<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pengusaha Mamin Keluhkan Gula Lokal, Impor Tak Tergantikan</title><description>Penggunaan gula rafinasi impor untuk industri makanan dan minuman (mamin) masih sulit digantikan gula lokal.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/01/23/320/2008190/pengusaha-mamin-keluhkan-gula-lokal-impor-tak-tergantikan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/01/23/320/2008190/pengusaha-mamin-keluhkan-gula-lokal-impor-tak-tergantikan"/><item><title>Pengusaha Mamin Keluhkan Gula Lokal, Impor Tak Tergantikan</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/01/23/320/2008190/pengusaha-mamin-keluhkan-gula-lokal-impor-tak-tergantikan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/01/23/320/2008190/pengusaha-mamin-keluhkan-gula-lokal-impor-tak-tergantikan</guid><pubDate>Rabu 23 Januari 2019 11:04 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/01/23/320/2008190/pengusaha-mamin-keluhkan-gula-lokal-impor-tak-tergantikan-hgajN50ivF.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Reuters</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/01/23/320/2008190/pengusaha-mamin-keluhkan-gula-lokal-impor-tak-tergantikan-hgajN50ivF.jpg</image><title>Foto: Reuters</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Penggunaan gula rafinasi impor untuk industri makanan dan minuman (mamin) masih sulit digantikan gula lokal. Pemicunya, yakni suplai yang tidak teratur mengakibat kan pengusaha mamin memilih gula impor.

Ketua Asosiasi Industri Kecil dan Menengah Agro Suyono mengatakan, pengusaha mamin kelas kecil dan menengah pun masih sangat membutuhkan impor gula rafinasi bagi keberlangsungan usaha mereka.

Dia menjelaskan, ada tiga alasan gula rafinasi dari impor sulit digantikan gula lokal bagi industri mamin.

&amp;ldquo;Yang pertama, gula rafinasi itu tidak mengandung molasis, yaitu sampah mikro, bakteri, dan kuman, yang masih menempel di gula. Ketika ada molasis, makanan kami akan cepat kedaluwarsa,&amp;rdquo; ujar Suyono dalam rilisnya, kemarin.
&amp;nbsp;Baca Juga: Kondisi Stok Beras dan Gula Indonesia Aman
Suyono yang juga pengusaha dodol garut ini menjelaskan, jika menggunakan gula lokal, saat dodol diekspor ke Timur Tengah akan berjamur dan ke daluwarsa karena adanya bakteri tersebut.

Pasalnya, perjalanan ke Abu Dhabi saja bisa men capai 20 hari. Kondisi panas dalam kontainer membuat bakteri yang membusukkan makanan itu lebih cepat berkembang.

&amp;ldquo;Kita biasa ekspor dodol itu ke Abu Dhabi. Sampai di sana pasti jamuran kalau pakai gula lokal, karena di perjalanan bisa 20 hari dengan kondisi kon tai ner panas. Jadi, memang gula lokal tidak cocok untuk dodol,&amp;rdquo; tuturnya.
&amp;nbsp;Baca Juga: Tahun Depan RI Bakal Impor Garam dan Gula Industri
Sementara itu, jika menggunakan gula impor, dodol bisa bertahan hingga satu tahun karena tidak adanya molasis dalam kandungan gula.

Dia mengatakan, alasan kedua karena gula rafinasi selalu tersedia mulai dari Januari sampai dengan Desember. Sedangkan jika menggunakan gula lokal, mesti menunggu musim panen yang pasokannya tidak selalu tersedia.
Suyono juga mengeluhkan soal harga gula lokal bisa lebih mahal hingga Rp2.000 perkilogramnya dibandingkan gula rafinasi. Untuk itu, pengusaha lebih memilih gula rafinasi karena lebih murah.
&amp;nbsp;&amp;nbsp;Baca Juga: Daya Saing Gula RI Kalah dari Filipina dan Thailand
Pilihan menggunakan gula rafinasi impor, katanya, tidak serta-merta menunjukkan para pengusaha antiproduk dalam negeri. Menurut Suyono, pengusaha siap membeli gula dalam negeri jika kualitasnya sudah sama dengan gula rafinasi. Industri, terutama UMKM, dihadapkan pada dilema harga gula impor yang lebih murah dan lebih berkualitas.

&amp;ldquo;Kami siap beli gula dalam negeri kalau kualitasnya sudah sama dengan rafinasi. Nasionalisme saya tidak perlu di pertanyakan lagi. Saya ini anak petani miskin asli Ciamis, saya juga ingin petani tebu Indonesia sejahtera,&amp;rdquo; ujarnya.
Sementara itu, peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS)  Assyifa Szami Ilman mengungkapkan, menekan tingginya angka impor gula  bukan pekerjaan mudah. Ini karena konsumsi dalam negeri sangat tinggi.

Pemangkasan impor gula hanya bisa dilakukan apabila produksi gula  dalam negeri mampu memenuhi kebutuhan nasional dengan kualitas baik. Ia  berpendapat, jika produksi gula dalam negeri mampu memenuhia tau  setidaknya mendekati angka kebutuhan, kebijak an impor gula dipastikan  bisa ditekan.

Namun, untuk saat ini jika impor gula terus ditekan, imbasnya akan  membuat harga gula di pasaran melambung. &amp;ldquo;Pada akhirnya, konsumen dan  unit usaha UMKM yang menggunakan gula sebagai bahan produksinya akan  menanggung kerugian,&amp;rdquo; katanya.

Banyak kalangan juga mengkritisi dengan usia mesin lebih dari 100  tahun akan muskil pabrik gula BUMN bisa menghasilkan gula berkualitas  sesuai ke butuhan industri mamin.

Direktur Eksekutif Asosiasi Gula Indonesia (AGI) Agus Pakpahan  mengamini, beberapa industri memang membutuhkan impor gula sebagai bahan  baku untuk produksinya.

Contohnya, industri mamin yang memerlukan gula dengan icumsa ren dah  serta industri kesehatan yang membutuhkan gula khusus. Khusus untuk  industri mamin, ia mengakui, keperluan memakai gula impor lebih karena  harganya lebih terjangkau.

Selain itu, gula impor yang memiliki tingkat icumsa di kisaran 45  membuat tampilan makanan dan minuman jauh lebih baik. &amp;ldquo;Kalau icumsa gula  rafinasi impor itu sekitar 45. Kalau gula lokal setelah diolah itu  masih sekitar 300 icumsa. Raw sugar malah icumsa-nya bisa sampai 1.200,&amp;rdquo;  ujarnya.

Dalam undang-undang pun penggunaan gula impor untuk industri mamin  telah di amanatkan. Hal inilah membuat penggunaan gula impor untuk mamin  sah-sah saja.

Hanya saja, bukan berarti gula lokal tidak mampu menghasilkan produk  mamin yang kualitasnya setara dengan produk yang memakai gula impor.  Penggunaan gula impor tetap pada pertimbangan harga dan tingkat icumsa  yang lebih rendah.

&amp;ldquo;Karena pernah dulu waktu tahun 2009, ketika harga gula dunia sedang  naik, industri mamin akhirnya memakai gula lokal. Bisa itu,&amp;rdquo; ungkap  Agus.

Namun, khusus untuk industri kesehatan, penggunaan gula khusus dari  impor memang tidak bisa tergantikan. Karena beberapa komposisinya yang  tidak bisa didapati pada gula lokal biasa. (Sudarsono)</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Penggunaan gula rafinasi impor untuk industri makanan dan minuman (mamin) masih sulit digantikan gula lokal. Pemicunya, yakni suplai yang tidak teratur mengakibat kan pengusaha mamin memilih gula impor.

Ketua Asosiasi Industri Kecil dan Menengah Agro Suyono mengatakan, pengusaha mamin kelas kecil dan menengah pun masih sangat membutuhkan impor gula rafinasi bagi keberlangsungan usaha mereka.

Dia menjelaskan, ada tiga alasan gula rafinasi dari impor sulit digantikan gula lokal bagi industri mamin.

&amp;ldquo;Yang pertama, gula rafinasi itu tidak mengandung molasis, yaitu sampah mikro, bakteri, dan kuman, yang masih menempel di gula. Ketika ada molasis, makanan kami akan cepat kedaluwarsa,&amp;rdquo; ujar Suyono dalam rilisnya, kemarin.
&amp;nbsp;Baca Juga: Kondisi Stok Beras dan Gula Indonesia Aman
Suyono yang juga pengusaha dodol garut ini menjelaskan, jika menggunakan gula lokal, saat dodol diekspor ke Timur Tengah akan berjamur dan ke daluwarsa karena adanya bakteri tersebut.

Pasalnya, perjalanan ke Abu Dhabi saja bisa men capai 20 hari. Kondisi panas dalam kontainer membuat bakteri yang membusukkan makanan itu lebih cepat berkembang.

&amp;ldquo;Kita biasa ekspor dodol itu ke Abu Dhabi. Sampai di sana pasti jamuran kalau pakai gula lokal, karena di perjalanan bisa 20 hari dengan kondisi kon tai ner panas. Jadi, memang gula lokal tidak cocok untuk dodol,&amp;rdquo; tuturnya.
&amp;nbsp;Baca Juga: Tahun Depan RI Bakal Impor Garam dan Gula Industri
Sementara itu, jika menggunakan gula impor, dodol bisa bertahan hingga satu tahun karena tidak adanya molasis dalam kandungan gula.

Dia mengatakan, alasan kedua karena gula rafinasi selalu tersedia mulai dari Januari sampai dengan Desember. Sedangkan jika menggunakan gula lokal, mesti menunggu musim panen yang pasokannya tidak selalu tersedia.
Suyono juga mengeluhkan soal harga gula lokal bisa lebih mahal hingga Rp2.000 perkilogramnya dibandingkan gula rafinasi. Untuk itu, pengusaha lebih memilih gula rafinasi karena lebih murah.
&amp;nbsp;&amp;nbsp;Baca Juga: Daya Saing Gula RI Kalah dari Filipina dan Thailand
Pilihan menggunakan gula rafinasi impor, katanya, tidak serta-merta menunjukkan para pengusaha antiproduk dalam negeri. Menurut Suyono, pengusaha siap membeli gula dalam negeri jika kualitasnya sudah sama dengan gula rafinasi. Industri, terutama UMKM, dihadapkan pada dilema harga gula impor yang lebih murah dan lebih berkualitas.

&amp;ldquo;Kami siap beli gula dalam negeri kalau kualitasnya sudah sama dengan rafinasi. Nasionalisme saya tidak perlu di pertanyakan lagi. Saya ini anak petani miskin asli Ciamis, saya juga ingin petani tebu Indonesia sejahtera,&amp;rdquo; ujarnya.
Sementara itu, peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS)  Assyifa Szami Ilman mengungkapkan, menekan tingginya angka impor gula  bukan pekerjaan mudah. Ini karena konsumsi dalam negeri sangat tinggi.

Pemangkasan impor gula hanya bisa dilakukan apabila produksi gula  dalam negeri mampu memenuhi kebutuhan nasional dengan kualitas baik. Ia  berpendapat, jika produksi gula dalam negeri mampu memenuhia tau  setidaknya mendekati angka kebutuhan, kebijak an impor gula dipastikan  bisa ditekan.

Namun, untuk saat ini jika impor gula terus ditekan, imbasnya akan  membuat harga gula di pasaran melambung. &amp;ldquo;Pada akhirnya, konsumen dan  unit usaha UMKM yang menggunakan gula sebagai bahan produksinya akan  menanggung kerugian,&amp;rdquo; katanya.

Banyak kalangan juga mengkritisi dengan usia mesin lebih dari 100  tahun akan muskil pabrik gula BUMN bisa menghasilkan gula berkualitas  sesuai ke butuhan industri mamin.

Direktur Eksekutif Asosiasi Gula Indonesia (AGI) Agus Pakpahan  mengamini, beberapa industri memang membutuhkan impor gula sebagai bahan  baku untuk produksinya.

Contohnya, industri mamin yang memerlukan gula dengan icumsa ren dah  serta industri kesehatan yang membutuhkan gula khusus. Khusus untuk  industri mamin, ia mengakui, keperluan memakai gula impor lebih karena  harganya lebih terjangkau.

Selain itu, gula impor yang memiliki tingkat icumsa di kisaran 45  membuat tampilan makanan dan minuman jauh lebih baik. &amp;ldquo;Kalau icumsa gula  rafinasi impor itu sekitar 45. Kalau gula lokal setelah diolah itu  masih sekitar 300 icumsa. Raw sugar malah icumsa-nya bisa sampai 1.200,&amp;rdquo;  ujarnya.

Dalam undang-undang pun penggunaan gula impor untuk industri mamin  telah di amanatkan. Hal inilah membuat penggunaan gula impor untuk mamin  sah-sah saja.

Hanya saja, bukan berarti gula lokal tidak mampu menghasilkan produk  mamin yang kualitasnya setara dengan produk yang memakai gula impor.  Penggunaan gula impor tetap pada pertimbangan harga dan tingkat icumsa  yang lebih rendah.

&amp;ldquo;Karena pernah dulu waktu tahun 2009, ketika harga gula dunia sedang  naik, industri mamin akhirnya memakai gula lokal. Bisa itu,&amp;rdquo; ungkap  Agus.

Namun, khusus untuk industri kesehatan, penggunaan gula khusus dari  impor memang tidak bisa tergantikan. Karena beberapa komposisinya yang  tidak bisa didapati pada gula lokal biasa. (Sudarsono)</content:encoded></item></channel></rss>
