<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Gurihnya Industri Kuliner Bikin Ekonomi Nasional Menggeliat</title><description>Pertumbuhan industri makanan dan minuman mulai menjadi andalan sebagai penopang pertumbuhan ekonomi nasional</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/01/06/320/2000558/gurihnya-industri-kuliner-bikin-ekonomi-nasional-menggeliat</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/01/06/320/2000558/gurihnya-industri-kuliner-bikin-ekonomi-nasional-menggeliat"/><item><title>Gurihnya Industri Kuliner Bikin Ekonomi Nasional Menggeliat</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/01/06/320/2000558/gurihnya-industri-kuliner-bikin-ekonomi-nasional-menggeliat</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/01/06/320/2000558/gurihnya-industri-kuliner-bikin-ekonomi-nasional-menggeliat</guid><pubDate>Minggu 06 Januari 2019 10:30 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/01/06/320/2000558/gurihnya-industri-kuliner-bikin-ekonomi-nasional-menggeliat-4p4HFcIOQR.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Thesmartlocal</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/01/06/320/2000558/gurihnya-industri-kuliner-bikin-ekonomi-nasional-menggeliat-4p4HFcIOQR.jpg</image><title>Foto: Thesmartlocal</title></images><description>JAKARTA - Pertumbuhan industri makanan dan minuman mulai menjadi andalan sebagai penopang pertumbuhan ekonomi nasional dan manufaktur.

Pada 2019 sektor makanan dan minuman diyakini terus menjadi primadona, terutama pada sektor industri pariwisata yang mengembangkan wisata kuliner. Pada 2018 Kementrian Perindustrian (Kemenperin) menyebut sektor makanan dan minuman berhasil menyumbang produk domestik bruto (PDB) nasional sebesar 6,34%.

Capaian Kemenperin tersebut naik 0,23% dari tahun 2017 menjadi sebesar 6,21%. Sejak tahun lalu industri makanan dan minuman berhasil masuk dalam lima besar penyumbang PDB terbesar bersama industri lain seperti industri kimia, alat angkut, tekstil, dan teknologi.
&amp;nbsp;Baca Juga: Jokowi Ajak Masyarakat Nikmati Keindahan Alam dan Kuliner di Sepanjang Tol Trans-Jawa
Kemenperin mencatat sektor makanan dan minuman memiliki nilai investasi pada 2018 senilai Rp56,20 triliun. Pada proyeksi pertumbuhan nonmigas 2019, sektor industri makanan dan minuman diproyeksikan akan tumbuh tinggi sebesar 9,86%.

Adapun di industri kecil dan menengah (IKM), sektor makanan minuman menjadi penyumbang terbesar PDB bila dibandingkan dengan perusahaan besar. Direktur Jenderal IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih mengatakan, pada 2017 IKM makanan dan minuman menyumbang 40% PDB sektor IKM secara keseluruhan.

&amp;ldquo;Tenaga kerja yang diserap mencapai 42,5% dari total jumlah pekerja di semua sektor IKM,&amp;rdquo; tutur Gati. Menurutnya, IKM makanan dan minuman berhasil menjadi potensi wisata di Indonesia.
&amp;nbsp;Baca Juga: Ingin Lewat Tol Trans Jawa? Ini Kuliner yang Wajib Dicoba
Pihak Kemenperin bahkan ikut fokus dalam pembinaan IKM yang berada dalam 10 destinasi wisata baru yang telah ditetapkan pemerintah beberapa waktu lalu. Ke-10 destinasi baru tersebut adalah Danau Toba, Tanjung Kelayang, Tanjung Lesung, Kepulauan Seribu, Taman Wisata Candi Borobudur, Taman Nasional Bromo, Labuan Bajo, Pulau Murotai, Mandalika, dan Taman Wisata Wakatobi.

&amp;ldquo;Kemenperin menggunakan dana alokasi khusus (DAK) yang dimiliki setiap daerah. Kami mendorong kota, kabupaten untuk meningkatkan potensi kuliner mereka. Sama seperti sektor lain, kami memberikan pelatihan,&amp;rdquo; ujar Gati.

Dia mengungkapkan, pelatihan yang selalu dilakukan salah satunya mengenai pengemasan produk berupa makanan tradisional yang harus dijaga keasliannya. Pengemasan makanan akan menjadikan produk makanan menarik bagi konsumen sehingga dapat menjadi oleh-oleh khas daerah.

Bahkan wisatawan pun tak sedikit yang mencintai keripik, produk makanan olahan tradisional yang terbuat dari singkong, tempe, pisang, dan sebagainya.

&amp;ldquo;Setiap daerah pasti punya keripik khas masing-masing. Tidak lekang oleh waktu juga. Generasi milenial sekarang menyebutnya chips dengan beraneka rasa. Chips itu menjadi bahasa kekinian yang tak lain adalah keripik,&amp;rdquo; ungkapnya.
&amp;nbsp;Baca Juga: Tren Kuliner Sehat Masihkah Bertahan? Ini Kata Pakar
Sepuluh destinasi wisata yang dicanangkan Kemenpar tahun 2016, lanjut Gati, turut didukung Kemenperin dalam sektor kriya. Berbagai pelatihan dilakukan untuk membuat aneka kriya untuk oleh-oleh. Namun diakui Gati, potensi kuliner masih jauh lebih besar.

&amp;ldquo;Kuliner itu bisa dimakan di tempat atau dijadikan oleh-oleh. Wisatawan sekarang juga senangnya kalau ke daerah makan kuliner khas daerah tersebut,&amp;rdquo; tutur Gati.
Dia menyarankan adanya sinergi dari kementerian lain seperti  Kementrian Pertanian. Menurutnya Indonesia kaya dengan rempah-rempah dan  bumbu yang dapat dimulai untuk memberikan kemudahan bagi para pelaku  IKM dalam pengembangan sektor kuliner.

&amp;ldquo;Memang harus dimulai kerja samanya dari sekarang seperti menanam  jahe sehingga hasilnya bisa dirasakan lima tahun mendatang. Dengan hasil  bertanam sendiri, pelaku IKM tidak akan mengeluh dengan ketersediaan  dan harga komoditas bumbu untuk usaha kuliner mereka,&amp;rdquo; ungkapnya.

Bisnis kuliner juga menjadi tanggung jawab Badan Ekonomi Kreatif  (Bekraf). Deputi Riset, Edukasi, dan Pengembangan Bekraf Abdur Rohim Boy  Berawi mengungkapkan, subsektor kuliner memberikan kontribusi 41,40%  dari total pendapatan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Boy mengutip data BPS 2016, peningkatan nilai di sektor industri  kreatif mencapai Rp 382 triliun. &amp;ldquo;Kontribusi ini didapat dari 5,5 juta  unit usaha kuliner atau sebesar 67,7% dari total unit usaha ekonomi  kreatif,&amp;rdquo; tandasnya.

Pada 2017 kontribusi kuliner diprediksi akan terus mengalami  peningkatan baik dari sisi nominal maupun dari pertumbuhannya.  &amp;ldquo;Kontribusi kuliner pada 2017 diperkirakan naik sebesar Rp 410 triliun  dengan kontribusi terhadap PDB ekonomi kreatif naik sebesar 41,5%.

Jumlah tenaga kerja juga diprediksi akan meningkat menjadi 8,6 juta  orang dari yang sebelumnya hanya 7,9 juta orang,&amp;rdquo; paparnya. Bekraf terus  mendukung perkembangan kuliner Indonesia melalui perbaikan ekosistem  industri kuliner.

Hal itu dimulai dari peningkatan SDM pelaku industri kuliner,  peningkatan kualitas dan mutu produk kuliner, akses permodalan,  perlindungan hak kekayaan intelektual (HKI) hingga pemasaran produk  kuliner Indonesia baik dalam maupun luar negeri.

&amp;ldquo;Kami juga punya program unggulan Bekraf seperti Food Startup  Indonesia (FSI), yaitu platform yang menghubungkan perusahaan rintisan  (start up ) kuliner Indonesia dengan ekosistem kuliner sekaligus  mempertemukan mereka dengan berbagai sumber permodalan,&amp;rdquo; papar Boy.

Di dalam program ini, lanjut Boy, para pelaku kuliner akan  mendapatkan dukungan mulai dari capacity building, mentoring, pitching  kepada investor hingga pameran dari dalam maupun luar negeri.

Pelatihan seperti yang dilakukan Kemenperin juga dilakukan untuk  mengajarkan pengemasan produk, branding, dan penyelenggaraan pameran  produk kuliner seperti event Kreatifood.
Bekraf juga melihat masih banyak yang perlu diperbaiki dan dikelola   secara serius. Salah satunya akses perizinan usaha melalui satu pintu   sehingga lebih efektif. Diharapkan pebisnis kuliner baru mendapatkan   panduan dari pemerintah mengenai informasi perizinan hingga pendampingan   hukum dalam proses pendirian usaha.

Ekonomi kreatif dan pariwisata memiliki keterkaitan yang sangat erat.   Menurut Boy, perbaikan ekosistem sektor ekonomi kreatif akan   meningkatkan nilai tambah untuk sektor pariwisata di suatu daerah.

Ada banyak daerah yang sudah diintervensi Bekraf, yang selanjutnya   dijadikan daerah unggulan wisata oleh pemerintah setempat seperti   Pesawaran Lampung dan Singkawang Banjarmasin. Boy mengungkapkan, daya   tarik tempat wisata 20-30 tahun lalu masih seputar alam dan budayanya.

Namun dalam dekade terakhir beralih ke wisata untuk mencicipi kuliner   seiring dengan banyaknya program televisi yang mengulas banyak lokasi   wisata kuliner dari berbagai daerah. Promosi tersebut membuat  masyarakat  penasaran dengan ragam kuliner khas daerah.

Penentuan tujuan wisata pun kini dilihat dari makanan khas yang   terkenal dari daerah tersebut sekaligus dengan cerita di dalamnya.   Misalnya yang dilakukan Arie Parikesit. Dia sejak 2011 membuat tur   wisata kuliner dengan nama Kelana Rasa.

Diakui Arie setiap tahun minat tur wisatanya ini selalu mengalami   peningkatan. Dalam satu kali kunjungan tur wisata, Arie bisa membawa   20-40 wisatawan. Menurut Arie, tren wisata kuliner telah bergeser bukan   hanya mengincar makanan asli dari daerah tertentu, tetapi juga makan di   rumah warga setempat.

&amp;ldquo;Makanannya pun yang biasa hanya keluar di momen tertentu. Karena   rombongan Kelana Rasa mau datang, jadi saya request untuk disajikan.   Seperti pestanya orang Minang disebut baralek atau kendurinya orang   Palembang bukan cuma makanannya saja, tetapi filosofinya dari acara   tersebut,&amp;rdquo; urai Arie.

Dalam acara tersebut, peserta Kelana Rasa dapat langsung berinteraksi   dengan warga sekitar serta mendapatkan pemahaman baru. Arie   menambahkan, biasanya ada tata cara makan khusus dalam acara tersebut.   Tren wisata kuliner seperti ini diakui Arie semakin diminati dan pelaku   usaha ini belum banyak.

Siapa pun dapat mengambil peluang potensi besar ini. Arie   mengingatkan, pengusaha tur kuliner ini harus punya pemahaman mengenai   gastronomi. Dia mengungkapkan, wisata kuliner bukan sekadar tur yang   hanya makanmakan, tetapi harus ada pengetahuan baru yang dibawa peserta.

Tur wisata kuliner ini juga diharapkan dapat membuat peserta semakin   cinta dengan kuliner Nusantara. Pengalaman seperti inilah yang dicari   wisatawan masa kini. &amp;ldquo;Selama ini kita tahu sate padang, padahal   sebenarnya sate dari Minang itu ada lima jenis. Rendang itu bukan nama   masakan, itu adalah proses. Ada 15 bahan yang bisa jadi rendang,&amp;rdquo; ungkap   Arie.

Ke depannya Arie akan mengumpulkan data siapa saja yang siap   lingkungannya menjadi tempat wisata kuliner. Kelana Rasa akan   mengumpulkan data dan dibuat aplikasi sehingga memudahkan siapa pun yang   ingin berkunjung.

&amp;ldquo;Tujuannya tentu memberdayakan masyarakat setempat. Meskipun di   daerah mereka dapat mengelola warisan berupa bahan makanan, cara   memasak, bahkan cerita filosofi sebuah acara atau makanan yang nantinya   dijadikan sumber penghasilan mereka,&amp;rdquo; tambahnya. (Ananda Nararya)</description><content:encoded>JAKARTA - Pertumbuhan industri makanan dan minuman mulai menjadi andalan sebagai penopang pertumbuhan ekonomi nasional dan manufaktur.

Pada 2019 sektor makanan dan minuman diyakini terus menjadi primadona, terutama pada sektor industri pariwisata yang mengembangkan wisata kuliner. Pada 2018 Kementrian Perindustrian (Kemenperin) menyebut sektor makanan dan minuman berhasil menyumbang produk domestik bruto (PDB) nasional sebesar 6,34%.

Capaian Kemenperin tersebut naik 0,23% dari tahun 2017 menjadi sebesar 6,21%. Sejak tahun lalu industri makanan dan minuman berhasil masuk dalam lima besar penyumbang PDB terbesar bersama industri lain seperti industri kimia, alat angkut, tekstil, dan teknologi.
&amp;nbsp;Baca Juga: Jokowi Ajak Masyarakat Nikmati Keindahan Alam dan Kuliner di Sepanjang Tol Trans-Jawa
Kemenperin mencatat sektor makanan dan minuman memiliki nilai investasi pada 2018 senilai Rp56,20 triliun. Pada proyeksi pertumbuhan nonmigas 2019, sektor industri makanan dan minuman diproyeksikan akan tumbuh tinggi sebesar 9,86%.

Adapun di industri kecil dan menengah (IKM), sektor makanan minuman menjadi penyumbang terbesar PDB bila dibandingkan dengan perusahaan besar. Direktur Jenderal IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih mengatakan, pada 2017 IKM makanan dan minuman menyumbang 40% PDB sektor IKM secara keseluruhan.

&amp;ldquo;Tenaga kerja yang diserap mencapai 42,5% dari total jumlah pekerja di semua sektor IKM,&amp;rdquo; tutur Gati. Menurutnya, IKM makanan dan minuman berhasil menjadi potensi wisata di Indonesia.
&amp;nbsp;Baca Juga: Ingin Lewat Tol Trans Jawa? Ini Kuliner yang Wajib Dicoba
Pihak Kemenperin bahkan ikut fokus dalam pembinaan IKM yang berada dalam 10 destinasi wisata baru yang telah ditetapkan pemerintah beberapa waktu lalu. Ke-10 destinasi baru tersebut adalah Danau Toba, Tanjung Kelayang, Tanjung Lesung, Kepulauan Seribu, Taman Wisata Candi Borobudur, Taman Nasional Bromo, Labuan Bajo, Pulau Murotai, Mandalika, dan Taman Wisata Wakatobi.

&amp;ldquo;Kemenperin menggunakan dana alokasi khusus (DAK) yang dimiliki setiap daerah. Kami mendorong kota, kabupaten untuk meningkatkan potensi kuliner mereka. Sama seperti sektor lain, kami memberikan pelatihan,&amp;rdquo; ujar Gati.

Dia mengungkapkan, pelatihan yang selalu dilakukan salah satunya mengenai pengemasan produk berupa makanan tradisional yang harus dijaga keasliannya. Pengemasan makanan akan menjadikan produk makanan menarik bagi konsumen sehingga dapat menjadi oleh-oleh khas daerah.

Bahkan wisatawan pun tak sedikit yang mencintai keripik, produk makanan olahan tradisional yang terbuat dari singkong, tempe, pisang, dan sebagainya.

&amp;ldquo;Setiap daerah pasti punya keripik khas masing-masing. Tidak lekang oleh waktu juga. Generasi milenial sekarang menyebutnya chips dengan beraneka rasa. Chips itu menjadi bahasa kekinian yang tak lain adalah keripik,&amp;rdquo; ungkapnya.
&amp;nbsp;Baca Juga: Tren Kuliner Sehat Masihkah Bertahan? Ini Kata Pakar
Sepuluh destinasi wisata yang dicanangkan Kemenpar tahun 2016, lanjut Gati, turut didukung Kemenperin dalam sektor kriya. Berbagai pelatihan dilakukan untuk membuat aneka kriya untuk oleh-oleh. Namun diakui Gati, potensi kuliner masih jauh lebih besar.

&amp;ldquo;Kuliner itu bisa dimakan di tempat atau dijadikan oleh-oleh. Wisatawan sekarang juga senangnya kalau ke daerah makan kuliner khas daerah tersebut,&amp;rdquo; tutur Gati.
Dia menyarankan adanya sinergi dari kementerian lain seperti  Kementrian Pertanian. Menurutnya Indonesia kaya dengan rempah-rempah dan  bumbu yang dapat dimulai untuk memberikan kemudahan bagi para pelaku  IKM dalam pengembangan sektor kuliner.

&amp;ldquo;Memang harus dimulai kerja samanya dari sekarang seperti menanam  jahe sehingga hasilnya bisa dirasakan lima tahun mendatang. Dengan hasil  bertanam sendiri, pelaku IKM tidak akan mengeluh dengan ketersediaan  dan harga komoditas bumbu untuk usaha kuliner mereka,&amp;rdquo; ungkapnya.

Bisnis kuliner juga menjadi tanggung jawab Badan Ekonomi Kreatif  (Bekraf). Deputi Riset, Edukasi, dan Pengembangan Bekraf Abdur Rohim Boy  Berawi mengungkapkan, subsektor kuliner memberikan kontribusi 41,40%  dari total pendapatan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Boy mengutip data BPS 2016, peningkatan nilai di sektor industri  kreatif mencapai Rp 382 triliun. &amp;ldquo;Kontribusi ini didapat dari 5,5 juta  unit usaha kuliner atau sebesar 67,7% dari total unit usaha ekonomi  kreatif,&amp;rdquo; tandasnya.

Pada 2017 kontribusi kuliner diprediksi akan terus mengalami  peningkatan baik dari sisi nominal maupun dari pertumbuhannya.  &amp;ldquo;Kontribusi kuliner pada 2017 diperkirakan naik sebesar Rp 410 triliun  dengan kontribusi terhadap PDB ekonomi kreatif naik sebesar 41,5%.

Jumlah tenaga kerja juga diprediksi akan meningkat menjadi 8,6 juta  orang dari yang sebelumnya hanya 7,9 juta orang,&amp;rdquo; paparnya. Bekraf terus  mendukung perkembangan kuliner Indonesia melalui perbaikan ekosistem  industri kuliner.

Hal itu dimulai dari peningkatan SDM pelaku industri kuliner,  peningkatan kualitas dan mutu produk kuliner, akses permodalan,  perlindungan hak kekayaan intelektual (HKI) hingga pemasaran produk  kuliner Indonesia baik dalam maupun luar negeri.

&amp;ldquo;Kami juga punya program unggulan Bekraf seperti Food Startup  Indonesia (FSI), yaitu platform yang menghubungkan perusahaan rintisan  (start up ) kuliner Indonesia dengan ekosistem kuliner sekaligus  mempertemukan mereka dengan berbagai sumber permodalan,&amp;rdquo; papar Boy.

Di dalam program ini, lanjut Boy, para pelaku kuliner akan  mendapatkan dukungan mulai dari capacity building, mentoring, pitching  kepada investor hingga pameran dari dalam maupun luar negeri.

Pelatihan seperti yang dilakukan Kemenperin juga dilakukan untuk  mengajarkan pengemasan produk, branding, dan penyelenggaraan pameran  produk kuliner seperti event Kreatifood.
Bekraf juga melihat masih banyak yang perlu diperbaiki dan dikelola   secara serius. Salah satunya akses perizinan usaha melalui satu pintu   sehingga lebih efektif. Diharapkan pebisnis kuliner baru mendapatkan   panduan dari pemerintah mengenai informasi perizinan hingga pendampingan   hukum dalam proses pendirian usaha.

Ekonomi kreatif dan pariwisata memiliki keterkaitan yang sangat erat.   Menurut Boy, perbaikan ekosistem sektor ekonomi kreatif akan   meningkatkan nilai tambah untuk sektor pariwisata di suatu daerah.

Ada banyak daerah yang sudah diintervensi Bekraf, yang selanjutnya   dijadikan daerah unggulan wisata oleh pemerintah setempat seperti   Pesawaran Lampung dan Singkawang Banjarmasin. Boy mengungkapkan, daya   tarik tempat wisata 20-30 tahun lalu masih seputar alam dan budayanya.

Namun dalam dekade terakhir beralih ke wisata untuk mencicipi kuliner   seiring dengan banyaknya program televisi yang mengulas banyak lokasi   wisata kuliner dari berbagai daerah. Promosi tersebut membuat  masyarakat  penasaran dengan ragam kuliner khas daerah.

Penentuan tujuan wisata pun kini dilihat dari makanan khas yang   terkenal dari daerah tersebut sekaligus dengan cerita di dalamnya.   Misalnya yang dilakukan Arie Parikesit. Dia sejak 2011 membuat tur   wisata kuliner dengan nama Kelana Rasa.

Diakui Arie setiap tahun minat tur wisatanya ini selalu mengalami   peningkatan. Dalam satu kali kunjungan tur wisata, Arie bisa membawa   20-40 wisatawan. Menurut Arie, tren wisata kuliner telah bergeser bukan   hanya mengincar makanan asli dari daerah tertentu, tetapi juga makan di   rumah warga setempat.

&amp;ldquo;Makanannya pun yang biasa hanya keluar di momen tertentu. Karena   rombongan Kelana Rasa mau datang, jadi saya request untuk disajikan.   Seperti pestanya orang Minang disebut baralek atau kendurinya orang   Palembang bukan cuma makanannya saja, tetapi filosofinya dari acara   tersebut,&amp;rdquo; urai Arie.

Dalam acara tersebut, peserta Kelana Rasa dapat langsung berinteraksi   dengan warga sekitar serta mendapatkan pemahaman baru. Arie   menambahkan, biasanya ada tata cara makan khusus dalam acara tersebut.   Tren wisata kuliner seperti ini diakui Arie semakin diminati dan pelaku   usaha ini belum banyak.

Siapa pun dapat mengambil peluang potensi besar ini. Arie   mengingatkan, pengusaha tur kuliner ini harus punya pemahaman mengenai   gastronomi. Dia mengungkapkan, wisata kuliner bukan sekadar tur yang   hanya makanmakan, tetapi harus ada pengetahuan baru yang dibawa peserta.

Tur wisata kuliner ini juga diharapkan dapat membuat peserta semakin   cinta dengan kuliner Nusantara. Pengalaman seperti inilah yang dicari   wisatawan masa kini. &amp;ldquo;Selama ini kita tahu sate padang, padahal   sebenarnya sate dari Minang itu ada lima jenis. Rendang itu bukan nama   masakan, itu adalah proses. Ada 15 bahan yang bisa jadi rendang,&amp;rdquo; ungkap   Arie.

Ke depannya Arie akan mengumpulkan data siapa saja yang siap   lingkungannya menjadi tempat wisata kuliner. Kelana Rasa akan   mengumpulkan data dan dibuat aplikasi sehingga memudahkan siapa pun yang   ingin berkunjung.

&amp;ldquo;Tujuannya tentu memberdayakan masyarakat setempat. Meskipun di   daerah mereka dapat mengelola warisan berupa bahan makanan, cara   memasak, bahkan cerita filosofi sebuah acara atau makanan yang nantinya   dijadikan sumber penghasilan mereka,&amp;rdquo; tambahnya. (Ananda Nararya)</content:encoded></item></channel></rss>
