<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Penjualan Rumah Tapak Bakal Naik di Tahun Politik</title><description>Harga dan suplai properti, terutama pada sektor residensial atau rumah tapak, diperkirakan berlangsung positif pada 2019.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/01/09/470/2001884/penjualan-rumah-tapak-bakal-naik-di-tahun-politik</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/01/09/470/2001884/penjualan-rumah-tapak-bakal-naik-di-tahun-politik"/><item><title>Penjualan Rumah Tapak Bakal Naik di Tahun Politik</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/01/09/470/2001884/penjualan-rumah-tapak-bakal-naik-di-tahun-politik</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/01/09/470/2001884/penjualan-rumah-tapak-bakal-naik-di-tahun-politik</guid><pubDate>Rabu 09 Januari 2019 10:30 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/01/09/470/2001884/penjualan-rumah-tapak-bakal-naik-di-tahun-politik-S0OQU2Ylop.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Foto Rumah: Ilustrasi Shutterstock</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/01/09/470/2001884/penjualan-rumah-tapak-bakal-naik-di-tahun-politik-S0OQU2Ylop.jpeg</image><title>Foto Rumah: Ilustrasi Shutterstock</title></images><description>JAKARTA - Harga dan suplai properti, terutama pada sektor residensial atau rumah tapak, diperkirakan berlangsung positif pada 2019. Permintaan pasar akan tetap stabil, terutama untuk hunian bawah dan menengah yang banyak diincar keluarga muda dengan penghasilan terbatas. Meski kepuasan terhadap upaya pemerintah dalam menjaga harga properti hunian tetap terjangkau sedikit menurun, namun mayoritas masyarakat diperkirakan tetap optimistis dengan iklim properti Indonesia pada tahun ini.
Meski demikian, berbelitnya proses pengurusan KPR (Kredit Pemilikan Rumah) bisa menjadi penahan laju pasar properti nasional. Kebijakan pemerintah yang melonggarkan loan to value (LTV) atau uang muka membuka kesempatan bagi para pencari properti untuk membeli rumah dengan uang muka yang serendah-rendahnya.
&amp;ldquo;Untuk semester satu memang masih sama saja, konsumen masih wait and see. Kenaikan penjualan rumah tapak kemungkinan terjadi di semester dua tahun ini,&amp;rdquo; tutur Ignatius Untung, Country General Manager Rumah123.com.
Baca Juga: Persaingan Bisnis Properti 2019 Kian Ketat, Bagaimana Cara Menghadapinya?
 
Untung menuturkan, rumah yang diperuntukkan bagi kalangan bawah dan menengah menjadi jenis hunian paling banyak dicari oleh masyarakat tahun ini. Lokasinya terutama di daerah pinggiran kota dengan akses mudah seperti di kawasan timur Jakarta yang belakangan makin bersinar.
&amp;ldquo;Untuk harga rumah yang banyak dicari itu seharga Rp1 miliar sampai Rp1,5 miliar ke bawah. Masyarakat masih banyak memilih hunian terjangkau dengan kemudahan pembayaran,&amp;rdquo; katanya. Pada tahun ini, kata dia, ada sejumlah faktor membuat masyarakat menahan diri untuk membeli rumah.
Selain tahun politik yang memungkinkan terjadinya ketegangan sosial, juga masih kurangnya edukasi kepada masyarakat terkait dunia properti dan pentingnya memiliki rumah ketika telah memiliki pendapatan sendiri. &amp;ldquo;Edukasi kepada masyarakat soal berinvestasi di properti masih kurang.

Padahal saat ini waktu yang tepat untuk membeli rumah, baik untuk dihuni sendiri maupun sebagai sarana investasi,&amp;rdquo; ujarnya. Untung mengatakan, tahun ini kesempatan tepat membeli hunian karena kondisi ekonomi diperkirakan akan stabil hingga akhir tahun jika pemerintah tetap konsisten menjalankan kebijakan yang berlaku.
Pastinya, pasar properti akan terus merangkak naik dan menuju pemulihan. Adapun Ketua Umum Asosiasi Perumahan Seluruh Indonesia (Apersi) Junaidi Abdillah mengatakan, prospek penjualan rumah komersial tahun ini diperkirakan makin membaik meskipun tidak terlalu tinggi.
&amp;ldquo;Kalau ekonomi membaik, maka daya beli juga akan membaik. Hingga akhir tahun lalu, prospek penjualan rumah komersial akan lebih bagus meskipun tidak terlalu tinggi,&amp;rdquo; ujarnya. Dia mengakui saat ini tidak sedikit pengembang properti menghentikan sementara proyek pembangunan rumah komersial.
Menurut Junaidi, sebagian besar di antaranya beralih membangun rumah lebih kecil lantaran penjualannya masih bagus. &amp;ldquo;Penjualan rumah subsidi masih sangat baik. Hal itu seiring permintaan rumah sangat besar,&amp;rdquo; katanya.Anggota Apersi menargetkan membangun rumah bagi masyarakat  berpenghasilan rendah (MBR) atau rumah subsidi tahun 2019 sekitar  150.000 unit. Jumlah itu meningkat 15,3% dari target yang ditetapkan  asosiasi pada 2018, yakni 130.000 unit. Dengan jumlah anggota asosiasi  2.700 orang, target itu disebut bisa tercapai.
&amp;ldquo;Sebetulnya selama ini serapan rumah MBR rendah bukan karena  masalahnya pada pengembang, melainkan pada perizinan, pembiayaan, dan  pertanahan. Kalau permasalahan dari pemangku kebijakan itu bisa diatasi  realisasinya, bisa lebih dari itu,&amp;rdquo; kata Junaidi.
Sementara itu, Managing Director President Office Sinarmas Land Dhony  Rahajoe mengatakan, optimistis bahwa bisnis properti untuk pembangunan  landed house akan berjalan positif lantaran masih tingginya angka  kebutuhan rumah yang beluk terpenuhi atau backlog.

Terutama kebutuhan rumah bagi segmen menengah ke bawah. &amp;ldquo;Namanya  penjualan rumah tetap akan optimistis karena tanah akan tetap  dibutuhkan. Jadi, kami tetap yakin, 2019 baik untuk investasi properti,&amp;rdquo;  ujarnya. Menurut dia, sinyal kenaikan properti tersebut sudah terlihat  sejak akhir tahun lalu.
Walaupun kenaikannya dirasakan belum terlalu signifikan. &amp;ldquo;Khusus  perumahan, apalagi kalau lihat year on year semester pertama dari KPR  yang disalurkan BTN itu di atas angka rata-rata dihitung OJK (Otoritas  Jasa Keuangan), yaitu 19 persen,&amp;rdquo; ungkap Dhony.
Diketahui, BTN mencatat pertumbuhan kredit sebesar 19,28% menjadi  Rp220,07 triliun pada kuartal III/2018. Angka tersebut meningkat dari  penyaluran kredit BTN pada kuartal III/2017 sebesar Rp184,5 triliun.
Pertumbuhan itu didorong kenaikan KPR Subsidi yang disalurkan melalui  kucuran Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). &amp;ldquo;Jadi, kita  melihat ada tren naik. Apalagi yang milenial ini sudah mulai ada  kebutuhan dan banyak relaksasi yang diberikan pemerintah,&amp;rdquo; kata Dhony.
Alih-alih memberikan pengaruh signifikan, menurut Dhony, kondisi  perekonomian global justru lebih berpengaruh daripada kondisi politik  dalam negeri. Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China serta  rencana kenaikan suku bunga Bank Sentral AS dipastikan bisa memberikan  pengaruh besar terhadap industri properti di Tanah Air.
&amp;ldquo;Kalau suku bunga naik, maka bunga konsumsi juga naik. Jadi, sangat  besar pengaruhnya. Optimistis kita berharap pemerintah bisa menjaga  stabilitas bunga di Indonesia sehingga bisa terjangkau,&amp;rdquo; katanya.
(Rendra Hanggara)</description><content:encoded>JAKARTA - Harga dan suplai properti, terutama pada sektor residensial atau rumah tapak, diperkirakan berlangsung positif pada 2019. Permintaan pasar akan tetap stabil, terutama untuk hunian bawah dan menengah yang banyak diincar keluarga muda dengan penghasilan terbatas. Meski kepuasan terhadap upaya pemerintah dalam menjaga harga properti hunian tetap terjangkau sedikit menurun, namun mayoritas masyarakat diperkirakan tetap optimistis dengan iklim properti Indonesia pada tahun ini.
Meski demikian, berbelitnya proses pengurusan KPR (Kredit Pemilikan Rumah) bisa menjadi penahan laju pasar properti nasional. Kebijakan pemerintah yang melonggarkan loan to value (LTV) atau uang muka membuka kesempatan bagi para pencari properti untuk membeli rumah dengan uang muka yang serendah-rendahnya.
&amp;ldquo;Untuk semester satu memang masih sama saja, konsumen masih wait and see. Kenaikan penjualan rumah tapak kemungkinan terjadi di semester dua tahun ini,&amp;rdquo; tutur Ignatius Untung, Country General Manager Rumah123.com.
Baca Juga: Persaingan Bisnis Properti 2019 Kian Ketat, Bagaimana Cara Menghadapinya?
 
Untung menuturkan, rumah yang diperuntukkan bagi kalangan bawah dan menengah menjadi jenis hunian paling banyak dicari oleh masyarakat tahun ini. Lokasinya terutama di daerah pinggiran kota dengan akses mudah seperti di kawasan timur Jakarta yang belakangan makin bersinar.
&amp;ldquo;Untuk harga rumah yang banyak dicari itu seharga Rp1 miliar sampai Rp1,5 miliar ke bawah. Masyarakat masih banyak memilih hunian terjangkau dengan kemudahan pembayaran,&amp;rdquo; katanya. Pada tahun ini, kata dia, ada sejumlah faktor membuat masyarakat menahan diri untuk membeli rumah.
Selain tahun politik yang memungkinkan terjadinya ketegangan sosial, juga masih kurangnya edukasi kepada masyarakat terkait dunia properti dan pentingnya memiliki rumah ketika telah memiliki pendapatan sendiri. &amp;ldquo;Edukasi kepada masyarakat soal berinvestasi di properti masih kurang.

Padahal saat ini waktu yang tepat untuk membeli rumah, baik untuk dihuni sendiri maupun sebagai sarana investasi,&amp;rdquo; ujarnya. Untung mengatakan, tahun ini kesempatan tepat membeli hunian karena kondisi ekonomi diperkirakan akan stabil hingga akhir tahun jika pemerintah tetap konsisten menjalankan kebijakan yang berlaku.
Pastinya, pasar properti akan terus merangkak naik dan menuju pemulihan. Adapun Ketua Umum Asosiasi Perumahan Seluruh Indonesia (Apersi) Junaidi Abdillah mengatakan, prospek penjualan rumah komersial tahun ini diperkirakan makin membaik meskipun tidak terlalu tinggi.
&amp;ldquo;Kalau ekonomi membaik, maka daya beli juga akan membaik. Hingga akhir tahun lalu, prospek penjualan rumah komersial akan lebih bagus meskipun tidak terlalu tinggi,&amp;rdquo; ujarnya. Dia mengakui saat ini tidak sedikit pengembang properti menghentikan sementara proyek pembangunan rumah komersial.
Menurut Junaidi, sebagian besar di antaranya beralih membangun rumah lebih kecil lantaran penjualannya masih bagus. &amp;ldquo;Penjualan rumah subsidi masih sangat baik. Hal itu seiring permintaan rumah sangat besar,&amp;rdquo; katanya.Anggota Apersi menargetkan membangun rumah bagi masyarakat  berpenghasilan rendah (MBR) atau rumah subsidi tahun 2019 sekitar  150.000 unit. Jumlah itu meningkat 15,3% dari target yang ditetapkan  asosiasi pada 2018, yakni 130.000 unit. Dengan jumlah anggota asosiasi  2.700 orang, target itu disebut bisa tercapai.
&amp;ldquo;Sebetulnya selama ini serapan rumah MBR rendah bukan karena  masalahnya pada pengembang, melainkan pada perizinan, pembiayaan, dan  pertanahan. Kalau permasalahan dari pemangku kebijakan itu bisa diatasi  realisasinya, bisa lebih dari itu,&amp;rdquo; kata Junaidi.
Sementara itu, Managing Director President Office Sinarmas Land Dhony  Rahajoe mengatakan, optimistis bahwa bisnis properti untuk pembangunan  landed house akan berjalan positif lantaran masih tingginya angka  kebutuhan rumah yang beluk terpenuhi atau backlog.

Terutama kebutuhan rumah bagi segmen menengah ke bawah. &amp;ldquo;Namanya  penjualan rumah tetap akan optimistis karena tanah akan tetap  dibutuhkan. Jadi, kami tetap yakin, 2019 baik untuk investasi properti,&amp;rdquo;  ujarnya. Menurut dia, sinyal kenaikan properti tersebut sudah terlihat  sejak akhir tahun lalu.
Walaupun kenaikannya dirasakan belum terlalu signifikan. &amp;ldquo;Khusus  perumahan, apalagi kalau lihat year on year semester pertama dari KPR  yang disalurkan BTN itu di atas angka rata-rata dihitung OJK (Otoritas  Jasa Keuangan), yaitu 19 persen,&amp;rdquo; ungkap Dhony.
Diketahui, BTN mencatat pertumbuhan kredit sebesar 19,28% menjadi  Rp220,07 triliun pada kuartal III/2018. Angka tersebut meningkat dari  penyaluran kredit BTN pada kuartal III/2017 sebesar Rp184,5 triliun.
Pertumbuhan itu didorong kenaikan KPR Subsidi yang disalurkan melalui  kucuran Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). &amp;ldquo;Jadi, kita  melihat ada tren naik. Apalagi yang milenial ini sudah mulai ada  kebutuhan dan banyak relaksasi yang diberikan pemerintah,&amp;rdquo; kata Dhony.
Alih-alih memberikan pengaruh signifikan, menurut Dhony, kondisi  perekonomian global justru lebih berpengaruh daripada kondisi politik  dalam negeri. Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China serta  rencana kenaikan suku bunga Bank Sentral AS dipastikan bisa memberikan  pengaruh besar terhadap industri properti di Tanah Air.
&amp;ldquo;Kalau suku bunga naik, maka bunga konsumsi juga naik. Jadi, sangat  besar pengaruhnya. Optimistis kita berharap pemerintah bisa menjaga  stabilitas bunga di Indonesia sehingga bisa terjangkau,&amp;rdquo; katanya.
(Rendra Hanggara)</content:encoded></item></channel></rss>
