<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Fakta Defisit Neraca Perdagangan Terburuk Sepanjang Sejarah, Nomor 4 Solusinya</title><description>Angka defisit neraca perdagangan 2018 menjadi capaian terbesar sejak 1975</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/01/16/320/2005090/fakta-defisit-neraca-perdagangan-terburuk-sepanjang-sejarah-nomor-4-solusinya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/01/16/320/2005090/fakta-defisit-neraca-perdagangan-terburuk-sepanjang-sejarah-nomor-4-solusinya"/><item><title>Fakta Defisit Neraca Perdagangan Terburuk Sepanjang Sejarah, Nomor 4 Solusinya</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/01/16/320/2005090/fakta-defisit-neraca-perdagangan-terburuk-sepanjang-sejarah-nomor-4-solusinya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/01/16/320/2005090/fakta-defisit-neraca-perdagangan-terburuk-sepanjang-sejarah-nomor-4-solusinya</guid><pubDate>Rabu 16 Januari 2019 10:36 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/01/16/320/2005090/fakta-defisit-neraca-perdagangan-terburuk-sepanjang-sejarah-nomor-4-solusinya-Yikew2pPo1.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Foto Koran Sindo</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/01/16/320/2005090/fakta-defisit-neraca-perdagangan-terburuk-sepanjang-sejarah-nomor-4-solusinya-Yikew2pPo1.jpg</image><title>Ilustrasi: Foto Koran Sindo</title></images><description>JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data defisit neraca perdagangan Indonesia pada 2018 sebesar USD8,57 miliar. Capaian ini merupakan angka defisit terbesar sejak 1975.
Impor migas merupakan penyumbang defisit terbesar. Oleh karena itu, harus ada solusi untuk menekan impor migas tersebut.
Berikut fakta-fakta defisit neraca perdagangan Indonesia yang telah dirangkum dari Koran Sindo, Jakarta, Rabu (16/1/2019):
1.      Indonesia 6 kali Alami Defisit
Indonesia mengalami defisit neraca perdagangan sebanyak enam kali. Periodenya adalah tahun 1945, 1975, 2012, 2013, 2014, dan 2018. Berdasarkan data BPS, pada 2012 neraca dagang Indonesia mengalami defisit USD1,7 miliar. Kemudian pada 2013 dan 2014 juga terjadi defisit USD4,08 miliar dan USD1,89 miliar.
Baca Juga: Neraca Dagang Defisit, Menko Darmin Akui Sulit Tekan Impor Migas
Sedangkan tahun 1975, Indonesia mengalami defisit USD391 juta, tapi BPS belum memiliki data untuk tahun 1945. &amp;rdquo;Dengan melihat pergerakan ini, pekerjaan rumah kita adalah harus menggerakkan ekspor sehingga neraca perdagangan kembali positif. Walaupun di sisi lain, banyak tantangan sesuai prediksi pertumbuhan ekonomi global yang tidak terlalu menggembirakan,&amp;rdquo; tuturnya.
2.      Perbandingan Nilai Ekspor dengan Impor di 2018
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, secara kumulatif nilai ekspor tahunan Indonesia pada 2018 mencapai USD180,06 miliar atau meningkat 6,65% dibanding tahun 2017. Sedangkan nilai impor tahun 2018 mencapai USD188,63 miliar atau meningkat 20,15% dibanding tahun 2017.

Kondisi itu menyebabkan defisit neraca dagang Indonesia membengkak menjadi USD8,57 miliar. &amp;rdquo;Jika dilihat penyebabnya, yaitu lebih karena defisit migas sebesar USD12,4 miliar, sedangkan untuk nonmigas kita masih surplus USD3,8 miliar,&amp;rdquo; kata Suhariyanto di Jakarta, kemarin.
3.      Apa yang di Ekspor dan Impor selama 2018
Suhariyanto memaparkan, sepanjang tahun lalu ekspor nonmigas mencapai USD162,65 miliar atau meningkat 6,25%. Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari&amp;ndash;Desember 2018 naik 3,86% dibanding tahun 2017 yang disumbang ekspor besi/ baja.
Baca Juga: Defisit Neraca Perdagangan 2018 Terburuk Sejak 1975
Demikian juga ekspor produk pertambangan dan lainnya meningkat 20,47% yang disumbang meningkatnya ekspor batu bara, sedangkan ekspor produk pertanian menurun 6,40% disebabkan menurunnya ekspor kopi. Dari sisi impor, peningkatan terjadi pada impor migas dan nonmigas masing-masing USD5,5 miliar (22,59%) dan USD26,2 miliar (19,71%).
Lebih lanjut peningkatan impor migas disebabkan naiknya impor seluruh komponen migas, yaitu minyak mentah USD2 miliar (29,70%), hasil minyak USD3 miliar (21,02%), dan gas USD340,3 juta (12,49%). Selama tiga belas bulan terakhir, nilai impor migas tertinggi tercatat pada Agustus 2018 dengan nilai mencapai USD3 miliar dan terendah terjadi pada Desember 2018, yaitu USD2 miliar.Sementara nilai impor nonmigas tertinggi tercatat pada Juli 2018  sebesar USD15,6 miliar dan terendah pada Juni 2018 dengan nilai USD9,1  miliar. Tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama  Januari&amp;ndash;Desember 2018 adalah China dengan nilai USD45,24 miliar  (28,49%), JepangUSD17,94miliar( 11,30%), dan Thailand USD10,85 miliar  (6,83%).
Sementara itu, nilai impor semua golongan penggunaan barang, baik  barang konsumsi, bahan baku/penolong, dan barang modal selama Januari&amp;ndash;  Desember 2018 mengalami peningkatan dibanding periode sama tahun  sebelumnya masing- masing 22,03%, 20,06%, dan 19,54%.
4.      Ini Hal yang Harus Dilakukan Guna Mengurangi Defisit
Ekonom Institute for Development of Economic and Finance (Indef)  Bhima Yudhistira menyatakan, untuk mengatasi besarnya defisit neraca  perdagangan tersebut, pemerintah harus mendorong peningkatan lifting  minyak di Tanah Air dengan menciptakan investasi migas yang berkualitas  khususnya di bidang eksplorasi.
Baca Juga: Neraca Perdagangan 2018 Diprediksi Defisit hingga USD8 Miliar
Selain itu, kata Bhima, pemerintah juga harus mampu menekan impor  migas melalui percepatan program Mandatory Biodiesel 20% (B20). Bhima  mengakui, saat ini masih ada kendala dalam pasokan bahan baku FAME dan  kesiapan pengguna bahan bakar tidak bersubsidi (non-PSO) dalam serapan  B20.
Seperti diketahui, pemerintah berusaha mengendalikan impor dengan  mengerem laju 1.147 komoditas konsumsi dan modal serta berupaya  menerapkan program B20. &amp;rdquo;Pemerintah juga diminta segera menunda proyek  infrastruktur yang berkontribusi pada tingginya impor bahan baku dan  barang modal. Terakhir, dari sisi ekspor kuncinya adalah hilirisasi  industri,&amp;rdquo; tuturnya.
5. Bagaimana dengan Perdagangan di 2019?
Sebelumnya, Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita  mengatakan, untuk menjaga stabilisasi ekonomi Indonesia di masa depan,  ada beberapa hal yang perlu diantisipasi baik di lingkup global maupun  domestik.
Baca Juga: BPS: Neraca Perdagangan 2018 Defisit USD8,57 Miliar
Pada lingkup global, hal-hal yang perlu diantisipasi  yaitu perekonomian global yang tumbuh melambat 3,7%, volume perdagangan  dunia yang tumbuh 4%, serta harga beberapa komoditas nonmigas seperti  minyak sawit, karet, kopi, kakao, teh, udang, kayu gergajian, dan barang  tambang (aluminium, tembaga, nikel, dan timah) yang diprediksi menguat  0,3-3,9%.
Sementara tantangan domestik berupa daya saing nasional yang masih  perlu ditingkatkan, stabilisasi nilai tukar Rupiah, dan risiko politik  dari terselenggaranya pemilu serentak 2019.
&amp;rdquo;Pemerintah optimis dan realistis menghadapi tantangan ekonomi global  dan domestik. Dengan mempertimbangkan berbagai tantangan tersebut,  target pertumbuhan nilai ekspor nonmigas 2019 ditetapkan moderat 7,5%,&amp;rdquo;  ujarnya. Selain itu, Kemendag juga berkomitmen menyelesaikan 12  perjanjian perdagangan internasional di tahun 2019.</description><content:encoded>JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data defisit neraca perdagangan Indonesia pada 2018 sebesar USD8,57 miliar. Capaian ini merupakan angka defisit terbesar sejak 1975.
Impor migas merupakan penyumbang defisit terbesar. Oleh karena itu, harus ada solusi untuk menekan impor migas tersebut.
Berikut fakta-fakta defisit neraca perdagangan Indonesia yang telah dirangkum dari Koran Sindo, Jakarta, Rabu (16/1/2019):
1.      Indonesia 6 kali Alami Defisit
Indonesia mengalami defisit neraca perdagangan sebanyak enam kali. Periodenya adalah tahun 1945, 1975, 2012, 2013, 2014, dan 2018. Berdasarkan data BPS, pada 2012 neraca dagang Indonesia mengalami defisit USD1,7 miliar. Kemudian pada 2013 dan 2014 juga terjadi defisit USD4,08 miliar dan USD1,89 miliar.
Baca Juga: Neraca Dagang Defisit, Menko Darmin Akui Sulit Tekan Impor Migas
Sedangkan tahun 1975, Indonesia mengalami defisit USD391 juta, tapi BPS belum memiliki data untuk tahun 1945. &amp;rdquo;Dengan melihat pergerakan ini, pekerjaan rumah kita adalah harus menggerakkan ekspor sehingga neraca perdagangan kembali positif. Walaupun di sisi lain, banyak tantangan sesuai prediksi pertumbuhan ekonomi global yang tidak terlalu menggembirakan,&amp;rdquo; tuturnya.
2.      Perbandingan Nilai Ekspor dengan Impor di 2018
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, secara kumulatif nilai ekspor tahunan Indonesia pada 2018 mencapai USD180,06 miliar atau meningkat 6,65% dibanding tahun 2017. Sedangkan nilai impor tahun 2018 mencapai USD188,63 miliar atau meningkat 20,15% dibanding tahun 2017.

Kondisi itu menyebabkan defisit neraca dagang Indonesia membengkak menjadi USD8,57 miliar. &amp;rdquo;Jika dilihat penyebabnya, yaitu lebih karena defisit migas sebesar USD12,4 miliar, sedangkan untuk nonmigas kita masih surplus USD3,8 miliar,&amp;rdquo; kata Suhariyanto di Jakarta, kemarin.
3.      Apa yang di Ekspor dan Impor selama 2018
Suhariyanto memaparkan, sepanjang tahun lalu ekspor nonmigas mencapai USD162,65 miliar atau meningkat 6,25%. Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari&amp;ndash;Desember 2018 naik 3,86% dibanding tahun 2017 yang disumbang ekspor besi/ baja.
Baca Juga: Defisit Neraca Perdagangan 2018 Terburuk Sejak 1975
Demikian juga ekspor produk pertambangan dan lainnya meningkat 20,47% yang disumbang meningkatnya ekspor batu bara, sedangkan ekspor produk pertanian menurun 6,40% disebabkan menurunnya ekspor kopi. Dari sisi impor, peningkatan terjadi pada impor migas dan nonmigas masing-masing USD5,5 miliar (22,59%) dan USD26,2 miliar (19,71%).
Lebih lanjut peningkatan impor migas disebabkan naiknya impor seluruh komponen migas, yaitu minyak mentah USD2 miliar (29,70%), hasil minyak USD3 miliar (21,02%), dan gas USD340,3 juta (12,49%). Selama tiga belas bulan terakhir, nilai impor migas tertinggi tercatat pada Agustus 2018 dengan nilai mencapai USD3 miliar dan terendah terjadi pada Desember 2018, yaitu USD2 miliar.Sementara nilai impor nonmigas tertinggi tercatat pada Juli 2018  sebesar USD15,6 miliar dan terendah pada Juni 2018 dengan nilai USD9,1  miliar. Tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama  Januari&amp;ndash;Desember 2018 adalah China dengan nilai USD45,24 miliar  (28,49%), JepangUSD17,94miliar( 11,30%), dan Thailand USD10,85 miliar  (6,83%).
Sementara itu, nilai impor semua golongan penggunaan barang, baik  barang konsumsi, bahan baku/penolong, dan barang modal selama Januari&amp;ndash;  Desember 2018 mengalami peningkatan dibanding periode sama tahun  sebelumnya masing- masing 22,03%, 20,06%, dan 19,54%.
4.      Ini Hal yang Harus Dilakukan Guna Mengurangi Defisit
Ekonom Institute for Development of Economic and Finance (Indef)  Bhima Yudhistira menyatakan, untuk mengatasi besarnya defisit neraca  perdagangan tersebut, pemerintah harus mendorong peningkatan lifting  minyak di Tanah Air dengan menciptakan investasi migas yang berkualitas  khususnya di bidang eksplorasi.
Baca Juga: Neraca Perdagangan 2018 Diprediksi Defisit hingga USD8 Miliar
Selain itu, kata Bhima, pemerintah juga harus mampu menekan impor  migas melalui percepatan program Mandatory Biodiesel 20% (B20). Bhima  mengakui, saat ini masih ada kendala dalam pasokan bahan baku FAME dan  kesiapan pengguna bahan bakar tidak bersubsidi (non-PSO) dalam serapan  B20.
Seperti diketahui, pemerintah berusaha mengendalikan impor dengan  mengerem laju 1.147 komoditas konsumsi dan modal serta berupaya  menerapkan program B20. &amp;rdquo;Pemerintah juga diminta segera menunda proyek  infrastruktur yang berkontribusi pada tingginya impor bahan baku dan  barang modal. Terakhir, dari sisi ekspor kuncinya adalah hilirisasi  industri,&amp;rdquo; tuturnya.
5. Bagaimana dengan Perdagangan di 2019?
Sebelumnya, Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita  mengatakan, untuk menjaga stabilisasi ekonomi Indonesia di masa depan,  ada beberapa hal yang perlu diantisipasi baik di lingkup global maupun  domestik.
Baca Juga: BPS: Neraca Perdagangan 2018 Defisit USD8,57 Miliar
Pada lingkup global, hal-hal yang perlu diantisipasi  yaitu perekonomian global yang tumbuh melambat 3,7%, volume perdagangan  dunia yang tumbuh 4%, serta harga beberapa komoditas nonmigas seperti  minyak sawit, karet, kopi, kakao, teh, udang, kayu gergajian, dan barang  tambang (aluminium, tembaga, nikel, dan timah) yang diprediksi menguat  0,3-3,9%.
Sementara tantangan domestik berupa daya saing nasional yang masih  perlu ditingkatkan, stabilisasi nilai tukar Rupiah, dan risiko politik  dari terselenggaranya pemilu serentak 2019.
&amp;rdquo;Pemerintah optimis dan realistis menghadapi tantangan ekonomi global  dan domestik. Dengan mempertimbangkan berbagai tantangan tersebut,  target pertumbuhan nilai ekspor nonmigas 2019 ditetapkan moderat 7,5%,&amp;rdquo;  ujarnya. Selain itu, Kemendag juga berkomitmen menyelesaikan 12  perjanjian perdagangan internasional di tahun 2019.</content:encoded></item></channel></rss>
