<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Taktik Presiden Jokowi Atasi Merosotnya Harga Kelapa Sawit dan Karet</title><description>Pemerintah sudah melakukan berbagai langkah untuk mendongkrak harga sawit  dan karet yang dalam beberapa tahun ini mengalami kemerosotan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/11/26/320/1982750/taktik-presiden-jokowi-atasi-merosotnya-harga-kelapa-sawit-dan-karet</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/11/26/320/1982750/taktik-presiden-jokowi-atasi-merosotnya-harga-kelapa-sawit-dan-karet"/><item><title>Taktik Presiden Jokowi Atasi Merosotnya Harga Kelapa Sawit dan Karet</title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/11/26/320/1982750/taktik-presiden-jokowi-atasi-merosotnya-harga-kelapa-sawit-dan-karet</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/11/26/320/1982750/taktik-presiden-jokowi-atasi-merosotnya-harga-kelapa-sawit-dan-karet</guid><pubDate>Senin 26 November 2018 07:52 WIB</pubDate><dc:creator>Kurniasih Miftakhul Jannah</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/11/26/320/1982750/taktik-presiden-jokowi-atasi-merosotnya-harga-kelapa-sawit-dan-karet-GyricO5S7D.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Presiden Jokowi (Foto: Setkab)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/11/26/320/1982750/taktik-presiden-jokowi-atasi-merosotnya-harga-kelapa-sawit-dan-karet-GyricO5S7D.jpeg</image><title>Presiden Jokowi (Foto: Setkab)</title></images><description>JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengemukakan, pemerintah sudah melakukan berbagai langkah untuk mendongkrak harga sawit dan karet yang dalam beberapa tahun ini mengalami kemerosotan. Pemerintah sudah 4 (empat) tahun mengirimkan tim ke Uni Eropa dan berbagai negara meski ini juga tidak mudah.
&amp;ldquo;Tapi sebetulnya ini urusan bisnis,urusan jualan mereka, juga jualan yang namanya minyak bunga matahari. Kita jualan minyak kelapa sawit, sehingga masuk ke sana sekarang mulai dihambat-hambat,&amp;rdquo; kata Presiden Jokowi dilansir dari laman Setkab, Senin (26/11/2018).
Baca Juga: Indonesia Lobi India soal Bea Masuk Sawit
 
Menurut Presiden, awal tahun yang lalu dirinya juga ketemu Perdana Menteri Tiongkok untuk meminta agar negara itu beli lebih banyak dari sekarang. &amp;ldquo;Saya minta tambahan, saya to the point aja saya ngomong ya minta agar produksi di sini bisa diserap sehingga harganya bisa naik. Ada tambahan 500.000 ton, banyak sekali,&amp;rdquo; ujarnya.
Tapi, penambahan itu ternyata juga belum mempengaruhi harga pasar secara baik. Presiden mengingatkan, kebun kelapa sawit di seluruh Indonesia ini sudah berada pada posisi yang sangat besar sekali, nomor satu di dunia.
&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2018/07/13/51658/261086_medium.jpg&quot; alt=&quot;Melihat Lebih Dekat Buruh Kerja Memanen Kelapa Sawit di Desa Sukasirna Sukabumi&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;&amp;nbsp;
Kebun kelapa sawit di Indonesia, menurut Presiden, luasnya 13 juta hektar, baik yang ada di Sumatera, Kalimantan, Papua, juga ada di Jawa. Produksinya setiap tahun 42 juta ton.
&amp;ldquo;Bayangkan 42 juta ton. itu kalau dinaikkan truk berarti kurang lebih 10 juta truk angkut itu, ya untuk bayangan betapa gede sekali jumlah ini. Kita sekarang ini bersaing dengan Malaysia bersaing dengan Thailand, tapi kita tetap yang terbesar,&amp;rdquo; ungkap Presiden Jokowi seraya menambahkan, mengendalikan ini tidak mudah, karena ini perdagangan internasional , perdagangan global nggak bisa kita mempengaruhi mereka.
Baca Juga: Perang Dagang AS-China Untungkan Sawit RI, Ini Penjelasannya
 
Oleh sebab itu, lanjut Presiden, dirinya sudah memerintahkan sejak 3 (tiga) bulan lalu agar kelebihan pasokan CPO juga dipakai untuk campuran solar, namanya Biodiesel (B) 20.
Menurut Presiden, ini nanti kalau berhasil mungkin akan bisa menaikkan, kita nggak impor minyak, minyak kelapa sawit bisa dipakai untuk mengganti produksi menjadi B20. Namun Presiden mengingatkan, ini butuh waktu kurang lebih setahun dari 3 bulan yang lalu.&amp;ldquo;Bukan hal yang mudah sekali lagi 42 juta ton, itu kalau dinaikkan  truk yang kecil itu, truk yang kecil kan 4 ton kan,nha itu 10 juta truk  berarti, gede sekali produksi kita gede sekali,&amp;rdquo; kata Presiden seraya  menambahkan, pemerintah masih menunggu keberhasilan penerapan B20. Ia  menambahkani, kalau B-20 harganya pasti akan otomatis karena disedot  oleh permintaan dalam negeri.
Terkait dengan karet, Presiden Jokowi menjelaskan, sama saja  komoditas internasional, komoditas global yang tidak bisa kita pengaruhi  dengan cara-cara kebijakan pemerintah.
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2018/11/25/54463/275298_medium.jpg&quot; alt=&quot;Presiden Jokowi dan Ibu Iriana Terima Gelar Adat Tertinggi Masyarakat Komering&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Oleh sebab itu, Presiden mengemukakan, sebulan lalu dirinya telah  memerintahkan kepada Menteri PUPR Basuki Hadimuljono agar sekarang  pengaspalan jalan harus pakai karet. &amp;ldquo;Ini sebentar lagi yang di Sumsel  ini kita akan beli langsung dari petani dari koperasi untuk beli getah  karetnya, dibeli langsung oleh Menteri PUPR,&amp;rdquo; kata Presiden seraya  menambahkan, harga yang dibeli oleh Kementerian PUPR adalah  Rp7.500-Rp.8.000.
Menurut Presiden, tidak mudah untuk menyelesaikan hal seperti ini  karena menyangkut produksi yang sangat besar. Tapi ia menegaskan,  pemerintah sudah berusaha amat sangat menyelesaikan hal ini.
&amp;ldquo;Kita kirim tim ke Uni Eropa kita kirim tim ke Tiongkok,berapa kali  itu,tim ke India. Pembeli besar kita itu Uni Eropa,yang kedua India yang  gede-gede, yang ketiga China Tiongkok pembeli terbesar kita. Yang  lainnya belinya yang kecil-kecil saja. Inilah problem yang ingin saya  sampaikan apa adanya,&amp;rdquo; ujar Presiden Jokowi.</description><content:encoded>JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengemukakan, pemerintah sudah melakukan berbagai langkah untuk mendongkrak harga sawit dan karet yang dalam beberapa tahun ini mengalami kemerosotan. Pemerintah sudah 4 (empat) tahun mengirimkan tim ke Uni Eropa dan berbagai negara meski ini juga tidak mudah.
&amp;ldquo;Tapi sebetulnya ini urusan bisnis,urusan jualan mereka, juga jualan yang namanya minyak bunga matahari. Kita jualan minyak kelapa sawit, sehingga masuk ke sana sekarang mulai dihambat-hambat,&amp;rdquo; kata Presiden Jokowi dilansir dari laman Setkab, Senin (26/11/2018).
Baca Juga: Indonesia Lobi India soal Bea Masuk Sawit
 
Menurut Presiden, awal tahun yang lalu dirinya juga ketemu Perdana Menteri Tiongkok untuk meminta agar negara itu beli lebih banyak dari sekarang. &amp;ldquo;Saya minta tambahan, saya to the point aja saya ngomong ya minta agar produksi di sini bisa diserap sehingga harganya bisa naik. Ada tambahan 500.000 ton, banyak sekali,&amp;rdquo; ujarnya.
Tapi, penambahan itu ternyata juga belum mempengaruhi harga pasar secara baik. Presiden mengingatkan, kebun kelapa sawit di seluruh Indonesia ini sudah berada pada posisi yang sangat besar sekali, nomor satu di dunia.
&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2018/07/13/51658/261086_medium.jpg&quot; alt=&quot;Melihat Lebih Dekat Buruh Kerja Memanen Kelapa Sawit di Desa Sukasirna Sukabumi&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;&amp;nbsp;
Kebun kelapa sawit di Indonesia, menurut Presiden, luasnya 13 juta hektar, baik yang ada di Sumatera, Kalimantan, Papua, juga ada di Jawa. Produksinya setiap tahun 42 juta ton.
&amp;ldquo;Bayangkan 42 juta ton. itu kalau dinaikkan truk berarti kurang lebih 10 juta truk angkut itu, ya untuk bayangan betapa gede sekali jumlah ini. Kita sekarang ini bersaing dengan Malaysia bersaing dengan Thailand, tapi kita tetap yang terbesar,&amp;rdquo; ungkap Presiden Jokowi seraya menambahkan, mengendalikan ini tidak mudah, karena ini perdagangan internasional , perdagangan global nggak bisa kita mempengaruhi mereka.
Baca Juga: Perang Dagang AS-China Untungkan Sawit RI, Ini Penjelasannya
 
Oleh sebab itu, lanjut Presiden, dirinya sudah memerintahkan sejak 3 (tiga) bulan lalu agar kelebihan pasokan CPO juga dipakai untuk campuran solar, namanya Biodiesel (B) 20.
Menurut Presiden, ini nanti kalau berhasil mungkin akan bisa menaikkan, kita nggak impor minyak, minyak kelapa sawit bisa dipakai untuk mengganti produksi menjadi B20. Namun Presiden mengingatkan, ini butuh waktu kurang lebih setahun dari 3 bulan yang lalu.&amp;ldquo;Bukan hal yang mudah sekali lagi 42 juta ton, itu kalau dinaikkan  truk yang kecil itu, truk yang kecil kan 4 ton kan,nha itu 10 juta truk  berarti, gede sekali produksi kita gede sekali,&amp;rdquo; kata Presiden seraya  menambahkan, pemerintah masih menunggu keberhasilan penerapan B20. Ia  menambahkani, kalau B-20 harganya pasti akan otomatis karena disedot  oleh permintaan dalam negeri.
Terkait dengan karet, Presiden Jokowi menjelaskan, sama saja  komoditas internasional, komoditas global yang tidak bisa kita pengaruhi  dengan cara-cara kebijakan pemerintah.
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2018/11/25/54463/275298_medium.jpg&quot; alt=&quot;Presiden Jokowi dan Ibu Iriana Terima Gelar Adat Tertinggi Masyarakat Komering&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Oleh sebab itu, Presiden mengemukakan, sebulan lalu dirinya telah  memerintahkan kepada Menteri PUPR Basuki Hadimuljono agar sekarang  pengaspalan jalan harus pakai karet. &amp;ldquo;Ini sebentar lagi yang di Sumsel  ini kita akan beli langsung dari petani dari koperasi untuk beli getah  karetnya, dibeli langsung oleh Menteri PUPR,&amp;rdquo; kata Presiden seraya  menambahkan, harga yang dibeli oleh Kementerian PUPR adalah  Rp7.500-Rp.8.000.
Menurut Presiden, tidak mudah untuk menyelesaikan hal seperti ini  karena menyangkut produksi yang sangat besar. Tapi ia menegaskan,  pemerintah sudah berusaha amat sangat menyelesaikan hal ini.
&amp;ldquo;Kita kirim tim ke Uni Eropa kita kirim tim ke Tiongkok,berapa kali  itu,tim ke India. Pembeli besar kita itu Uni Eropa,yang kedua India yang  gede-gede, yang ketiga China Tiongkok pembeli terbesar kita. Yang  lainnya belinya yang kecil-kecil saja. Inilah problem yang ingin saya  sampaikan apa adanya,&amp;rdquo; ujar Presiden Jokowi.</content:encoded></item></channel></rss>
