<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pertumbuhan Ekonomi Digital RI Terbesar di Kawasan ASEAN</title><description>Indonesia menjadi negara terbesar dan tercepat dalam pertumbuhan ekonomi  digital di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) dalam kurun 2018.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/12/16/320/1991969/pertumbuhan-ekonomi-digital-ri-terbesar-di-kawasan-asean</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/12/16/320/1991969/pertumbuhan-ekonomi-digital-ri-terbesar-di-kawasan-asean"/><item><title>Pertumbuhan Ekonomi Digital RI Terbesar di Kawasan ASEAN</title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/12/16/320/1991969/pertumbuhan-ekonomi-digital-ri-terbesar-di-kawasan-asean</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/12/16/320/1991969/pertumbuhan-ekonomi-digital-ri-terbesar-di-kawasan-asean</guid><pubDate>Minggu 16 Desember 2018 12:05 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/12/16/320/1991969/pertumbuhan-ekonomi-digital-ri-terbesar-di-kawasan-asean-aYRnLc9pm7.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi E-Commerce: Reuters</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/12/16/320/1991969/pertumbuhan-ekonomi-digital-ri-terbesar-di-kawasan-asean-aYRnLc9pm7.jpg</image><title>Ilustrasi E-Commerce: Reuters</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Indonesia menjadi negara terbesar dan tercepat dalam pertumbuhan ekonomi digital di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) dalam kurun 2018.
Nilai pasar sektor ini mencapai USD27 miliar (Rp391 triliun) untuk transaksi konsumen online yang meliputi e-commerce, media online, dan perjalanan online. Nilai ekonomi digital pada tahun ini meningkat signifikan dibanding 2015 lalu yang hanya USD8 miliar.
Kedigdayaan ekonomi digital Indonesia ini berdasarkan pada laporan yang dirilis Google Temasek e- Conomy SEA. Faktor pendorong utama pertumbuhan ekonomi digital tersebut di antaranya didorong Singles&amp;rsquo; Day pada 11 November, Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) setiap 12 Desember, dan bulan Ramadan.
Baca Juga: Hadiri Digital Startup 2018, Jokowi Ingin Anak Muda Berkompetisi di Industri 4.0
Kecantikan elektronik dan pakaian menjadi produk favorit konsumen Indonesia dan paling banyak diburu. Riset dari Google tersebut juga memprediksikan perekonomian digital Indonesia tumbuh hingga USD100 miliar pada 2025.
Angka tersebut berasal dari perdagangan online dari marketplace,toko online, brand yang menjual produknya secara online, dan belum termasuk dari layanan perjalanan dan pembelian makanan secara online.
Data yang dirilis Google Temasek e-Conomy SEA juga memberikan perhatian pada besarnya potensi layanan transportasi berbasis online. Dalam laporannya disebutkan bahwa aplikasi transportasi online seperti Grab dan Go-Jek menyumbang transaksi sekitar USD2 miliar sepanjang tahun ini.

Jumlah transaksi tersebut bukan hanya berasal dari sektor transportasi semata, tetapi juga dari layanan lainnya seperti jasa pengiriman dan pesan makanan. Dari sisi investasi, bisnis digital juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para pemodal.
Berdasarkan catatan Google Temasek e-Conomy SEA, sejak periode 2015 hingga sekarang, total sudah USD24 miliar dana investasi yang mengalir ke berbagai perusahaan rintisan di kawasan Asia Tenggara yang jumlahnya mencapai 2.500 entitas.
Dari puluhan miliar dolar tersebut, sebanyak USD9 miliar di antaranya masuk ke startup unicorn seperti Grab, Go-Jek, Bukalapak, Lazada, Razer, Sea, Traveloka, Tokopedia, VNG. Pakar marketing Yuswohady mengakui tren belanja online pada setahun terakhir ini sangat nyata dan menggeser perbelanjaan offline.
Baca Juga: Persiapan SDM Indonesia Hadapi Ekonomi Digital
Jika 2-3 tahun lalu belanja online menjadi booming, pada tahun ini dampaknya bisa dirasakan dengan ditutupnya beberapa gerai toko offline. &amp;ldquo;Trennya tidak akan kembali lagi, konsumen akan terus belanja online dan meninggalkan belanja secara konvensional karena semua aspek kehidupan sudah dalam genggaman,&amp;rdquo; tutur pria yang akrab dipanggil Yuswo itu kepada KORAN SINDO.
Menurut Yuswo, kemudahan kini menjadi faktor penentu masyarakat Indonesia yang mulai beralih ke belanja online. Banyak kelebihan belanja online membuat cara belanja tersebut sudah tak tertandingi lagi.
&amp;ldquo;Seperti misalnya harga produk lebih murah, penawaran diskon besar, pilihan produk dan penjual juga banyak yang dapat dicari dengan mudahnya. Pindah dari toko satu ke toko lainnya atau pasar online sangat mudah, hanya sekali klik,&amp;rdquo; terangnya.Mekanisme pasar, menurutnya, juga ditentukan oleh konsumen. Jika  konsumen tidak puas, bisa langsung pindah ke toko lain dengan  meninggalkan testimoni untuk toko sebelumnya sehingga siapa pun pemilik  toko online yang tidak bisa memberikan kepuasan pelanggan akan ditinggal  oleh konsumen.
Prinsip ekonomi digital juga komodifikasi melalui margin yang ditekan  karena tidak memiliki inventori. Yuswo mengungkapkan, selama ini dalam  bisnis perdagangan yang membuat harga produk tinggi karena beban  inventori.
Tentu jika tidak ada fisik toko, tentu pengeluaran dapat ditekan,  harga produk dapat lebih murah. &amp;ldquo;Konsumen juga menentukan harga, tentu  mereka akan mencari yang lebih murah. Penjual akan terus menekan harga  sehingga terjadilah harga yang sangat murah.
Komodifikasi ini hanya berlaku untuk produk standar, bukan produk  mewah,&amp;rdquo; tuturnya. Dia lantas menuturkan, perkembangan pasar digital di  Indonesia juga menjadi kabar baik bagi entrepreneur. Yuswo pun  menyarankan agar para pebisnis mempunyai massa atau pelanggan online  yang setia pada produknya.
Baca Juga: Nilai Industri Digital USD150 Miliar, Menperin Dorong Startup RI Mendunia
 
&amp;ldquo;Jadi saran saya bagi entrepereneur harus ada komunitas pencinta  produk mereka sendiri. Membangun itu tentu butuh usaha lebih selain  produk berkualitas juga mengisi konten digital yang menarik perhatian  konsumen online,&amp;rdquo; tambahnya.
Sementara itu, Ketua Indonesia Ecommerce Association (IdEA) Ignatius  Untung membenarkan platform marketplace memang sedang berada di puncak  daya tarik konsumen digital. Namun, IdEA tengah menyoroti marketplace  yang hanya menjual diskon untuk menarik konsumen.
Padahal, hal lain adalah dapat memanfaatkan atau menggunakan cara  lain agar konsumen juga dapat tereduksi untuk tidak hanya memilih produk  yang murah.
&amp;ldquo;Marketplace dapat meningkatkan layanan agar loyalitas konsumen  meningkat. Jangan loyal hanya diskon, tetapi dengan brand kalau tidak  ada diskon ditinggal konsumen,&amp;rdquo; tutur Ignatius.
Peningkatan layanan juga salah satunya untuk perlindungan konsumen.  Marketplace memang menjadi sarana untuk mencegah penipuan dalam  berbelanja online.
IdEA pun terus mengedukasi masyarakat untuk pindah bertransaksi  melalui platform marketplace. Jika ada kerugian yang dialami konsumen,  dapat langsung dipertanggungjawabkan. Perdagangan online luas, media  sosial pun digunakan untuk jual beli, namun banyak masalah yang muncul.&amp;ldquo;Kalau belanja online melalui media sosial, berkomunikasi dengan   aplikasi chatting. Jika ada masalah melapor ke perusahaan, media sosial   tidak akan ditanggapi,&amp;rdquo; jelas country manager Rumah123.com ini.
Perlindungan konsumen online menjadi prioritas bagi IdEA di platform   marketplace. Ignatius menjelaskan, tim di IdEA sedang membuat roadmap   perlindungan konsumen berupa sertifikasi untuk seluruh pemain   e-commerce.
Sertifikasi ini akan seperti ISO pada produk, tetapi ini untuk   penjual dan platform. &amp;ldquo;Kami sertifikasi, dua tahun sekali direviu masih   layak tidak dapat sertifikasi itu. Berlaku untuk semua pemain besar   maupun kecil.
Kemudian IdEA akan mengomunikasikan ke konsumen jika belanja yang   sudah memiliki sertifikasi Grade A lebih aman dan terlindungi,&amp;rdquo;   tuturnya. Penilaian yang diukur, menurutnya, adalah seberapa banyak   komplain, seberapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan   komplain, termasuk seberapa besar jumlah sumber daya untuk menyelesaikan   komplain tersebut.
&amp;ldquo;Keandalan sistem dan masih banyak lagi. Semua kami bilang dan nanti   akan keluar grade - nya,&amp;rdquo; tambahnya. IdEA juga mengundang Yayasan   Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) agar sama-sama menjaga.
Setelah semua penilaian siap akan ada sosialisasi dan penilaian   kemungkinan akan dijalankan pada awal 2020. &amp;ldquo;Platform dan penjual yang   menjadi fokus untuk dinilai. Kalau produk sebenarnya sudah otomatis,   jika platform marketplace bertanggung jawab, jika ada produk yang tidak   jelas, akan langsung diblack list,&amp;rdquo; ungkap Ignatius.
Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi juga turut menaruh perhatian   terhadap kegemaran masyarakat Indonesia yang gemar berbelanja online.   Terlebih dengan ada hari belanja khusus yang disebut Singels&amp;iacute; Day pada   11 November dan Harbolnas pada 12 Desember.
Kepada pemerintah, YLKI mendesak agar segera disahkan Rancangan   Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Belanja Online yang kini masih   mangkrak.
&amp;ldquo;Ironis di tengah besarnya pertumbuhan ekonomi digital salah satunya   belanja online,tapi regulasi perlindungan konsumennya masih rendah.   Padahal, pengaduan belanja online masih sangat dominan. Bahkan di YLKI   pengaduan belanja online menjadi rangking tertinggi,&amp;rdquo; ujar Tulus.
Bukan hanya kepada pemerintah, YLKI juga mengajak konsumen Indonesia   untuk tetap waspada meskipun sudah berbelanja di platform marketplace   yang diklaim aman. Ia meminta kepada masyarakat untuk memastikan   interaksi langsung dengan pedagang online yang kredibel dan identitas   yang jelas.
(Ananda Nararya)</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Indonesia menjadi negara terbesar dan tercepat dalam pertumbuhan ekonomi digital di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) dalam kurun 2018.
Nilai pasar sektor ini mencapai USD27 miliar (Rp391 triliun) untuk transaksi konsumen online yang meliputi e-commerce, media online, dan perjalanan online. Nilai ekonomi digital pada tahun ini meningkat signifikan dibanding 2015 lalu yang hanya USD8 miliar.
Kedigdayaan ekonomi digital Indonesia ini berdasarkan pada laporan yang dirilis Google Temasek e- Conomy SEA. Faktor pendorong utama pertumbuhan ekonomi digital tersebut di antaranya didorong Singles&amp;rsquo; Day pada 11 November, Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) setiap 12 Desember, dan bulan Ramadan.
Baca Juga: Hadiri Digital Startup 2018, Jokowi Ingin Anak Muda Berkompetisi di Industri 4.0
Kecantikan elektronik dan pakaian menjadi produk favorit konsumen Indonesia dan paling banyak diburu. Riset dari Google tersebut juga memprediksikan perekonomian digital Indonesia tumbuh hingga USD100 miliar pada 2025.
Angka tersebut berasal dari perdagangan online dari marketplace,toko online, brand yang menjual produknya secara online, dan belum termasuk dari layanan perjalanan dan pembelian makanan secara online.
Data yang dirilis Google Temasek e-Conomy SEA juga memberikan perhatian pada besarnya potensi layanan transportasi berbasis online. Dalam laporannya disebutkan bahwa aplikasi transportasi online seperti Grab dan Go-Jek menyumbang transaksi sekitar USD2 miliar sepanjang tahun ini.

Jumlah transaksi tersebut bukan hanya berasal dari sektor transportasi semata, tetapi juga dari layanan lainnya seperti jasa pengiriman dan pesan makanan. Dari sisi investasi, bisnis digital juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para pemodal.
Berdasarkan catatan Google Temasek e-Conomy SEA, sejak periode 2015 hingga sekarang, total sudah USD24 miliar dana investasi yang mengalir ke berbagai perusahaan rintisan di kawasan Asia Tenggara yang jumlahnya mencapai 2.500 entitas.
Dari puluhan miliar dolar tersebut, sebanyak USD9 miliar di antaranya masuk ke startup unicorn seperti Grab, Go-Jek, Bukalapak, Lazada, Razer, Sea, Traveloka, Tokopedia, VNG. Pakar marketing Yuswohady mengakui tren belanja online pada setahun terakhir ini sangat nyata dan menggeser perbelanjaan offline.
Baca Juga: Persiapan SDM Indonesia Hadapi Ekonomi Digital
Jika 2-3 tahun lalu belanja online menjadi booming, pada tahun ini dampaknya bisa dirasakan dengan ditutupnya beberapa gerai toko offline. &amp;ldquo;Trennya tidak akan kembali lagi, konsumen akan terus belanja online dan meninggalkan belanja secara konvensional karena semua aspek kehidupan sudah dalam genggaman,&amp;rdquo; tutur pria yang akrab dipanggil Yuswo itu kepada KORAN SINDO.
Menurut Yuswo, kemudahan kini menjadi faktor penentu masyarakat Indonesia yang mulai beralih ke belanja online. Banyak kelebihan belanja online membuat cara belanja tersebut sudah tak tertandingi lagi.
&amp;ldquo;Seperti misalnya harga produk lebih murah, penawaran diskon besar, pilihan produk dan penjual juga banyak yang dapat dicari dengan mudahnya. Pindah dari toko satu ke toko lainnya atau pasar online sangat mudah, hanya sekali klik,&amp;rdquo; terangnya.Mekanisme pasar, menurutnya, juga ditentukan oleh konsumen. Jika  konsumen tidak puas, bisa langsung pindah ke toko lain dengan  meninggalkan testimoni untuk toko sebelumnya sehingga siapa pun pemilik  toko online yang tidak bisa memberikan kepuasan pelanggan akan ditinggal  oleh konsumen.
Prinsip ekonomi digital juga komodifikasi melalui margin yang ditekan  karena tidak memiliki inventori. Yuswo mengungkapkan, selama ini dalam  bisnis perdagangan yang membuat harga produk tinggi karena beban  inventori.
Tentu jika tidak ada fisik toko, tentu pengeluaran dapat ditekan,  harga produk dapat lebih murah. &amp;ldquo;Konsumen juga menentukan harga, tentu  mereka akan mencari yang lebih murah. Penjual akan terus menekan harga  sehingga terjadilah harga yang sangat murah.
Komodifikasi ini hanya berlaku untuk produk standar, bukan produk  mewah,&amp;rdquo; tuturnya. Dia lantas menuturkan, perkembangan pasar digital di  Indonesia juga menjadi kabar baik bagi entrepreneur. Yuswo pun  menyarankan agar para pebisnis mempunyai massa atau pelanggan online  yang setia pada produknya.
Baca Juga: Nilai Industri Digital USD150 Miliar, Menperin Dorong Startup RI Mendunia
 
&amp;ldquo;Jadi saran saya bagi entrepereneur harus ada komunitas pencinta  produk mereka sendiri. Membangun itu tentu butuh usaha lebih selain  produk berkualitas juga mengisi konten digital yang menarik perhatian  konsumen online,&amp;rdquo; tambahnya.
Sementara itu, Ketua Indonesia Ecommerce Association (IdEA) Ignatius  Untung membenarkan platform marketplace memang sedang berada di puncak  daya tarik konsumen digital. Namun, IdEA tengah menyoroti marketplace  yang hanya menjual diskon untuk menarik konsumen.
Padahal, hal lain adalah dapat memanfaatkan atau menggunakan cara  lain agar konsumen juga dapat tereduksi untuk tidak hanya memilih produk  yang murah.
&amp;ldquo;Marketplace dapat meningkatkan layanan agar loyalitas konsumen  meningkat. Jangan loyal hanya diskon, tetapi dengan brand kalau tidak  ada diskon ditinggal konsumen,&amp;rdquo; tutur Ignatius.
Peningkatan layanan juga salah satunya untuk perlindungan konsumen.  Marketplace memang menjadi sarana untuk mencegah penipuan dalam  berbelanja online.
IdEA pun terus mengedukasi masyarakat untuk pindah bertransaksi  melalui platform marketplace. Jika ada kerugian yang dialami konsumen,  dapat langsung dipertanggungjawabkan. Perdagangan online luas, media  sosial pun digunakan untuk jual beli, namun banyak masalah yang muncul.&amp;ldquo;Kalau belanja online melalui media sosial, berkomunikasi dengan   aplikasi chatting. Jika ada masalah melapor ke perusahaan, media sosial   tidak akan ditanggapi,&amp;rdquo; jelas country manager Rumah123.com ini.
Perlindungan konsumen online menjadi prioritas bagi IdEA di platform   marketplace. Ignatius menjelaskan, tim di IdEA sedang membuat roadmap   perlindungan konsumen berupa sertifikasi untuk seluruh pemain   e-commerce.
Sertifikasi ini akan seperti ISO pada produk, tetapi ini untuk   penjual dan platform. &amp;ldquo;Kami sertifikasi, dua tahun sekali direviu masih   layak tidak dapat sertifikasi itu. Berlaku untuk semua pemain besar   maupun kecil.
Kemudian IdEA akan mengomunikasikan ke konsumen jika belanja yang   sudah memiliki sertifikasi Grade A lebih aman dan terlindungi,&amp;rdquo;   tuturnya. Penilaian yang diukur, menurutnya, adalah seberapa banyak   komplain, seberapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan   komplain, termasuk seberapa besar jumlah sumber daya untuk menyelesaikan   komplain tersebut.
&amp;ldquo;Keandalan sistem dan masih banyak lagi. Semua kami bilang dan nanti   akan keluar grade - nya,&amp;rdquo; tambahnya. IdEA juga mengundang Yayasan   Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) agar sama-sama menjaga.
Setelah semua penilaian siap akan ada sosialisasi dan penilaian   kemungkinan akan dijalankan pada awal 2020. &amp;ldquo;Platform dan penjual yang   menjadi fokus untuk dinilai. Kalau produk sebenarnya sudah otomatis,   jika platform marketplace bertanggung jawab, jika ada produk yang tidak   jelas, akan langsung diblack list,&amp;rdquo; ungkap Ignatius.
Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi juga turut menaruh perhatian   terhadap kegemaran masyarakat Indonesia yang gemar berbelanja online.   Terlebih dengan ada hari belanja khusus yang disebut Singels&amp;iacute; Day pada   11 November dan Harbolnas pada 12 Desember.
Kepada pemerintah, YLKI mendesak agar segera disahkan Rancangan   Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Belanja Online yang kini masih   mangkrak.
&amp;ldquo;Ironis di tengah besarnya pertumbuhan ekonomi digital salah satunya   belanja online,tapi regulasi perlindungan konsumennya masih rendah.   Padahal, pengaduan belanja online masih sangat dominan. Bahkan di YLKI   pengaduan belanja online menjadi rangking tertinggi,&amp;rdquo; ujar Tulus.
Bukan hanya kepada pemerintah, YLKI juga mengajak konsumen Indonesia   untuk tetap waspada meskipun sudah berbelanja di platform marketplace   yang diklaim aman. Ia meminta kepada masyarakat untuk memastikan   interaksi langsung dengan pedagang online yang kredibel dan identitas   yang jelas.
(Ananda Nararya)</content:encoded></item></channel></rss>
