<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Hasil KTT G-20 Tentukan Nasib Rupiah   </title><description>Pertemuan tahunan G-20 bisa menghasilkan sentimen positif ke dalam negeri. Rupiah berpotensi terus menguat</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/12/01/278/1985390/hasil-ktt-g-20-tentukan-nasib-rupiah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/12/01/278/1985390/hasil-ktt-g-20-tentukan-nasib-rupiah"/><item><title>Hasil KTT G-20 Tentukan Nasib Rupiah   </title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/12/01/278/1985390/hasil-ktt-g-20-tentukan-nasib-rupiah</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/12/01/278/1985390/hasil-ktt-g-20-tentukan-nasib-rupiah</guid><pubDate>Sabtu 01 Desember 2018 11:06 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/12/01/278/1985390/hasil-ktt-g-20-tentukan-nasib-rupiah-bYnaonLg5u.jpg" expression="full" type="image/jpeg">KKT G-20 Buenos Aires (Foto: Koran Sindo)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/12/01/278/1985390/hasil-ktt-g-20-tentukan-nasib-rupiah-bYnaonLg5u.jpg</image><title>KKT G-20 Buenos Aires (Foto: Koran Sindo)</title></images><description>BUEONOS AIRES - Akhir pekan ini para pemimpin dunia dari kelompok negara-negara G-20 berkumpul di Kota Buenos Aires, Argentina. Mereka akan membahas sejumlah isu termasuk perang dagang yang diperkirakan menjadi perbincangan utama.
Bagi Indonesia, pertemuan tahunan negara-negara dengan perekonomian terbesar di dunia itu bisa menghasilkan sentimen positif ke dalam negeri.
Apabila ada pembicaraan signifikan antara para pemimpin dunia, hal itu akan meningkatkan kepercayaan para pelaku pasar dan baik untuk stabilitas nilai tukar. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution memperkirakan, Rupiah berpotensi terus menguat bertepatan dengan penyelenggaraan konferensi tingkat tinggi (KTT) tersebut.
Meski demikian, masih ada faktor global yang bisa mempengaruhi sehingga harus diantisipasi. Sekadar catatan, berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) pada 30 November 2018, Rupiah tercatat berada di level Rp14.339 per dolar AS.
Baca Juga: Jelang KTT G-20, Pelaku Pasar Masih Wait and See
Angka tersebut menguat di bandingkan hari sebelumnya Rp14.408 per dolar AS. &amp;ldquo;Masih banyak kejadian di dunia yang arahnya tidak bisa diduga. Misalnya, hari ini G-20. Kalau Donald Trump (Presiden Amerika Serikat) tidak bertemu Xi Jinping (Presiden China) atau mereka bertemu tetapi tidak ada kesepakatan untuk meredakan perang dagang, ya akan tertekan lagi,&amp;rdquo; kata Darmin di Jakarta.
Darmin menuturkan, rupiah masih punya peluang untuk menguat menuju ke level Rp13.000. Namun, hal tersebut dipengaruhi kondisi global yang akan berdampak langsung pada Rupiah. &amp;ldquo;Jadi, kita sebenarnya tinggal menggunakan momentum ini untuk memperkuat,&amp;rdquo; ungkapnya.
Menurut Darmin, apabila rRupiah menguat kemudian modal yang masuk lebih besar lagi maka transaksi modal dan finansial bisa mengimbangi defisit transaksi berjalan. &amp;ldquo;Itu sebabnya ke depan, kita harus fokus mengecilkan current account deficit (CAD),&amp;rdquo; tuturnya.
Baca Juga: Di KTT G20, Wapres JK dan Sri Mulyani Bahas Antisipasi Perang Dagang
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, penguatan rupiah hingga Rp14.300 disebabkan kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia. Berbagai kebijakan yang dikeluarkan pemerintah dinilai mampu menarik aliran modal asing yang masuk dalam portofolio.
&amp;ldquo;Dengan aliran modal asing masuk, tentu itu menambah suplai dan memperkuat nilai tukar rupiah. Kepercayaan investor juga tidak hanya terhadap kebijakan tetapi juga confident terhadap bagaimana ekonomi kita terus membaik dengan stabilitas yang terjaga,&amp;rdquo; ujarnya.
Menurut Perry, mekanisme pasar sudah berjalan semakin baik dan mampu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Meski begitu, nilai tukar rupiah masih di bawah undervalue . &amp;ldquo;Meski nilai tukar rupiah stabil menguat, kami masih melihat bahwa rupiah itu masih undervalue ,&amp;rdquo; ungkapnya.
Perry menuturkan, BI memperkirakan kenaikan suku bunga acuan The Fed pada Desember dan tiga kali di tahun depan akan tetap terjadi meski pasar melihat ada kemungkinan kebijakan moneter AS di 2019 tidak akan terlalu agresif.
Untuk menghadapi, BI menyatakan melalukan tindakan antisipatif dengan menaikkan suku bunga pada Desember dan Januari 2019. Terakhir, kenaikan suku bunga yang ditetapkan BI adalah sebesar 25 bps pada November sehingga posisi BI 7-Day Reverse Repo Rate menjadi 6%. &amp;ldquo;Kami sudah sampaikan bahwa kenaikan kemarin sekaligus mengantisipasi kenaikan suku bunga global dalam beberapa bulan ke depan,&amp;rdquo; tandasnya.

Isu Perang Dagang
Pada pertemuan ke-13 negara-negara G-20 yang diikuti oleh  negara-negara dengan perekonomian terbesar di dunia itu, isu lain yang  mencuat adalah terkait migrasi, dan perubahan iklim. Kedua itu ditambah  perang dagang, di perkirakan mendapat porsi besar di tengah berbagai  tantangan perekonomian dunia.
Perang dagang memang menjadi perhatian para pemimpin dunia karena  dampaknya yang diperkirakan meluas, tidak saja terasa oleh Amerika  Serikat (AS) dan China yang notabene menjadi pencetusnya.
Negara lain yang memiliki hubungan dagang diprediksi turut terimbas  kebijakan kedua raksasa ekonomi itu. &amp;ldquo;Tahun ini bukanlah waktu yang  bagus untuk multi lateralisme. Negosiasi diyakini akan berlangsung  sangat alot di sejumlah isu,&amp;rdquo; ujar seorang sumber pemerintah Jerman,  seperti dilansir Reuters kemarin.
Baca Juga: Perang Dagang dengan AS, Banyak Perusahaan 'Kabur' dari China
Pertemuan G-20 kali ini dinilai sebagai KTT paling penting sejak  2008. Pasar komoditas dan keuangan diperkirakan bakal merespons hasil  dari KTT G-20 ini, khususnya pasca pertemuan bilateral antara Presiden  AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping hari ini waktu setempat.
Kondisi ekonomi global akan memburuk jika Trump terus menekan rencana  peningkatan tarif sebesar 25%. Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) yang  hadir pada pertemuan G-20 mengatakan, Indonesia berharap KTT tersebut  dapat menghadirkan solusi terbaik untuk membuat perdagangan dunia yang  lebih baik di tengah melesunya perekonomian dunia akibat perang dagang  AS dan China.
&quot;Yang perlu dipahami bersama adalah kunci dari permasalahan ekonomi  saat ini adalah bagaimana mencari jalan keluar dari perang dagang antara  dua raksasa ekonomi, yakni AS dan China.
Diakui, perang dagang keduanya menyebabkan ekonomi dunia melambat  termasuk di Indonesia,&quot; kata JK di Buenos Aires Dia menambahkan, akibat  perang dagang, saat ini hargaharga komoditas dunia menurun karena  permintaan barang-barang produksi juga menurun, khususnya di China yang  menjadi salah satu tujuan ekspor terbesar Indonesia.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Organisasi untuk Kerja Sama dan  Pembangunan Ekonomi (OECD) Angel Gurria mengatakan, dampak dari tarif  perdagangan sebesar 10% yang sudah diberlakukan AS terhadap barang China  akan mengurangi pro duk domestik bruto (PDB) dunia sebesar 0,2% pada  2020.
&amp;ldquo;Jika AS mendongkrak tarif hingga 25% dan negara lain melakukan  retaliasi, dampaknya akan kian besar atau di perkirakan mencapai 1%,&amp;rdquo;  ujar Gurria. Di sela-sela KTT G-20, tiga negara, yakni AS, Kanada, dan  Meksiko, menyepakati kerjasama perdagangan United States- Mexico-Canada  Agreement (US - MCA) senilai USD1 triliun.
Baca Juga: Perang Dagang AS-China Memanas, Pertumbuhan Ekonomi Global Memburuk
Kerja sama terbaru ini untuk menggantikan kemitraan perdagangan  sebelumnya yang bernama North American Free Trade Agreement (NAFTA).  Bagi Presiden AS Donald Trump, kesepakatan terbaru dengan Kanada dan  Meksiko ini merupakan pemenuhan janji saat kampanye 2016 lalu.
Saat itu Trump menyatakan akan melakukan negosiasi ulang atas NAFTA.  &amp;ldquo;NAFTA yang mengerikan akan segera hilang. USMCA akan fantastis untuk  semua pihak,&amp;rdquo; ujar Trump dalam akun Twitter-nya.
Kesepakatan USMCA dicapai setelah ketiga negara melakukan lobi-lobi  lebih dari setahun. Pada kerja sama tersebut di sepakati sejumlah aturan  main sektor perdagangan di industri mobil dan susu.
Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau mengatakan, pakta perdagangan  regional baru yang disepakati bersama AS dan Meksiko akan menyelesaikan  ancaman ketidakpastian ekonomi yang serius. Namun, di sisi lain, bukan  tidak mungkin kemitraan baru itu justru akan lebih merusak.
</description><content:encoded>BUEONOS AIRES - Akhir pekan ini para pemimpin dunia dari kelompok negara-negara G-20 berkumpul di Kota Buenos Aires, Argentina. Mereka akan membahas sejumlah isu termasuk perang dagang yang diperkirakan menjadi perbincangan utama.
Bagi Indonesia, pertemuan tahunan negara-negara dengan perekonomian terbesar di dunia itu bisa menghasilkan sentimen positif ke dalam negeri.
Apabila ada pembicaraan signifikan antara para pemimpin dunia, hal itu akan meningkatkan kepercayaan para pelaku pasar dan baik untuk stabilitas nilai tukar. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution memperkirakan, Rupiah berpotensi terus menguat bertepatan dengan penyelenggaraan konferensi tingkat tinggi (KTT) tersebut.
Meski demikian, masih ada faktor global yang bisa mempengaruhi sehingga harus diantisipasi. Sekadar catatan, berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) pada 30 November 2018, Rupiah tercatat berada di level Rp14.339 per dolar AS.
Baca Juga: Jelang KTT G-20, Pelaku Pasar Masih Wait and See
Angka tersebut menguat di bandingkan hari sebelumnya Rp14.408 per dolar AS. &amp;ldquo;Masih banyak kejadian di dunia yang arahnya tidak bisa diduga. Misalnya, hari ini G-20. Kalau Donald Trump (Presiden Amerika Serikat) tidak bertemu Xi Jinping (Presiden China) atau mereka bertemu tetapi tidak ada kesepakatan untuk meredakan perang dagang, ya akan tertekan lagi,&amp;rdquo; kata Darmin di Jakarta.
Darmin menuturkan, rupiah masih punya peluang untuk menguat menuju ke level Rp13.000. Namun, hal tersebut dipengaruhi kondisi global yang akan berdampak langsung pada Rupiah. &amp;ldquo;Jadi, kita sebenarnya tinggal menggunakan momentum ini untuk memperkuat,&amp;rdquo; ungkapnya.
Menurut Darmin, apabila rRupiah menguat kemudian modal yang masuk lebih besar lagi maka transaksi modal dan finansial bisa mengimbangi defisit transaksi berjalan. &amp;ldquo;Itu sebabnya ke depan, kita harus fokus mengecilkan current account deficit (CAD),&amp;rdquo; tuturnya.
Baca Juga: Di KTT G20, Wapres JK dan Sri Mulyani Bahas Antisipasi Perang Dagang
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, penguatan rupiah hingga Rp14.300 disebabkan kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia. Berbagai kebijakan yang dikeluarkan pemerintah dinilai mampu menarik aliran modal asing yang masuk dalam portofolio.
&amp;ldquo;Dengan aliran modal asing masuk, tentu itu menambah suplai dan memperkuat nilai tukar rupiah. Kepercayaan investor juga tidak hanya terhadap kebijakan tetapi juga confident terhadap bagaimana ekonomi kita terus membaik dengan stabilitas yang terjaga,&amp;rdquo; ujarnya.
Menurut Perry, mekanisme pasar sudah berjalan semakin baik dan mampu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Meski begitu, nilai tukar rupiah masih di bawah undervalue . &amp;ldquo;Meski nilai tukar rupiah stabil menguat, kami masih melihat bahwa rupiah itu masih undervalue ,&amp;rdquo; ungkapnya.
Perry menuturkan, BI memperkirakan kenaikan suku bunga acuan The Fed pada Desember dan tiga kali di tahun depan akan tetap terjadi meski pasar melihat ada kemungkinan kebijakan moneter AS di 2019 tidak akan terlalu agresif.
Untuk menghadapi, BI menyatakan melalukan tindakan antisipatif dengan menaikkan suku bunga pada Desember dan Januari 2019. Terakhir, kenaikan suku bunga yang ditetapkan BI adalah sebesar 25 bps pada November sehingga posisi BI 7-Day Reverse Repo Rate menjadi 6%. &amp;ldquo;Kami sudah sampaikan bahwa kenaikan kemarin sekaligus mengantisipasi kenaikan suku bunga global dalam beberapa bulan ke depan,&amp;rdquo; tandasnya.

Isu Perang Dagang
Pada pertemuan ke-13 negara-negara G-20 yang diikuti oleh  negara-negara dengan perekonomian terbesar di dunia itu, isu lain yang  mencuat adalah terkait migrasi, dan perubahan iklim. Kedua itu ditambah  perang dagang, di perkirakan mendapat porsi besar di tengah berbagai  tantangan perekonomian dunia.
Perang dagang memang menjadi perhatian para pemimpin dunia karena  dampaknya yang diperkirakan meluas, tidak saja terasa oleh Amerika  Serikat (AS) dan China yang notabene menjadi pencetusnya.
Negara lain yang memiliki hubungan dagang diprediksi turut terimbas  kebijakan kedua raksasa ekonomi itu. &amp;ldquo;Tahun ini bukanlah waktu yang  bagus untuk multi lateralisme. Negosiasi diyakini akan berlangsung  sangat alot di sejumlah isu,&amp;rdquo; ujar seorang sumber pemerintah Jerman,  seperti dilansir Reuters kemarin.
Baca Juga: Perang Dagang dengan AS, Banyak Perusahaan 'Kabur' dari China
Pertemuan G-20 kali ini dinilai sebagai KTT paling penting sejak  2008. Pasar komoditas dan keuangan diperkirakan bakal merespons hasil  dari KTT G-20 ini, khususnya pasca pertemuan bilateral antara Presiden  AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping hari ini waktu setempat.
Kondisi ekonomi global akan memburuk jika Trump terus menekan rencana  peningkatan tarif sebesar 25%. Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) yang  hadir pada pertemuan G-20 mengatakan, Indonesia berharap KTT tersebut  dapat menghadirkan solusi terbaik untuk membuat perdagangan dunia yang  lebih baik di tengah melesunya perekonomian dunia akibat perang dagang  AS dan China.
&quot;Yang perlu dipahami bersama adalah kunci dari permasalahan ekonomi  saat ini adalah bagaimana mencari jalan keluar dari perang dagang antara  dua raksasa ekonomi, yakni AS dan China.
Diakui, perang dagang keduanya menyebabkan ekonomi dunia melambat  termasuk di Indonesia,&quot; kata JK di Buenos Aires Dia menambahkan, akibat  perang dagang, saat ini hargaharga komoditas dunia menurun karena  permintaan barang-barang produksi juga menurun, khususnya di China yang  menjadi salah satu tujuan ekspor terbesar Indonesia.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Organisasi untuk Kerja Sama dan  Pembangunan Ekonomi (OECD) Angel Gurria mengatakan, dampak dari tarif  perdagangan sebesar 10% yang sudah diberlakukan AS terhadap barang China  akan mengurangi pro duk domestik bruto (PDB) dunia sebesar 0,2% pada  2020.
&amp;ldquo;Jika AS mendongkrak tarif hingga 25% dan negara lain melakukan  retaliasi, dampaknya akan kian besar atau di perkirakan mencapai 1%,&amp;rdquo;  ujar Gurria. Di sela-sela KTT G-20, tiga negara, yakni AS, Kanada, dan  Meksiko, menyepakati kerjasama perdagangan United States- Mexico-Canada  Agreement (US - MCA) senilai USD1 triliun.
Baca Juga: Perang Dagang AS-China Memanas, Pertumbuhan Ekonomi Global Memburuk
Kerja sama terbaru ini untuk menggantikan kemitraan perdagangan  sebelumnya yang bernama North American Free Trade Agreement (NAFTA).  Bagi Presiden AS Donald Trump, kesepakatan terbaru dengan Kanada dan  Meksiko ini merupakan pemenuhan janji saat kampanye 2016 lalu.
Saat itu Trump menyatakan akan melakukan negosiasi ulang atas NAFTA.  &amp;ldquo;NAFTA yang mengerikan akan segera hilang. USMCA akan fantastis untuk  semua pihak,&amp;rdquo; ujar Trump dalam akun Twitter-nya.
Kesepakatan USMCA dicapai setelah ketiga negara melakukan lobi-lobi  lebih dari setahun. Pada kerja sama tersebut di sepakati sejumlah aturan  main sektor perdagangan di industri mobil dan susu.
Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau mengatakan, pakta perdagangan  regional baru yang disepakati bersama AS dan Meksiko akan menyelesaikan  ancaman ketidakpastian ekonomi yang serius. Namun, di sisi lain, bukan  tidak mungkin kemitraan baru itu justru akan lebih merusak.
</content:encoded></item></channel></rss>
