<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Perekonomian Global 2019 Penuh Ketidakpastian</title><description>Kondisi perekonomian global diperkirakan masih diliputi oleh ketidakpastian</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/12/12/20/1990330/perekonomian-global-2019-penuh-ketidakpastian</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/12/12/20/1990330/perekonomian-global-2019-penuh-ketidakpastian"/><item><title>Perekonomian Global 2019 Penuh Ketidakpastian</title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/12/12/20/1990330/perekonomian-global-2019-penuh-ketidakpastian</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/12/12/20/1990330/perekonomian-global-2019-penuh-ketidakpastian</guid><pubDate>Rabu 12 Desember 2018 16:42 WIB</pubDate><dc:creator>Taufik Fajar</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/12/12/20/1990330/perekonomian-global-2019-penuh-ketidakpastian-YVVWewA4dL.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Taufik Okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/12/12/20/1990330/perekonomian-global-2019-penuh-ketidakpastian-YVVWewA4dL.jpg</image><title>Foto: Taufik Okezone</title></images><description>JAKARTA - Direktur Keuangan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) Panji Irawan mengatakan bahwa menjelang tahun 2019, kondisi perekonomian global diperkirakan masih diliputi oleh ketidakpastian. Beberapa risiko global ke depan yang cukup besar.

&quot;Seperti kemungkinan berlanjutnya perang dagang Amerika Serikat-China yang dapat menahan pemulihan ekonomi global, kenaikan suku bunga kebijakan di AS, serta pelemahan harga komoditas,&quot; ujarnya di Plaza Mandiri, Jakarta, Rabu (12/12/2018).
&amp;nbsp;Baca Juga: Ekonomi RI Bisa Bertahan di Tengah Fluktuasi Kondisi Global
Dia menjelaskan, sejalan dengan kondisi ekonomi dalam negeri yang terus membaik, kinerja industri perbankan Indonesia juga menunjukkan peningkatan.

&quot;Hal ini ditunjukkan oleh pertumbuhan kredit dan profitabilitas yang terus meningkat, serta kualitas aset yang stabil. Sampai dengan bulan September 2018, kredit industri perbankan Indonesia tumbuh 12,1% yoy,&quot; tuturnya.
&amp;nbsp;Baca Juga: Wapres JK: Ada 3 Hal Pokok untuk Membuat Ekonomi Lebih Baik
Capaian ini, lanjut dia merupakan pertumbuhan kredit tertinggi dalam empat tahun terakhir. Bank-bank terbesar seperti, Bank Mandiri, BRI, BCA, dan BNI mencatatkan pertumbuhan laba bersih cukup tinggi, rata-rata sebesar 14,3%.

&quot;Rasio kredit bermasalah atau non perfoming loan (NPL), industri perbankan juga terus menunjukkan tren penurunan dalam empat bulan terakhir secara berturut-turut, dari 2,79% pada bulan Mei 2018 menjadi 2,66% pada bulan September 2018,&quot; ungkapnya.

Namun demikian, tutur dia industri perbankan Indonesia masih memiliki tantangan yang cukup besar ke depannya, yaitu tren kenaikan suku bunga acuan, kondisi likuiditas yang mengetat, dan volatilitas nilai tukar Rupiah.

&quot;Ke depannya kami cukup optimis dengan kinerja ekonomi dan juga industri perbankan nasional. Hal ini didorong oleh pertumbuhan ekonomi yang diproyeksi akan lebih baik dari tahun ini, serta kembali stabilnya kondisi politik setelah penyelenggaraan pemilu Presiden dan legislatif 2019&quot; jelasnya.
&amp;nbsp;Baca Juga: Pengelolaan Anggaran Makin Baik, Fundamental Fiskal Kian Kuat
Dia menambahkan, sejalan dengan kondisi ekonomi dan industri perbankan Indonesia yang membaik, kinerja Bank Mandiri juga terus menunjukkan perbaikan.

&quot;Dari sisi neraca, kredit secara konsolidasian tumbuh sebesar 13,8% yoy menjadi sebesar Rp781,1 triliun, di mana pertumbuhan paling tinggi,&quot; pungkasnya.
</description><content:encoded>JAKARTA - Direktur Keuangan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) Panji Irawan mengatakan bahwa menjelang tahun 2019, kondisi perekonomian global diperkirakan masih diliputi oleh ketidakpastian. Beberapa risiko global ke depan yang cukup besar.

&quot;Seperti kemungkinan berlanjutnya perang dagang Amerika Serikat-China yang dapat menahan pemulihan ekonomi global, kenaikan suku bunga kebijakan di AS, serta pelemahan harga komoditas,&quot; ujarnya di Plaza Mandiri, Jakarta, Rabu (12/12/2018).
&amp;nbsp;Baca Juga: Ekonomi RI Bisa Bertahan di Tengah Fluktuasi Kondisi Global
Dia menjelaskan, sejalan dengan kondisi ekonomi dalam negeri yang terus membaik, kinerja industri perbankan Indonesia juga menunjukkan peningkatan.

&quot;Hal ini ditunjukkan oleh pertumbuhan kredit dan profitabilitas yang terus meningkat, serta kualitas aset yang stabil. Sampai dengan bulan September 2018, kredit industri perbankan Indonesia tumbuh 12,1% yoy,&quot; tuturnya.
&amp;nbsp;Baca Juga: Wapres JK: Ada 3 Hal Pokok untuk Membuat Ekonomi Lebih Baik
Capaian ini, lanjut dia merupakan pertumbuhan kredit tertinggi dalam empat tahun terakhir. Bank-bank terbesar seperti, Bank Mandiri, BRI, BCA, dan BNI mencatatkan pertumbuhan laba bersih cukup tinggi, rata-rata sebesar 14,3%.

&quot;Rasio kredit bermasalah atau non perfoming loan (NPL), industri perbankan juga terus menunjukkan tren penurunan dalam empat bulan terakhir secara berturut-turut, dari 2,79% pada bulan Mei 2018 menjadi 2,66% pada bulan September 2018,&quot; ungkapnya.

Namun demikian, tutur dia industri perbankan Indonesia masih memiliki tantangan yang cukup besar ke depannya, yaitu tren kenaikan suku bunga acuan, kondisi likuiditas yang mengetat, dan volatilitas nilai tukar Rupiah.

&quot;Ke depannya kami cukup optimis dengan kinerja ekonomi dan juga industri perbankan nasional. Hal ini didorong oleh pertumbuhan ekonomi yang diproyeksi akan lebih baik dari tahun ini, serta kembali stabilnya kondisi politik setelah penyelenggaraan pemilu Presiden dan legislatif 2019&quot; jelasnya.
&amp;nbsp;Baca Juga: Pengelolaan Anggaran Makin Baik, Fundamental Fiskal Kian Kuat
Dia menambahkan, sejalan dengan kondisi ekonomi dan industri perbankan Indonesia yang membaik, kinerja Bank Mandiri juga terus menunjukkan perbaikan.

&quot;Dari sisi neraca, kredit secara konsolidasian tumbuh sebesar 13,8% yoy menjadi sebesar Rp781,1 triliun, di mana pertumbuhan paling tinggi,&quot; pungkasnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
