<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Produksi Padi dan Jagung Indonesia Meningkat, Ini Buktinya</title><description>Kementerian Pertanian (Kementan) berhasil mencapai target peningkatan produksi padi dan jagung yang dicanangkan pemerintah.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/01/12/320/2003541/produksi-padi-dan-jagung-indonesia-meningkat-ini-buktinya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/01/12/320/2003541/produksi-padi-dan-jagung-indonesia-meningkat-ini-buktinya"/><item><title>Produksi Padi dan Jagung Indonesia Meningkat, Ini Buktinya</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/01/12/320/2003541/produksi-padi-dan-jagung-indonesia-meningkat-ini-buktinya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/01/12/320/2003541/produksi-padi-dan-jagung-indonesia-meningkat-ini-buktinya</guid><pubDate>Sabtu 12 Januari 2019 15:05 WIB</pubDate><dc:creator>Yohana Artha Uly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/01/12/320/2003541/produksi-padi-dan-jagung-indonesia-meningkat-ini-buktinya-9JcSdjBTjB.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Menteri Amran (Foto: Dok. Kementan)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/01/12/320/2003541/produksi-padi-dan-jagung-indonesia-meningkat-ini-buktinya-9JcSdjBTjB.jpeg</image><title>Menteri Amran (Foto: Dok. Kementan)</title></images><description>JAKARTA - Kementerian Pertanian (Kementan) berhasil mencapai target peningkatan produksi padi dan jagung yang dicanangkan pemerintah. Hal tersebut dinyatakan oleh Direktur Jenderal Tanaman Pangan Sumarjo Gatot Irianto berdasarkan data secara nasional sepanjang tahun 2018.
Dalam paparan di acara Bincang Asyik Pertanian Indonesia (Bakpia) di Kantor Kementerian Pertanian, Gatot menyampaikan produksi padi tahun 2018 mencapai 83,04 juta ton GKG atau setara dengan 48,3 juta ton beras. Angka ini tercatat masih surplus dibandingkan dengan angka konsumsi sebesar 30,4 juta ton beras. Begitu juga dengan jagung, pada periode yang sama produksinya mencapai 30,05 juta ton PK, sedangkan perhitungan kebutuhan sekitar 15,58 juta ton PK.
Baca Juga: Mentan Cicipi Telur Hasil Bantuan Program Bekerja
 
&amp;ldquo;Secara nasional selama setahun di 2018 bisa disimpulkan bahwa surplus padi dan jagung sudah bisa kita capai,&amp;rdquo; kata Gatot. &amp;ldquo;Namun, tentu jika diturunkan datanya spesifik per daerah dan periode tertentu ada yang kekurangan, tapi bisa ditutupi dari daerah lain yang punya kelebihan produksi. Hal ini akan sangat terkait dengan masalah distribusi,&amp;rdquo; tambahnya.
Keberhasilan tersebut menurut Gatot adalah hasil dari pelaksanaan Upaya Khusus Padi Jagung dan Kedelai (Upsus PJK) sejak tahun 2015. Sejak dilaksanakannya, Upsus PJK mampu meningkatkan luas tanam padi secara tajam sebesar 2 juta hektare, dari 14 juta hektar pada 2014 menjadi 16 juta ha tahun 2018. &amp;ldquo;Dengan perbaikan prasarana dan sarana, penanganan pasca panen dan pengamanan produksi, produksi 2019 diproyeksikan akan meningkat lebih tinggi lagi di banding 2018,&amp;rdquo; terang Gatot.

Potensi tambahan produksi 2019 berpeluang besar di antaranya melalui pengembangan padi di lahan rawa pasang surut/rawa lebak, pemanfaatan lahan kering untuk padi, jagung, kedelai, pengembangan budidaya tumpang sari, perbaikan teknologi benih, pupuk, budidaya, dan penanganan pasca panen, dan pengamanan produksi dari gangguan OPT.
Perluasan areal tanam program SERASI (Selamatkan Rawa, Sejahterakan Petani) misalnya, ditargetkan bisa memperluas lahan rawa pasang surut dan lebak tahun sebesar 500.000 hektare terutama di Provinsi Kalsel dan Sumsel. Diharapkan adanya program SERASI di rawa dapat meningkatkan indeks pertanaman dan mengembangkan korporasi petani. &amp;ldquo;Dengan adanya program ini kita upayakan pertanaman di lahan rawa menjadi 2 kali dalam setahun dari sebelumnya yang hanya satu kali,&amp;rdquo; tukas Gatot.Selain di rawa, perluasan areal tanam juga dilakukan melalui  pengembangan padi di lahan kering dengan di antaranya dengan budidaya  tumpangsari. Tumpangsari sebagai solusi untuk mengatasi persaingan lahan  antar komoditas. Tahun 2019, program tersebut ditargetkan perluasan  areal tanam mencapai 1,05 juta hektare atau setara luas pertanaman 2,1  juta hektare. Dari sisi pendapatan pun, budidaya tumpangsari bisa  memperoleh keuntungan lebih besar daripada budidaya monokultur.
Sementara itu, Pengamat Pertanian Siswono Yudo Husodo yang juga  menjadi pembicara dalam acara tersebut mengapresiasi capaian Kementan  dalam meningkatkan produksi dan menjaga inflasi pangan. Mantan Ketua  Himpunan Kerukunan Tani (HKTI) itu mengamini bahwa perluasan areal tanam  merupakan faktor utama untuk terus menjaga produksi tanaman pangan agar  bisa mencukupi kebutuhan penduduk yang pasti terus bertambah.

&amp;ldquo;Ekspor beras di atas 3 ribu ton merupakan prestasi besar dalam  kebijakan pemerintah. Ke depan, luasan lahan milik petani masih perlu  ditingkatkan dengan upaya strategis,&amp;rdquo; ujar Siswono. &amp;ldquo;Upaya program  perluasan areal tanam baru seperti lahan rawa dan lahan kering merupakan  terobosan yang sangat baik, dan perlu disambut oleh gubernur dan  bupati. Kita lihat misalnya, Dompu, bupatinya punya komitmen sehingga  bisa menjadikan kabupaten yang miskin menjadi sejahtera karena  masyarakat bisa bertumpu pada perluasan tanam jagung, bahkan  pertanamannya sampai masuk ke hutan,&amp;rdquo; bebernya.
Di samping perluasan areal tanam, upaya yang dilakukan Ditjen Tanaman  Pangan adalah melalui peningkatan produktivitas, yaitu dengan  peningkatan penggunaan benih varietas unggul dengan potensi produksi  yang tinggi, pengembangan padi hibrida, anjuran penggunaan pupuk  berimbang, pengamanan pertanaman melalui pengawalan pengendalian OPT  serta menekan kehilangan hasil melalui penanganan pascapanen yang baik.</description><content:encoded>JAKARTA - Kementerian Pertanian (Kementan) berhasil mencapai target peningkatan produksi padi dan jagung yang dicanangkan pemerintah. Hal tersebut dinyatakan oleh Direktur Jenderal Tanaman Pangan Sumarjo Gatot Irianto berdasarkan data secara nasional sepanjang tahun 2018.
Dalam paparan di acara Bincang Asyik Pertanian Indonesia (Bakpia) di Kantor Kementerian Pertanian, Gatot menyampaikan produksi padi tahun 2018 mencapai 83,04 juta ton GKG atau setara dengan 48,3 juta ton beras. Angka ini tercatat masih surplus dibandingkan dengan angka konsumsi sebesar 30,4 juta ton beras. Begitu juga dengan jagung, pada periode yang sama produksinya mencapai 30,05 juta ton PK, sedangkan perhitungan kebutuhan sekitar 15,58 juta ton PK.
Baca Juga: Mentan Cicipi Telur Hasil Bantuan Program Bekerja
 
&amp;ldquo;Secara nasional selama setahun di 2018 bisa disimpulkan bahwa surplus padi dan jagung sudah bisa kita capai,&amp;rdquo; kata Gatot. &amp;ldquo;Namun, tentu jika diturunkan datanya spesifik per daerah dan periode tertentu ada yang kekurangan, tapi bisa ditutupi dari daerah lain yang punya kelebihan produksi. Hal ini akan sangat terkait dengan masalah distribusi,&amp;rdquo; tambahnya.
Keberhasilan tersebut menurut Gatot adalah hasil dari pelaksanaan Upaya Khusus Padi Jagung dan Kedelai (Upsus PJK) sejak tahun 2015. Sejak dilaksanakannya, Upsus PJK mampu meningkatkan luas tanam padi secara tajam sebesar 2 juta hektare, dari 14 juta hektar pada 2014 menjadi 16 juta ha tahun 2018. &amp;ldquo;Dengan perbaikan prasarana dan sarana, penanganan pasca panen dan pengamanan produksi, produksi 2019 diproyeksikan akan meningkat lebih tinggi lagi di banding 2018,&amp;rdquo; terang Gatot.

Potensi tambahan produksi 2019 berpeluang besar di antaranya melalui pengembangan padi di lahan rawa pasang surut/rawa lebak, pemanfaatan lahan kering untuk padi, jagung, kedelai, pengembangan budidaya tumpang sari, perbaikan teknologi benih, pupuk, budidaya, dan penanganan pasca panen, dan pengamanan produksi dari gangguan OPT.
Perluasan areal tanam program SERASI (Selamatkan Rawa, Sejahterakan Petani) misalnya, ditargetkan bisa memperluas lahan rawa pasang surut dan lebak tahun sebesar 500.000 hektare terutama di Provinsi Kalsel dan Sumsel. Diharapkan adanya program SERASI di rawa dapat meningkatkan indeks pertanaman dan mengembangkan korporasi petani. &amp;ldquo;Dengan adanya program ini kita upayakan pertanaman di lahan rawa menjadi 2 kali dalam setahun dari sebelumnya yang hanya satu kali,&amp;rdquo; tukas Gatot.Selain di rawa, perluasan areal tanam juga dilakukan melalui  pengembangan padi di lahan kering dengan di antaranya dengan budidaya  tumpangsari. Tumpangsari sebagai solusi untuk mengatasi persaingan lahan  antar komoditas. Tahun 2019, program tersebut ditargetkan perluasan  areal tanam mencapai 1,05 juta hektare atau setara luas pertanaman 2,1  juta hektare. Dari sisi pendapatan pun, budidaya tumpangsari bisa  memperoleh keuntungan lebih besar daripada budidaya monokultur.
Sementara itu, Pengamat Pertanian Siswono Yudo Husodo yang juga  menjadi pembicara dalam acara tersebut mengapresiasi capaian Kementan  dalam meningkatkan produksi dan menjaga inflasi pangan. Mantan Ketua  Himpunan Kerukunan Tani (HKTI) itu mengamini bahwa perluasan areal tanam  merupakan faktor utama untuk terus menjaga produksi tanaman pangan agar  bisa mencukupi kebutuhan penduduk yang pasti terus bertambah.

&amp;ldquo;Ekspor beras di atas 3 ribu ton merupakan prestasi besar dalam  kebijakan pemerintah. Ke depan, luasan lahan milik petani masih perlu  ditingkatkan dengan upaya strategis,&amp;rdquo; ujar Siswono. &amp;ldquo;Upaya program  perluasan areal tanam baru seperti lahan rawa dan lahan kering merupakan  terobosan yang sangat baik, dan perlu disambut oleh gubernur dan  bupati. Kita lihat misalnya, Dompu, bupatinya punya komitmen sehingga  bisa menjadikan kabupaten yang miskin menjadi sejahtera karena  masyarakat bisa bertumpu pada perluasan tanam jagung, bahkan  pertanamannya sampai masuk ke hutan,&amp;rdquo; bebernya.
Di samping perluasan areal tanam, upaya yang dilakukan Ditjen Tanaman  Pangan adalah melalui peningkatan produktivitas, yaitu dengan  peningkatan penggunaan benih varietas unggul dengan potensi produksi  yang tinggi, pengembangan padi hibrida, anjuran penggunaan pupuk  berimbang, pengamanan pertanaman melalui pengawalan pengendalian OPT  serta menekan kehilangan hasil melalui penanganan pascapanen yang baik.</content:encoded></item></channel></rss>
