<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Menjaga Keberlangsungan Fiskal demi Pembangunan Negara</title><description>Pengelolaan fiskal (keuangan negara) menjadi salah satu kunci untuk melanggengkan perannya dalam pembangunan negara.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/12/24/20/1995399/menjaga-keberlangsungan-fiskal-demi-pembangunan-negara</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/12/24/20/1995399/menjaga-keberlangsungan-fiskal-demi-pembangunan-negara"/><item><title>Menjaga Keberlangsungan Fiskal demi Pembangunan Negara</title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/12/24/20/1995399/menjaga-keberlangsungan-fiskal-demi-pembangunan-negara</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/12/24/20/1995399/menjaga-keberlangsungan-fiskal-demi-pembangunan-negara</guid><pubDate>Senin 24 Desember 2018 15:10 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/12/24/20/1995399/menjaga-keberlangsungan-fiskal-demi-pembangunan-negara-7AHWQgHpwZ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Foto Shutterstock</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/12/24/20/1995399/menjaga-keberlangsungan-fiskal-demi-pembangunan-negara-7AHWQgHpwZ.jpg</image><title>Ilustrasi: Foto Shutterstock</title></images><description>JAKARTA - Kemampuan pemerintah dalam pengelolaan fiskal (keuangan negara) menjadi salah satu kunci untuk melanggengkan perannya dalam pembangunan negara.

Sebab dengan semakin besarnya kapasitas fiskal yang dapat dikelola, taring yang dimiliki pemerintah seyogianya juga semakin tajam untuk dapat menuntaskan beragam persoalan pembangunan.

Pada tahun ini tampak beberapa capaian pemerintah dalam kebijakan fiskal yang tergolong membanggakan.
&amp;nbsp;Baca Juga: Mengukur RAPBN 2019 Senilai Rp2.439 Triliun dengan Ekonomi Tumbuh 5,3%
Hingga 30 November lalu, total pendapatan negara sudah mencapai Rp1.662,94 triliun atau 87,77% dari target APBN 2018. Pendapatan terbesar (seperti biasa) diperoleh dari realisasi penerimaan perpajakan yang secara agregat mencapai Rp1.301,48 triliun atau menopang 78,26% dari total pendapatan negara.

Total perpajakan ter sebut baru mencapai sekitar 80,43% dari target APBN 2018 dan kemungkinannya masih akan terus meningkat. Diban dingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya, terlihat ada kenaikan penerimaan perpajakan sekitar 15,27%.

Penerimaan perpajakan itu sendiri merupakan gabungan dari penerimaan pajak serta kepabeanan dan cukai. Penerimaan pajak sementara ini terealisasi sekitar Rp1.136 triliun (78,82% dari target) dan tercatat mengalami kenaikan 15,35% dari periode yang sama tahun lalu.
&amp;nbsp;Baca Juga: Biayai APBN 2019, Sri Mulyani Terbitkan Utang Dolar AS Rp43,5 Triliun
Jika tidak turut memperhitungkan penerimaan dari tax amnesty 2017, tingkat pertumbuhannya akan mengalami perubahan menjadi 16,77%. Faktor yang mendorong pertumbuhan signifikan tersebut diantaranya berkat kontribusi dari PPh 22 Impor, PPh 25/29 Badan dan Orang Pribadi (OP), serta PPN Impor yang meningkat tinggi.

Keempat komponen pajak tersebut masing-masing tumbuh di atas 20% dengan princian secara berurutan sebesar 27,28%, 22,05%, 20,86%, dan 26,55%. Adapun penerimaan kepabeanan dan cukai untuk sementara ini terealisasi Rp164,82 triliun (84,91% dari target).

Tingkat pertumbuhan secara agregat mencapai 14,7% yang salah satunya disebabkan kenaikan aktivitas perdagangan internasional. Itu semua di antaranya merupakan imbas positif dari program Penertiban Impor Berisiko Tinggi (PIBT), Penanganan Cukai Berisiko Tinggi (PCBT), serta peningkatan harga komoditas internasional.
&amp;nbsp;Baca Juga: Serahkan DIPA 2019, Presiden Jokowi Minta Jangan Ada Mark Up Anggaran
Kendati demikian kenaikan aktivitas impor masih menjadi buah simalakama bagi kita karena sebagian besar masih diisi kebutuhan bahan baku dan bahan penolong untuk sektor industri manufaktur.

Di satu sisi kenaikan impor barang tersebut menunjukkan adanya peningkatan aktivitas produksi dan tergambar potensi pen dapatan bagi negara. Namun di sisi yang lain itu akan membebani neraca perdagangan (dan dampaknya terhadap kurs rupiah) serta menggerogoti keman dirian/ketahanan ekonomi kita.

Selain dari penerimaan per pajakan, pos pendapatan yang kinerjanya tak kalah membanggakan adalah penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dan hibah.
Realisasi PNBP tercatat telah mencapai Rp350,86 dan melampaui  ekspektasi APBN 2018 dengan tingkat realisasi sebesar 127,39%. Secara  agregat hasil PNBP meningkat 31,54% bila dibandingkan dengan periode  yang sama tahun sebelumnya.

Kenaikan rata-rata harga komo ditas minyak bumi dan batu bara yang  terjadi sepanjang tahun berjalan menjadi penyebab utama peningkatan  realisasi PNBP. Realisasi PNBP sumber daya alam (SDA) mencapai Rp163,75  triliun dengan tingkat pertumbuhan sebesar 60,42%.

Mayoritas PNBP SDA di hasilkan dari kelompok migas yang mencapai  Rp119,83 triliun dengan tingkat pertumbuhan 72,86%. Sementara itu  pendapatan dari hibah untuk saat ini sudah mencapai Rp10,6 triliun atau  setara dengan 885,75% dari target APBN 2018.

Performa pendapatan negara yang sejauh ini relatif melegakan tersebut  perlu dijaga ke sinambungannya melalui kebijakan belanja yang mumpuni.  Karena di tahun-tahun berikut nya kita akan menghadapi berbagai  tantangan pembangunan yang sifatnya selalu dinamis.

Target pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan membutuhkan investasi  dari pemerintah dan sektor swasta secara progresif. Kebijakan pemerintah  dari sisi belanja dan regulasi dapat memengaruhi performa keduanya  (investasi pemerintah dan swasta) secara sekaligus.

Di luar itu masih juga dipengaruhi kondisi eksternal yang sering kali  turut menjadi faktor penentu hasil kebijakan domestik. Untuk saat ini  mungkin problem terbesarnya adalah bagaimana mewujudkan biaya investasi  yang semakin efisien.

Salah satu indikatornya dapat dilihat dari tingkat incremental  capital output ratio (ICOR) yang pada 2017 kemarin sebesar 6,46%. Angka  tersebut menjelaskan bahwa untuk kenaikan pertumbuhan 1%, kita butuh  kenaikan investasi sebesar 6,46 kali lipat dari nilai sebelumnya.

Skor tersebut masih cukup mem bebani, terlebih jika dibandingkan  dengan beberapa negara tetangga yang nilai ICORnya hanya di kisaran 3%.  Tantangan berikutnya adalah menjaga daya beli dan tingkat konsumsi  masyarakat agar bisa tetap tinggi. Hal tersebut tidak dapat kita hindari  karena tulang punggung perekonomian Indonesia utamanya berasal dari  konsumsi rumah tangga.

Determinan dari daya beli dan ting kat konsumsi adalah bauran dari  tingkat inflasi dan kenaikan pendapatan masyarakat. Untuk saat ini  tingkat inflasi masih sangat terkendali dengan kisaran yang sesuai  dengan ekspektasi pemerintah.

Namun stabilitas pasokan serta tingkat pendapatan masyarakat sejauh  ini stabilitasnya masih relatif abu-abu. Persepsi dan psikologi publik  juga masih mudah terguncang dengan isu pelemahan nilai tukar rupiah.

Hal tersebut cukup beralasan karena sebagian barang konsumsi  masyarakat dan input produksi bagi industri berasal dari impor. Jadi  perubahan sedikit saja pada kurs rupiah bisa segera memengaruhi psikis  pola ekonomi mereka.

Penguatan nilai tukar rupiah yang ter jadi akhirakhir ini disinyalir  le bih banyak karena peran faktor eksternal ketimbang sumbangsih dari  pemerintah. Hal itu ternyata mampu memperkuat keyakinan masyarakat pada  pemerintah dan memperbaiki pola ekonomi dan daya beli masyarakat.
Fiskal yang Produktif

Sejarah mengatakan kinerja sektor riil masih relatif dominan dalam   memengaruhi kinerja perekonomian secara luas. Semakin bagus kinerja   sektor riil, potensi penerimaan negara juga kian meningkat. Penguatan di   sektor moneter juga amat dibutuhkan untuk melengkapi stabilitas   kebijakan pemerintah di sektor riil.

Arah kebijakan berikutnya akan sangat menentukan sejauh mana   perekonomian kita bisa berdiri tegak. Tentunya kinerja kebijakan fiskal   dari sisi pendapatan maupun belanja akan memberikan warna tersendiri di   dalamnya.

Secara filosofis, perlu diupayakan proses perbaikan sistem perpajakan   dan fiskal secara umum untuk digiatkan dalam proses yang lebih   partisipatif dan transparan. Reformasi ini bukan hanya komitmen secara   lisan yang diperlukan, tetapi juga perjuangan menuju kebaikan secara   terus-menerus dan fokus pada tujuan yang diinginkan.

Dalam konteks peningkatan pendapatan negara, kita tidak cukup hanya   menyoroti penerimaan dari sisi perpajakan saja. PNBP, hibah, atau sumber   pembiayaan alternatif non-APBN lainnya juga tak kalah krusial. Hasil   PNBP masih dipengaruhi secara signifikan oleh produktivitas dan harga   jual hasil SDA, khususnya yang berasal dari kelompok migas.

Kita tentu berharap hargaharga komoditas tersebut bisa berjalan   stabil agar tidak banyak mengganggu produktivitas. Sementara itu   pendapatan dari hibah dan pembiayaan alternatif non-APBN sangat   bergantung pada kreativitas pemerintah dalam meyakinkan pihak swasta   ataupun internasional untuk membantu mengatasi beberapa masalah   pembiayaan.

Portofolio kebijakan dan kredibilitas pemerintah akan menjadi faktor   penentunya. Namun tetap dibutuhkan prinsip kehati-hatian agar kerja  sama  antara pemerintah dan swasta atau negara lain tidak merugikan   pemerintah.

Diperlukan kualitas komunikasi pemerintah yang sangat baik untuk   menjaga kualitas kebijakan agar bisa diterima dengan baik. Diperlukan   kearifan dan lugas agar niat-niat tulus dari pemerintah dapat diterima   dan dipahami secara baik dan komprehensif.

Agenda reformasi perpajakan juga berkaitan dengan tuntutan-tuntutan   tersebut. Sebab pada hakikatnya publik akan terpanggil untuk   berpartisipasi ketika pemerintah memberikan apresiasi dan masyarakat   akan menyambut kebijakan tersebut dengan baik pula. Peranan belanja   pemerintah juga tidak kalah krusial.

Karena bagaimanapun kebijakan belanja mengejawantahkan visi dan gaya   keberpihakan politik pemerintah dalam sketsa pembangunan negara. Untuk   saat ini realisasi belanja negara sudah mencapai Rp1.942,93 triliun  atau  sekitar 87,5% dari target APBN 2018.

Angka tersebut sudah relatif sangat baik untuk menggambarkan kinerja   birokrasi dari sisi tingkat penyerapan anggaran. Langkah selanjutnya   yang di butuhkan adalah bagaimana caranya agar pola belanja pemerintah   bisa berjalan efektif dan efisien?

Efektif dapat dimaknai sebagai kebijakan yang sesuai dengan   kebutuhan, sedangkan efisien adalah pengelolaan kebijakan dengan biaya   yang rendah (murah). Semangat efisiensi pada kementerian/lembaga (K/L)   serta pemerintah daerah seharusnya perlu diutamakan untuk di wujudkan   segera.

Perlu dibangun sistem yang menyeluruh dan terintegrasi (mulai   perencanaan hingga pengawasan) un tuk mengurangi overlapping, dobel   pendanaan, serta mark-up harga pada penganggaran. Kebijakan yang   tumpangtin dih serta membutuhkan birokrasi yang panjang menjadi salah   satu pendorong mengapa skor ICOR kita masih saja tinggi.

Hasil-hasil pembangunan infrastruktur serta pembangunan SDM dan   deregulasi birokrasi mudah-mudahan segera dapat kita rasakan. Sebab   kalau perekonomian kita masih saja berbiaya tinggi, jangan harap daya   dukung sektor swasta dan masyarakat bisa berjalan opti mal. Pertumbuhan   ekonomi, realisasi pendapatan negara, dan stabilitas pembangunan akan   segera terdampak secara langsung maupun secara berjangka.

Tahun 2019 akan menjadi tahun yang penuh ketidakpastian karena kita   akan menghadapi momentum pesta demokrasi dan tantangan pengendalian dam   pak eksternal yang semakin mengemuka.

Walaupun demikian kita harus tetap fokus dan solid untuk   menjalankannya melalui perencanaan dan program yang lebih realistis dan   fokus pada kebutuhan masyarakat.

Kesuksesan di tahun ini harus tetap kita jaga agar hasilnya dapat   terus berjalan berkesi nambungan. Pemerintah dan rakyat perlu terus   berjalan bergandengan tangan mengha dapi tantangan karena ke duanya   masih sangat saling membutuhkan. Mudah-mudahan kita tetap bisa menjaga   dan merawatnya dengan baik. Semoga!

Candra Fajri Ananda
 
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya


</description><content:encoded>JAKARTA - Kemampuan pemerintah dalam pengelolaan fiskal (keuangan negara) menjadi salah satu kunci untuk melanggengkan perannya dalam pembangunan negara.

Sebab dengan semakin besarnya kapasitas fiskal yang dapat dikelola, taring yang dimiliki pemerintah seyogianya juga semakin tajam untuk dapat menuntaskan beragam persoalan pembangunan.

Pada tahun ini tampak beberapa capaian pemerintah dalam kebijakan fiskal yang tergolong membanggakan.
&amp;nbsp;Baca Juga: Mengukur RAPBN 2019 Senilai Rp2.439 Triliun dengan Ekonomi Tumbuh 5,3%
Hingga 30 November lalu, total pendapatan negara sudah mencapai Rp1.662,94 triliun atau 87,77% dari target APBN 2018. Pendapatan terbesar (seperti biasa) diperoleh dari realisasi penerimaan perpajakan yang secara agregat mencapai Rp1.301,48 triliun atau menopang 78,26% dari total pendapatan negara.

Total perpajakan ter sebut baru mencapai sekitar 80,43% dari target APBN 2018 dan kemungkinannya masih akan terus meningkat. Diban dingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya, terlihat ada kenaikan penerimaan perpajakan sekitar 15,27%.

Penerimaan perpajakan itu sendiri merupakan gabungan dari penerimaan pajak serta kepabeanan dan cukai. Penerimaan pajak sementara ini terealisasi sekitar Rp1.136 triliun (78,82% dari target) dan tercatat mengalami kenaikan 15,35% dari periode yang sama tahun lalu.
&amp;nbsp;Baca Juga: Biayai APBN 2019, Sri Mulyani Terbitkan Utang Dolar AS Rp43,5 Triliun
Jika tidak turut memperhitungkan penerimaan dari tax amnesty 2017, tingkat pertumbuhannya akan mengalami perubahan menjadi 16,77%. Faktor yang mendorong pertumbuhan signifikan tersebut diantaranya berkat kontribusi dari PPh 22 Impor, PPh 25/29 Badan dan Orang Pribadi (OP), serta PPN Impor yang meningkat tinggi.

Keempat komponen pajak tersebut masing-masing tumbuh di atas 20% dengan princian secara berurutan sebesar 27,28%, 22,05%, 20,86%, dan 26,55%. Adapun penerimaan kepabeanan dan cukai untuk sementara ini terealisasi Rp164,82 triliun (84,91% dari target).

Tingkat pertumbuhan secara agregat mencapai 14,7% yang salah satunya disebabkan kenaikan aktivitas perdagangan internasional. Itu semua di antaranya merupakan imbas positif dari program Penertiban Impor Berisiko Tinggi (PIBT), Penanganan Cukai Berisiko Tinggi (PCBT), serta peningkatan harga komoditas internasional.
&amp;nbsp;Baca Juga: Serahkan DIPA 2019, Presiden Jokowi Minta Jangan Ada Mark Up Anggaran
Kendati demikian kenaikan aktivitas impor masih menjadi buah simalakama bagi kita karena sebagian besar masih diisi kebutuhan bahan baku dan bahan penolong untuk sektor industri manufaktur.

Di satu sisi kenaikan impor barang tersebut menunjukkan adanya peningkatan aktivitas produksi dan tergambar potensi pen dapatan bagi negara. Namun di sisi yang lain itu akan membebani neraca perdagangan (dan dampaknya terhadap kurs rupiah) serta menggerogoti keman dirian/ketahanan ekonomi kita.

Selain dari penerimaan per pajakan, pos pendapatan yang kinerjanya tak kalah membanggakan adalah penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dan hibah.
Realisasi PNBP tercatat telah mencapai Rp350,86 dan melampaui  ekspektasi APBN 2018 dengan tingkat realisasi sebesar 127,39%. Secara  agregat hasil PNBP meningkat 31,54% bila dibandingkan dengan periode  yang sama tahun sebelumnya.

Kenaikan rata-rata harga komo ditas minyak bumi dan batu bara yang  terjadi sepanjang tahun berjalan menjadi penyebab utama peningkatan  realisasi PNBP. Realisasi PNBP sumber daya alam (SDA) mencapai Rp163,75  triliun dengan tingkat pertumbuhan sebesar 60,42%.

Mayoritas PNBP SDA di hasilkan dari kelompok migas yang mencapai  Rp119,83 triliun dengan tingkat pertumbuhan 72,86%. Sementara itu  pendapatan dari hibah untuk saat ini sudah mencapai Rp10,6 triliun atau  setara dengan 885,75% dari target APBN 2018.

Performa pendapatan negara yang sejauh ini relatif melegakan tersebut  perlu dijaga ke sinambungannya melalui kebijakan belanja yang mumpuni.  Karena di tahun-tahun berikut nya kita akan menghadapi berbagai  tantangan pembangunan yang sifatnya selalu dinamis.

Target pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan membutuhkan investasi  dari pemerintah dan sektor swasta secara progresif. Kebijakan pemerintah  dari sisi belanja dan regulasi dapat memengaruhi performa keduanya  (investasi pemerintah dan swasta) secara sekaligus.

Di luar itu masih juga dipengaruhi kondisi eksternal yang sering kali  turut menjadi faktor penentu hasil kebijakan domestik. Untuk saat ini  mungkin problem terbesarnya adalah bagaimana mewujudkan biaya investasi  yang semakin efisien.

Salah satu indikatornya dapat dilihat dari tingkat incremental  capital output ratio (ICOR) yang pada 2017 kemarin sebesar 6,46%. Angka  tersebut menjelaskan bahwa untuk kenaikan pertumbuhan 1%, kita butuh  kenaikan investasi sebesar 6,46 kali lipat dari nilai sebelumnya.

Skor tersebut masih cukup mem bebani, terlebih jika dibandingkan  dengan beberapa negara tetangga yang nilai ICORnya hanya di kisaran 3%.  Tantangan berikutnya adalah menjaga daya beli dan tingkat konsumsi  masyarakat agar bisa tetap tinggi. Hal tersebut tidak dapat kita hindari  karena tulang punggung perekonomian Indonesia utamanya berasal dari  konsumsi rumah tangga.

Determinan dari daya beli dan ting kat konsumsi adalah bauran dari  tingkat inflasi dan kenaikan pendapatan masyarakat. Untuk saat ini  tingkat inflasi masih sangat terkendali dengan kisaran yang sesuai  dengan ekspektasi pemerintah.

Namun stabilitas pasokan serta tingkat pendapatan masyarakat sejauh  ini stabilitasnya masih relatif abu-abu. Persepsi dan psikologi publik  juga masih mudah terguncang dengan isu pelemahan nilai tukar rupiah.

Hal tersebut cukup beralasan karena sebagian barang konsumsi  masyarakat dan input produksi bagi industri berasal dari impor. Jadi  perubahan sedikit saja pada kurs rupiah bisa segera memengaruhi psikis  pola ekonomi mereka.

Penguatan nilai tukar rupiah yang ter jadi akhirakhir ini disinyalir  le bih banyak karena peran faktor eksternal ketimbang sumbangsih dari  pemerintah. Hal itu ternyata mampu memperkuat keyakinan masyarakat pada  pemerintah dan memperbaiki pola ekonomi dan daya beli masyarakat.
Fiskal yang Produktif

Sejarah mengatakan kinerja sektor riil masih relatif dominan dalam   memengaruhi kinerja perekonomian secara luas. Semakin bagus kinerja   sektor riil, potensi penerimaan negara juga kian meningkat. Penguatan di   sektor moneter juga amat dibutuhkan untuk melengkapi stabilitas   kebijakan pemerintah di sektor riil.

Arah kebijakan berikutnya akan sangat menentukan sejauh mana   perekonomian kita bisa berdiri tegak. Tentunya kinerja kebijakan fiskal   dari sisi pendapatan maupun belanja akan memberikan warna tersendiri di   dalamnya.

Secara filosofis, perlu diupayakan proses perbaikan sistem perpajakan   dan fiskal secara umum untuk digiatkan dalam proses yang lebih   partisipatif dan transparan. Reformasi ini bukan hanya komitmen secara   lisan yang diperlukan, tetapi juga perjuangan menuju kebaikan secara   terus-menerus dan fokus pada tujuan yang diinginkan.

Dalam konteks peningkatan pendapatan negara, kita tidak cukup hanya   menyoroti penerimaan dari sisi perpajakan saja. PNBP, hibah, atau sumber   pembiayaan alternatif non-APBN lainnya juga tak kalah krusial. Hasil   PNBP masih dipengaruhi secara signifikan oleh produktivitas dan harga   jual hasil SDA, khususnya yang berasal dari kelompok migas.

Kita tentu berharap hargaharga komoditas tersebut bisa berjalan   stabil agar tidak banyak mengganggu produktivitas. Sementara itu   pendapatan dari hibah dan pembiayaan alternatif non-APBN sangat   bergantung pada kreativitas pemerintah dalam meyakinkan pihak swasta   ataupun internasional untuk membantu mengatasi beberapa masalah   pembiayaan.

Portofolio kebijakan dan kredibilitas pemerintah akan menjadi faktor   penentunya. Namun tetap dibutuhkan prinsip kehati-hatian agar kerja  sama  antara pemerintah dan swasta atau negara lain tidak merugikan   pemerintah.

Diperlukan kualitas komunikasi pemerintah yang sangat baik untuk   menjaga kualitas kebijakan agar bisa diterima dengan baik. Diperlukan   kearifan dan lugas agar niat-niat tulus dari pemerintah dapat diterima   dan dipahami secara baik dan komprehensif.

Agenda reformasi perpajakan juga berkaitan dengan tuntutan-tuntutan   tersebut. Sebab pada hakikatnya publik akan terpanggil untuk   berpartisipasi ketika pemerintah memberikan apresiasi dan masyarakat   akan menyambut kebijakan tersebut dengan baik pula. Peranan belanja   pemerintah juga tidak kalah krusial.

Karena bagaimanapun kebijakan belanja mengejawantahkan visi dan gaya   keberpihakan politik pemerintah dalam sketsa pembangunan negara. Untuk   saat ini realisasi belanja negara sudah mencapai Rp1.942,93 triliun  atau  sekitar 87,5% dari target APBN 2018.

Angka tersebut sudah relatif sangat baik untuk menggambarkan kinerja   birokrasi dari sisi tingkat penyerapan anggaran. Langkah selanjutnya   yang di butuhkan adalah bagaimana caranya agar pola belanja pemerintah   bisa berjalan efektif dan efisien?

Efektif dapat dimaknai sebagai kebijakan yang sesuai dengan   kebutuhan, sedangkan efisien adalah pengelolaan kebijakan dengan biaya   yang rendah (murah). Semangat efisiensi pada kementerian/lembaga (K/L)   serta pemerintah daerah seharusnya perlu diutamakan untuk di wujudkan   segera.

Perlu dibangun sistem yang menyeluruh dan terintegrasi (mulai   perencanaan hingga pengawasan) un tuk mengurangi overlapping, dobel   pendanaan, serta mark-up harga pada penganggaran. Kebijakan yang   tumpangtin dih serta membutuhkan birokrasi yang panjang menjadi salah   satu pendorong mengapa skor ICOR kita masih saja tinggi.

Hasil-hasil pembangunan infrastruktur serta pembangunan SDM dan   deregulasi birokrasi mudah-mudahan segera dapat kita rasakan. Sebab   kalau perekonomian kita masih saja berbiaya tinggi, jangan harap daya   dukung sektor swasta dan masyarakat bisa berjalan opti mal. Pertumbuhan   ekonomi, realisasi pendapatan negara, dan stabilitas pembangunan akan   segera terdampak secara langsung maupun secara berjangka.

Tahun 2019 akan menjadi tahun yang penuh ketidakpastian karena kita   akan menghadapi momentum pesta demokrasi dan tantangan pengendalian dam   pak eksternal yang semakin mengemuka.

Walaupun demikian kita harus tetap fokus dan solid untuk   menjalankannya melalui perencanaan dan program yang lebih realistis dan   fokus pada kebutuhan masyarakat.

Kesuksesan di tahun ini harus tetap kita jaga agar hasilnya dapat   terus berjalan berkesi nambungan. Pemerintah dan rakyat perlu terus   berjalan bergandengan tangan mengha dapi tantangan karena ke duanya   masih sangat saling membutuhkan. Mudah-mudahan kita tetap bisa menjaga   dan merawatnya dengan baik. Semoga!

Candra Fajri Ananda
 
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya


</content:encoded></item></channel></rss>
