<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Mengintip Kisruh Fintech P2P Lending di China</title><description>Industri teknologi finansial (fintech) di China beberapa saat lalu dihantam badai. Penyebabnya, bisnis pinjam meminjam (peer to peer lending) di Negeri Tirai Bambu tersebut bermasalah dan menyebabkan pemerintah turun tangan untuk menenangkan masyarakat yang panik. Bagaimana awal mulanya?</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/12/23/320/1995146/mengintip-kisruh-fintech-p2p-lending-di-china</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/12/23/320/1995146/mengintip-kisruh-fintech-p2p-lending-di-china"/><item><title>Mengintip Kisruh Fintech P2P Lending di China</title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/12/23/320/1995146/mengintip-kisruh-fintech-p2p-lending-di-china</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/12/23/320/1995146/mengintip-kisruh-fintech-p2p-lending-di-china</guid><pubDate>Minggu 23 Desember 2018 20:48 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/12/23/320/1995146/mengintip-kisruh-fintech-p2p-lending-di-china-bSULTjqKaA.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Ilustrasi Shutterstcok</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/12/23/320/1995146/mengintip-kisruh-fintech-p2p-lending-di-china-bSULTjqKaA.jpg</image><title>Foto: Ilustrasi Shutterstcok</title></images><description>JAKARTA - Industri teknologi finansial (fintech) di China beberapa saat lalu dihantam badai. Penyebabnya, bisnis pinjam meminjam (peer to peer lending) di Negeri Tirai Bambu tersebut bermasalah dan menyebabkan pemerintah turun tangan untuk menenangkan masyarakat yang panik. Bagaimana awal mulanya?
China merupakan pasar peer to peer lending terbesar di dunia. Perputaran uang dari industri ini ditaksir mencapai US$192 miliar atau setara Rp2.745,6 triliun hingga semester I tahun ini. Nah, bagaimana industri sebesar itu bisa bermasalah?
Sebelum masuk ke permasalahan tersebut, ada baiknya Anda mengenal model bisnis peer to peer lending dan perubahannya setelah ada fintech.
Dikutip dari halaman CekAJa.com Mari mengenal bagaimana sistem peer to peer lending berjalan dan kemajuannya di era fintech.
Mengenal bisnis peer to peer lending
Peer to peer lending adalah praktik atau metode memberikan pinjaman uang kepada individu atau bisnis dan juga sebaliknya. Individu atau bisnis juga bisa mengajukan pinjaman kepada pemberi pinjaman.
Fintech peer to peer lending menjadi wadah yang menghubungkan antara pemberi pinjaman dengan peminjam atau investor secara online.
Terdapat dua subjek dalam peer to peer lending, yakni sebagai peminjam atau sebagai pemberi pinjaman alias investor. Namun, sistem peer to peer lending ini bukanlah tanpa risiko. Sama seperti kegiatan finansial lainnya, tetap harus berhati-hati dalam menjalankannya.
Bisnis fintech peer to peer lending ini memungkinkan setiap orang untuk memberikan pinjaman atau mengajukan pinjaman antara satu dengan yang lain. Bedanya, hal itu bisa dilakukan untuk berbagai kepentingan tanpa menggunakan jasa dari lembaga keuangan konvensional.
Model bisnis di era fintech
Pada dasarnya, sistem bisnis fintech peer to peer lending ini sangat mirip dengan konsep marketplace online, yang menyediakan wadah sebagai tempat pertemuan antara pembeli dengan penjual.
Nah, untuk investor atau pemberi pinjaman, keuntungan yang diraih berasal dari bunga pinjaman yang dipatok ketika dana tersalurkan. Sementara, keuntungan dari peminjam adalah dapat memperoleh dana dengan cepat tanpa proses yang panjang dan rumit.
Hal yang saling menguntungkan tersebut kemudian membuat sebuah ekosistem perputaran uang yang berkelanjutan. Namun, seperti bisnis pinjaman lainnya, terdapat beberapa hal yang bisa menjadi hambatan. Hal itu seperti kredit macet dan tingkat bunga yang tidak menguntungkan salah satu pihak.
Perkembangan fintech peer to peer lending di China
Pada 2015, Perdana Menteri China, Li Keqiang dan mantan gubernur bank   sentral China, Zhou Xiaochuan, secara terbuka mendorong peer to peer   lending sebagai cara untuk mengembangkan keuangan online dan mendukung   usaha kecil menengah.
Dibandingkan dengan sistem perbankan tradisional, peer to peer   lending memiliki ambang investasi yang lebih besar bagi para penabung,   sementara menawarkan para peminjam kemudahan untuk memperoleh dana tanpa   kerumitan soal historis kredit.
Dengan dukungan publik untuk sektor ini, ditambah dengan rujukan dari   mulut ke mulut, jutaan pemberi pinjaman kecil muncul. Hal itu membantu   menjadikan China sebagai pasar peer to peer lending terbesar di dunia,   dengan 1,2 triliun yuan (USD175 miliar) dalam pinjaman yang beredar  pada  2017.
Hal itu kemudian membuat jumlah perusahaan peer to peer lending   meroket dari 10 pada 2010, menjadi lebih dari 3.000 pada 2015. Tetapi   karena semakin banyak pemain masuk ke pasar, beberapa perusahaan fintech   peer to peer lending mulai menjanjikan suku bunga jauh lebih tinggi   daripada pesaing.
Janji untung selangit
Dibandingkan dengan tingkat bunga kurang dari 2% di bank-bank China,  banyak platform peer to peer lending menjanjikan imbal hasil hingga 10%.  Mereka bahkan, juga mulai menjanjikan investor dengan imbal hasil yang  lebih baik.
Syaratnya, investor mampu mendapatkan lebih banyak orang di jaringan  mereka untuk berinvestasi di platform peer to peer lending-nya.
Bahkan, terdapat platform peer to peer lending yang menjanjikan  keuntungan hingga 60 persen. Akibatnya, sang pendiri melarikan diri  karena gagal membayar kembali lebih dari 200 juta yuan (USD29 miliar).
Tak hanya masalah tersebut, fakta lainnya, pinjaman ini sangat  berisiko di China. Menurut laporan DBS, peminjam peer to peer lending  biasanya memiliki usia 20 hingga 39, dengan penghasilan antara USD300  hingga USD1200 per bulan, dan dengan sejarah kredit yang minim.
Hal itu ditambah dengan kurangnya transparansi mengenai bagaimana  platform peer to peer lending menggunakan uang dari para pemberi  pinjaman membuat sulit bagi investor untuk mengetahui apa yang terjadi.
Penyebaran masalah dan turun tangan pemerintah
Berbagai permasalahan yang melanda fintech peer to peer lending di  China tersebut kemudian semakin menyebar. Imbasnya, banyak masyarakat  yang kehilangan dana investasinya dari memberikan pinjaman akibat  platform yang gagal bayar.
Arus penarikan dana (rush) pun terjadi secara masif, karena  kehawatiran masyarakat setelah terdapat beberapa perusahaan yang gulung  tikar akibat gagal bayar. Hal itu kemudian memicu gelombang unjuk rasa  dari masyarakat.
Menghadapi kepanikan masyarakat yang kehilangan dana investasinya  sebagai peminjam, Pemerintah China pun turun tangan dengan melakukan  pengetatan regulasi. Mulai dari pengaturan imbal hasil atau suku bunga  pinjaman, hingga beragam aturan pengawasan yang ketat.
Pada saat itu, Ketua Komisi Regulator Perbankan dan Asuransi China,  Guo Shuqing kemudian mengeluarkan peringatan keras bahwa publik harus  mempertanyakan apabila bunga imbal hasil di atas 6%. Pasalnya, tingkat  imbal hasil 8% adalah sinyal berbahaya, dan masyarakat bisa bersiap  untuk kehilangan semuamnya jika imbal hasil lebih dari 10 persen.
Sejak awal tahun hingga Juli lalu, sebanyak 221 perusahaan fintech  peer to peer lending gulung tikar karena gagal bayar. Angka itu  meningkat dari 217 perusahaan yang bangkrut pada sepanjang 2017.
Pemerintah China saat ini menggencarkan kampanye untuk menurunkan  jumlah perusahaan fintech peer to peer lending yang berperforma buruk.  Tak hanya itu, perusahaan dengan aset yang kecil dan di bawah ketentuan  baru, diminta untuk segera mengembalikan dananya kepada masyarakat dalam  setahun.</description><content:encoded>JAKARTA - Industri teknologi finansial (fintech) di China beberapa saat lalu dihantam badai. Penyebabnya, bisnis pinjam meminjam (peer to peer lending) di Negeri Tirai Bambu tersebut bermasalah dan menyebabkan pemerintah turun tangan untuk menenangkan masyarakat yang panik. Bagaimana awal mulanya?
China merupakan pasar peer to peer lending terbesar di dunia. Perputaran uang dari industri ini ditaksir mencapai US$192 miliar atau setara Rp2.745,6 triliun hingga semester I tahun ini. Nah, bagaimana industri sebesar itu bisa bermasalah?
Sebelum masuk ke permasalahan tersebut, ada baiknya Anda mengenal model bisnis peer to peer lending dan perubahannya setelah ada fintech.
Dikutip dari halaman CekAJa.com Mari mengenal bagaimana sistem peer to peer lending berjalan dan kemajuannya di era fintech.
Mengenal bisnis peer to peer lending
Peer to peer lending adalah praktik atau metode memberikan pinjaman uang kepada individu atau bisnis dan juga sebaliknya. Individu atau bisnis juga bisa mengajukan pinjaman kepada pemberi pinjaman.
Fintech peer to peer lending menjadi wadah yang menghubungkan antara pemberi pinjaman dengan peminjam atau investor secara online.
Terdapat dua subjek dalam peer to peer lending, yakni sebagai peminjam atau sebagai pemberi pinjaman alias investor. Namun, sistem peer to peer lending ini bukanlah tanpa risiko. Sama seperti kegiatan finansial lainnya, tetap harus berhati-hati dalam menjalankannya.
Bisnis fintech peer to peer lending ini memungkinkan setiap orang untuk memberikan pinjaman atau mengajukan pinjaman antara satu dengan yang lain. Bedanya, hal itu bisa dilakukan untuk berbagai kepentingan tanpa menggunakan jasa dari lembaga keuangan konvensional.
Model bisnis di era fintech
Pada dasarnya, sistem bisnis fintech peer to peer lending ini sangat mirip dengan konsep marketplace online, yang menyediakan wadah sebagai tempat pertemuan antara pembeli dengan penjual.
Nah, untuk investor atau pemberi pinjaman, keuntungan yang diraih berasal dari bunga pinjaman yang dipatok ketika dana tersalurkan. Sementara, keuntungan dari peminjam adalah dapat memperoleh dana dengan cepat tanpa proses yang panjang dan rumit.
Hal yang saling menguntungkan tersebut kemudian membuat sebuah ekosistem perputaran uang yang berkelanjutan. Namun, seperti bisnis pinjaman lainnya, terdapat beberapa hal yang bisa menjadi hambatan. Hal itu seperti kredit macet dan tingkat bunga yang tidak menguntungkan salah satu pihak.
Perkembangan fintech peer to peer lending di China
Pada 2015, Perdana Menteri China, Li Keqiang dan mantan gubernur bank   sentral China, Zhou Xiaochuan, secara terbuka mendorong peer to peer   lending sebagai cara untuk mengembangkan keuangan online dan mendukung   usaha kecil menengah.
Dibandingkan dengan sistem perbankan tradisional, peer to peer   lending memiliki ambang investasi yang lebih besar bagi para penabung,   sementara menawarkan para peminjam kemudahan untuk memperoleh dana tanpa   kerumitan soal historis kredit.
Dengan dukungan publik untuk sektor ini, ditambah dengan rujukan dari   mulut ke mulut, jutaan pemberi pinjaman kecil muncul. Hal itu membantu   menjadikan China sebagai pasar peer to peer lending terbesar di dunia,   dengan 1,2 triliun yuan (USD175 miliar) dalam pinjaman yang beredar  pada  2017.
Hal itu kemudian membuat jumlah perusahaan peer to peer lending   meroket dari 10 pada 2010, menjadi lebih dari 3.000 pada 2015. Tetapi   karena semakin banyak pemain masuk ke pasar, beberapa perusahaan fintech   peer to peer lending mulai menjanjikan suku bunga jauh lebih tinggi   daripada pesaing.
Janji untung selangit
Dibandingkan dengan tingkat bunga kurang dari 2% di bank-bank China,  banyak platform peer to peer lending menjanjikan imbal hasil hingga 10%.  Mereka bahkan, juga mulai menjanjikan investor dengan imbal hasil yang  lebih baik.
Syaratnya, investor mampu mendapatkan lebih banyak orang di jaringan  mereka untuk berinvestasi di platform peer to peer lending-nya.
Bahkan, terdapat platform peer to peer lending yang menjanjikan  keuntungan hingga 60 persen. Akibatnya, sang pendiri melarikan diri  karena gagal membayar kembali lebih dari 200 juta yuan (USD29 miliar).
Tak hanya masalah tersebut, fakta lainnya, pinjaman ini sangat  berisiko di China. Menurut laporan DBS, peminjam peer to peer lending  biasanya memiliki usia 20 hingga 39, dengan penghasilan antara USD300  hingga USD1200 per bulan, dan dengan sejarah kredit yang minim.
Hal itu ditambah dengan kurangnya transparansi mengenai bagaimana  platform peer to peer lending menggunakan uang dari para pemberi  pinjaman membuat sulit bagi investor untuk mengetahui apa yang terjadi.
Penyebaran masalah dan turun tangan pemerintah
Berbagai permasalahan yang melanda fintech peer to peer lending di  China tersebut kemudian semakin menyebar. Imbasnya, banyak masyarakat  yang kehilangan dana investasinya dari memberikan pinjaman akibat  platform yang gagal bayar.
Arus penarikan dana (rush) pun terjadi secara masif, karena  kehawatiran masyarakat setelah terdapat beberapa perusahaan yang gulung  tikar akibat gagal bayar. Hal itu kemudian memicu gelombang unjuk rasa  dari masyarakat.
Menghadapi kepanikan masyarakat yang kehilangan dana investasinya  sebagai peminjam, Pemerintah China pun turun tangan dengan melakukan  pengetatan regulasi. Mulai dari pengaturan imbal hasil atau suku bunga  pinjaman, hingga beragam aturan pengawasan yang ketat.
Pada saat itu, Ketua Komisi Regulator Perbankan dan Asuransi China,  Guo Shuqing kemudian mengeluarkan peringatan keras bahwa publik harus  mempertanyakan apabila bunga imbal hasil di atas 6%. Pasalnya, tingkat  imbal hasil 8% adalah sinyal berbahaya, dan masyarakat bisa bersiap  untuk kehilangan semuamnya jika imbal hasil lebih dari 10 persen.
Sejak awal tahun hingga Juli lalu, sebanyak 221 perusahaan fintech  peer to peer lending gulung tikar karena gagal bayar. Angka itu  meningkat dari 217 perusahaan yang bangkrut pada sepanjang 2017.
Pemerintah China saat ini menggencarkan kampanye untuk menurunkan  jumlah perusahaan fintech peer to peer lending yang berperforma buruk.  Tak hanya itu, perusahaan dengan aset yang kecil dan di bawah ketentuan  baru, diminta untuk segera mengembalikan dananya kepada masyarakat dalam  setahun.</content:encoded></item></channel></rss>
