<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>BI Targetkan Market Share Keuangan Syariah Mencapai 20%</title><description>BI menargetkan pangsa pasar atau market share keuangan syariah dapat mencapai 20%</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/12/12/20/1990097/bi-targetkan-market-share-keuangan-syariah-mencapai-20</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/12/12/20/1990097/bi-targetkan-market-share-keuangan-syariah-mencapai-20"/><item><title>BI Targetkan Market Share Keuangan Syariah Mencapai 20%</title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/12/12/20/1990097/bi-targetkan-market-share-keuangan-syariah-mencapai-20</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/12/12/20/1990097/bi-targetkan-market-share-keuangan-syariah-mencapai-20</guid><pubDate>Rabu 12 Desember 2018 10:45 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/12/12/20/1990097/bi-targetkan-market-share-keuangan-syariah-mencapai-20-QHUKaYixnM.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Foto Shutterstock</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/12/12/20/1990097/bi-targetkan-market-share-keuangan-syariah-mencapai-20-QHUKaYixnM.jpg</image><title>Ilustrasi: Foto Shutterstock</title></images><description>SURABAYA &amp;ndash; Bank Indonesia (BI) menargetkan pangsa pasar atau market share keuangan syariah dapat mencapai 20% dalam lima tahun ke depan. Hingga saat ini market share industri keuangan syariah di Indonesia baru mencapai sekitar 8,47%.
&amp;ldquo;Itu bukan perbankan saja, tapi pasar modal syariah, pembiayaan syariah, dan dana-dana sosial seperti zakat, wakaf, dan lainnya,&amp;rdquo; kata Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo saat konferensi pers Strengthening National Economic Growth dalam rangkaian Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) di Surabaya, Jawa Timur, kemarin. BI juga akan meluncurkan sukuk Bank Indonesia yang bertujuan untuk menambah alternatif instrumen pasar uang syariah yang tradable sehingga dapat menjadi solusi jangka pendek kebutuhan likuiditas perbankan.
Menurut dia, instrumen sukuk tersebut akan melengkapi instrumen moneter syariah BI yang ada saat ini seperti Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), Fasilitas Bank Indonesia Syariah (FASBIS), Reverse Repo Syariah, dan Repo SBSN. Sukuk Bank Indonesia ini akan menyejajarkan BI dengan bank-bank sentral lain yang telah terlebih dahulu menerbitkan sukuk bank sentral seperti Bank Negara Malaysia, Central Bank of Bahrain, dan Central Bank of Jordan.
&amp;ldquo;Sukuk BI sangat penting karena kalau pemerintah menerbitkan sukuk jangka panjang dan bisa digunakan under lying dari sukuk jangka pendek ini dalam sektor keuangan, maka perputarannya semakin besar,&amp;rdquo; paparnya. Selain itu, pembiayaan infrastruktur juga bisa dibiayai dengan instrumen keuangan sukuk.
Baca Juga: BI: Keuangan Syariah Indonesia Mulai Bergeliat
&amp;ldquo;Dengan memperbanyak instrumen keuangan dan perputaran serta memperbesar sektor ekonomi di berbagai hal itu, maka insya Allah sektor syariah bisa double digit di 20% dalam lima tahun akan datang,&amp;rdquo; ungkap dia.
Menurut Perry, pengembangan kemandirian ekonomi pesantren dapat mendukung pesantren sebagai basis arus ekonomi Indonesia. Terdapat tiga program dalam pengembangan ekonomi pesantren; pertama, pengembangan berbagai unit usaha berpotensi yang memanfaatkan kerja sama antar pesantren. Kedua, mendorong terjalinnya kerja sama bisnis antar pesantren melalui penyediaan virtual market produk usaha pesan tren sekaligus business matching.
Ketiga, pengembangan holding pesantren dan penyusunan standardisasi laporan keuangan untuk pesantren dengan nama SANTRI (Sistem Akuntansi Pesantren Indonesia) yang dapat di gunakan oleh setiap unit usaha pesantren. Pesantren di Indonesia merupakan sebuah keunikan dan keunggulan dibandingkan negara lain dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah. Pesantren di Indonesia tidak hanya berperan sebagai lembaga pendidikan, namun juga memiliki potensi untuk dimanfaatkan dalam mencapai kemandirian ekonomi.
Baca Juga: Ini Penyebab Ekonomi Syariah RI Tak Berkembang
Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo menambahkan, program kemandirian pesantren yang ditempuh didasari oleh kekuatan pesantren sebagai basis arus ekonomi Indonesia, yaitu SDM pesantren, daya juang pesantren yang tinggi, dan konsep pemberdayaan ekonomi pesantren.
&amp;ldquo;Dengan kekuatan tersebut, kunci kemandirian pesantren adalah pada pendirian unit usaha dan komunikasi bisnis antar pesantren,&amp;rdquo; kata Dody. Selain itu, pesantren juga sudah memiliki akar kemandirian ekonomi yang kuat dan mampu menjadi mesin pendorong pertumbuhan ekonomi. Maka itu, sambung dia, manfaat ekonomi pesantren akan lebih optimal jika kemampuan wiraswasta para santri terus ditingkatkan. &amp;ldquo;Pesantren itu daya juangnya tidak bisa dipertanyakan dan kemampuan bersiang sudah teruji. Tinggal kemam puan kewirausahaan dan harus ditingkatkan,&amp;rdquo; ungkap dia.
Dengan demikian, melalui program pengembangan kemandirian pesantren diharapkan dapat mendorong pesantren sebagai penggerak utama dalam ekosistem halal value chain.

</description><content:encoded>SURABAYA &amp;ndash; Bank Indonesia (BI) menargetkan pangsa pasar atau market share keuangan syariah dapat mencapai 20% dalam lima tahun ke depan. Hingga saat ini market share industri keuangan syariah di Indonesia baru mencapai sekitar 8,47%.
&amp;ldquo;Itu bukan perbankan saja, tapi pasar modal syariah, pembiayaan syariah, dan dana-dana sosial seperti zakat, wakaf, dan lainnya,&amp;rdquo; kata Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo saat konferensi pers Strengthening National Economic Growth dalam rangkaian Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) di Surabaya, Jawa Timur, kemarin. BI juga akan meluncurkan sukuk Bank Indonesia yang bertujuan untuk menambah alternatif instrumen pasar uang syariah yang tradable sehingga dapat menjadi solusi jangka pendek kebutuhan likuiditas perbankan.
Menurut dia, instrumen sukuk tersebut akan melengkapi instrumen moneter syariah BI yang ada saat ini seperti Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), Fasilitas Bank Indonesia Syariah (FASBIS), Reverse Repo Syariah, dan Repo SBSN. Sukuk Bank Indonesia ini akan menyejajarkan BI dengan bank-bank sentral lain yang telah terlebih dahulu menerbitkan sukuk bank sentral seperti Bank Negara Malaysia, Central Bank of Bahrain, dan Central Bank of Jordan.
&amp;ldquo;Sukuk BI sangat penting karena kalau pemerintah menerbitkan sukuk jangka panjang dan bisa digunakan under lying dari sukuk jangka pendek ini dalam sektor keuangan, maka perputarannya semakin besar,&amp;rdquo; paparnya. Selain itu, pembiayaan infrastruktur juga bisa dibiayai dengan instrumen keuangan sukuk.
Baca Juga: BI: Keuangan Syariah Indonesia Mulai Bergeliat
&amp;ldquo;Dengan memperbanyak instrumen keuangan dan perputaran serta memperbesar sektor ekonomi di berbagai hal itu, maka insya Allah sektor syariah bisa double digit di 20% dalam lima tahun akan datang,&amp;rdquo; ungkap dia.
Menurut Perry, pengembangan kemandirian ekonomi pesantren dapat mendukung pesantren sebagai basis arus ekonomi Indonesia. Terdapat tiga program dalam pengembangan ekonomi pesantren; pertama, pengembangan berbagai unit usaha berpotensi yang memanfaatkan kerja sama antar pesantren. Kedua, mendorong terjalinnya kerja sama bisnis antar pesantren melalui penyediaan virtual market produk usaha pesan tren sekaligus business matching.
Ketiga, pengembangan holding pesantren dan penyusunan standardisasi laporan keuangan untuk pesantren dengan nama SANTRI (Sistem Akuntansi Pesantren Indonesia) yang dapat di gunakan oleh setiap unit usaha pesantren. Pesantren di Indonesia merupakan sebuah keunikan dan keunggulan dibandingkan negara lain dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah. Pesantren di Indonesia tidak hanya berperan sebagai lembaga pendidikan, namun juga memiliki potensi untuk dimanfaatkan dalam mencapai kemandirian ekonomi.
Baca Juga: Ini Penyebab Ekonomi Syariah RI Tak Berkembang
Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo menambahkan, program kemandirian pesantren yang ditempuh didasari oleh kekuatan pesantren sebagai basis arus ekonomi Indonesia, yaitu SDM pesantren, daya juang pesantren yang tinggi, dan konsep pemberdayaan ekonomi pesantren.
&amp;ldquo;Dengan kekuatan tersebut, kunci kemandirian pesantren adalah pada pendirian unit usaha dan komunikasi bisnis antar pesantren,&amp;rdquo; kata Dody. Selain itu, pesantren juga sudah memiliki akar kemandirian ekonomi yang kuat dan mampu menjadi mesin pendorong pertumbuhan ekonomi. Maka itu, sambung dia, manfaat ekonomi pesantren akan lebih optimal jika kemampuan wiraswasta para santri terus ditingkatkan. &amp;ldquo;Pesantren itu daya juangnya tidak bisa dipertanyakan dan kemampuan bersiang sudah teruji. Tinggal kemam puan kewirausahaan dan harus ditingkatkan,&amp;rdquo; ungkap dia.
Dengan demikian, melalui program pengembangan kemandirian pesantren diharapkan dapat mendorong pesantren sebagai penggerak utama dalam ekosistem halal value chain.

</content:encoded></item></channel></rss>
