<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Hidup Kian Repot dengan Banyak Kartu</title><description>ndonesia tampak masih jauh menerapkan sistem kartu identitas tunggal (single identity card).</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/01/21/320/2007119/hidup-kian-repot-dengan-banyak-kartu</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/01/21/320/2007119/hidup-kian-repot-dengan-banyak-kartu"/><item><title>Hidup Kian Repot dengan Banyak Kartu</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/01/21/320/2007119/hidup-kian-repot-dengan-banyak-kartu</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/01/21/320/2007119/hidup-kian-repot-dengan-banyak-kartu</guid><pubDate>Senin 21 Januari 2019 08:34 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/01/21/320/2007119/hidup-kian-repot-dengan-banyak-kartu-S4YfZfdsJ0.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Foto Koran Sindo</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/01/21/320/2007119/hidup-kian-repot-dengan-banyak-kartu-S4YfZfdsJ0.jpg</image><title>Ilustrasi: Foto Koran Sindo</title></images><description>JAKARTA - Indonesia tampak masih jauh menerapkan sistem kartu identitas tunggal (single identity card). Kemajuan teknologi digital justru melahirkan beragam kartu yang diterbitkan tiap otoritas atau lembaga. Imbasnya, isi dompet makin tebal karena dipenuhi banyak kartu.

Jika dirata-rata, umumnya setiap orang saat ini memiliki lebih dari lima kartu. Wulan Anggraeni. manajer salah satu agensi asing ternama di Jakarta mengaku, sehari-hari dirinya membawa 11 kartu di dalam dompetnya. Kartu tersebut antara lain KTP, kartu BPJS Ketenagakerjaan, BPJS Kesehatan, empat kartu ATM, asuransi dan juga dua kartu membership.
&amp;nbsp;Baca Juga: BI Catat Pertumbuhan Transaksi Uang Elektronik Capai 300%, Nilainya Rp10 Triliun
Membawa banyak kartu, tentu semakin repot. Apalagi jika terjadi kehilangan dompet, maka pengurusan kartu menjadi semakin ribet. Setiap kartu biasanya dikeluarkan oleh satu instansi, sehingga proses pembuatan ulang menguras banyak waktu, tenaga dan biaya.

Sulistiyani Amaliya, pengusaha asal Ciputat, Tangerang Selatan pekan lalu juga dibuat bingung gara-gara di saat anaknya mendadak harus dilarikan ke rumah sakit (RS), kartu asuransi dan kesehatan sang buah hati justru terbawa dia ke luar kota.

Keluarganya pun terpaksa membayar dengan cara tunai karena kartu-kartu identitas seperti kartu keluarga (KK), kartu pelajar dan lainnya tak mampu meyakinkan ke pihak RS. &amp;ldquo;Integrasi data seperti adanya e-KTP nyatanya belum memberi manfaat banyak,&amp;rdquo; ujar Sulistiyani yang kini mengaku mengantongi tujuh kartu.
&amp;nbsp;Baca Juga: Transaksi Tol Nontunai Berkaitan dengan Utang ke Pengusaha China? Ini Tanggapan PUPR
Dia sangat berharap, ke depan nantinya ada penyederhanaan kartu di Indonesia. Selain akan lebih efisien, hal itu juga akan memudahkan jika sewaktu-waktu terjadi kondisi darurat.

Banyaknya kartu dengan berbagai macam fungsinya memang tidak efektif. &amp;ldquo;Satu kartu satu fungsi kayanya sudah old school,&amp;rdquo; ungkap Feriesha Lixie FF, eksekutif di salah satu market place di Indonesia.

Sudah saatnya Indonesia menerapkan single identity card, satu kartu untuk semua.&amp;ldquo;Seperti di Estonia, ID card mereka mencakup semuanya. Seluruh sistem tergabung dalam e-service yang sangat aman,&amp;rdquo; imbuhnya.
&amp;nbsp;Baca Juga: Mulai 27 Desember, Dukcapil Jemput Bola Perekaman E-KTP Serentak Secara Nasional
Estonia, negara kecil di Eropa ini memang amat unggul dalam urusan single identity card. Warga negara Estonia hanya butuh satu kartu yang mencakup di antaranya KTP, asuransi, identitas untuk bepergian di Uni Eropa, pajak, i-voting, tanda tangan digital, login bank, kartu kesehatan (rekam medis) dan bahkan untuk menebus resep.
Di Indonesia, single identity card tampak masih jauh penerapannya.  Yang terjadi, sejumlah otoritas justru seolah berlomba menerbitkan  kartu. Tak hanya itu, beberapa intansi juga merasa memiliki data tunggal  yang paling valid.

Di bidang ekonomi, pemerintah telah menggelorakan program Gerbang  Pembayaran Nasional (GPN) seperti sistem ATM Bersama sejak akhir 2017.  Namun realisasi program ini pun belum optimal.

Kendati demikian, kalangan perbankan masih optimistis GPN akan  memberikan dampak yang positif menuju single identity card. Sekretaris  Perusahaan Bank BNI Kiryanto menilai tren kartu akan beranjak menjadi  kartu cerdas atau smart card. Dengan smart card, makasatu kartu untuk  berbagai keperluan ekonomi dan finansial. Tapi program ini tentu akan  dikembangkan bertahap.
&amp;nbsp;Baca Juga:&amp;nbsp; BPJS Kesehatan: Biaya Urunan Bukan untuk Menambal Defisit

Untuk itu perlu disiapkan roadmap dan platform guna menerbitkan smart  card ke depannya. &quot;GPN bisa sebagai awal menuju era smart card, yang  nantinya berkolaborasi dengan dinas kependudukan dalam proses  penerbitannya,&quot; ujar Kiryanto.

Dalam pandangan Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus  Abadi, konsumen sebagai pengguna akhir ekonomi digital memang makin  menggandrungi pemanfaatan sistem kartu karena dinilai lebih efisien.  Namun pada konteks perlindungan konsumen, negara belum terlalu berperan.  &amp;ldquo;Negara tampak masih terbius dengan pertumbuhan ekonomi digital namun  terlena dengan aspek perlindungan konsumen,&amp;rdquo; ujarnya.

Persoalan ini terjadi karena masih rendahnya literasi digital  konsumen. Kemudian masih lemahnya pengawasan oleh pemerintah. Tak hanya  itu, regulasi juga masih lemah. Dia mencontohan sampai sekarang belanja  online belum ditopang dengan regulasi yang memadai.

Kartu Diganti Aplikasi

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara menilai ke  depan sistem kartu-kartu akan digantikan oleh aplikasi. Dengan begitu  masyarakat menjadi lebih mudah dalam mengakses layanan publik.

&amp;ldquo;Layanan ke depan bukan didasarkan berbasis jenis kartu namun  berbasis aplikasi. Hal ini akan terjadi saat semua masyarakat penerima  layanan sudah memiliki akses ke jaringan internet,&amp;rdquo; ujarnya.
&amp;nbsp;Baca Juga:&amp;nbsp; 5 Manfaat Kartu ATM Berlogo GPN

Dia mengatakan secara teknis rencana ini bisa diefisienkan karena  core data berasal dari data kependudukan yang dikelola Direktorat  Jenderal Kependudukan dan Catatan Sipil Kementerian Dalam Negeri  (Kemendagri). Rudiantara mengungkapkan, saat ini sudah 1.166 lembaga  pemerintah maupun nonpemerintah yang berkerjasama dengan Kemendagri.  Lembaga-lembaga tersebut menggunakan nomor induk kependudukan (NIK)  sebagai data rujukan awal.

&amp;ldquo;Aplikasi terintegrasi harus dikembangkan sehingga dari sisi  masyarakat cukup mempunyai core application yang berlaku umum. Termasuk  juga additional application yang bergantung kepada sektor atau layanan  pemerintah,&amp;rdquo; katanya.
Pakar Kebijakan Publik Universitas Indonesia (UI), Lina Miftahul   Jannah mengatakan banyaknya kartu yang dimiliki masyarakat saat ini   sangat tidak efisien. Dengan demikian, realisasi single identity number   harus menjadi fokus pemerintah untuk mengefisienkan layanan. &amp;ldquo;Jika  sudah  single identity number itu untuk semuanya. Tidak perlu lagi ada  banyak  kartu. Ada NPWP lah, Kartu Nikah, KIA, SIM dan lainnya,&quot;  katanya.

Menurut dia, jika NIK diarahkan untuk single identity number maka   akses layanan publik cukup dengan kartu tanda penduduk elektronik   (e-KTP). Dia pun merasa heran lembaga layanan publik masih saja tetap   mengeluarkan kartu meskipun sudah dapat mengakses NIK secara online.

&amp;ldquo;Ini memang dari awal salah dan tidak terencana dengan baik. Selain   itu memang setiap lembaga ingin eksis jadi terus mengeluarkan kartu.   Seperti kartu nikah lalu kenapa tidak cukup dengan terintegrasi dengan   e-KTP,&amp;rdquo; paparnya.

Menurutnya semua pihak penyedia layanan publik harus duduk bersama   untuk menuntaskan masalah ini. Dia meminta jangan hanya layanan itu   berbasis proyek semata. Sehingga masyarakat akan lebih dipermudah.

Dorongan serupa juga disampaikan pakar teknologi informasi Fakultas   Teknis Informasi (FTI) Universita Islam Indonesia (UII) Yogyakarta   Ismail Fahmi. &amp;ldquo;Hanya saja, untuk integrasi sistem satu kartu ini   pemerintah masih lambat. Karena itu perlu harus segera ada literasi   untuk penerapan satu data yang terintergasi lewat satu sistem,&amp;rdquo;   ungkapnya.

Kesiapan masyarakat untuk menerima program ini juga sudah makin baik.   Masyarakat saat ini mudah beradaptasi dengan perubahan kebijakan atau   perkembangan teknologi.

Sosiolog Media Universitas Gadjah Mada (UGM) Muhammad Sulhan juga   mengatakan penyatuan kartu (single card) memiliki kelebihan efisiensi.   Data base kartu tunggal ini harus mengacu pada satu badan otoritas.
&amp;ldquo;Yang perlu diantisipasi jika badan otoritas memiliki kelemahan pada   aspek safety atas data algoritma yang ada. Di sisi lain, penduduk yang   belum terdidik akan sangat gampang mengalami penipuan dan potensial   disalahgunakan,&amp;rdquo; jelasnya.

Menurut Sulhan idealnya satu kartu untuk semua hal. Namun karena   otoritas lembaga yang begitu kompleks di Indonesia, mungkin untuk   sementara masih membutuhkan antara dua sampai empat kartu. Apalagi   masyarakat juga tidak mengalami kesulitan dengan sistem tersebut.

Terbukti masyarakat Indonesia saat ini cepat merespons teknologi komunikasi seperti gadget, smartphone maupun Wi-Fi. (Dita Angga/Priyo Setyawan/Hanna F/Ichsan Amin/Hafid Fuad)</description><content:encoded>JAKARTA - Indonesia tampak masih jauh menerapkan sistem kartu identitas tunggal (single identity card). Kemajuan teknologi digital justru melahirkan beragam kartu yang diterbitkan tiap otoritas atau lembaga. Imbasnya, isi dompet makin tebal karena dipenuhi banyak kartu.

Jika dirata-rata, umumnya setiap orang saat ini memiliki lebih dari lima kartu. Wulan Anggraeni. manajer salah satu agensi asing ternama di Jakarta mengaku, sehari-hari dirinya membawa 11 kartu di dalam dompetnya. Kartu tersebut antara lain KTP, kartu BPJS Ketenagakerjaan, BPJS Kesehatan, empat kartu ATM, asuransi dan juga dua kartu membership.
&amp;nbsp;Baca Juga: BI Catat Pertumbuhan Transaksi Uang Elektronik Capai 300%, Nilainya Rp10 Triliun
Membawa banyak kartu, tentu semakin repot. Apalagi jika terjadi kehilangan dompet, maka pengurusan kartu menjadi semakin ribet. Setiap kartu biasanya dikeluarkan oleh satu instansi, sehingga proses pembuatan ulang menguras banyak waktu, tenaga dan biaya.

Sulistiyani Amaliya, pengusaha asal Ciputat, Tangerang Selatan pekan lalu juga dibuat bingung gara-gara di saat anaknya mendadak harus dilarikan ke rumah sakit (RS), kartu asuransi dan kesehatan sang buah hati justru terbawa dia ke luar kota.

Keluarganya pun terpaksa membayar dengan cara tunai karena kartu-kartu identitas seperti kartu keluarga (KK), kartu pelajar dan lainnya tak mampu meyakinkan ke pihak RS. &amp;ldquo;Integrasi data seperti adanya e-KTP nyatanya belum memberi manfaat banyak,&amp;rdquo; ujar Sulistiyani yang kini mengaku mengantongi tujuh kartu.
&amp;nbsp;Baca Juga: Transaksi Tol Nontunai Berkaitan dengan Utang ke Pengusaha China? Ini Tanggapan PUPR
Dia sangat berharap, ke depan nantinya ada penyederhanaan kartu di Indonesia. Selain akan lebih efisien, hal itu juga akan memudahkan jika sewaktu-waktu terjadi kondisi darurat.

Banyaknya kartu dengan berbagai macam fungsinya memang tidak efektif. &amp;ldquo;Satu kartu satu fungsi kayanya sudah old school,&amp;rdquo; ungkap Feriesha Lixie FF, eksekutif di salah satu market place di Indonesia.

Sudah saatnya Indonesia menerapkan single identity card, satu kartu untuk semua.&amp;ldquo;Seperti di Estonia, ID card mereka mencakup semuanya. Seluruh sistem tergabung dalam e-service yang sangat aman,&amp;rdquo; imbuhnya.
&amp;nbsp;Baca Juga: Mulai 27 Desember, Dukcapil Jemput Bola Perekaman E-KTP Serentak Secara Nasional
Estonia, negara kecil di Eropa ini memang amat unggul dalam urusan single identity card. Warga negara Estonia hanya butuh satu kartu yang mencakup di antaranya KTP, asuransi, identitas untuk bepergian di Uni Eropa, pajak, i-voting, tanda tangan digital, login bank, kartu kesehatan (rekam medis) dan bahkan untuk menebus resep.
Di Indonesia, single identity card tampak masih jauh penerapannya.  Yang terjadi, sejumlah otoritas justru seolah berlomba menerbitkan  kartu. Tak hanya itu, beberapa intansi juga merasa memiliki data tunggal  yang paling valid.

Di bidang ekonomi, pemerintah telah menggelorakan program Gerbang  Pembayaran Nasional (GPN) seperti sistem ATM Bersama sejak akhir 2017.  Namun realisasi program ini pun belum optimal.

Kendati demikian, kalangan perbankan masih optimistis GPN akan  memberikan dampak yang positif menuju single identity card. Sekretaris  Perusahaan Bank BNI Kiryanto menilai tren kartu akan beranjak menjadi  kartu cerdas atau smart card. Dengan smart card, makasatu kartu untuk  berbagai keperluan ekonomi dan finansial. Tapi program ini tentu akan  dikembangkan bertahap.
&amp;nbsp;Baca Juga:&amp;nbsp; BPJS Kesehatan: Biaya Urunan Bukan untuk Menambal Defisit

Untuk itu perlu disiapkan roadmap dan platform guna menerbitkan smart  card ke depannya. &quot;GPN bisa sebagai awal menuju era smart card, yang  nantinya berkolaborasi dengan dinas kependudukan dalam proses  penerbitannya,&quot; ujar Kiryanto.

Dalam pandangan Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus  Abadi, konsumen sebagai pengguna akhir ekonomi digital memang makin  menggandrungi pemanfaatan sistem kartu karena dinilai lebih efisien.  Namun pada konteks perlindungan konsumen, negara belum terlalu berperan.  &amp;ldquo;Negara tampak masih terbius dengan pertumbuhan ekonomi digital namun  terlena dengan aspek perlindungan konsumen,&amp;rdquo; ujarnya.

Persoalan ini terjadi karena masih rendahnya literasi digital  konsumen. Kemudian masih lemahnya pengawasan oleh pemerintah. Tak hanya  itu, regulasi juga masih lemah. Dia mencontohan sampai sekarang belanja  online belum ditopang dengan regulasi yang memadai.

Kartu Diganti Aplikasi

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara menilai ke  depan sistem kartu-kartu akan digantikan oleh aplikasi. Dengan begitu  masyarakat menjadi lebih mudah dalam mengakses layanan publik.

&amp;ldquo;Layanan ke depan bukan didasarkan berbasis jenis kartu namun  berbasis aplikasi. Hal ini akan terjadi saat semua masyarakat penerima  layanan sudah memiliki akses ke jaringan internet,&amp;rdquo; ujarnya.
&amp;nbsp;Baca Juga:&amp;nbsp; 5 Manfaat Kartu ATM Berlogo GPN

Dia mengatakan secara teknis rencana ini bisa diefisienkan karena  core data berasal dari data kependudukan yang dikelola Direktorat  Jenderal Kependudukan dan Catatan Sipil Kementerian Dalam Negeri  (Kemendagri). Rudiantara mengungkapkan, saat ini sudah 1.166 lembaga  pemerintah maupun nonpemerintah yang berkerjasama dengan Kemendagri.  Lembaga-lembaga tersebut menggunakan nomor induk kependudukan (NIK)  sebagai data rujukan awal.

&amp;ldquo;Aplikasi terintegrasi harus dikembangkan sehingga dari sisi  masyarakat cukup mempunyai core application yang berlaku umum. Termasuk  juga additional application yang bergantung kepada sektor atau layanan  pemerintah,&amp;rdquo; katanya.
Pakar Kebijakan Publik Universitas Indonesia (UI), Lina Miftahul   Jannah mengatakan banyaknya kartu yang dimiliki masyarakat saat ini   sangat tidak efisien. Dengan demikian, realisasi single identity number   harus menjadi fokus pemerintah untuk mengefisienkan layanan. &amp;ldquo;Jika  sudah  single identity number itu untuk semuanya. Tidak perlu lagi ada  banyak  kartu. Ada NPWP lah, Kartu Nikah, KIA, SIM dan lainnya,&quot;  katanya.

Menurut dia, jika NIK diarahkan untuk single identity number maka   akses layanan publik cukup dengan kartu tanda penduduk elektronik   (e-KTP). Dia pun merasa heran lembaga layanan publik masih saja tetap   mengeluarkan kartu meskipun sudah dapat mengakses NIK secara online.

&amp;ldquo;Ini memang dari awal salah dan tidak terencana dengan baik. Selain   itu memang setiap lembaga ingin eksis jadi terus mengeluarkan kartu.   Seperti kartu nikah lalu kenapa tidak cukup dengan terintegrasi dengan   e-KTP,&amp;rdquo; paparnya.

Menurutnya semua pihak penyedia layanan publik harus duduk bersama   untuk menuntaskan masalah ini. Dia meminta jangan hanya layanan itu   berbasis proyek semata. Sehingga masyarakat akan lebih dipermudah.

Dorongan serupa juga disampaikan pakar teknologi informasi Fakultas   Teknis Informasi (FTI) Universita Islam Indonesia (UII) Yogyakarta   Ismail Fahmi. &amp;ldquo;Hanya saja, untuk integrasi sistem satu kartu ini   pemerintah masih lambat. Karena itu perlu harus segera ada literasi   untuk penerapan satu data yang terintergasi lewat satu sistem,&amp;rdquo;   ungkapnya.

Kesiapan masyarakat untuk menerima program ini juga sudah makin baik.   Masyarakat saat ini mudah beradaptasi dengan perubahan kebijakan atau   perkembangan teknologi.

Sosiolog Media Universitas Gadjah Mada (UGM) Muhammad Sulhan juga   mengatakan penyatuan kartu (single card) memiliki kelebihan efisiensi.   Data base kartu tunggal ini harus mengacu pada satu badan otoritas.
&amp;ldquo;Yang perlu diantisipasi jika badan otoritas memiliki kelemahan pada   aspek safety atas data algoritma yang ada. Di sisi lain, penduduk yang   belum terdidik akan sangat gampang mengalami penipuan dan potensial   disalahgunakan,&amp;rdquo; jelasnya.

Menurut Sulhan idealnya satu kartu untuk semua hal. Namun karena   otoritas lembaga yang begitu kompleks di Indonesia, mungkin untuk   sementara masih membutuhkan antara dua sampai empat kartu. Apalagi   masyarakat juga tidak mengalami kesulitan dengan sistem tersebut.

Terbukti masyarakat Indonesia saat ini cepat merespons teknologi komunikasi seperti gadget, smartphone maupun Wi-Fi. (Dita Angga/Priyo Setyawan/Hanna F/Ichsan Amin/Hafid Fuad)</content:encoded></item></channel></rss>
