<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Nilai Eksposur Asuransi Akibat Tsunami di Selat Sunda Capai Rp15,9 Triliun</title><description>Nilai eksposur tersebut, paling tidak ada sekitar 191 risiko senilai Rp15,9 triliun yang berlokasi di bibir pantai</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/12/28/320/1997052/nilai-eksposur-asuransi-akibat-tsunami-di-selat-sunda-capai-rp15-9-triliun</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/12/28/320/1997052/nilai-eksposur-asuransi-akibat-tsunami-di-selat-sunda-capai-rp15-9-triliun"/><item><title>Nilai Eksposur Asuransi Akibat Tsunami di Selat Sunda Capai Rp15,9 Triliun</title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/12/28/320/1997052/nilai-eksposur-asuransi-akibat-tsunami-di-selat-sunda-capai-rp15-9-triliun</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/12/28/320/1997052/nilai-eksposur-asuransi-akibat-tsunami-di-selat-sunda-capai-rp15-9-triliun</guid><pubDate>Jum'at 28 Desember 2018 12:49 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/12/28/320/1997052/nilai-eksposur-asuransi-akibat-tsunami-di-selat-sunda-capai-rp15-9-triliun-T1TqAZnnY5.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/12/28/320/1997052/nilai-eksposur-asuransi-akibat-tsunami-di-selat-sunda-capai-rp15-9-triliun-T1TqAZnnY5.jpg</image><title>Ilustrasi: (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menyatakan, berdasarkan database eksposur risiko yang tercatat melalui sesi risiko gempa di PT Reasuransi Maipark Indonesia, total eksposur asuransi nasional yang berlokasi di provinsi Banten dan Lampung sebesar Rp307 triliun yang terdiri dari 17.843 risiko. Dari nilai eksposur tersebut, paling tidak ada sekitar 191 risiko senilai Rp15,9 triliun yang berlokasi di bibir pantai.
&quot;Risiko yang berada di daerah pantai inilah yang kemungkinan terdampak tsunami pada 22 Desember 2018 lalu,&quot; ujar Direktur Eksekutif AAUI Dody S. Dalimunthe dalam keterangan tertulisnya, dikutip dari Harian Neraca, Jakarta, Jumat (28/12/2018).
Menurut dia, pihaknya mencatat di Kabupaten Pandeglang, Banten, nilai eksposur Rp820,3 miliar dan nilai pertanggungan yang berlokasi di pinggir pantai Rp221 miliar. Sedangkan untuk Kabupaten Serang, Banten, nilai eksposur sebesar Rp41,3 triliun dan nilai pertanggungan yang berlokasi di pinggir pantai Rp15,67 triliun.
Baca Juga: Listrik Telah Pulih 100% Pasca-Tsunami Selat Sunda
Sementara untuk Kabupaten Lampung Selatan, nilai eksposur sebesar Rp3,95 triliun, Kabupaten Pesawaran nilai eksposur Rp 0,4 miliar, dan Kabupaten Tanggamus nilai eksposur Rp303,64 miliar. Sedangkan untuk nilai pertanggungan yang berlokasi di pinggir pantai di ketiga lokasi tersebut masih diidentifikasi.
Dia menjelaskan pada zonasi asuransi gempa bumi Indonesia terbaru yang diberlakukan sejak Januari 2017, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak, Kabupaten Serang, Kota Cilegon, Kabupaten Lampung Selatan dan Kabupaten Pesawaran masuk zona gempa bumi IV sedangkan Kabupaten Tenggamus masuk ke zona gempa bumi tertinggi yaitu zona V (lima).
Dia pun meminta Perusahaan Asuransi Umum yang menerbitkan Polis Asuransi Standar Gempa Bumi Indonesia (PSAGBI), agar segera melakukan langkah-langkah proses penanganan klaim sesuai dengan liability penanggung.

&quot;Sampai saat ini nilai kerugian masih menunggu laporan klaim dari semua perusahaan asuransi, di mana angkanya masih belum final dan akan terus berkembang dikarenakan proses identifikasi dan verifikasi masih dalam proses,&quot; ujarnya.
AAUI juga mendorong perusahaan asuransi umum anggota AAUI untuk menginventarisir dampak tsunami berupa kerugian per lini bisnis asuransi. Dengan kondisi lapangan yang masih kurang kondusif, memang dibutuhkan waktu untuk memproses dan menghitung potensi klaim.
&quot;Untuk memudahkan koordinasi penanganan klaim, perusahaan asuransi juga diharapkan segera melakukan proses penanganan klaim secara profesional dan jika perlu menyediakan call center dan posko penanganan klaim dan melakukan jemput bola agar meringankan beban masyarakat yang tertimpa musibah,&quot; ujarnya.
Baca Juga: Pasca-Tsunami, Menhub Akui Jumlah Penumpang Kapal Menurun
&quot;AAUI mengimbau kepada Tertanggung yang memiliki polis asuransi gempa bumi dan mengalami kerugian akibat risiko gempa bumi dapat segera melaporkan kerugian tersebut kepada perusahaan asuransi penerbit polis,&quot; ujarnya.
Secara terpisah, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengatakan, usai bencana tsunami Selat Sunda pada Sabtu (22/12) lalu, banyak fasilitas umum dan fasilitas sosial di wilayah Banten dan Lampung yang rusak.

&quot;Saya kira kalau fasos fasum akan kita perbaiki, tidak hanya dua sekolah yang dilaporkan rusak. Tapi kalau ada madrasah dan masjid juga akan kita perbaiki,&quot; ujarnya di Kementerian PUPR.
Menurut dia, data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), ada sekitar 600 rumah di Banten dan Lampung yang harus diperbaiki. &quot;Kalau dari data BNPB ada sekitar 600 rumah. Kalau jalan mungkin hanya untuk yang ke daerah Serta (Kabupaten Pandeglang, Banten) saja, yang lainnya kan oke semua,&quot; ujarnya.Secara skema pembiayaan, menurut dia, pembangunan kembali fasum dan  fasos beserta relokasi rumah warga sepenuhnya akan menggunakan Anggaran  Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Nantinya, pemerintah akan membersihkan berbagai puing-puing bangunan  akibat bencana tsunami. Setelah itu, merelokasi rumah warga yang ikut  terdampak. Kemudian, memperbaiki berbagai fasilitas umum dan fasilitas  sosial yang rusak.
Basuki mengatakan, pihaknya akan mencari lokasi yang tepat untuk  merelokasi rumah warga. Sebab, sebelumnya rumah warga hanya berjarak 5  meter dari bibir pantai sehingga akan membahayakan warga jika bencana  tsunami kembali datang.

&quot;Betul-betul di bibir pantai, jadi bahaya, apalagi persis dekat  Krakatau. Kita sudah bikin tanggul pantai di situ, nanti perbaikannya  saya menunggu arahan pak Guburnur dan Bupati. Kalau sudah ada daerah  untuk yang relokasi akan segera kita bangun,&quot; ujarnya.
Longsor 64 Hektar
Sementara itu, Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber  Daya Mineral (ESDM) Rudy Suhendar menyatakan terjadinya tsunami di selat  sunda karena terjadi longsor di Gunung Api Anak Krakatau. Hasil kajian  Badan Geologi berdasarkan pemantauan interpretasi citra, kelongsoran di  Gunung Anak Krakatau mencapai seluas 64 hektar.
Rudy menyampaikan aktivitas Gunung Anak Krakatau ini terus meningkat  mulai sejak 29 Juni 2018, frekuensi peningkatan paling besar terjadi  pada 22 Desember 2018. &quot;Yang terekam oleh kita pukul 21.03 kita sudah  mulai agak besar dengan kebesaran itu dengan seismograf kebesaran per  jam itu kita satu disertai kenaikan air laut yang menyebabkan tsunami  pada malam itu,&quot; ujarnya di Pos Pemantauan Pasauran, Serang, kemarin.
Lalu pada 23 sampai 24 Desember 2018, hembusan letusan terus terjadi  dengan amplitudo cukup tinggi over skill menunjukkan aktivitas kegempaan  tremor menerus amplitudo 8-32 mm (dominan 25 mm) sehingga pagi tadi  status Gunung Anak Krakatau berubah status dari waspada ke siaga.

&quot;Kemarin sore dengan letusan dengan arah angin ke timur laut  menjatuhkan abu ke pesisir wilayah Anyer dan Cilegon meskipun masih  kurang dari satu mili dari ketebalan abu yang turun, Kami melakukan  evaluasi dengan adanya abu. Per pagi tadi statusnya kita naikan dari  waspada ke siaga,&quot; katanya.
Berdasarkan pemantauan PVMBG, terlihat cuaca mendung dan hujan di  Gunung Anak Krakatau. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara  dan timur laut. Suhu udara 24-26 celsius dan kelembaban udara 91-96  persen. Volume curah hujan tidak tercatat. Dari pengamatan visual gunung  kabut 0-III. Asap kawah tidak teramati. Terdengar suara dentuman di pos  pengamatan Gunung Anak Krakatau.
Data yang diambil dari Stasiun Sertung, dekat kawasan Gunung Anak  Krakatau di Selat Sunda ini, menunjukkan aktivitas kegempaan tremor  menerus amplitudo 8-32 mm (dominan 25 mm). Status siaga ini membuat  masyarakat diminta tak mendekati kawah Gunung Anak Krakatau dalam radius  5 Km.</description><content:encoded>JAKARTA - Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menyatakan, berdasarkan database eksposur risiko yang tercatat melalui sesi risiko gempa di PT Reasuransi Maipark Indonesia, total eksposur asuransi nasional yang berlokasi di provinsi Banten dan Lampung sebesar Rp307 triliun yang terdiri dari 17.843 risiko. Dari nilai eksposur tersebut, paling tidak ada sekitar 191 risiko senilai Rp15,9 triliun yang berlokasi di bibir pantai.
&quot;Risiko yang berada di daerah pantai inilah yang kemungkinan terdampak tsunami pada 22 Desember 2018 lalu,&quot; ujar Direktur Eksekutif AAUI Dody S. Dalimunthe dalam keterangan tertulisnya, dikutip dari Harian Neraca, Jakarta, Jumat (28/12/2018).
Menurut dia, pihaknya mencatat di Kabupaten Pandeglang, Banten, nilai eksposur Rp820,3 miliar dan nilai pertanggungan yang berlokasi di pinggir pantai Rp221 miliar. Sedangkan untuk Kabupaten Serang, Banten, nilai eksposur sebesar Rp41,3 triliun dan nilai pertanggungan yang berlokasi di pinggir pantai Rp15,67 triliun.
Baca Juga: Listrik Telah Pulih 100% Pasca-Tsunami Selat Sunda
Sementara untuk Kabupaten Lampung Selatan, nilai eksposur sebesar Rp3,95 triliun, Kabupaten Pesawaran nilai eksposur Rp 0,4 miliar, dan Kabupaten Tanggamus nilai eksposur Rp303,64 miliar. Sedangkan untuk nilai pertanggungan yang berlokasi di pinggir pantai di ketiga lokasi tersebut masih diidentifikasi.
Dia menjelaskan pada zonasi asuransi gempa bumi Indonesia terbaru yang diberlakukan sejak Januari 2017, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak, Kabupaten Serang, Kota Cilegon, Kabupaten Lampung Selatan dan Kabupaten Pesawaran masuk zona gempa bumi IV sedangkan Kabupaten Tenggamus masuk ke zona gempa bumi tertinggi yaitu zona V (lima).
Dia pun meminta Perusahaan Asuransi Umum yang menerbitkan Polis Asuransi Standar Gempa Bumi Indonesia (PSAGBI), agar segera melakukan langkah-langkah proses penanganan klaim sesuai dengan liability penanggung.

&quot;Sampai saat ini nilai kerugian masih menunggu laporan klaim dari semua perusahaan asuransi, di mana angkanya masih belum final dan akan terus berkembang dikarenakan proses identifikasi dan verifikasi masih dalam proses,&quot; ujarnya.
AAUI juga mendorong perusahaan asuransi umum anggota AAUI untuk menginventarisir dampak tsunami berupa kerugian per lini bisnis asuransi. Dengan kondisi lapangan yang masih kurang kondusif, memang dibutuhkan waktu untuk memproses dan menghitung potensi klaim.
&quot;Untuk memudahkan koordinasi penanganan klaim, perusahaan asuransi juga diharapkan segera melakukan proses penanganan klaim secara profesional dan jika perlu menyediakan call center dan posko penanganan klaim dan melakukan jemput bola agar meringankan beban masyarakat yang tertimpa musibah,&quot; ujarnya.
Baca Juga: Pasca-Tsunami, Menhub Akui Jumlah Penumpang Kapal Menurun
&quot;AAUI mengimbau kepada Tertanggung yang memiliki polis asuransi gempa bumi dan mengalami kerugian akibat risiko gempa bumi dapat segera melaporkan kerugian tersebut kepada perusahaan asuransi penerbit polis,&quot; ujarnya.
Secara terpisah, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengatakan, usai bencana tsunami Selat Sunda pada Sabtu (22/12) lalu, banyak fasilitas umum dan fasilitas sosial di wilayah Banten dan Lampung yang rusak.

&quot;Saya kira kalau fasos fasum akan kita perbaiki, tidak hanya dua sekolah yang dilaporkan rusak. Tapi kalau ada madrasah dan masjid juga akan kita perbaiki,&quot; ujarnya di Kementerian PUPR.
Menurut dia, data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), ada sekitar 600 rumah di Banten dan Lampung yang harus diperbaiki. &quot;Kalau dari data BNPB ada sekitar 600 rumah. Kalau jalan mungkin hanya untuk yang ke daerah Serta (Kabupaten Pandeglang, Banten) saja, yang lainnya kan oke semua,&quot; ujarnya.Secara skema pembiayaan, menurut dia, pembangunan kembali fasum dan  fasos beserta relokasi rumah warga sepenuhnya akan menggunakan Anggaran  Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Nantinya, pemerintah akan membersihkan berbagai puing-puing bangunan  akibat bencana tsunami. Setelah itu, merelokasi rumah warga yang ikut  terdampak. Kemudian, memperbaiki berbagai fasilitas umum dan fasilitas  sosial yang rusak.
Basuki mengatakan, pihaknya akan mencari lokasi yang tepat untuk  merelokasi rumah warga. Sebab, sebelumnya rumah warga hanya berjarak 5  meter dari bibir pantai sehingga akan membahayakan warga jika bencana  tsunami kembali datang.

&quot;Betul-betul di bibir pantai, jadi bahaya, apalagi persis dekat  Krakatau. Kita sudah bikin tanggul pantai di situ, nanti perbaikannya  saya menunggu arahan pak Guburnur dan Bupati. Kalau sudah ada daerah  untuk yang relokasi akan segera kita bangun,&quot; ujarnya.
Longsor 64 Hektar
Sementara itu, Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber  Daya Mineral (ESDM) Rudy Suhendar menyatakan terjadinya tsunami di selat  sunda karena terjadi longsor di Gunung Api Anak Krakatau. Hasil kajian  Badan Geologi berdasarkan pemantauan interpretasi citra, kelongsoran di  Gunung Anak Krakatau mencapai seluas 64 hektar.
Rudy menyampaikan aktivitas Gunung Anak Krakatau ini terus meningkat  mulai sejak 29 Juni 2018, frekuensi peningkatan paling besar terjadi  pada 22 Desember 2018. &quot;Yang terekam oleh kita pukul 21.03 kita sudah  mulai agak besar dengan kebesaran itu dengan seismograf kebesaran per  jam itu kita satu disertai kenaikan air laut yang menyebabkan tsunami  pada malam itu,&quot; ujarnya di Pos Pemantauan Pasauran, Serang, kemarin.
Lalu pada 23 sampai 24 Desember 2018, hembusan letusan terus terjadi  dengan amplitudo cukup tinggi over skill menunjukkan aktivitas kegempaan  tremor menerus amplitudo 8-32 mm (dominan 25 mm) sehingga pagi tadi  status Gunung Anak Krakatau berubah status dari waspada ke siaga.

&quot;Kemarin sore dengan letusan dengan arah angin ke timur laut  menjatuhkan abu ke pesisir wilayah Anyer dan Cilegon meskipun masih  kurang dari satu mili dari ketebalan abu yang turun, Kami melakukan  evaluasi dengan adanya abu. Per pagi tadi statusnya kita naikan dari  waspada ke siaga,&quot; katanya.
Berdasarkan pemantauan PVMBG, terlihat cuaca mendung dan hujan di  Gunung Anak Krakatau. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara  dan timur laut. Suhu udara 24-26 celsius dan kelembaban udara 91-96  persen. Volume curah hujan tidak tercatat. Dari pengamatan visual gunung  kabut 0-III. Asap kawah tidak teramati. Terdengar suara dentuman di pos  pengamatan Gunung Anak Krakatau.
Data yang diambil dari Stasiun Sertung, dekat kawasan Gunung Anak  Krakatau di Selat Sunda ini, menunjukkan aktivitas kegempaan tremor  menerus amplitudo 8-32 mm (dominan 25 mm). Status siaga ini membuat  masyarakat diminta tak mendekati kawah Gunung Anak Krakatau dalam radius  5 Km.</content:encoded></item></channel></rss>
