<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Percepatan Pembangunan Papua Melalui Pendekatan Adat</title><description>Pendekatan sosiologi-antropologi menjadi faktor penting dalam proses perencanaan pembangunan nasional untuk Tanah Papua.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/12/11/320/1989818/percepatan-pembangunan-papua-melalui-pendekatan-adat</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/12/11/320/1989818/percepatan-pembangunan-papua-melalui-pendekatan-adat"/><item><title>Percepatan Pembangunan Papua Melalui Pendekatan Adat</title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/12/11/320/1989818/percepatan-pembangunan-papua-melalui-pendekatan-adat</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/12/11/320/1989818/percepatan-pembangunan-papua-melalui-pendekatan-adat</guid><pubDate>Selasa 11 Desember 2018 17:28 WIB</pubDate><dc:creator>Jamilah</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/12/11/320/1989818/percepatan-pembangunan-papua-melalui-pendekatan-adat-NCCZJkPXBI.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Trans Papua (antara)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/12/11/320/1989818/percepatan-pembangunan-papua-melalui-pendekatan-adat-NCCZJkPXBI.jpg</image><title>Foto: Trans Papua (antara)</title></images><description>JAKARTA - Pendekatan sosiologi-antropologi menjadi faktor penting dalam proses perencanaan pembangunan nasional untuk Tanah Papua. Pendekatan kultural ini tercermin dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun 2017 tentang Percepatan Pembangunan Kesejahteraan di Provinsi Papua dan Provinsi Papua.

Inpres ini menekankan strategi pembangunan berbasis budaya, wilayah adat dan fokus pada Orang Asli Papua khususnya yang berada di wilayah terisolir dan pegunungan serta kepulauan yang sulit dijangkau.

Pendekatan berbasis wilayah adat merupakan terobosan penting yang dilakukan oleh Kementerian PPN/Bappenas dengan mengakokomodasi pendekatan berbasis wilayah adat di dalam RPJMN tahun 2015-2019. Dengan pendekatan baru ini,  Pemerintah menghargai kearifan lokal,  potensi sumber daya alam lokal dan karakteristik sosial budaya di setiap wilayah adat.
&amp;nbsp;Baca Juga: Pembangunan Infrastruktur Tekan Kemiskinan Papua
Di Tanah Papua, Provinsi Papua dan Papua Barat setiap wilayah memiliki adat istiadat dan budaya yang berbeda. Terdapat 7 suku besar di Tanah Papua dan 256 suku kecil yang masing-masing memiliki bahasa daerah yang berbeda pula.

Menurut penelitian Balai Bahasa Papua dan Papua Barat Kemdikbud pada tahun 2013, terdapat 307 bahasa daerah. Sehingga pembangunan yang dilaksanakan perlu dilakukan melalui pendekatan yang berbeda pula yang disesuaikan dengan kondisi sosiologi-antropologi.

Setiap wilayah adat memiliki potensi ekonomi yang berbeda, sehingga Kementerian PPN/Bappens menekankan pendekatan pembangunan yang bersifat Tematik, Holistik, Integratif dan Spasial atau yang lebih populer disebut THIS dalam perumusan perencanaan pembangunan untuk wilayah papua.
&amp;nbsp;Baca Juga: Begini Caranya Bangkitkan Perekonomian di Papua
Kementerian PPN/Bappenas melakukan pendekatan pembangunan di beberapa wilayah strategis yang berbasis wilayah adat di Provinsi Papua, yaitu wilayah adat Saireri, wilayah adat Mamta, wilayah adat Animha, wilayah adat Meepago dan wilayah adat Laapago.

Sedangkan di Provinsi Papua Barat, dikembangkan pendekatan pengembangan kawasan-kawasan potensial seperti kawasan industri Bintuni, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sorong,  kawasan wisata Raja Ampat maupun kawasan wisata situs sejarah Pulau Mansinam.

&amp;nbsp;Baca Juga: Bagaimana Perkembangan Kondisi Ekonomi Papua Selama 17 Tahun?
Staf Ahli Menteri PPN/Bappenas Bidang Pemerataan dan Kewilayahan Oktorialdi mengatakan, dalam setahun terakhir Pemerintah menerbitkan dua Paket Kebijakan Percepatan Pembangunan Papua, yakni Inpres No 9 Tahun 2017 tentang Percepatan Pembangunan Kesejahteraan di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat, dan Inpres No 10 Tahun 2017 tentang  Dukungan Penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional XX dan Pekan Paralimpik Nasional XVI Tahun 2020 di Provinsi Papua.

Menurut Okto, Paket Kebijakan Inpres 9/2017 menekankan komitmen untuk percepatan bidang kesehatan dan pendidikan, pengembangan ekonomi lokal, infrastruktur dasar, infrastruktur digital dan konektivitas guna membuka isolasi wilayah, kelembagaan dan tata kelola pemerintahan serta mendorong pengembangan kawasan potensial.

&quot;Paket kebijakan ini ditujukan kepada 27 pimpinan kementerian/lembaga, Gubernur Papua dan Papua Barat dan para Bupati/Walikota se-Tanah Papua,&quot; ujar Okto di Jakarta, Selasa (11/12/2018).

Dalam melaksanakan paket kebijakan Inpres 10/2017 tentang Dukungan PON XX 2020 di Papua, lanjut Okto, Pemerintah melihat bahwa proyek pembangunan venue PON di Papua memiliki arti penting, bukan saja keolahragaan di Papua, namun kebanggaan Indonesia di wilayah Timur dan sebagai tanda kebangkitan olahraga dari Papua.

Dampak ke depan melalui pelaksanaan PON ini diharapkan mampu menggerakkan perekonomian sehingga PON XX Papua tahun 2020 ini bukan hanya sukses prestasi tapi juga sukses ekonomi/kesejahteraan.
&amp;nbsp;Baca Juga: Fakta Jalan Trans Papua, Dibangun Era Habibie hingga Terjadi Penembakan
Sementara  itu, Paket kebijakan Inpres 10/2017 ditujukan ke 21 Kementerian/Lembaga, Gubernur Papua dan enam Bupati/Walikota di Papua.

Komitmen Pemerintah pada Tahun Anggaran 2018 dan 2019 adalah membangun prasarana dan sarana olahraga Istora, akuatik, hoki, kricket dan velodrome di Kabupaten Jayapura, penataan kawasan olahraga, serta pembangunan baru dan/atau perawatan rumah susun sebagai wisma atlet di Jayapura, Merauke dan Mimika.

&quot;Melalui kebijakan percepatan pembangunan ini, Pemerintah memperkuat koordinasi dan sinergisitas perencanaan dan pelaksanan kebijakan, program, kegiatan, proyek, lokasi dan output percepatan pembangunan kesejahteraan di Tanah Papua,&quot; kata dia.

Beberapa terobosan penting antara lain penerapan dan penguatan sekolah berpola asrama dan pengembangan pendidikan vokasi, pemberian kesempatan yang lebih luas untuk menempuh pendidikan menengah dan tinggi bagi putra-putri Orang Asli Papua, termasuk pelayanan kesehatan jarak jauh dengan memanfaatkan teknologi komunikasi (telemedicine) terutama di daerah terisolir yang minim tenaga kesehatan.



Direktur Aparatur Negara Kementerian PPN/Bappenas sekaligus  Sekretaris Desk Papua Velix V Wanggai menjelaskan, dalam melaksanakan  paket kebijakan Inpres 10/2017 tentang Dukungan PON XX 2020 di Papua,  Pemerintah melihat bahwa proyek pembangunan venue PON di Papua memiliki  arti penting, bukan saja bidang keolahragaan di Papua, namun kebanggaan  Indonesia di wilayah Timur dan sebagai tanda kebangkitan olahraga dari  Papua. Kementerian PPN/Bappenas melakukan koordinasi perencanaan  penyelenggaraan PON XX 2020 di Papua sesuai dengan arah kebijakan RPJMN  dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP).

&quot;Dari hasil pertemuan Menteri PPN/Bappenas dan Gubernur Papua pada 31  Oktober 2018, disepakati langkah-langkah pemantapan dan penajaman  program pengembangan kluster-kluster kawasan secara terpadu di 5 kluster  Biak, Jayapura, Merauke, Mimika dan Wamena,&quot; ujar Velix.

Sejalan dengan kebijakan konektivitas di Tanah Papua, lanjut Velix,   Pemerintah melihat bahwa infrastruktur merupakan tulang punggung di  dalam menggerakkan ekonomi masyarakat, membuka isolasi wilayah dan  memperlancar pelayanan dasar seperti akses ke pusat kesehatan dan  pendidikan.

Saat ini Kementerian PPN/Bappenas secara intens mempertajam kebijakan  dan program pengembangan sosial ekonomi kawasan di sepanjang koridor  Trans Papua baik di wilayah Provinsi Papua dan Papua Barat. Langkah awal  yang dilakukan melalui pemetaan segmen-segmen Trans Papua dan  memadukannya dengan kebijakan sektoral secara terpadu baik pertanian,  perkebunan, pariwisata, kawasan industri lokal yang terintegrasi dari  hulu ke hilir, peningkatan pelabuhan laut/sungai dan bandara di kawasan  potensial lainnya.

&quot;Hal ini diikuti dengan peningkatan aktivitas komoditas unggulan  lokal yang selama ini dijalankan baik kopi, coklat, karet, pala, ubi  jalar dan sagu. Harapannya, Trans Papua memiliki makna dalam mendorong  tumbuhnya pengembangan ekonomi komoditas dan melayani komunitas lokal di  wilayah terpencil,&quot; katanya.

Velix mengakui bahwa membangun Papua tidaklah mudah, ada kompleksitas  permasalahan yang dihadapi. Bappenas mendorong pengembangan komoditas  wilayah lokal, lalu pengembangan kualitas SDM, pengembangan SDM dengan  intervensi yang berbeda-beda. &quot;Komunitas unggulan, SDM, konektivitas,  dan iklim, ini penekanan penting yang kita lakukan,&quot; ujarnya.

Menurut Velix, lebih dari separuh (2/3) penduduk di Papua berada di  atas pegunungan sehingga fokus pemerintah ke daerah  pedalaman/pegunungan. Pesan penting pemerintah adalah soal  kewirausahaan. &quot;Menumbuhkan wirausaha baru, papua bussinessman. Kita  lakukan penajaman tentang pengadaan barang dan jasa pemerintah yang pada  akhirnya dapat melahirkan pengusaha orang asli papua yang besar dan  ber-skala nasional melalui Revisi Peraturan Presiden Nomor 84 tahun 2012  tentang Pengadaan Barang/Jasa untuk Percepatan Pembangunan  Kesejahteraan di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat,&quot;katanya.

Dia menilai pelaksanaan PON di Papua jangan hanya dilihat sebagai  kompetisi saja, tapi percepatan pembangunan ekonomi dan kesejahteraan  yang akan terjadi di Papua. Bappenas akan terus melakukan pendekatan  dasar yang sudah dilakukan lima tahun terakhir ini. &quot;Bappenas merupakan  bagian dari open governance, bisa mempertimbangkan saran dan masukan  dari publik. Kemarin Bappenas memberi ruang dari saudara-saudara dari  Papua untuk arah kebijakan pembangunan ke depan,&quot; katanya.

Bersamaan dengan tugas Kementerian PPN/Bappenas dalam mempersiapkan  rancangan teknokratik RPJMN tahun 2020-2024, saat ini Bappenas sedang  terus menggali gagasan baru bagi arah baru pembangunan Tanah Papua ke  dalam kebijakan nasional lima tahun ke depan. Terobosan awal di RPJMN  2015-2019 yang telah memasukkan pendekatan wilayah adat, akan terus  dilanjutkan di tahun 2020-2024. Ke depan, Bappenas akan mempertajam  pendekatan sosiologis antropologis Papua ke dalam kebijakan nasional.

&quot;Tentu sejalan dengan pendekatan SDGs 2030, pendekatan green growth, dan pelayanan publik di era digital,&quot;katanya.
Program Manager Desk Papua Bappenas Theresia Andayani menambahkan, pembangunan di Papua juga  mengedepankan aspek lokalitas, terutama di sektor pertanian dan  perkebunan. Dia mencontohkan perkebunan kopi. Kopi asal Papua bagus dan  enak, namun di lapangan lahan untuk produksi masih terbatas.

Dari sisi hulu, Pemerintah melalui Kementerian Pertanian memperluas  titik-titik produksi. Sedangkan di sisi hilir sudah dijalankan oleh  beberpaa mitra sehingga ke depannya perlu  disinergikan. &quot;Ke depan kita akan mengembangkan bagaimana orang Papua bisa hidup dengan apa yang sudah mereka miliki,&quot; ujarnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Pendekatan sosiologi-antropologi menjadi faktor penting dalam proses perencanaan pembangunan nasional untuk Tanah Papua. Pendekatan kultural ini tercermin dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun 2017 tentang Percepatan Pembangunan Kesejahteraan di Provinsi Papua dan Provinsi Papua.

Inpres ini menekankan strategi pembangunan berbasis budaya, wilayah adat dan fokus pada Orang Asli Papua khususnya yang berada di wilayah terisolir dan pegunungan serta kepulauan yang sulit dijangkau.

Pendekatan berbasis wilayah adat merupakan terobosan penting yang dilakukan oleh Kementerian PPN/Bappenas dengan mengakokomodasi pendekatan berbasis wilayah adat di dalam RPJMN tahun 2015-2019. Dengan pendekatan baru ini,  Pemerintah menghargai kearifan lokal,  potensi sumber daya alam lokal dan karakteristik sosial budaya di setiap wilayah adat.
&amp;nbsp;Baca Juga: Pembangunan Infrastruktur Tekan Kemiskinan Papua
Di Tanah Papua, Provinsi Papua dan Papua Barat setiap wilayah memiliki adat istiadat dan budaya yang berbeda. Terdapat 7 suku besar di Tanah Papua dan 256 suku kecil yang masing-masing memiliki bahasa daerah yang berbeda pula.

Menurut penelitian Balai Bahasa Papua dan Papua Barat Kemdikbud pada tahun 2013, terdapat 307 bahasa daerah. Sehingga pembangunan yang dilaksanakan perlu dilakukan melalui pendekatan yang berbeda pula yang disesuaikan dengan kondisi sosiologi-antropologi.

Setiap wilayah adat memiliki potensi ekonomi yang berbeda, sehingga Kementerian PPN/Bappens menekankan pendekatan pembangunan yang bersifat Tematik, Holistik, Integratif dan Spasial atau yang lebih populer disebut THIS dalam perumusan perencanaan pembangunan untuk wilayah papua.
&amp;nbsp;Baca Juga: Begini Caranya Bangkitkan Perekonomian di Papua
Kementerian PPN/Bappenas melakukan pendekatan pembangunan di beberapa wilayah strategis yang berbasis wilayah adat di Provinsi Papua, yaitu wilayah adat Saireri, wilayah adat Mamta, wilayah adat Animha, wilayah adat Meepago dan wilayah adat Laapago.

Sedangkan di Provinsi Papua Barat, dikembangkan pendekatan pengembangan kawasan-kawasan potensial seperti kawasan industri Bintuni, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sorong,  kawasan wisata Raja Ampat maupun kawasan wisata situs sejarah Pulau Mansinam.

&amp;nbsp;Baca Juga: Bagaimana Perkembangan Kondisi Ekonomi Papua Selama 17 Tahun?
Staf Ahli Menteri PPN/Bappenas Bidang Pemerataan dan Kewilayahan Oktorialdi mengatakan, dalam setahun terakhir Pemerintah menerbitkan dua Paket Kebijakan Percepatan Pembangunan Papua, yakni Inpres No 9 Tahun 2017 tentang Percepatan Pembangunan Kesejahteraan di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat, dan Inpres No 10 Tahun 2017 tentang  Dukungan Penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional XX dan Pekan Paralimpik Nasional XVI Tahun 2020 di Provinsi Papua.

Menurut Okto, Paket Kebijakan Inpres 9/2017 menekankan komitmen untuk percepatan bidang kesehatan dan pendidikan, pengembangan ekonomi lokal, infrastruktur dasar, infrastruktur digital dan konektivitas guna membuka isolasi wilayah, kelembagaan dan tata kelola pemerintahan serta mendorong pengembangan kawasan potensial.

&quot;Paket kebijakan ini ditujukan kepada 27 pimpinan kementerian/lembaga, Gubernur Papua dan Papua Barat dan para Bupati/Walikota se-Tanah Papua,&quot; ujar Okto di Jakarta, Selasa (11/12/2018).

Dalam melaksanakan paket kebijakan Inpres 10/2017 tentang Dukungan PON XX 2020 di Papua, lanjut Okto, Pemerintah melihat bahwa proyek pembangunan venue PON di Papua memiliki arti penting, bukan saja keolahragaan di Papua, namun kebanggaan Indonesia di wilayah Timur dan sebagai tanda kebangkitan olahraga dari Papua.

Dampak ke depan melalui pelaksanaan PON ini diharapkan mampu menggerakkan perekonomian sehingga PON XX Papua tahun 2020 ini bukan hanya sukses prestasi tapi juga sukses ekonomi/kesejahteraan.
&amp;nbsp;Baca Juga: Fakta Jalan Trans Papua, Dibangun Era Habibie hingga Terjadi Penembakan
Sementara  itu, Paket kebijakan Inpres 10/2017 ditujukan ke 21 Kementerian/Lembaga, Gubernur Papua dan enam Bupati/Walikota di Papua.

Komitmen Pemerintah pada Tahun Anggaran 2018 dan 2019 adalah membangun prasarana dan sarana olahraga Istora, akuatik, hoki, kricket dan velodrome di Kabupaten Jayapura, penataan kawasan olahraga, serta pembangunan baru dan/atau perawatan rumah susun sebagai wisma atlet di Jayapura, Merauke dan Mimika.

&quot;Melalui kebijakan percepatan pembangunan ini, Pemerintah memperkuat koordinasi dan sinergisitas perencanaan dan pelaksanan kebijakan, program, kegiatan, proyek, lokasi dan output percepatan pembangunan kesejahteraan di Tanah Papua,&quot; kata dia.

Beberapa terobosan penting antara lain penerapan dan penguatan sekolah berpola asrama dan pengembangan pendidikan vokasi, pemberian kesempatan yang lebih luas untuk menempuh pendidikan menengah dan tinggi bagi putra-putri Orang Asli Papua, termasuk pelayanan kesehatan jarak jauh dengan memanfaatkan teknologi komunikasi (telemedicine) terutama di daerah terisolir yang minim tenaga kesehatan.



Direktur Aparatur Negara Kementerian PPN/Bappenas sekaligus  Sekretaris Desk Papua Velix V Wanggai menjelaskan, dalam melaksanakan  paket kebijakan Inpres 10/2017 tentang Dukungan PON XX 2020 di Papua,  Pemerintah melihat bahwa proyek pembangunan venue PON di Papua memiliki  arti penting, bukan saja bidang keolahragaan di Papua, namun kebanggaan  Indonesia di wilayah Timur dan sebagai tanda kebangkitan olahraga dari  Papua. Kementerian PPN/Bappenas melakukan koordinasi perencanaan  penyelenggaraan PON XX 2020 di Papua sesuai dengan arah kebijakan RPJMN  dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP).

&quot;Dari hasil pertemuan Menteri PPN/Bappenas dan Gubernur Papua pada 31  Oktober 2018, disepakati langkah-langkah pemantapan dan penajaman  program pengembangan kluster-kluster kawasan secara terpadu di 5 kluster  Biak, Jayapura, Merauke, Mimika dan Wamena,&quot; ujar Velix.

Sejalan dengan kebijakan konektivitas di Tanah Papua, lanjut Velix,   Pemerintah melihat bahwa infrastruktur merupakan tulang punggung di  dalam menggerakkan ekonomi masyarakat, membuka isolasi wilayah dan  memperlancar pelayanan dasar seperti akses ke pusat kesehatan dan  pendidikan.

Saat ini Kementerian PPN/Bappenas secara intens mempertajam kebijakan  dan program pengembangan sosial ekonomi kawasan di sepanjang koridor  Trans Papua baik di wilayah Provinsi Papua dan Papua Barat. Langkah awal  yang dilakukan melalui pemetaan segmen-segmen Trans Papua dan  memadukannya dengan kebijakan sektoral secara terpadu baik pertanian,  perkebunan, pariwisata, kawasan industri lokal yang terintegrasi dari  hulu ke hilir, peningkatan pelabuhan laut/sungai dan bandara di kawasan  potensial lainnya.

&quot;Hal ini diikuti dengan peningkatan aktivitas komoditas unggulan  lokal yang selama ini dijalankan baik kopi, coklat, karet, pala, ubi  jalar dan sagu. Harapannya, Trans Papua memiliki makna dalam mendorong  tumbuhnya pengembangan ekonomi komoditas dan melayani komunitas lokal di  wilayah terpencil,&quot; katanya.

Velix mengakui bahwa membangun Papua tidaklah mudah, ada kompleksitas  permasalahan yang dihadapi. Bappenas mendorong pengembangan komoditas  wilayah lokal, lalu pengembangan kualitas SDM, pengembangan SDM dengan  intervensi yang berbeda-beda. &quot;Komunitas unggulan, SDM, konektivitas,  dan iklim, ini penekanan penting yang kita lakukan,&quot; ujarnya.

Menurut Velix, lebih dari separuh (2/3) penduduk di Papua berada di  atas pegunungan sehingga fokus pemerintah ke daerah  pedalaman/pegunungan. Pesan penting pemerintah adalah soal  kewirausahaan. &quot;Menumbuhkan wirausaha baru, papua bussinessman. Kita  lakukan penajaman tentang pengadaan barang dan jasa pemerintah yang pada  akhirnya dapat melahirkan pengusaha orang asli papua yang besar dan  ber-skala nasional melalui Revisi Peraturan Presiden Nomor 84 tahun 2012  tentang Pengadaan Barang/Jasa untuk Percepatan Pembangunan  Kesejahteraan di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat,&quot;katanya.

Dia menilai pelaksanaan PON di Papua jangan hanya dilihat sebagai  kompetisi saja, tapi percepatan pembangunan ekonomi dan kesejahteraan  yang akan terjadi di Papua. Bappenas akan terus melakukan pendekatan  dasar yang sudah dilakukan lima tahun terakhir ini. &quot;Bappenas merupakan  bagian dari open governance, bisa mempertimbangkan saran dan masukan  dari publik. Kemarin Bappenas memberi ruang dari saudara-saudara dari  Papua untuk arah kebijakan pembangunan ke depan,&quot; katanya.

Bersamaan dengan tugas Kementerian PPN/Bappenas dalam mempersiapkan  rancangan teknokratik RPJMN tahun 2020-2024, saat ini Bappenas sedang  terus menggali gagasan baru bagi arah baru pembangunan Tanah Papua ke  dalam kebijakan nasional lima tahun ke depan. Terobosan awal di RPJMN  2015-2019 yang telah memasukkan pendekatan wilayah adat, akan terus  dilanjutkan di tahun 2020-2024. Ke depan, Bappenas akan mempertajam  pendekatan sosiologis antropologis Papua ke dalam kebijakan nasional.

&quot;Tentu sejalan dengan pendekatan SDGs 2030, pendekatan green growth, dan pelayanan publik di era digital,&quot;katanya.
Program Manager Desk Papua Bappenas Theresia Andayani menambahkan, pembangunan di Papua juga  mengedepankan aspek lokalitas, terutama di sektor pertanian dan  perkebunan. Dia mencontohkan perkebunan kopi. Kopi asal Papua bagus dan  enak, namun di lapangan lahan untuk produksi masih terbatas.

Dari sisi hulu, Pemerintah melalui Kementerian Pertanian memperluas  titik-titik produksi. Sedangkan di sisi hilir sudah dijalankan oleh  beberpaa mitra sehingga ke depannya perlu  disinergikan. &quot;Ke depan kita akan mengembangkan bagaimana orang Papua bisa hidup dengan apa yang sudah mereka miliki,&quot; ujarnya.</content:encoded></item></channel></rss>
