<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>   Boeing Sukses Uji Coba Mobil Terbang, Revolusi Transportasi Dimulai</title><description>Perusahaan pesawat terbesar di dunia, The Boeing Company, berhasil melewati fase pertama uji coba penerbangan taksi terbang.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/01/25/320/2009240/boeing-sukses-uji-coba-mobil-terbang-revolusi-transportasi-dimulai</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/01/25/320/2009240/boeing-sukses-uji-coba-mobil-terbang-revolusi-transportasi-dimulai"/><item><title>   Boeing Sukses Uji Coba Mobil Terbang, Revolusi Transportasi Dimulai</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/01/25/320/2009240/boeing-sukses-uji-coba-mobil-terbang-revolusi-transportasi-dimulai</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/01/25/320/2009240/boeing-sukses-uji-coba-mobil-terbang-revolusi-transportasi-dimulai</guid><pubDate>Jum'at 25 Januari 2019 12:19 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/01/25/320/2009240/boeing-sukses-uji-coba-mobil-terbang-revolusi-transportasi-dimulai-urpCUyoyx8.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Foto Okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/01/25/320/2009240/boeing-sukses-uji-coba-mobil-terbang-revolusi-transportasi-dimulai-urpCUyoyx8.jpg</image><title>Ilustrasi: Foto Okezone</title></images><description>CHICAGO &amp;ndash; Perusahaan pesawat terbesar di dunia, The Boeing Company, berhasil melewati fase pertama uji coba penerbangan taksi terbang di bandara kecil di luar Washington DC, Amerika Serikat (AS), Selasa (22/1) waktu setempat.

Suksesnya percobaan tersebut menjadi sinyal positif bagi para pengembang mobil terbang selain Boeing. Mereka berharap ke depan angkutan model melayang itu bisa menjadi solusi transportasi di kota-kota yang kerap dilanda kemacetan parah.

Kendati dibilang sukses, percobaan mobil terbang tersebut belum melibatkan penumpang atau pilot. Taksi terbang itu baru mengudara kurang dari satu menit. Taksi terbang itu juga tidak bergerak ke mana pun. Hanya melayang di atas landasan bandara sebelum kembali mendarat.
&amp;nbsp;Baca Juga: Deretan Metode Transportasi Canggih Masa Depan, dari Mobil Terbang hingga Jetpack
Sejauh ini, Boeing menolak untuk mengungkapkan seberapa tinggi taksi terbang itu berada di atas tanah. Meski demikian, Boeing memuji di visi NeXt yang bertugas mengembangkan pesawat otonom atas capaian tersebut. Prototipe taksi terbang yang dirancang Boeing memiliki panjang 30 kaki dan lebar 28 kaki.

Di atas kertas, taksi itu dapat menempuh perjalanan hingga 50 mil sebelum kembali ke darat. Seperti diketahui, Boeing merupakan produsen pesawat berbasis di Amerika Serikat yang memproduksi pesawat komersial dan militer.

Khusus untuk segmen komersial, hingga 31 Desember tahun lalu Boeing tercatat telah menerima pesanan total 893 unit. Dari jumlah tersebut, model Boeing 737 mendominasi pesanan dengan jumlah 675 unit.

Boeing beserta para pesaingnya seperti Airbus meyakini pesawat kecil yang dapat dikendarai sendiri, yang juga dikenal dengan eVTOL (electric Vertical Takeoff and Landing) akan merevolusi transportasi, terutama di kawasan perkotaan.
&amp;nbsp;Baca Juga: Begini Cara Mengemudikan Mobil Terbang
Mereka yakin jenis kendaraan itu akan menjadi solusi dalam mengatasi kemacetan. Meski Boeing dan Airbus menjadi pemain terbesar dalam pengembangan taksi terbang, ada banyak juga perusahaan dengan ambisi serupa di Silicon Valley, AS, termasuk beberapa perusahaan yang didanai pendiri Google, Larry Page.

Investor Cyrus Sigari menilai capaian Boeing sebagai sinyal dari komitmen positif. &amp;ldquo;Boeing menunjukkan gaya produksi mereka dan memublikasikannya di media massa,&amp;rdquo; kata Sigari.

&amp;ldquo;Hal itu menunjukkan bahwa Boeing sangat serius mengembangkan moda transportasi yang dapat memobilisasi pergerakan di wilayah urban. Saya sangat senang dapat melihat semangat kuat Boeing.&amp;rdquo; Eric Bartsch, chief operating officer di VerdeGo Aeuro, pengembang sistem daya eVTOL, juga memuji kemajuan kendaraan otonom, propulsi listrik, dan drone sebagai teknologi baru.
&amp;nbsp;Baca Juga: Motor Terbang Bukan Lagi Khayalan
&amp;ldquo;Kita telah memasuki masa keemasan inovasi di mana orang-orang mencoba hal baru. Generasi ini sungguh berbeda,&amp;rdquo; imbuh Bartsch. Bartsch mengaku bangga dengan semakin banyaknya perusahaan yang mengembangkan taksi terbang otonom.
Aurora Flight Scoences, anak perusahaan Boeing untuk taksi terbang  otonom, merupakan mitra pengembangan jaringan mobil terbang Uber, Uber  Elevate. Uber berencana merilis taksi terbang pada 2023. Taksi terbang  terdengar seperti fiksi ilmiah. Namun, progresnya begitu pesat.

Konsepnya juga dikembangkan oleh berbagai perusahaan besar dari  Eropa, AS, Jepang, dan China. Dengan investasi dana hingga miliaran  rupiah dan riset selama bertahun-tahun, taksi terbang kemungkinan akan  segera menjadi kenyataan.

Di Belanda, perusahaan bernama PAL-V menjual mobil terbang PAL-V  Liberty senilai USD399.000(Rp5,3miliar). Namun, tidak semua orang dapat  membelinya sebab calon pembeli disyaratkan memiliki surat izin mengemudi  dan menerbangkan pesawat.

PAL-V menyatakan mobil itu baru akan dikirim ke pembeli pada 2019.  PAL-V Liberty merupakan kendaraan roda tiga yang dapat diubah menjadi  gyrocopter dalam waktu 5-10 menit. Saat hendak mengudara, PAL-V Liberty  meregangkan baling-baling. Kendaraan ini butuh landasan khusus.

Dengan mesin rotax dan kapasitas tangki 102 liter, mobil itu dapat  menjelajah hingga 399 km di udara. Start-up asal China, Ehang, juga  merancang mobil terbang Ehang 184. Kendaraan yang dilengkapi delapan  baling-baling dan navigasi otomatis itu mampu mengangkut bobot hingga  100 kilogram.

&amp;ldquo;Pesawat ini dapat terbang pada ketinggian 300-500 meter,&amp;rdquo; ujar  pendiri Ehang, Derrick Xiong, dikutip straitstimes.com. Audi yang  menggandeng Air bus dan Italdesign juga tidak mau kalah. Mereka merilis  mobil terbang bertenaga listrik pop up yang dapat mendarat secara  horizontal dan vertikal.

Dengan tenaga penerbangan output gabungan sebesar 160 kW, kendaraan  tersebut dapat melaju hingga 120 kilometer per jam. Kendaraan eVTOL juga  di kembangkan di Eropa. Perusahaan asal Jerman, Lilium, berhasil  melakukan uji coba penerbangan Lilium Jet.

Taksi itu melakukan beberapa manuver dasar. Ada dua jenis Lilium Jet,  yakni dua dan lima kursi. Keduanya dapat terbang hingga 200 mil per jam  dan menggunakan tenaga listrik. &amp;ldquo;Kami melewati berbagai tantangan  engineering yang sangat besar untuk dapat sampai pada titik ini,&amp;rdquo; ungkap  Co- Foun der dan Chief Executive Officer (CEO) Lilium, Daniel Wiegand.

&amp;ldquo;Kesuksesan uji coba penerbangan ini menunjukkan desainnya sudah  tepat. Kami tinggal fokus menyempurnakannya,&amp;rdquo; tambahnya. Dengan mesin  yang tidak boros dan infrastruktur yang minim, Lilium Jet disebut dapat  mengubah wajah transportasi udara. Bahkan, tarif penerbangan disebut  bakal sama dengan tarif taksi biasa, tapi lebih cepat lima kali lipat.
Perjalanan dari Manhattan ke Bandara John F Kennedy yang biasanya   memakam waktu lebih dari 30 menit, bisa ditempuh hanya lima menit.   Pengemudi Lilium Jet memerlukan lisensi pilot sedikitnya 20 jam   penerbangan. Artinya, jika dikategorikan, Lilium Jet setara dengan   pesawat ringan.

Badan Antariksa Eropa (ESA) memuji desain Lilium Jet yang hemat   energi dan ramah lingkungan. ESA menyatakan akan mendukung penuh inovasi   bangsa Eropa. Persaingan teknologi mobil terbang juga sempat terlihat   dalam ajang Consumer Electronic Show (CES) 2019 yang baru saja berlalu.

Di ajang tahunan itu, Ford, General Motors, Toyota, dan Volkswagen   menampilkan mobil berteknologi tinggi termasuk mobil terbang yang akan   digunakan Uber untuk menjadi solusi transportasi cepat. Diketahui, pada   2023 Uber akan menggunakan mobil terbang sebagai layanan taksi dengan   mobil yang diproduksi Bell Nexus.

&amp;ldquo;Ruang di jalanan sudah terbatas. Kita memberikan solusi transportasi   dengan dimensi vertikal,&amp;rdquo; kata CEO Bell, Mitch Snyder. Tren mobil   terbang akan menjadi penerus era mobil otonom yang saat ini masih   dikembangkan.

Sejauh ini beberapa produsen masih terus mengembangkan teknologi   mobil otonom seperti Lyft, yang dimiliki Uber dan Waymo milik Google.   Mobil tersebut terkoneksi langsung dengan aplikasi di ponsel pintar.   Bahkan, produsen Korea Selatan, Kia, juga mengembangkan konsep mobil   otonomi yang kendalinya bisa dipantau dari kamar tidur hingga kantor.   (Muh Shamil)
</description><content:encoded>CHICAGO &amp;ndash; Perusahaan pesawat terbesar di dunia, The Boeing Company, berhasil melewati fase pertama uji coba penerbangan taksi terbang di bandara kecil di luar Washington DC, Amerika Serikat (AS), Selasa (22/1) waktu setempat.

Suksesnya percobaan tersebut menjadi sinyal positif bagi para pengembang mobil terbang selain Boeing. Mereka berharap ke depan angkutan model melayang itu bisa menjadi solusi transportasi di kota-kota yang kerap dilanda kemacetan parah.

Kendati dibilang sukses, percobaan mobil terbang tersebut belum melibatkan penumpang atau pilot. Taksi terbang itu baru mengudara kurang dari satu menit. Taksi terbang itu juga tidak bergerak ke mana pun. Hanya melayang di atas landasan bandara sebelum kembali mendarat.
&amp;nbsp;Baca Juga: Deretan Metode Transportasi Canggih Masa Depan, dari Mobil Terbang hingga Jetpack
Sejauh ini, Boeing menolak untuk mengungkapkan seberapa tinggi taksi terbang itu berada di atas tanah. Meski demikian, Boeing memuji di visi NeXt yang bertugas mengembangkan pesawat otonom atas capaian tersebut. Prototipe taksi terbang yang dirancang Boeing memiliki panjang 30 kaki dan lebar 28 kaki.

Di atas kertas, taksi itu dapat menempuh perjalanan hingga 50 mil sebelum kembali ke darat. Seperti diketahui, Boeing merupakan produsen pesawat berbasis di Amerika Serikat yang memproduksi pesawat komersial dan militer.

Khusus untuk segmen komersial, hingga 31 Desember tahun lalu Boeing tercatat telah menerima pesanan total 893 unit. Dari jumlah tersebut, model Boeing 737 mendominasi pesanan dengan jumlah 675 unit.

Boeing beserta para pesaingnya seperti Airbus meyakini pesawat kecil yang dapat dikendarai sendiri, yang juga dikenal dengan eVTOL (electric Vertical Takeoff and Landing) akan merevolusi transportasi, terutama di kawasan perkotaan.
&amp;nbsp;Baca Juga: Begini Cara Mengemudikan Mobil Terbang
Mereka yakin jenis kendaraan itu akan menjadi solusi dalam mengatasi kemacetan. Meski Boeing dan Airbus menjadi pemain terbesar dalam pengembangan taksi terbang, ada banyak juga perusahaan dengan ambisi serupa di Silicon Valley, AS, termasuk beberapa perusahaan yang didanai pendiri Google, Larry Page.

Investor Cyrus Sigari menilai capaian Boeing sebagai sinyal dari komitmen positif. &amp;ldquo;Boeing menunjukkan gaya produksi mereka dan memublikasikannya di media massa,&amp;rdquo; kata Sigari.

&amp;ldquo;Hal itu menunjukkan bahwa Boeing sangat serius mengembangkan moda transportasi yang dapat memobilisasi pergerakan di wilayah urban. Saya sangat senang dapat melihat semangat kuat Boeing.&amp;rdquo; Eric Bartsch, chief operating officer di VerdeGo Aeuro, pengembang sistem daya eVTOL, juga memuji kemajuan kendaraan otonom, propulsi listrik, dan drone sebagai teknologi baru.
&amp;nbsp;Baca Juga: Motor Terbang Bukan Lagi Khayalan
&amp;ldquo;Kita telah memasuki masa keemasan inovasi di mana orang-orang mencoba hal baru. Generasi ini sungguh berbeda,&amp;rdquo; imbuh Bartsch. Bartsch mengaku bangga dengan semakin banyaknya perusahaan yang mengembangkan taksi terbang otonom.
Aurora Flight Scoences, anak perusahaan Boeing untuk taksi terbang  otonom, merupakan mitra pengembangan jaringan mobil terbang Uber, Uber  Elevate. Uber berencana merilis taksi terbang pada 2023. Taksi terbang  terdengar seperti fiksi ilmiah. Namun, progresnya begitu pesat.

Konsepnya juga dikembangkan oleh berbagai perusahaan besar dari  Eropa, AS, Jepang, dan China. Dengan investasi dana hingga miliaran  rupiah dan riset selama bertahun-tahun, taksi terbang kemungkinan akan  segera menjadi kenyataan.

Di Belanda, perusahaan bernama PAL-V menjual mobil terbang PAL-V  Liberty senilai USD399.000(Rp5,3miliar). Namun, tidak semua orang dapat  membelinya sebab calon pembeli disyaratkan memiliki surat izin mengemudi  dan menerbangkan pesawat.

PAL-V menyatakan mobil itu baru akan dikirim ke pembeli pada 2019.  PAL-V Liberty merupakan kendaraan roda tiga yang dapat diubah menjadi  gyrocopter dalam waktu 5-10 menit. Saat hendak mengudara, PAL-V Liberty  meregangkan baling-baling. Kendaraan ini butuh landasan khusus.

Dengan mesin rotax dan kapasitas tangki 102 liter, mobil itu dapat  menjelajah hingga 399 km di udara. Start-up asal China, Ehang, juga  merancang mobil terbang Ehang 184. Kendaraan yang dilengkapi delapan  baling-baling dan navigasi otomatis itu mampu mengangkut bobot hingga  100 kilogram.

&amp;ldquo;Pesawat ini dapat terbang pada ketinggian 300-500 meter,&amp;rdquo; ujar  pendiri Ehang, Derrick Xiong, dikutip straitstimes.com. Audi yang  menggandeng Air bus dan Italdesign juga tidak mau kalah. Mereka merilis  mobil terbang bertenaga listrik pop up yang dapat mendarat secara  horizontal dan vertikal.

Dengan tenaga penerbangan output gabungan sebesar 160 kW, kendaraan  tersebut dapat melaju hingga 120 kilometer per jam. Kendaraan eVTOL juga  di kembangkan di Eropa. Perusahaan asal Jerman, Lilium, berhasil  melakukan uji coba penerbangan Lilium Jet.

Taksi itu melakukan beberapa manuver dasar. Ada dua jenis Lilium Jet,  yakni dua dan lima kursi. Keduanya dapat terbang hingga 200 mil per jam  dan menggunakan tenaga listrik. &amp;ldquo;Kami melewati berbagai tantangan  engineering yang sangat besar untuk dapat sampai pada titik ini,&amp;rdquo; ungkap  Co- Foun der dan Chief Executive Officer (CEO) Lilium, Daniel Wiegand.

&amp;ldquo;Kesuksesan uji coba penerbangan ini menunjukkan desainnya sudah  tepat. Kami tinggal fokus menyempurnakannya,&amp;rdquo; tambahnya. Dengan mesin  yang tidak boros dan infrastruktur yang minim, Lilium Jet disebut dapat  mengubah wajah transportasi udara. Bahkan, tarif penerbangan disebut  bakal sama dengan tarif taksi biasa, tapi lebih cepat lima kali lipat.
Perjalanan dari Manhattan ke Bandara John F Kennedy yang biasanya   memakam waktu lebih dari 30 menit, bisa ditempuh hanya lima menit.   Pengemudi Lilium Jet memerlukan lisensi pilot sedikitnya 20 jam   penerbangan. Artinya, jika dikategorikan, Lilium Jet setara dengan   pesawat ringan.

Badan Antariksa Eropa (ESA) memuji desain Lilium Jet yang hemat   energi dan ramah lingkungan. ESA menyatakan akan mendukung penuh inovasi   bangsa Eropa. Persaingan teknologi mobil terbang juga sempat terlihat   dalam ajang Consumer Electronic Show (CES) 2019 yang baru saja berlalu.

Di ajang tahunan itu, Ford, General Motors, Toyota, dan Volkswagen   menampilkan mobil berteknologi tinggi termasuk mobil terbang yang akan   digunakan Uber untuk menjadi solusi transportasi cepat. Diketahui, pada   2023 Uber akan menggunakan mobil terbang sebagai layanan taksi dengan   mobil yang diproduksi Bell Nexus.

&amp;ldquo;Ruang di jalanan sudah terbatas. Kita memberikan solusi transportasi   dengan dimensi vertikal,&amp;rdquo; kata CEO Bell, Mitch Snyder. Tren mobil   terbang akan menjadi penerus era mobil otonom yang saat ini masih   dikembangkan.

Sejauh ini beberapa produsen masih terus mengembangkan teknologi   mobil otonom seperti Lyft, yang dimiliki Uber dan Waymo milik Google.   Mobil tersebut terkoneksi langsung dengan aplikasi di ponsel pintar.   Bahkan, produsen Korea Selatan, Kia, juga mengembangkan konsep mobil   otonomi yang kendalinya bisa dipantau dari kamar tidur hingga kantor.   (Muh Shamil)
</content:encoded></item></channel></rss>
