<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>PDB Sektor Pertanian Terus Membaik</title><description>Produk domestik bruto (PDB) pada sektor pertanian memang terus mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/01/09/320/2001983/pdb-sektor-pertanian-terus-membaik</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/01/09/320/2001983/pdb-sektor-pertanian-terus-membaik"/><item><title>PDB Sektor Pertanian Terus Membaik</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/01/09/320/2001983/pdb-sektor-pertanian-terus-membaik</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/01/09/320/2001983/pdb-sektor-pertanian-terus-membaik</guid><pubDate>Rabu 09 Januari 2019 13:15 WIB</pubDate><dc:creator>Jamilah</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/01/09/320/2001983/pdb-sektor-pertanian-terus-membaik-Qg4ZWWg1MS.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Menteri Amran (Foto: Dok. Kementan)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/01/09/320/2001983/pdb-sektor-pertanian-terus-membaik-Qg4ZWWg1MS.jpeg</image><title>Menteri Amran (Foto: Dok. Kementan)</title></images><description>JAKARTA - Program dan kebijakan pembangunan pertanian yang dijalankan pemerintah saat ini mampu mendongkrak dan berkontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Terbukti dalam kurun waktu empat tahun terakhir, produk domestik bruto (PDB) pada sektor pertanian memang terus mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan. Selama periode 2013-2017, akumulasi tambahan nilai PDB Sektor pertanian yang mampu dihasilkan mencapai Rp1.375 Triliun atau naik 47% dibandingkan dengan tahun 2013.
&amp;ldquo;Bahkan tercatat pada tahun 2018 ini, nilai PDB mencapai Rp395,7 triliun  dibandingkan Triwulan III tahun lalu yang hanya Rp375,8 triliun,&amp;rdquo; demikian disampaikan Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Kementerian Pertanian (Kementan) I Ketut Kariyasa dikutip Rabu (9/1/2019).
Selain tumbuh positif, peran sektor pertanian dalam pertumbuhan ekonomi nasional juga semakin penting dan strategis, hal ini terlihat dari kontribusinya yang semakin meningkat.  Pada tahun 2014, Sektor Pertanian (termasuk kehutanan dan perikanan) berkontribusi sekitar 13,14% terhadap ekonomi nasional dan pada tahun 2017 meningkat menjadi 13,53%.
Baca Juga: Digitalisasi Pertanian Mampu Tingkatkan Produksi hingga Tekan Biaya Pemasaran
 
&quot;Kalau diperhitungkan dengan industri agro dan penyediaan makanan dan minuman yang berbasis bahan baku pertanian, kontribusinya bisa mencapai 25,84 persen. Dan ini berdampak pada perekonomian skala nasional,&quot; katanya.
Sektor pertanian, disebut Kariyasa, menjadi semakin penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Hal tersebut turut tergambarkan dari inflasi bahan pangan terkendali, jumlah penduduk miskin di perdesaan semakin menurun dan kesejahteraan petani semakin membaik.
Inflasi kelompok bahan makanan terus menurun, dari 10,57% pada tahun 2014, masing-masing menjadi 4,93% pada tahun 2015 dan 5,69% pada tahun 2016.  Bahkan tahun 2017, selain turun menjadi 1,26%.

&quot;Inflasi kelompok bahan makanan terus menurun. Artinya bisa dikatakan dalam sejarah Indonesia baru kali ini inflasi bahan makanan atau pangan lebih rendah dari inflasi umum yang hanya 3,6 persen,&quot; ujar Kariyasa.
Keberhasilan pembangunan pertanian juga tercermin dari kesejahteraan petani. Kesejahteraan itu bisa dilihat secara langsung melalui indikator Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) dan menurunnya jumlah penduduk miskin di perdesaan.
Pada tahun 2014 nilai NTUP (Pertanian Sempit tanpa Perikanan) hanya sebesar 106,05; dan pada tahun 2015 dan 2016 berturut-turut meningkat menjadi 107,44 dan 109,83.  Nilai NTUP pada tahun 2017 dan 2018 sampai bulan Desember juga membaik menjadi 110,03 dan 111,56.
Jumlah penduduk miskin di perdesaan juga terus menurun, pada Maret 2015 masih sekitar 14,21% (17,94 juta jiwa) dan pada bulan yang sama tahun 2016 dan 2017 turun menjadi 14,11% (17,67 juta jiwa) dan 13,93% (17,09 juta jiwa).  Demikian juga pada Maret 2018, kembali turun menjadi 13,47% (15,81 juta jiwa).Dikatakan Kariyasa, membaiknya kesejahteraan petani juga bisa dilihat  dari menurunnya indek Gini Rasio di perdesaan. Ini merupakan cermin  dari pemerataan pendapatan di perdesaan yang terus membaik. Pada tahun  2015, indeks Gini Rasio di perdesaan sebesar 0,334 dan pada tahun 2016  dan 2017 turun masing-masing menjadi 0,327 dan 0,320.
&quot;Atau dengan kata lain ketimpangan pendapatan antar rumah tangga di  perdesaan semakin rendah. Yang perlu dicatat adalah keberhasilan telah  berdampak pada pemerataan pendapatan di perdesaan. Kondisi mereka jauh  lebih baik dibanding warga perkotaan,&quot; katanya.
Program Terobosan Pemerintah di Sektor Pertanian
Dalam upaya mengurangi jumlah penduduk miskin di perdesaan, Kariyasa  menyebutkan Kementan telah membuat program terobosan Bedah Kemiskinan  Rakyat Sejahtera (BEKERJA). Terobosan ini dinilai tepat sebagai solusi  permanen untuk mengentaskan masyarakat petani dari kemiskinan dan  pemerataan.

&quot;Sebab sebagian besar penduduk miskin di perdesaan adalah petani di  mana lebih dari 70 persen pendapatan utamanya berasal dari sektor  pertanian. Tahun ini kita sudah terapkan program ini di 10 provinsi  dengan sasaran 200.000 Rumah Tangga Petani Miskin (RTM),&quot; katanya.
Di sisi lain, peningkatan produksi juga terus dilakukan melalui  program upaya khusus (UPSUS) untuk padi, jagung, kedelai dan  hortikultura. Selain itu ada juga program Sapi Indukan Wajib Bunting  (SIWAB) pada peternakan serta bantuan bibit pada perkebunan.
&quot;Program khusus ini mampu meningkatkan produksi komoditas pertanian  secara signifikan sehingga menyebabkan PDB sektor pertanian tumbuh  positif secara konsisten,&quot; katanya.
Meningkatnya produksi juga sangat memuaskan karena mampu menyediakan  ketersediaan pangan sehingga dengan sendirinya menekan inflasi secara  signifikan. Belum lagi adanya program asuransi pertanian dan program  pengembangan pertanian modern melalui penggunaan alsitan secara masif.
&quot;Kedua program ini mampu meningkatkan produktivitas dan pendapatan  keluarga petani karena menghemat biaya karena sebagian besar tenaga  kerja sudah diganti oleh penggunaan alsintan yang jauh lebih efisien,&quot;  pungkasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Program dan kebijakan pembangunan pertanian yang dijalankan pemerintah saat ini mampu mendongkrak dan berkontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Terbukti dalam kurun waktu empat tahun terakhir, produk domestik bruto (PDB) pada sektor pertanian memang terus mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan. Selama periode 2013-2017, akumulasi tambahan nilai PDB Sektor pertanian yang mampu dihasilkan mencapai Rp1.375 Triliun atau naik 47% dibandingkan dengan tahun 2013.
&amp;ldquo;Bahkan tercatat pada tahun 2018 ini, nilai PDB mencapai Rp395,7 triliun  dibandingkan Triwulan III tahun lalu yang hanya Rp375,8 triliun,&amp;rdquo; demikian disampaikan Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Kementerian Pertanian (Kementan) I Ketut Kariyasa dikutip Rabu (9/1/2019).
Selain tumbuh positif, peran sektor pertanian dalam pertumbuhan ekonomi nasional juga semakin penting dan strategis, hal ini terlihat dari kontribusinya yang semakin meningkat.  Pada tahun 2014, Sektor Pertanian (termasuk kehutanan dan perikanan) berkontribusi sekitar 13,14% terhadap ekonomi nasional dan pada tahun 2017 meningkat menjadi 13,53%.
Baca Juga: Digitalisasi Pertanian Mampu Tingkatkan Produksi hingga Tekan Biaya Pemasaran
 
&quot;Kalau diperhitungkan dengan industri agro dan penyediaan makanan dan minuman yang berbasis bahan baku pertanian, kontribusinya bisa mencapai 25,84 persen. Dan ini berdampak pada perekonomian skala nasional,&quot; katanya.
Sektor pertanian, disebut Kariyasa, menjadi semakin penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Hal tersebut turut tergambarkan dari inflasi bahan pangan terkendali, jumlah penduduk miskin di perdesaan semakin menurun dan kesejahteraan petani semakin membaik.
Inflasi kelompok bahan makanan terus menurun, dari 10,57% pada tahun 2014, masing-masing menjadi 4,93% pada tahun 2015 dan 5,69% pada tahun 2016.  Bahkan tahun 2017, selain turun menjadi 1,26%.

&quot;Inflasi kelompok bahan makanan terus menurun. Artinya bisa dikatakan dalam sejarah Indonesia baru kali ini inflasi bahan makanan atau pangan lebih rendah dari inflasi umum yang hanya 3,6 persen,&quot; ujar Kariyasa.
Keberhasilan pembangunan pertanian juga tercermin dari kesejahteraan petani. Kesejahteraan itu bisa dilihat secara langsung melalui indikator Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) dan menurunnya jumlah penduduk miskin di perdesaan.
Pada tahun 2014 nilai NTUP (Pertanian Sempit tanpa Perikanan) hanya sebesar 106,05; dan pada tahun 2015 dan 2016 berturut-turut meningkat menjadi 107,44 dan 109,83.  Nilai NTUP pada tahun 2017 dan 2018 sampai bulan Desember juga membaik menjadi 110,03 dan 111,56.
Jumlah penduduk miskin di perdesaan juga terus menurun, pada Maret 2015 masih sekitar 14,21% (17,94 juta jiwa) dan pada bulan yang sama tahun 2016 dan 2017 turun menjadi 14,11% (17,67 juta jiwa) dan 13,93% (17,09 juta jiwa).  Demikian juga pada Maret 2018, kembali turun menjadi 13,47% (15,81 juta jiwa).Dikatakan Kariyasa, membaiknya kesejahteraan petani juga bisa dilihat  dari menurunnya indek Gini Rasio di perdesaan. Ini merupakan cermin  dari pemerataan pendapatan di perdesaan yang terus membaik. Pada tahun  2015, indeks Gini Rasio di perdesaan sebesar 0,334 dan pada tahun 2016  dan 2017 turun masing-masing menjadi 0,327 dan 0,320.
&quot;Atau dengan kata lain ketimpangan pendapatan antar rumah tangga di  perdesaan semakin rendah. Yang perlu dicatat adalah keberhasilan telah  berdampak pada pemerataan pendapatan di perdesaan. Kondisi mereka jauh  lebih baik dibanding warga perkotaan,&quot; katanya.
Program Terobosan Pemerintah di Sektor Pertanian
Dalam upaya mengurangi jumlah penduduk miskin di perdesaan, Kariyasa  menyebutkan Kementan telah membuat program terobosan Bedah Kemiskinan  Rakyat Sejahtera (BEKERJA). Terobosan ini dinilai tepat sebagai solusi  permanen untuk mengentaskan masyarakat petani dari kemiskinan dan  pemerataan.

&quot;Sebab sebagian besar penduduk miskin di perdesaan adalah petani di  mana lebih dari 70 persen pendapatan utamanya berasal dari sektor  pertanian. Tahun ini kita sudah terapkan program ini di 10 provinsi  dengan sasaran 200.000 Rumah Tangga Petani Miskin (RTM),&quot; katanya.
Di sisi lain, peningkatan produksi juga terus dilakukan melalui  program upaya khusus (UPSUS) untuk padi, jagung, kedelai dan  hortikultura. Selain itu ada juga program Sapi Indukan Wajib Bunting  (SIWAB) pada peternakan serta bantuan bibit pada perkebunan.
&quot;Program khusus ini mampu meningkatkan produksi komoditas pertanian  secara signifikan sehingga menyebabkan PDB sektor pertanian tumbuh  positif secara konsisten,&quot; katanya.
Meningkatnya produksi juga sangat memuaskan karena mampu menyediakan  ketersediaan pangan sehingga dengan sendirinya menekan inflasi secara  signifikan. Belum lagi adanya program asuransi pertanian dan program  pengembangan pertanian modern melalui penggunaan alsitan secara masif.
&quot;Kedua program ini mampu meningkatkan produktivitas dan pendapatan  keluarga petani karena menghemat biaya karena sebagian besar tenaga  kerja sudah diganti oleh penggunaan alsintan yang jauh lebih efisien,&quot;  pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
