<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Harga Batu Bara Dipatok Sebesar USD92,41/Ton</title><description>Pemerintah mematok harga batu bara untuk penjualan langsung (spot)  selama satu bulan sebesar USD92,41 per ton.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/01/09/320/2002007/harga-batu-bara-dipatok-sebesar-usd92-41-ton</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/01/09/320/2002007/harga-batu-bara-dipatok-sebesar-usd92-41-ton"/><item><title>Harga Batu Bara Dipatok Sebesar USD92,41/Ton</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/01/09/320/2002007/harga-batu-bara-dipatok-sebesar-usd92-41-ton</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/01/09/320/2002007/harga-batu-bara-dipatok-sebesar-usd92-41-ton</guid><pubDate>Rabu 09 Januari 2019 13:48 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/01/09/320/2002007/harga-batu-bara-dipatok-sebesar-usd92-41-ton-aRUg4h0wzF.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi Batu Bara (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/01/09/320/2002007/harga-batu-bara-dipatok-sebesar-usd92-41-ton-aRUg4h0wzF.jpg</image><title>Ilustrasi Batu Bara (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Memasuki awal 2019, pemerintah mematok harga batu bara untuk penjualan langsung (spot) selama satu bulan pada titik serah penjualan secara &quot;free on board&quot; di atas kapal pengangkut (FOB Veseel) sebesar USD92,41 per ton.
Harga Batu bara Acuan (HBA) Januari 2019 ditetapkan oleh Menteri ESDM dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 01/K/30/MEM/2019 sebesar USD92,41/ton atau turun tipis USD0,10 /ton dari Desember 2018, berdasarkan data dari Kementerian ESDM, dilansir dari Harian Neraca, Rabu (9/1/2019).
HBA bulan ini melanjutkan tren penurunan sejak lima bulan terakhir, yaitu Agustus (USD107,83/ton), September (USD104,81/ton), Oktober (USD100,89/ton), November (USD97,90/ton) dan Desember (USD92,51/ton).
Baca Juga: Permintaan Batu Bara Global Diprediksi Naik hingga 2023
 
Angka HBA ini masih relatif stabil bila dibandingkan dengan HBA bulan yang sama pada 2018 yaitu USD95,54/ton. Penurunan HBA Januari 2019 ini disebabkan karena kebijakan pembatasan impor batu bara oleh pemerintah Tiongkok. Sedangkan di sisi lain, pasar batu bara global mengalami kelebihan pasokan. Hal tersebut juga yang menyebabkan harga batu bara melemah sejak beberapa bulan terakhir.
Nilai HBA sendiri diperoleh rata-rata empat indeks harga batu bara yang umum digunakan dalam perdagangan batu bara dunia, yaitu Indonesia Coal Index (ICI), Newcastle Export Index (NEX), Globalcoal Newcastle Index (GCNC), dan Platt's 5900 pada bulan sebelumnya.
Penentuan ini disetarakan pada nilai kalori batu bara 6.322 kcal per kilogram Gross As Received (GAR), kandungan air (total moisture) 8%, kandungan sulfur 0,8% as received (ar), dan kandungan ash 15%.
&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2018/08/27/52778/266174_medium.jpg&quot; alt=&quot;ESDM Pastikan Tambah Kuota Produksi Batu Bara Jadi 585 Juta Ton pada Tahun 2018&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;&amp;nbsp;
Sementara itu, harga minyak dunia naik pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), setelah diperdagangkan berfluktuasi, menyusul hasil survei terpisah yang menunjukkan produksi minyak mentah di produsen-produsen minyak utama menurun.
Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) memproduksi 32,68 juta barel per hari (bpd) pada bulan lalu, turun 460.000 barel per hari dari November, dan merupakan penurunan bulan ke bulan terbesar sejak Januari 2017, kata survei Reuters, sebagaimana disalin dari Antara.
Sementara itu, survei oleh Bloomberg menunjukkan produksi minyak dari OPEC turun 530.000 barel per hari menjadi 32,6 juta barel per hari pada Desember, juga merupakan penurunan paling tajam sejak Januari 2017.Januari tahun ini juga menandai dimulainya pemangkasan produksi oleh  OPEC dan sekutunya. Pada pertemuan Desember lalu, OPEC dan beberapa  produsen minyak utama lainnya, termasuk Rusia, berjanji untuk memotong  produksi sebesar 1,2 juta barel per hari, efektif mulai Januari 2019.
Prospek untuk penurunan lebih lanjut dalam produksi minyak mentah dan  kekhawatiran atas kemungkinan menyusutnya permintaan minyak karena  pertumbuhan global yang melambat, menyebabkan volatilitas pasar pada  Kamis (3/1), para ahli mencatat.
Minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman  Februari, naik USD0,55 menjadi menetap pada USD47,09 per barel di New  York Mercantile Exchange. Sementara itu, patokan global, minyak mentah  Brent untuk pengiriman Maret, naik USD1,04 menjadi ditutup pada USD55,95  per barel di London ICE Futures Exchange.
Harga untuk kedua minyak mentah acuan mengakhiri perdagangan 2018  dengan lebih rendah dari posisi mereka pada awal 2018, Badan Informasi  Energi AS (EIA) mengatakan pada Kamis (3/1).
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2018/08/27/52778/266176_medium.jpg&quot; alt=&quot;ESDM Pastikan Tambah Kuota Produksi Batu Bara Jadi 585 Juta Ton pada Tahun 2018&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Minyak mentah Brent mengakhiri tahun lalu di USD54 per barel, USD13  per barel lebih rendah dari awal tahun 2018. Minyak mentah West Texas  Intermediate (WTI) mengakhiri tahun di USD45 per barel, USD15 per barel  lebih rendah dari awal tahun 2018.
Tahun 2018 menandai pertama kalinya sejak 2015 bahwa harga-harga  minyak mentah acuan ini mengakhiri tahun dengan harga lebih rendah  daripada di awal tahun. Pada 2018, minyak mentah Brent rata-rata  mencapai USD72 per barel, sementara WTI rata-rata mencapai USD65 per  barel.
Brent dan WTI masing-masing mencapai harga tertinggi mereka selama  tahun lalu pada 3 Oktober, masing-masing di USD86 per barel dan USD76  per barel. Harga untuk setiap minyak mentah turun dengan cepat setelah  itu. Pada 24 Desember, Brent mencapai titik terendah tahunan di USD50  per barel dan WTI mencapai titik terendah tahunan di USD43 per barel.
Dalam upaya untuk membatasi pasokan berlebih, pada 7 Desember 2018,  OPEC dan negara-negara penghasil lainnya (termasuk Rusia) mengumumkan  akan memangkas produksi sebesar 1,2 juta barel per hari dari level  Oktober 2018 selama enam bulan pertama 2019.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Memasuki awal 2019, pemerintah mematok harga batu bara untuk penjualan langsung (spot) selama satu bulan pada titik serah penjualan secara &quot;free on board&quot; di atas kapal pengangkut (FOB Veseel) sebesar USD92,41 per ton.
Harga Batu bara Acuan (HBA) Januari 2019 ditetapkan oleh Menteri ESDM dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 01/K/30/MEM/2019 sebesar USD92,41/ton atau turun tipis USD0,10 /ton dari Desember 2018, berdasarkan data dari Kementerian ESDM, dilansir dari Harian Neraca, Rabu (9/1/2019).
HBA bulan ini melanjutkan tren penurunan sejak lima bulan terakhir, yaitu Agustus (USD107,83/ton), September (USD104,81/ton), Oktober (USD100,89/ton), November (USD97,90/ton) dan Desember (USD92,51/ton).
Baca Juga: Permintaan Batu Bara Global Diprediksi Naik hingga 2023
 
Angka HBA ini masih relatif stabil bila dibandingkan dengan HBA bulan yang sama pada 2018 yaitu USD95,54/ton. Penurunan HBA Januari 2019 ini disebabkan karena kebijakan pembatasan impor batu bara oleh pemerintah Tiongkok. Sedangkan di sisi lain, pasar batu bara global mengalami kelebihan pasokan. Hal tersebut juga yang menyebabkan harga batu bara melemah sejak beberapa bulan terakhir.
Nilai HBA sendiri diperoleh rata-rata empat indeks harga batu bara yang umum digunakan dalam perdagangan batu bara dunia, yaitu Indonesia Coal Index (ICI), Newcastle Export Index (NEX), Globalcoal Newcastle Index (GCNC), dan Platt's 5900 pada bulan sebelumnya.
Penentuan ini disetarakan pada nilai kalori batu bara 6.322 kcal per kilogram Gross As Received (GAR), kandungan air (total moisture) 8%, kandungan sulfur 0,8% as received (ar), dan kandungan ash 15%.
&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2018/08/27/52778/266174_medium.jpg&quot; alt=&quot;ESDM Pastikan Tambah Kuota Produksi Batu Bara Jadi 585 Juta Ton pada Tahun 2018&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;&amp;nbsp;
Sementara itu, harga minyak dunia naik pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), setelah diperdagangkan berfluktuasi, menyusul hasil survei terpisah yang menunjukkan produksi minyak mentah di produsen-produsen minyak utama menurun.
Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) memproduksi 32,68 juta barel per hari (bpd) pada bulan lalu, turun 460.000 barel per hari dari November, dan merupakan penurunan bulan ke bulan terbesar sejak Januari 2017, kata survei Reuters, sebagaimana disalin dari Antara.
Sementara itu, survei oleh Bloomberg menunjukkan produksi minyak dari OPEC turun 530.000 barel per hari menjadi 32,6 juta barel per hari pada Desember, juga merupakan penurunan paling tajam sejak Januari 2017.Januari tahun ini juga menandai dimulainya pemangkasan produksi oleh  OPEC dan sekutunya. Pada pertemuan Desember lalu, OPEC dan beberapa  produsen minyak utama lainnya, termasuk Rusia, berjanji untuk memotong  produksi sebesar 1,2 juta barel per hari, efektif mulai Januari 2019.
Prospek untuk penurunan lebih lanjut dalam produksi minyak mentah dan  kekhawatiran atas kemungkinan menyusutnya permintaan minyak karena  pertumbuhan global yang melambat, menyebabkan volatilitas pasar pada  Kamis (3/1), para ahli mencatat.
Minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman  Februari, naik USD0,55 menjadi menetap pada USD47,09 per barel di New  York Mercantile Exchange. Sementara itu, patokan global, minyak mentah  Brent untuk pengiriman Maret, naik USD1,04 menjadi ditutup pada USD55,95  per barel di London ICE Futures Exchange.
Harga untuk kedua minyak mentah acuan mengakhiri perdagangan 2018  dengan lebih rendah dari posisi mereka pada awal 2018, Badan Informasi  Energi AS (EIA) mengatakan pada Kamis (3/1).
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2018/08/27/52778/266176_medium.jpg&quot; alt=&quot;ESDM Pastikan Tambah Kuota Produksi Batu Bara Jadi 585 Juta Ton pada Tahun 2018&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Minyak mentah Brent mengakhiri tahun lalu di USD54 per barel, USD13  per barel lebih rendah dari awal tahun 2018. Minyak mentah West Texas  Intermediate (WTI) mengakhiri tahun di USD45 per barel, USD15 per barel  lebih rendah dari awal tahun 2018.
Tahun 2018 menandai pertama kalinya sejak 2015 bahwa harga-harga  minyak mentah acuan ini mengakhiri tahun dengan harga lebih rendah  daripada di awal tahun. Pada 2018, minyak mentah Brent rata-rata  mencapai USD72 per barel, sementara WTI rata-rata mencapai USD65 per  barel.
Brent dan WTI masing-masing mencapai harga tertinggi mereka selama  tahun lalu pada 3 Oktober, masing-masing di USD86 per barel dan USD76  per barel. Harga untuk setiap minyak mentah turun dengan cepat setelah  itu. Pada 24 Desember, Brent mencapai titik terendah tahunan di USD50  per barel dan WTI mencapai titik terendah tahunan di USD43 per barel.
Dalam upaya untuk membatasi pasokan berlebih, pada 7 Desember 2018,  OPEC dan negara-negara penghasil lainnya (termasuk Rusia) mengumumkan  akan memangkas produksi sebesar 1,2 juta barel per hari dari level  Oktober 2018 selama enam bulan pertama 2019.</content:encoded></item></channel></rss>
