<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Singapura, Negara dengan Program Perumahan Umum Paling Sukses di Dunia</title><description>Proyek apartemen di Singapura dianggap sebagai salah satu proyek  perumahan umum yang paling ambisius dan paling sukses di dunia.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/01/09/470/2002086/kisah-singapura-negara-dengan-program-perumahan-umum-paling-sukses-di-dunia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/01/09/470/2002086/kisah-singapura-negara-dengan-program-perumahan-umum-paling-sukses-di-dunia"/><item><title>Kisah Singapura, Negara dengan Program Perumahan Umum Paling Sukses di Dunia</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/01/09/470/2002086/kisah-singapura-negara-dengan-program-perumahan-umum-paling-sukses-di-dunia</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/01/09/470/2002086/kisah-singapura-negara-dengan-program-perumahan-umum-paling-sukses-di-dunia</guid><pubDate>Rabu 09 Januari 2019 15:48 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi BBC Indonesia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/01/09/470/2002086/kisah-singapura-negara-dengan-program-perumahan-umum-paling-sukses-di-dunia-rKIjfHnO3X.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Apartemen (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/01/09/470/2002086/kisah-singapura-negara-dengan-program-perumahan-umum-paling-sukses-di-dunia-rKIjfHnO3X.jpg</image><title>Apartemen (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Proyek apartemen di Singapura dianggap sebagai salah satu proyek perumahan umum yang paling ambisius dan paling sukses di dunia. Kampung-kampung di Singapura sudah lama hilang, digantikan oleh gedung-gedung apartemen yang merupakan program perumahan umum. Namun meski masa sudah berganti, aturan perumahan ini dianggap usang.
&quot;Saya ingat merasa sangat bebas. Ada banyak lahan untuk berlarian,&quot; kata Chuck Hio Soon Huat, sambil menyeruput kopinya di sebuah kedai kopi.
&quot;Kami membuat mainan sendiri, memanjat pohon, mencelupkan kaki ke sungai, menembak burung, memetik buah.&quot;
Hio mengenang masa kecilnya bersama teman dan mantan rekan kerjanya, Lam Chun See. Tempat makan di mana mereka tengah berbicara dirancang seperti banyak pusat jajanan lain di Singapura, namun ada versi sentimental dari rancangan itu, atap kuno warna pastel di dalam sebuah plaza yang modern.
Singapura yang mereka ingat sangat berbeda dengan negara kota kontemporer yang terkenal akan jalan-jalannya yang bersih, bangunan modern serta mal mewah.
Baca Juga: 5 Tips Hemat Sewa Apartemen di Jakarta
 
Mereka berbicara soal tumbuh besar di kampung, desa-desa tradisional dengan rumah-rumah beratap seng yang kadang tak punya air atau listrik. Kampung hampir tidak ada lagi di Singapura. Kampung Lorong Buangkok ini adalah salah satu yang tersisa.
Kini, kampung hampir tak ada lagi di Singapura, tergantikan oleh bangunan tinggi yang dianggap sebagai salah satu proyek perumahan umum yang paling ambisius dan paling sukses di dunia. Tapi apa yang mendorong munculnya program ini, dan seefektif apa program ini bisa melayani generasi Singapura berikutnya?
'Sedikit bicara, banyak kerja'
Upaya untuk membangun perumahan umum di bawah pemerintahan Inggris dimulai pada 1920, namun perubahan berarti baru terjadi pada 1959, ketika People's Action Party (PAP) mulai berkuasa, kata Han Ming Guang di Singapore Heritage Society.
&quot;Ada kebutuhan untuk mengembangkan beberapa area kunci di Singapura dan untuk merumahkan orang-orang jauh dari kota karena pemimpin PAP ingin mengubah Singapura jadi lebih modern,&quot; katanya.
Proses ini kemudian dipercepat ketika terjadi kebakaran di kampung pada 1961. Ribuan orang kehilangan rumah dan kekhawatiran pemerintah akan kondisi hidup yang kumuh dan padat pun semakin mendalam.

Pada 1960, Dewan Pengembangan Perumahan (HDB) didirikan dan dalam tiga tahun membangun lebih dari 31.000 flat. Dengan slogan ambisius, 'sedikit bicara, banyak kerja', ratusan ribu orang dipindahkan dari kampung ke flat-flat HDB, dan memunculkan banyak reaksi.
&quot;Ada yang senang,&quot; kata Han. &quot;Selama ini, kelompok ini tinggal di lahan pemerintah atau berbagi ruang sempit dengan orang lain dan tak punya listrik atau WC. Pindah ke flat HDB bagi mereka adalah berkah.&quot;
Tapi ada kelompok yang tak suka harus pindah. &quot;Mereka mengusir kami,&quot; kata Lam Chun See, 66, yang menulis soal hari-harinya tinggal di kampung dalam blog Good Morning Yesterday. &quot;Mereka mengambil tanah kami.&quot;
Lam merujuk pada Undang-undang Akuisisi Lahan yang mulai berlaku setahun setelah kemerdekaan Singapura pada 1965.
UU itu kontroversial namun Perdana Menteri Lee Kuan Yew menegaskan bahwa langkah ini penting. Aturan tersebut memungkinkan pemerintah untuk membeli lahan untuk proyek perumahan dengan harga murah dan memindahkan orang ke luar pusat kota.&quot;Pemikiran di balik UU Akuisisi Lahan adalah kami harus berkorban  demi negara,&quot; kata Lam. &quot;Tapi jika saya [pemerintah] mengambil lahan  Anda, artinya saya menunjuk Anda untuk berkorban; buat saya itu tidak  adil.&quot;
Chuck Hio Soon Huat mengenang emosi yang berbeda. &quot;Saya tidak merasa  sedih sama sekali, mungkin saya masih muda. Pindah ke flat HDB terasa  lebih enak, karena lebih bersih, lebih nyaman.&quot;
Flat HDB awalnya tersedia untuk disewa, tapi kepemilikan rumah  kemudian menjadi prioritas nasional yang didorong oleh Lee Kuan Yew,  yang yakin bahwa hal ini bisa mendorong stabilitas nasional.
Setelah beberapa dekade pembangunan yang intensif, Singapura kini  punya lebih dari satu juta flat HDB di 23 kawasan kota. Pada 1960, hanya  9% orang Singapura yang tinggal di perumahan publik; kini angka itu  mencapai 80%, dan lebih dari 90% warga memiliki rumah.
Harga jual untuk pembangunan baru (dibangun sesuai pesanan) lebih  rendah dari harga pasar &amp;mdash; meski ada periode menunggu antara 3 sampai 4  tahun sebelum Anda bisa pindah &amp;mdash; dan stok sewaan juga disubsidi secara  besar-besaran untuk rumah tangga berpemasukan rendah. Angka terbaru  menunjukkan bahwa flat HDB bisa mencapai 73% dari stok perumahan di  Singapura.
Baca Juga: Ini Kriteria Apartemen yang Menarik Minat Sewa Ekspatriat
Jalur yang ditentukan
Safura Ashari, seorang agen perumahan yang menjalani bisnis ini  delapan tahun lalu setelah bercerai, membantu klien untuk menemukan flat  HDB.
Perempuan usia 40 tahun ini tinggal di HDB di Pasir Ris, di timur  Singapura. Menara-menara kembar berjajar di pinggir jalan, dan ada pusat  makanan yang ramai, toko-toko, dokter, dokter hewan dan pasar. Kawasan  ini tetap ramai dengan warga meski hujan.
Menurut Ashari, warga di sini sangat dekat satu sama lain. &quot;Saya  tidak mengunci pintu, saya berusaha untuk kenal dengan tetangga,&quot;  katanya. &quot;Di lantai saya, ada orang India, Cina, Filipina, dan saya  Melayu. Kami merayakan semua perayaan agama &amp;mdash; Hari Raya, Natal, Diwali.&quot;
Keragaman ini bukan suatu kebetulan &amp;mdash; setiap HDB harus memenuhi kuota  etnis yang ketat. Kebijakan Integrasi Etnis yang diterapkan pemerintah  pada 1989 bertujuan untuk memastikan ada campuran etnis di flat-flat  HDB, sesuatu yang menurut Lee Kuan Yew, akan mencegah komunitas  &quot;terpecah dan terasing dari satu sama lain&quot;.

Bagi agen perumahan seperti Ashari, kebijakan ini bisa menyulitkan.  &quot;Saya pernah menjual properti selama dua tahun. Kuota Melayu sudah  terpenuhi dan penjualnya orang Cina, jadi saya hanya bisa menjual ke  orang Cina juga.&quot;
Mempertahankan kuota etnis ini hanya satu faktor dalam aturan  perumahan umum. Flat HDB yang baru malah hanya tersedia untuk pasangan  yang sudah menikah. Mereka yang lajang harus menunggu sampai usia 35  untuk bisa membeli flat, itu pun mereka hanya bisa membeli flat yang  sudah dijual lebih mahal daripada flat baru.
Mereka yang sudah bercerai pun mengalami tantangan &amp;mdash; mereka bisa  menyewa flat HDB selama 30 bulan setelah menjual rumah yang dibeli saat  menikah, dan ini artinya mereka terbatas pada pasar yang lebih mahal,  kata Corinna Lim, direktur eksekutif AWARE (Asosiasi Perempuan untuk  Aksi dan Penelitian).
Para ibu yang tidak menikah juga baru bisa membeli flat HDB setelah  mereka berusia 35, karena mereka tak diakui sebagai &quot;keluarga inti&quot;,  katanya.
Para ibu yang tidak menikah juga baru bisa membeli flat HDB setelah  mereka berusia 35, karena mereka tak diakui sebagai &quot;keluarga inti&quot;.
Alasannya, jika aturannya tidak dibuat ketat, maka dikhawatirkan bisa  mendorong perceraian dan struktur keluarga tradisional, namun menurut  Lim, tidak ada &quot;bukti kuat&quot; yang menunjukkan bagaimana tingkat  perceraian akan meningkat jika aturan perumahan ini dilonggarkan.
&quot;Kenyataannya akan selalu ada orang tua yang bercerai dan ibu yang   tidak menikah yang butuh perumahan yang stabil, terlepas dari kebijakan   sosial atau lingkungan,&quot; katanya.
'Steph', yang melahirkan anak perempuan di usia 17, mengatakan bahwa   kebutuhannya untuk punya rumah sama besarnya dengan keluarga lain.
&quot;Keluarga bisa bermacam-macam bentuknya, dan kita harus mulai   mengakui ini. Dengan saya tidak menikah tak membuat peran saya sebagai   ibu berkurang atau bahwa saya menjadi tidak sama dengan warga Singapura   lainnya.&quot;
Raymond Yeo, 43, masih lajang saat dia membeli rumah pertamanya di   usia 35. Kini, dia menikah dan siap untuk membeli flat yang lebih besar,   namun dia merasa ragu akan sistem perumahan umum di negaranya. Dia   sependapat dengan filosofi dasar soal perumahan umum, tapi menurutnya   beberapa syarat dalam membeli unit HDB harus diubah.
&quot;Pemerintah menunjukkan jalan yang mereka ciptakan untuk Anda, jadi   jika Anda tidak menurutinya, Anda tidak dapat apa-apa. Jika Anda ingin   punya rumah, Anda harus menikah dan berharap bisa membeli,&quot; katanya.
&quot;Saya merasa generasi yang lebih muda tak punya pilihan lain selain mengikuti jalur yang sudah dipilihkan untuk mereka itu.&quot;
Baca Juga: Waspadai Hal Ini sebelum Sewa Menyewa Apartemen Fully-Furnished
Ashari punya pandangan berbeda meski mengalami kesulitan-kesulitannya   sendiri dalam hidup, dan dia tetap optimis dengan sistem HDB.
&quot;Tak ada klien saya yang jadi tak punya rumah, apa pun situasi mereka   dalam hidup,&quot; katanya. Menurutnya orang bisa saja mengajukan   pertimbangan sendiri ke HDB untuk mendapat solusi.
Banyak dari kepemilikan rumah terjadi karena subsidi atau tinggal   dekat dengan orang dan punya akses ke Dana Providen Sentral (CPF),   sebuah simpanan yang dimiliki semua orang Singapura yang bekerja dan   wajib membayar. Ada aturan ketat soal membeli dan menyewakan flat HDB.
Ashari melihat perubahan sikap pada klien-kliennya selama beberapa tahun terakhir.
&quot;Mereka yang lebih konservatif lebih mementingkan asal mereka punya   rumah,&quot; katanya, &quot;tapi ada kelompok lain yang ingin HDB yang bagus di   lokasi yang bagus juga. Mereka bilang: 'Saya akan tinggal di sana selama   lima tahun [sesuai aturan hukum] dan saya akan menyewakannya dan saya   akan beli properti lain [yang ada di pasar].'&quot;
Menjalin komunikasi
Tan Jin Meng, pria 53 tahun yang memegang gelar master di bidang   kebijakan publik dari Lee Kuan Yew School of Public Policy, telah   mengamati kebijakan perumahan di Singapura. Terlepas dari debat soal   ketimpangan ekonomi di negara kota ini, dia menyebut bahwa penyediaan   perumahan umum menyediakan &quot;keuntungan sosial yang sangat signifikan&quot;.
Namun, menurutnya, perumahan telah menjadi alat politik &amp;mdash; kontrak   sosial antara warga negara Singapura dengan pemerintah yang berkewajiban   untuk menyediakan rumah bagi mereka. &quot;Ini menjadi penting karena   pemerintah kini 'bertanggung jawab' &amp;mdash; mereka tak bisa mengurangi   keuntungan ini tanpa biaya [politik].&quot;

Tan pun cemas dengan masa depan. Dia khawatir beberapa orang terlalu   berfokus pada perumahan dan tak menabung untuk pensiun. Dia juga merasa   orang-orang tua semakin terisolasi, meski blok HDB dirancang untuk   mendukung interaksi sosial.
Di Pasir Ris, Ashari mengatakan dia memilih unitnya karena ada taman,   area olah raga, lapangan basket, empat taman bermain dan aktivitas   seperti Zumba dan badminton. Fitur desain ini dirancang untuk mendorong   anak-anak muda untuk berkumpul, namun semangat kampung, menurut Tan,   semakin terhapus di kalangan generasi lebih muda.
&quot;Kami bukan orang-orang yang ramah,&quot; katanya. &quot;Kami cenderung   menyendiri, jadi pemerintah khawatir akan bagaimana caranya menjangkau   anak muda dan melibatkan mereka dalam aktivitas.&quot;
Tan juga merasa generasi masa depan &amp;mdash; yang mendapat pendidikan lebih   baik dari orang tua mereka, punya pemasukan lebih besar dan anak yang   lebih sedikit &amp;mdash; akan menginginkan hal yang berbeda dari sektor   perumahan.Satu hal yang mungkin tak mereka terima adalah semua flat HDB punya    kontrak kepemilikan 99 tahun. Setelah kontrak itu habis, maka  pemerintah   bisa mengklaimnya.
Singapura adalah negara yang masih muda dan apa yang terjadi ketika    kontrak-kontrak pertama ini habis akan menjadi perdebatan hangat.
Selain itu, ada juga ungkapan, bahwa di Singapura, orang tidak    melamar dengan &quot;Maukah kamu menikah denganku?&quot; tapi dengan &quot;Mau membeli    flat bersama?&quot;
Angela Oh, 29, membeli flat HDB empat kamarnya bersama pria yang    menjadi suaminya pada 2012, tapi dia baru menempati flatnya tahun ini.    Sistem ini memungkinkan pasangan untuk mendaftarkan nama mereka untuk    flat baru, tapi Anda harus menikah saat flat dibangun.
&quot;Waktu pembangunan BTO (built to order/dibangun sesuai pesanan) yang    panjang benar-benar mengurangi kebahagiaan dari sebuah lamaran,&quot;    katanya, karena pernikahan menjadi soal praktis saja. Jika hubungan Anda    putus saat periode tunggu itu, uang Anda hangus dan Anda tak boleh    mendaftar BTO lagi selama setahun.

&quot;Saya tidak mengunci pintu, saya berusaha untuk kenal dengan    tetangga,&quot; kata Safura Ashari, seorang agen perumahan yang membantu    klien mencari flat HDB.
Oh, yang tinggal lama di flat HDB, mengatakan bahwa dia dan suaminya    &quot;puas untuk menjadikan BTO mereka sebagai rumah abadi&quot;. Tapi  menurutnya   generasinya punya pandangan berbeda dari orang tuanya.
&quot;Orang tua kami mungkin berpikir bahwa flat HDB adalah akhir dari    semuanya,&quot; katanya. &quot;Generasi sekarang punya banyak hal yang harus    dipikirkan, bukan hanya soal punya rumah&amp;hellip;kewarganegaraan global telah    mengubah cara kita melihat dan berpikir soal lokasi rumah.&quot;
Bagi para bekas penghuni kampung seperti Lam Chun See dan Chuck Hio Soon Huat, masa lalu selalu punya kenangannya sendiri.
&quot;Di luar rumah, ada alam,&quot; kata Lam. &quot;Di sini, apa di balik pintu? Di    flat HDB, kami tak punya luar rumah!&quot; katanya tertawa. &quot;Tapi  kesalahan   ini bukan pada HDB, ini soal urbanisasi,&quot; katanya.
Hio mengangguk. &quot;Ini harga yang harus dibayar untuk kemajuan,&quot; katanya. &quot;Tapi saya bangga bahwa kami ikut punya peran di sini.&quot;</description><content:encoded>JAKARTA - Proyek apartemen di Singapura dianggap sebagai salah satu proyek perumahan umum yang paling ambisius dan paling sukses di dunia. Kampung-kampung di Singapura sudah lama hilang, digantikan oleh gedung-gedung apartemen yang merupakan program perumahan umum. Namun meski masa sudah berganti, aturan perumahan ini dianggap usang.
&quot;Saya ingat merasa sangat bebas. Ada banyak lahan untuk berlarian,&quot; kata Chuck Hio Soon Huat, sambil menyeruput kopinya di sebuah kedai kopi.
&quot;Kami membuat mainan sendiri, memanjat pohon, mencelupkan kaki ke sungai, menembak burung, memetik buah.&quot;
Hio mengenang masa kecilnya bersama teman dan mantan rekan kerjanya, Lam Chun See. Tempat makan di mana mereka tengah berbicara dirancang seperti banyak pusat jajanan lain di Singapura, namun ada versi sentimental dari rancangan itu, atap kuno warna pastel di dalam sebuah plaza yang modern.
Singapura yang mereka ingat sangat berbeda dengan negara kota kontemporer yang terkenal akan jalan-jalannya yang bersih, bangunan modern serta mal mewah.
Baca Juga: 5 Tips Hemat Sewa Apartemen di Jakarta
 
Mereka berbicara soal tumbuh besar di kampung, desa-desa tradisional dengan rumah-rumah beratap seng yang kadang tak punya air atau listrik. Kampung hampir tidak ada lagi di Singapura. Kampung Lorong Buangkok ini adalah salah satu yang tersisa.
Kini, kampung hampir tak ada lagi di Singapura, tergantikan oleh bangunan tinggi yang dianggap sebagai salah satu proyek perumahan umum yang paling ambisius dan paling sukses di dunia. Tapi apa yang mendorong munculnya program ini, dan seefektif apa program ini bisa melayani generasi Singapura berikutnya?
'Sedikit bicara, banyak kerja'
Upaya untuk membangun perumahan umum di bawah pemerintahan Inggris dimulai pada 1920, namun perubahan berarti baru terjadi pada 1959, ketika People's Action Party (PAP) mulai berkuasa, kata Han Ming Guang di Singapore Heritage Society.
&quot;Ada kebutuhan untuk mengembangkan beberapa area kunci di Singapura dan untuk merumahkan orang-orang jauh dari kota karena pemimpin PAP ingin mengubah Singapura jadi lebih modern,&quot; katanya.
Proses ini kemudian dipercepat ketika terjadi kebakaran di kampung pada 1961. Ribuan orang kehilangan rumah dan kekhawatiran pemerintah akan kondisi hidup yang kumuh dan padat pun semakin mendalam.

Pada 1960, Dewan Pengembangan Perumahan (HDB) didirikan dan dalam tiga tahun membangun lebih dari 31.000 flat. Dengan slogan ambisius, 'sedikit bicara, banyak kerja', ratusan ribu orang dipindahkan dari kampung ke flat-flat HDB, dan memunculkan banyak reaksi.
&quot;Ada yang senang,&quot; kata Han. &quot;Selama ini, kelompok ini tinggal di lahan pemerintah atau berbagi ruang sempit dengan orang lain dan tak punya listrik atau WC. Pindah ke flat HDB bagi mereka adalah berkah.&quot;
Tapi ada kelompok yang tak suka harus pindah. &quot;Mereka mengusir kami,&quot; kata Lam Chun See, 66, yang menulis soal hari-harinya tinggal di kampung dalam blog Good Morning Yesterday. &quot;Mereka mengambil tanah kami.&quot;
Lam merujuk pada Undang-undang Akuisisi Lahan yang mulai berlaku setahun setelah kemerdekaan Singapura pada 1965.
UU itu kontroversial namun Perdana Menteri Lee Kuan Yew menegaskan bahwa langkah ini penting. Aturan tersebut memungkinkan pemerintah untuk membeli lahan untuk proyek perumahan dengan harga murah dan memindahkan orang ke luar pusat kota.&quot;Pemikiran di balik UU Akuisisi Lahan adalah kami harus berkorban  demi negara,&quot; kata Lam. &quot;Tapi jika saya [pemerintah] mengambil lahan  Anda, artinya saya menunjuk Anda untuk berkorban; buat saya itu tidak  adil.&quot;
Chuck Hio Soon Huat mengenang emosi yang berbeda. &quot;Saya tidak merasa  sedih sama sekali, mungkin saya masih muda. Pindah ke flat HDB terasa  lebih enak, karena lebih bersih, lebih nyaman.&quot;
Flat HDB awalnya tersedia untuk disewa, tapi kepemilikan rumah  kemudian menjadi prioritas nasional yang didorong oleh Lee Kuan Yew,  yang yakin bahwa hal ini bisa mendorong stabilitas nasional.
Setelah beberapa dekade pembangunan yang intensif, Singapura kini  punya lebih dari satu juta flat HDB di 23 kawasan kota. Pada 1960, hanya  9% orang Singapura yang tinggal di perumahan publik; kini angka itu  mencapai 80%, dan lebih dari 90% warga memiliki rumah.
Harga jual untuk pembangunan baru (dibangun sesuai pesanan) lebih  rendah dari harga pasar &amp;mdash; meski ada periode menunggu antara 3 sampai 4  tahun sebelum Anda bisa pindah &amp;mdash; dan stok sewaan juga disubsidi secara  besar-besaran untuk rumah tangga berpemasukan rendah. Angka terbaru  menunjukkan bahwa flat HDB bisa mencapai 73% dari stok perumahan di  Singapura.
Baca Juga: Ini Kriteria Apartemen yang Menarik Minat Sewa Ekspatriat
Jalur yang ditentukan
Safura Ashari, seorang agen perumahan yang menjalani bisnis ini  delapan tahun lalu setelah bercerai, membantu klien untuk menemukan flat  HDB.
Perempuan usia 40 tahun ini tinggal di HDB di Pasir Ris, di timur  Singapura. Menara-menara kembar berjajar di pinggir jalan, dan ada pusat  makanan yang ramai, toko-toko, dokter, dokter hewan dan pasar. Kawasan  ini tetap ramai dengan warga meski hujan.
Menurut Ashari, warga di sini sangat dekat satu sama lain. &quot;Saya  tidak mengunci pintu, saya berusaha untuk kenal dengan tetangga,&quot;  katanya. &quot;Di lantai saya, ada orang India, Cina, Filipina, dan saya  Melayu. Kami merayakan semua perayaan agama &amp;mdash; Hari Raya, Natal, Diwali.&quot;
Keragaman ini bukan suatu kebetulan &amp;mdash; setiap HDB harus memenuhi kuota  etnis yang ketat. Kebijakan Integrasi Etnis yang diterapkan pemerintah  pada 1989 bertujuan untuk memastikan ada campuran etnis di flat-flat  HDB, sesuatu yang menurut Lee Kuan Yew, akan mencegah komunitas  &quot;terpecah dan terasing dari satu sama lain&quot;.

Bagi agen perumahan seperti Ashari, kebijakan ini bisa menyulitkan.  &quot;Saya pernah menjual properti selama dua tahun. Kuota Melayu sudah  terpenuhi dan penjualnya orang Cina, jadi saya hanya bisa menjual ke  orang Cina juga.&quot;
Mempertahankan kuota etnis ini hanya satu faktor dalam aturan  perumahan umum. Flat HDB yang baru malah hanya tersedia untuk pasangan  yang sudah menikah. Mereka yang lajang harus menunggu sampai usia 35  untuk bisa membeli flat, itu pun mereka hanya bisa membeli flat yang  sudah dijual lebih mahal daripada flat baru.
Mereka yang sudah bercerai pun mengalami tantangan &amp;mdash; mereka bisa  menyewa flat HDB selama 30 bulan setelah menjual rumah yang dibeli saat  menikah, dan ini artinya mereka terbatas pada pasar yang lebih mahal,  kata Corinna Lim, direktur eksekutif AWARE (Asosiasi Perempuan untuk  Aksi dan Penelitian).
Para ibu yang tidak menikah juga baru bisa membeli flat HDB setelah  mereka berusia 35, karena mereka tak diakui sebagai &quot;keluarga inti&quot;,  katanya.
Para ibu yang tidak menikah juga baru bisa membeli flat HDB setelah  mereka berusia 35, karena mereka tak diakui sebagai &quot;keluarga inti&quot;.
Alasannya, jika aturannya tidak dibuat ketat, maka dikhawatirkan bisa  mendorong perceraian dan struktur keluarga tradisional, namun menurut  Lim, tidak ada &quot;bukti kuat&quot; yang menunjukkan bagaimana tingkat  perceraian akan meningkat jika aturan perumahan ini dilonggarkan.
&quot;Kenyataannya akan selalu ada orang tua yang bercerai dan ibu yang   tidak menikah yang butuh perumahan yang stabil, terlepas dari kebijakan   sosial atau lingkungan,&quot; katanya.
'Steph', yang melahirkan anak perempuan di usia 17, mengatakan bahwa   kebutuhannya untuk punya rumah sama besarnya dengan keluarga lain.
&quot;Keluarga bisa bermacam-macam bentuknya, dan kita harus mulai   mengakui ini. Dengan saya tidak menikah tak membuat peran saya sebagai   ibu berkurang atau bahwa saya menjadi tidak sama dengan warga Singapura   lainnya.&quot;
Raymond Yeo, 43, masih lajang saat dia membeli rumah pertamanya di   usia 35. Kini, dia menikah dan siap untuk membeli flat yang lebih besar,   namun dia merasa ragu akan sistem perumahan umum di negaranya. Dia   sependapat dengan filosofi dasar soal perumahan umum, tapi menurutnya   beberapa syarat dalam membeli unit HDB harus diubah.
&quot;Pemerintah menunjukkan jalan yang mereka ciptakan untuk Anda, jadi   jika Anda tidak menurutinya, Anda tidak dapat apa-apa. Jika Anda ingin   punya rumah, Anda harus menikah dan berharap bisa membeli,&quot; katanya.
&quot;Saya merasa generasi yang lebih muda tak punya pilihan lain selain mengikuti jalur yang sudah dipilihkan untuk mereka itu.&quot;
Baca Juga: Waspadai Hal Ini sebelum Sewa Menyewa Apartemen Fully-Furnished
Ashari punya pandangan berbeda meski mengalami kesulitan-kesulitannya   sendiri dalam hidup, dan dia tetap optimis dengan sistem HDB.
&quot;Tak ada klien saya yang jadi tak punya rumah, apa pun situasi mereka   dalam hidup,&quot; katanya. Menurutnya orang bisa saja mengajukan   pertimbangan sendiri ke HDB untuk mendapat solusi.
Banyak dari kepemilikan rumah terjadi karena subsidi atau tinggal   dekat dengan orang dan punya akses ke Dana Providen Sentral (CPF),   sebuah simpanan yang dimiliki semua orang Singapura yang bekerja dan   wajib membayar. Ada aturan ketat soal membeli dan menyewakan flat HDB.
Ashari melihat perubahan sikap pada klien-kliennya selama beberapa tahun terakhir.
&quot;Mereka yang lebih konservatif lebih mementingkan asal mereka punya   rumah,&quot; katanya, &quot;tapi ada kelompok lain yang ingin HDB yang bagus di   lokasi yang bagus juga. Mereka bilang: 'Saya akan tinggal di sana selama   lima tahun [sesuai aturan hukum] dan saya akan menyewakannya dan saya   akan beli properti lain [yang ada di pasar].'&quot;
Menjalin komunikasi
Tan Jin Meng, pria 53 tahun yang memegang gelar master di bidang   kebijakan publik dari Lee Kuan Yew School of Public Policy, telah   mengamati kebijakan perumahan di Singapura. Terlepas dari debat soal   ketimpangan ekonomi di negara kota ini, dia menyebut bahwa penyediaan   perumahan umum menyediakan &quot;keuntungan sosial yang sangat signifikan&quot;.
Namun, menurutnya, perumahan telah menjadi alat politik &amp;mdash; kontrak   sosial antara warga negara Singapura dengan pemerintah yang berkewajiban   untuk menyediakan rumah bagi mereka. &quot;Ini menjadi penting karena   pemerintah kini 'bertanggung jawab' &amp;mdash; mereka tak bisa mengurangi   keuntungan ini tanpa biaya [politik].&quot;

Tan pun cemas dengan masa depan. Dia khawatir beberapa orang terlalu   berfokus pada perumahan dan tak menabung untuk pensiun. Dia juga merasa   orang-orang tua semakin terisolasi, meski blok HDB dirancang untuk   mendukung interaksi sosial.
Di Pasir Ris, Ashari mengatakan dia memilih unitnya karena ada taman,   area olah raga, lapangan basket, empat taman bermain dan aktivitas   seperti Zumba dan badminton. Fitur desain ini dirancang untuk mendorong   anak-anak muda untuk berkumpul, namun semangat kampung, menurut Tan,   semakin terhapus di kalangan generasi lebih muda.
&quot;Kami bukan orang-orang yang ramah,&quot; katanya. &quot;Kami cenderung   menyendiri, jadi pemerintah khawatir akan bagaimana caranya menjangkau   anak muda dan melibatkan mereka dalam aktivitas.&quot;
Tan juga merasa generasi masa depan &amp;mdash; yang mendapat pendidikan lebih   baik dari orang tua mereka, punya pemasukan lebih besar dan anak yang   lebih sedikit &amp;mdash; akan menginginkan hal yang berbeda dari sektor   perumahan.Satu hal yang mungkin tak mereka terima adalah semua flat HDB punya    kontrak kepemilikan 99 tahun. Setelah kontrak itu habis, maka  pemerintah   bisa mengklaimnya.
Singapura adalah negara yang masih muda dan apa yang terjadi ketika    kontrak-kontrak pertama ini habis akan menjadi perdebatan hangat.
Selain itu, ada juga ungkapan, bahwa di Singapura, orang tidak    melamar dengan &quot;Maukah kamu menikah denganku?&quot; tapi dengan &quot;Mau membeli    flat bersama?&quot;
Angela Oh, 29, membeli flat HDB empat kamarnya bersama pria yang    menjadi suaminya pada 2012, tapi dia baru menempati flatnya tahun ini.    Sistem ini memungkinkan pasangan untuk mendaftarkan nama mereka untuk    flat baru, tapi Anda harus menikah saat flat dibangun.
&quot;Waktu pembangunan BTO (built to order/dibangun sesuai pesanan) yang    panjang benar-benar mengurangi kebahagiaan dari sebuah lamaran,&quot;    katanya, karena pernikahan menjadi soal praktis saja. Jika hubungan Anda    putus saat periode tunggu itu, uang Anda hangus dan Anda tak boleh    mendaftar BTO lagi selama setahun.

&quot;Saya tidak mengunci pintu, saya berusaha untuk kenal dengan    tetangga,&quot; kata Safura Ashari, seorang agen perumahan yang membantu    klien mencari flat HDB.
Oh, yang tinggal lama di flat HDB, mengatakan bahwa dia dan suaminya    &quot;puas untuk menjadikan BTO mereka sebagai rumah abadi&quot;. Tapi  menurutnya   generasinya punya pandangan berbeda dari orang tuanya.
&quot;Orang tua kami mungkin berpikir bahwa flat HDB adalah akhir dari    semuanya,&quot; katanya. &quot;Generasi sekarang punya banyak hal yang harus    dipikirkan, bukan hanya soal punya rumah&amp;hellip;kewarganegaraan global telah    mengubah cara kita melihat dan berpikir soal lokasi rumah.&quot;
Bagi para bekas penghuni kampung seperti Lam Chun See dan Chuck Hio Soon Huat, masa lalu selalu punya kenangannya sendiri.
&quot;Di luar rumah, ada alam,&quot; kata Lam. &quot;Di sini, apa di balik pintu? Di    flat HDB, kami tak punya luar rumah!&quot; katanya tertawa. &quot;Tapi  kesalahan   ini bukan pada HDB, ini soal urbanisasi,&quot; katanya.
Hio mengangguk. &quot;Ini harga yang harus dibayar untuk kemajuan,&quot; katanya. &quot;Tapi saya bangga bahwa kami ikut punya peran di sini.&quot;</content:encoded></item></channel></rss>
