<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>   5 Negara Jadi Sorotan di WEF Davos, dari China hingga Korsel</title><description>World Economic Forum (WEF) 2019 kembali digelar di Davos, Swiss.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/01/23/20/2008329/5-negara-jadi-sorotan-di-wef-davos-dari-china-hingga-korsel</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/01/23/20/2008329/5-negara-jadi-sorotan-di-wef-davos-dari-china-hingga-korsel"/><item><title>   5 Negara Jadi Sorotan di WEF Davos, dari China hingga Korsel</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/01/23/20/2008329/5-negara-jadi-sorotan-di-wef-davos-dari-china-hingga-korsel</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/01/23/20/2008329/5-negara-jadi-sorotan-di-wef-davos-dari-china-hingga-korsel</guid><pubDate>Rabu 23 Januari 2019 15:18 WIB</pubDate><dc:creator>Rany Fauziah</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/01/23/20/2008329/5-negara-jadi-sorotan-di-wef-davos-dari-china-hingga-korsel-RPgh08VNgn.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Foto Okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/01/23/20/2008329/5-negara-jadi-sorotan-di-wef-davos-dari-china-hingga-korsel-RPgh08VNgn.jpg</image><title>Ilustrasi: Foto Okezone</title></images><description>SWISS - World Economic Forum (WEF) 2019 kembali digelar di Davos, Swiss. Banyak isu dibahas dalam pertemuan ini, mulai dari perang dagang AS-China, Brexit hingga perlambatan ekonomi global.

Seperti halnya IMF yang memproyeksikan pertumbuhan global sebesar 3,5% pada 2019 dan 3,6% pada 2020. Prediksi tersebut turun masing-masing 0,2% dan 0,1% dari perkiraan Oktober lalu.

Sementara itu, Perdana Menteri Jepang Menteri Shinzo Abe masih berjuang untuk mendapatkan kembali PDB Jepang yang mencapai USD4,9 triliun.
&amp;nbsp;Baca Juga: BKPM Yakinkan Investor Tanam Modal di Indonesia
WEF 2019 menjadi salah satu forum terpenting di dunia untuk mengadakan pembicaraan mengenai ekonomi.

Turut hadir beberapa partisipan dari berbagai negara di seluruh dunia. WEF berlangsung selama lima hari untuk mendiskusikan sejumlah isu mendesak terkait tantangan global.

Dalam laporan WEF, negara China disebut-sebut dalam WEF menjadi negara yang rentan terjerumus oleh permasalahan seperti utang dan dalam pembuatan kebijakan yang tidak dapat diatasi.
&amp;nbsp;Baca Juga: Menperin Bakal Temui Apple hingga Coca-Cola di WEF 2019
Berikut negara yang menjadi sorotan perihal terhadap permasalahan melalui laporan WEF di Davos, Swiss, yang dilansir dari Forbes, Rabu (23/1/2019):
&amp;nbsp;
 
China

China saat ini tengah gencatan perang dagang dengan AS. Perang dagang tersebut menimbulkan jatuhnya perekonomian yang kian besar. Bahkan, hal ini bisa lebih parah dengan krisis global 2008-2009.

Apalagi pertumbuhan ekonomi China 2018 hanya 6,6%. Ini terendah dalam 28 tahun.
Dengan Produk Domestik Bruto (PDB) naik menjadi USD13,6 triliun dari USD12,2 triliun pada tahun 2017, sehingga pemerintah Xi Jinping masih bisa bersaing dengan ekonomi Australia.

Korea Selatan

Semenjak masa kepemerintahan Moon Jae In, perekonomian Korsel kembali tidak kompetitif.  Selain itu, pertumbuhan ekonomi Korsel juga melambat.

Saat pertumbuhan melambat, Moon sedang mempertimbangkan untuk mengurangi kenaikan upah minimum 10,9% tahun ini.

Alih-alih mengekang perilaku monopolistik pengusaha besar, Moon beralih ke mereka untuk meningkatkan PDB. Saat pengusaha menyedot ekonomi, booming perusahaan baru dimulai.

Begitu juga langkah-langkah untuk mengurangi angka penggangguran 8,6% pengangguran kaum muda, memotong  utang rumah tangga dan membuang preferensi Seoul seperti stimulus daripada perubahan struktural.
Thailand

Di tengah menjelang pemilu, ada salah satu kasus seperti pemberian  uang tunai kepada warga pedesaan Thailand yang memukul pembelian suara  menjelang pemilihan 24 Februari.

Hal tersebut, merupakan taktik yang dilakukan oleh Thaksin  Shinawatra, tetapi kebijakan dari mantan perdana menteri yang ditentang  oleh junta.

Beberapa tempat lebih terperangkap dalam arus populis di mana Davos  Man bergulat daripada Bangkok. Salah satu ironi besar dari junta militer  yang meraih kekuasaan pada tahun 2014 adalah bagaimana ia menggunakan  cara jangka pendek sinis yang sama dengan yang bertujuan untuk  diberantas.

Inggris

Ketika di tengah drama Brexit dengan menyebutkan Tokyo yang  menyibukkan Theresa May. &quot;Seperti halnya fraksi Brexit dari Inggris,  pemerintah Partai Demokrat Liberal Jepang yang konservatif secara  kultural telah direbus dalam jus yang melekat pada asumsi naas  supremasinya sendiri,&quot; kata Stephan Richter dan Uwe Bott dari Riset  Globalis yang berbasis di Berlin.

Amerika

Di tengah genjata perang dagang antara China. Trump telah menarik diri dari Kemitraan Trans-Pasifik.

Dalam Forum Ekonomi Dunia pada tanggal 23 Januari, para peserta  memiliki alasan  kegagalan Tokyo untuk membuat kembali pertumbuhan  ekonomi. Pelemahan yen bukanlah pengganti untuk mengkatalisasi boom  startup, memotong birokrasi, meningkatkan efisiensi dan mempersempit  kesenjangan upah gender.

Trump juga tidak akan menuntut Federal Reserve mempertahankan suku  bunga tetap berjalan dengan baik. Tokyo telah melakukan itu sejak 2000  dan masih berbicara tentang Bank of Japan mencetak lebih banyak yen. Ini  merupakan penopang moneter yang dilakukan Washington, seperti Tokyo.  Kemudian untuk menghindari peningkatan yang menyakitkan dan penuh  politik.
</description><content:encoded>SWISS - World Economic Forum (WEF) 2019 kembali digelar di Davos, Swiss. Banyak isu dibahas dalam pertemuan ini, mulai dari perang dagang AS-China, Brexit hingga perlambatan ekonomi global.

Seperti halnya IMF yang memproyeksikan pertumbuhan global sebesar 3,5% pada 2019 dan 3,6% pada 2020. Prediksi tersebut turun masing-masing 0,2% dan 0,1% dari perkiraan Oktober lalu.

Sementara itu, Perdana Menteri Jepang Menteri Shinzo Abe masih berjuang untuk mendapatkan kembali PDB Jepang yang mencapai USD4,9 triliun.
&amp;nbsp;Baca Juga: BKPM Yakinkan Investor Tanam Modal di Indonesia
WEF 2019 menjadi salah satu forum terpenting di dunia untuk mengadakan pembicaraan mengenai ekonomi.

Turut hadir beberapa partisipan dari berbagai negara di seluruh dunia. WEF berlangsung selama lima hari untuk mendiskusikan sejumlah isu mendesak terkait tantangan global.

Dalam laporan WEF, negara China disebut-sebut dalam WEF menjadi negara yang rentan terjerumus oleh permasalahan seperti utang dan dalam pembuatan kebijakan yang tidak dapat diatasi.
&amp;nbsp;Baca Juga: Menperin Bakal Temui Apple hingga Coca-Cola di WEF 2019
Berikut negara yang menjadi sorotan perihal terhadap permasalahan melalui laporan WEF di Davos, Swiss, yang dilansir dari Forbes, Rabu (23/1/2019):
&amp;nbsp;
 
China

China saat ini tengah gencatan perang dagang dengan AS. Perang dagang tersebut menimbulkan jatuhnya perekonomian yang kian besar. Bahkan, hal ini bisa lebih parah dengan krisis global 2008-2009.

Apalagi pertumbuhan ekonomi China 2018 hanya 6,6%. Ini terendah dalam 28 tahun.
Dengan Produk Domestik Bruto (PDB) naik menjadi USD13,6 triliun dari USD12,2 triliun pada tahun 2017, sehingga pemerintah Xi Jinping masih bisa bersaing dengan ekonomi Australia.

Korea Selatan

Semenjak masa kepemerintahan Moon Jae In, perekonomian Korsel kembali tidak kompetitif.  Selain itu, pertumbuhan ekonomi Korsel juga melambat.

Saat pertumbuhan melambat, Moon sedang mempertimbangkan untuk mengurangi kenaikan upah minimum 10,9% tahun ini.

Alih-alih mengekang perilaku monopolistik pengusaha besar, Moon beralih ke mereka untuk meningkatkan PDB. Saat pengusaha menyedot ekonomi, booming perusahaan baru dimulai.

Begitu juga langkah-langkah untuk mengurangi angka penggangguran 8,6% pengangguran kaum muda, memotong  utang rumah tangga dan membuang preferensi Seoul seperti stimulus daripada perubahan struktural.
Thailand

Di tengah menjelang pemilu, ada salah satu kasus seperti pemberian  uang tunai kepada warga pedesaan Thailand yang memukul pembelian suara  menjelang pemilihan 24 Februari.

Hal tersebut, merupakan taktik yang dilakukan oleh Thaksin  Shinawatra, tetapi kebijakan dari mantan perdana menteri yang ditentang  oleh junta.

Beberapa tempat lebih terperangkap dalam arus populis di mana Davos  Man bergulat daripada Bangkok. Salah satu ironi besar dari junta militer  yang meraih kekuasaan pada tahun 2014 adalah bagaimana ia menggunakan  cara jangka pendek sinis yang sama dengan yang bertujuan untuk  diberantas.

Inggris

Ketika di tengah drama Brexit dengan menyebutkan Tokyo yang  menyibukkan Theresa May. &quot;Seperti halnya fraksi Brexit dari Inggris,  pemerintah Partai Demokrat Liberal Jepang yang konservatif secara  kultural telah direbus dalam jus yang melekat pada asumsi naas  supremasinya sendiri,&quot; kata Stephan Richter dan Uwe Bott dari Riset  Globalis yang berbasis di Berlin.

Amerika

Di tengah genjata perang dagang antara China. Trump telah menarik diri dari Kemitraan Trans-Pasifik.

Dalam Forum Ekonomi Dunia pada tanggal 23 Januari, para peserta  memiliki alasan  kegagalan Tokyo untuk membuat kembali pertumbuhan  ekonomi. Pelemahan yen bukanlah pengganti untuk mengkatalisasi boom  startup, memotong birokrasi, meningkatkan efisiensi dan mempersempit  kesenjangan upah gender.

Trump juga tidak akan menuntut Federal Reserve mempertahankan suku  bunga tetap berjalan dengan baik. Tokyo telah melakukan itu sejak 2000  dan masih berbicara tentang Bank of Japan mencetak lebih banyak yen. Ini  merupakan penopang moneter yang dilakukan Washington, seperti Tokyo.  Kemudian untuk menghindari peningkatan yang menyakitkan dan penuh  politik.
</content:encoded></item></channel></rss>
