pertama, yaitu membiayai kredit secara online pada 2006 silam ketika Rudy masih berusia 19 tahun. Selang dua minggu hasil menjual mobil untuk usahanya habis untuk permodalan.
Baca Juga: Mengenang Perjalanan Vichai Srivaddhanaprabha hingga Jadi Konglomerat Thailand
 
Lalu Rudy membuka investasi dengan mencari investor baru hingga Exel Trade Indonesia, perusahaan pertamanya menjalankan koorporasi mandiri sampai sekarang. Tentu saja tak selalu mulus perjalanan bisnisnya.
Rudy juga mencoba berbagai jenis lini usaha lain. Seperti industri perfilman, dia bekerja sama dengan RA Production milik artis Raffi Ahmad yang memproduksi berbagai film seperti Dim Sum Martabak, Kesempatan Keduda, dan juga Nyai dalam genre film horor.
&amp;ldquo;Usaha itu ada naik, ada yang turun. Sementara bisnis itu harus untung. Ka rena itu, saya mem buat ba nyak peluang bisnis lain. Ada entertaint , F&amp;amp;B, automotif, juga IT. Jangan menaruh semua telur dalam satu keranjang.
Jadi ketika satu bisnis sedang lesu, bidang lain bisa menutupi,&amp;rdquo; sebut Rudy. Namun, memang dari ke semua bisnis yang dijalaninya, sejak awal Rudy mengawalinya dengan berani.Membangun kepercayaan, dari orang tidak percaya untuk berinvestasi,  lalu membuat percaya semuanya dibangun Rudy dengan kedisiplinan agar  bisa menjadi orang yang dapat dipercaya dan melakukan bisnisnya dengan  benar.
Dengan berbagai lini bisnis yang dijalaninya sekarang, tentu tidaklah  mudah. Rudy mengatakan sudah merekrut orang yang ahli di bidangnya  sehingga setiap usaha ada penanggung jawabnya dan dia rutin melakukan  meeting mingguan.
&amp;ldquo;Saya tinggal memberikan keputusan direktif mingguan. Di sini memang  tetap ada tantangan dinamika dari tiap lini bisnis, dengan kendala  berbeda, cara jualan jasa produknya berbeda-beda. Saya pun tetap belajar  tentang seluk beluk bisnis,&amp;rdquo; tuturnya.
Setelah tahun 2006 mengawali bisnisnya di usia yang sangat muda. Pada  2013 lalu pria berwajah Oriental ini mulai menggeluti lini usaha yang  terbilang cukup berisiko, yaitu menjadi distributor mobil mewah.
Rudy membuka showroom Prestige yang menjual supercar , seperti mobil  Ettore Bugatti dari produsen mobil asal Prancis, lalu ada brand  Lamborghini dari pembuat mobil asal Italia dan beberapa brand supercar  lain.
Menurut Rudy, menjadi distributor mobil mewah memang merupakan bisnis  yang risikonya besar. Impor mobil mewah merupakan kebutuhan tersier,  biasanya mobil hanya dipakai weekend atau hanya jadi pajangan di rumah,  tergantung dari pembeli.
Baca Juga: Kekayaan Miliarder Australia Bakal Makin Bertambah
 
Selain itu memang ada kendala, di antaranya pemerintah tidak menyukai  impor karena mau menggalakkan ekspor dan swasembada. Dengan adanya  impor, tentu akan ada current account deficit (CAD) karena penukaran  nilai mata uang yang menyebabkan nilai rupiah melemah.
&amp;ldquo;Meski begitu, CAD yang dihasilkan karena perdagangan mobil mewah  hanya 0,03 persen dari seluruh dari CAD Indonesia sehingga dampaknya  hampir tidak ada nilainya karena volumenya kecil,&amp;rdquo; sebut Rudy.
Tantangannya untuk bisnis mobil mewah ini memang, kata Rudy, paling  besar adalah dari segi perpajakan yang dibuat pemerintah karena mencapai  hampir 200%. Dengan demikian, pembelinya juga akan berpikir ulang  ketika akan membeli mobil mewah.
Apalagi kondisi politik ekonomi tidak menentu. Itu kembali lagi  bagaimana sebagai penjual bisa meyakinkan pembeli di kondisi seperti  ini. Jadi, memang menjadi distributor mobil mewah tidaklah mudah.&amp;nbsp;
Baca Juga: 15 Miliarder Termuda di China, Juaranya Seorang Wanita
Namun, karena mobil merupakan salah satu hobi dan passionnya, semua  kendala itu bisa dilalui Rudy. Dia pun memikirkan banyak inovasi, skema  penjualan, dan masuk ke ranah komunitas tertentu karena memang target  market mobil mewah sangat segmented .
Biasanya supercar ini diminati para pengusaha atau selebriti yang  memang hobi atau menyukai mobil mewah. Tak mengherankan bila Prestige  sempat mencatat penjualan 8-10 unit supercar per bulan.
Dalam kondisi ada yang baru maupun bekas, karena penyuka supercar  juga tahu masa kejayaan supercar tahun 2011 hingga 2013 saat itu ada  banyak unit supercar terjual.
Supercar yang second pun tetap diminati dan bisnis mobil mewah bagi  Rudy pada masa mendatang tetap bisa bertahan terus. Lima tahun silam,  bisnis mobil mewah ini dimulai dengan investasi awal Rp5 miliar,  sekarang value perusahaan sudah sampai Rp500 miliar.
(Dyah Ayu Pamela)</content:encoded></item></channel></rss>
