<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Stok Melimpah, Harga CPO Jeblok Terendah Sejak 2016</title><description>Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) global kembali terjerembab pada November 2018.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/01/08/320/2001470/stok-melimpah-harga-cpo-jeblok-terendah-sejak-2016</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/01/08/320/2001470/stok-melimpah-harga-cpo-jeblok-terendah-sejak-2016"/><item><title>Stok Melimpah, Harga CPO Jeblok Terendah Sejak 2016</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/01/08/320/2001470/stok-melimpah-harga-cpo-jeblok-terendah-sejak-2016</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/01/08/320/2001470/stok-melimpah-harga-cpo-jeblok-terendah-sejak-2016</guid><pubDate>Selasa 08 Januari 2019 13:21 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/01/08/320/2001470/stok-melimpah-harga-cpo-jeblok-terendah-sejak-2016-EHlqctwQvc.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Foto Antara</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/01/08/320/2001470/stok-melimpah-harga-cpo-jeblok-terendah-sejak-2016-EHlqctwQvc.jpg</image><title>Ilustrasi: Foto Antara</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) global kembali terjerembab pada November 2018 dengan harga rata-rata USD473,6 per metrik ton. Harga ini merupakan harga terendah sejak Juli 2006.

Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Mukti Sardjono mengatakan, melimpahnya stok minyak nabati global, seperti sawit, kedelai, biji bunga matahari, dan rapeseed, menyebabkan harga minyak nabati global turun.

&amp;ldquo;Keadaan juga diperparah dengan lemahnya permintaan pasar global sehingga harga masih akan sulit terangkat,&amp;rdquo; kata Mukti dalam rilisnya di Jakarta, kemarin.
Baca Juga: Produksi Melimpah, Harga CPO Terpuruk
Menurut Mukti, sepanjang November 2018 kinerja ekspor minyak sawit Indonesia juga mengalami penurunan. Harga yang rendah tidak serta-merta mendongkrak pembelian oleh negara-negara pengimpor minyak sawit.

Volume ekspor minyak sawit Indonesia (CPO dan turunannya olechemical dan biodiesel) membukukan penurunan 4% dibandingkan bulan sebelumnya atau dari 3,35 juta ton turun menjadi 3,22 juta ton. Khusus volume ekspor CPO, palm kernel oil (PKO) dan turunannya saja (tidak termasuk oleochemical dan biodiesel) mencapai 2,99 juta ton atau turun 5% dibandingkan pada Oktober lalu yang mebukukan 3,14 juta ton.

Dari total ekspor 2,99 juta ton ini terdiri dari CPO 866.190 ton atau 29% dari total ekspor. Sedangkan sisanya 2,13 juta ton atau sekitar 71% dari total ekspor adalah produk turunan dari CPO. Pada November 2018, kata Mukti, Pakistan mencatatkan rekor tertinggi pembelian minyak sawit sepanjang sejarah perdagangan minyak sawit Indonesia-Pakistan sebesar 326.410 ton.
Baca Juga: Harga Referensi CPO 2019 Turun Jadi USD503,3/MT
Angka ini mengalami kenaikan sekitar 32% dibandingkan bulan sebelumnya dengan volume 246.970 ton. Harga minyak sawit yang mu rah dan pengisian stok sepertinya menjadi faktor pendorong naiknya impor minyak sawit oleh Pakistan.

&amp;ldquo;Ke depan dengan semakin luasnya Preferential Trade Agreement (PTA) antara Indonesia-Pakistan, serta sedang dijajaki untuk ditingkatkan menjadi perdagangan bebas, maka peluang Indonesia untuk terus meningkatkan perdagangan minyak sawit akan semakin besar,&amp;rdquo; kata Mukti.

Pakistan memiliki penduduk yang banyak dan minyak sawit merupakan  salah satu minyak utama digunakan dalam produk makanan, rumah tangga,  dan industri lainnya. &amp;ldquo;Berdasarkan kondisi tersebut, sangat penting bagi  Pemerintah Indonesia memper cepat proses pemberlakuan PTA yang telah  di-review bersama dan juga mengakselerasi PTA menjadi FTA (free trade  agreement),&amp;rdquo; katanya.

Menyusul di belakang Pakistan adalah negara-negara Timur Tengah yang  juga membukukan kenaikan impor minyak sawit dari Indonesia sebesar 31%.  Negara-negara di kawasan Timur Tengah ini mengimpor 157.810 ton dari  sebelumnya 120.200 ton.

Sementara itu, India mengikuti dengan kenaikan tipis, yaitu 3% dari  689.170 ton naik menjadi 711.310 ton. Sebaliknya, beberapa negara tujuan  utama ekspor minyak sawit Indonesia mengalami penurunan, seperti China  turun 20%, negara Uni Eropa (21%), Amerika Serikat (10%), dan Bangladesh  (58%). &amp;ldquo;Penurunan impor dari negara-negara ini disebabkan masih  tingginya stok minyak nabati di dalam negeri,&amp;rdquo; ujar Mukti.

Kabar gembira datang dari pelaksanaan perluasan mandatori biodiesel  20% (B20) pada non-PSO yang terus berjalan baik dan terus menunjuk kan  perkembangan positif. Sepanjang November 2018 penyerapan biodiesel di  dalam negeri mencapai 607.000 ton atau naik 17% dibandingkan Oktober.  Kenaikan penyerapan biodiesel ini karena sudah ada per baikan logistik  dari produsen biodiesel ke depot-depot Pertamina. Diharapkan perbaikan  logistik ini juga nanti diikuti perbaikan infrastruktur tangki khusus  biodiesel di depot-depot Pertamina.

Di sisi produksi, sepanjang November 2018 produksi diprediksi  mencapai 4,16 juta ton yang turun sekitar 8% dibanding bulan sebelumnya  mencapai 4,51 juta ton. Siklus produksi ini merupakan siklus normal yang  mulai melewati musim panen raya. Turunannya produksi dan ekspor serta  mulai tingginya penyerapan domestik mengikis stok minyak sawit Indonesia  menjadi kira-kira 3,89 juta ton. (Sudarsono)</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) global kembali terjerembab pada November 2018 dengan harga rata-rata USD473,6 per metrik ton. Harga ini merupakan harga terendah sejak Juli 2006.

Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Mukti Sardjono mengatakan, melimpahnya stok minyak nabati global, seperti sawit, kedelai, biji bunga matahari, dan rapeseed, menyebabkan harga minyak nabati global turun.

&amp;ldquo;Keadaan juga diperparah dengan lemahnya permintaan pasar global sehingga harga masih akan sulit terangkat,&amp;rdquo; kata Mukti dalam rilisnya di Jakarta, kemarin.
Baca Juga: Produksi Melimpah, Harga CPO Terpuruk
Menurut Mukti, sepanjang November 2018 kinerja ekspor minyak sawit Indonesia juga mengalami penurunan. Harga yang rendah tidak serta-merta mendongkrak pembelian oleh negara-negara pengimpor minyak sawit.

Volume ekspor minyak sawit Indonesia (CPO dan turunannya olechemical dan biodiesel) membukukan penurunan 4% dibandingkan bulan sebelumnya atau dari 3,35 juta ton turun menjadi 3,22 juta ton. Khusus volume ekspor CPO, palm kernel oil (PKO) dan turunannya saja (tidak termasuk oleochemical dan biodiesel) mencapai 2,99 juta ton atau turun 5% dibandingkan pada Oktober lalu yang mebukukan 3,14 juta ton.

Dari total ekspor 2,99 juta ton ini terdiri dari CPO 866.190 ton atau 29% dari total ekspor. Sedangkan sisanya 2,13 juta ton atau sekitar 71% dari total ekspor adalah produk turunan dari CPO. Pada November 2018, kata Mukti, Pakistan mencatatkan rekor tertinggi pembelian minyak sawit sepanjang sejarah perdagangan minyak sawit Indonesia-Pakistan sebesar 326.410 ton.
Baca Juga: Harga Referensi CPO 2019 Turun Jadi USD503,3/MT
Angka ini mengalami kenaikan sekitar 32% dibandingkan bulan sebelumnya dengan volume 246.970 ton. Harga minyak sawit yang mu rah dan pengisian stok sepertinya menjadi faktor pendorong naiknya impor minyak sawit oleh Pakistan.

&amp;ldquo;Ke depan dengan semakin luasnya Preferential Trade Agreement (PTA) antara Indonesia-Pakistan, serta sedang dijajaki untuk ditingkatkan menjadi perdagangan bebas, maka peluang Indonesia untuk terus meningkatkan perdagangan minyak sawit akan semakin besar,&amp;rdquo; kata Mukti.

Pakistan memiliki penduduk yang banyak dan minyak sawit merupakan  salah satu minyak utama digunakan dalam produk makanan, rumah tangga,  dan industri lainnya. &amp;ldquo;Berdasarkan kondisi tersebut, sangat penting bagi  Pemerintah Indonesia memper cepat proses pemberlakuan PTA yang telah  di-review bersama dan juga mengakselerasi PTA menjadi FTA (free trade  agreement),&amp;rdquo; katanya.

Menyusul di belakang Pakistan adalah negara-negara Timur Tengah yang  juga membukukan kenaikan impor minyak sawit dari Indonesia sebesar 31%.  Negara-negara di kawasan Timur Tengah ini mengimpor 157.810 ton dari  sebelumnya 120.200 ton.

Sementara itu, India mengikuti dengan kenaikan tipis, yaitu 3% dari  689.170 ton naik menjadi 711.310 ton. Sebaliknya, beberapa negara tujuan  utama ekspor minyak sawit Indonesia mengalami penurunan, seperti China  turun 20%, negara Uni Eropa (21%), Amerika Serikat (10%), dan Bangladesh  (58%). &amp;ldquo;Penurunan impor dari negara-negara ini disebabkan masih  tingginya stok minyak nabati di dalam negeri,&amp;rdquo; ujar Mukti.

Kabar gembira datang dari pelaksanaan perluasan mandatori biodiesel  20% (B20) pada non-PSO yang terus berjalan baik dan terus menunjuk kan  perkembangan positif. Sepanjang November 2018 penyerapan biodiesel di  dalam negeri mencapai 607.000 ton atau naik 17% dibandingkan Oktober.  Kenaikan penyerapan biodiesel ini karena sudah ada per baikan logistik  dari produsen biodiesel ke depot-depot Pertamina. Diharapkan perbaikan  logistik ini juga nanti diikuti perbaikan infrastruktur tangki khusus  biodiesel di depot-depot Pertamina.

Di sisi produksi, sepanjang November 2018 produksi diprediksi  mencapai 4,16 juta ton yang turun sekitar 8% dibanding bulan sebelumnya  mencapai 4,51 juta ton. Siklus produksi ini merupakan siklus normal yang  mulai melewati musim panen raya. Turunannya produksi dan ekspor serta  mulai tingginya penyerapan domestik mengikis stok minyak sawit Indonesia  menjadi kira-kira 3,89 juta ton. (Sudarsono)</content:encoded></item></channel></rss>
