<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Tekan E-Commerce, Pelaku Ritel Indonesia Siap Bangkit Lagi</title><description>Industri ritel kembali bergeliat dan siap bersaing dengan e-commerce.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/01/27/320/2009946/tekan-e-commerce-pelaku-ritel-indonesia-siap-bangkit-lagi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/01/27/320/2009946/tekan-e-commerce-pelaku-ritel-indonesia-siap-bangkit-lagi"/><item><title>Tekan E-Commerce, Pelaku Ritel Indonesia Siap Bangkit Lagi</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/01/27/320/2009946/tekan-e-commerce-pelaku-ritel-indonesia-siap-bangkit-lagi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/01/27/320/2009946/tekan-e-commerce-pelaku-ritel-indonesia-siap-bangkit-lagi</guid><pubDate>Minggu 27 Januari 2019 12:12 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/01/27/320/2009946/tekan-e-commerce-pelaku-ritel-indonesia-siap-bangkit-lagi-jRSzrPjWXD.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/01/27/320/2009946/tekan-e-commerce-pelaku-ritel-indonesia-siap-bangkit-lagi-jRSzrPjWXD.jpg</image><title>Foto: Okezone</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Industri ritel kembali bergeliat dan siap bersaing dengan e-commerce. Pasar ritel yang sempat lesu pada 2016-2017 kini mulai berbenah dan siap mengembangkan bisnis ke berbagai daerah untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang tetap menyukai berbelanja offline.

Dewan Pembina Asosiasi Pengelola Pusat Belanja (APPBI) Handaka Santosa mengungkapkan, ritel masih memiliki banyak harapan berkembang lebih besar. Penutupan sejumlah gerai ritel di sejumlah mal merupakan salah satu strategi bisnis perusahaan.

Penutupan gerai ritel menurut Handaka sepenuhnya bukan merupakan faktor dari pelemahan industri. &amp;ldquo;Misalnya perusahaan punya 30 toko, 4 di antaranya merugi, pemilik melakukan suatu strategi. Maka diambil keputusan lebih baik 4 toko ditutup, khawatir merusak kestabilan toko yang lain,&amp;rdquo; ujar Handaka saat dihubungi.
Baca Juga: 11.11 dan 12.12 Buat Bisnis Online Makin Perkasa, Mal Pun Runtuh
Presiden Direktur Sogo Indonesia itu mengungkapkan, pasar ritel masih memiliki nilai besar di Indonesia. Namun kini tugas perusahaan mencari tempat terbaik yang dapat menarik pelanggan. &amp;ldquo;Selama masih ada perusahaan ritel yang membuka toko barunya, industri ini masih stabil. Misalnya Sogo Department Store yang siap hadir di Medan,&amp;rdquo; tandasnya.

Menurut Handaka, persaingan dengan belanja online secara keseluruhan di berbagai negara hanya sekitar 20% dari ritel. Di Amerika Serikat pasar belanja online hanya menguasai ritel sekitar 10%, sedangkan di Indonesia kurang dari 3%.

&amp;ldquo;Kuncinya tentu ada pada konsumen dan pasar ritel sangat memperhatikan kebutuhan pelanggan,&amp;rdquo; tandasnya. Bangkitnya ritel juga berasal dari lingkup internal perusahaan yang giat mengevaluasi kinerja dan cara menghadapi tantangan pasar.

Head of Corporate Communication Mitra Adi Perkasa (MAP) Fetty Kwartati mengungkapkan, selama tiga tahun terakhir MAP telah melakukan konsolidasi. MAP menambah jumlah stok brand yang menjadi favorit konsumen Indonesia, termasuk mengkaji toko mana saja yang tidak menguntungkan untuk ditutup.
&amp;nbsp;Baca Juga: Tommy Soeharto Bangkitkan Supermarket Goro di Cibubur
MAP juga melalukan perbaikan inventori manajemen, termasuk memperkuat sistem serta sumber daya manusia. &amp;ldquo;Hasilnya, pertumbuhan MAP tahun 2017 sebesar 18% dari asumsi awal tahun yang hanya sekitar 13- 14%.

Sebab dalam tiga tahun terakhir pertumbuhan ada di angka 8-9%. Ini pencapaian yang sangat baik, tahun ini kami makin optimistis,&amp;rdquo; tutur Fetty. Menurutnya, segmentasi pasar MAP memang masuk dalam kelas menengah ke atas sehingga aktivitas belanja online tidak terlalu menjadi ancaman.

Selain itu MAP memiliki base customer atau pelanggan loyal brand mereka. &amp;ldquo;Pelanggan tetap setia karena juga melihat kualitas serta tidak adanya kompetitor di jenis produk tertentu serta usaha kami memberi merchandising,&amp;rdquo; sambungnya.
&amp;nbsp;Baca Juga: Dunia Berubah, E-commerce Perkasa dan Ritel Berguguran
Meski kelas segmen menengah ke atas tidak berbelanja online,MAP telah siap mengantisipasi perkembangan pasar online di masa depan. MAP memiliki e- m all yang kontribusi penjualannya masih di bawah 1% untuk penjualan mereka. Bahkan beberapa brand MAP telah memiliki marketplace.
Pergeseran Pola Belanja

Sekjen Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Solihin menilai,  segmentasi dari jenis ritel memang mem buat perbedaan pandangan. Banyak  jenis ritel di kelas menengah bawah yang tumbang, antara lain di sektor  fashion dan elektronik. Faktor perdagangan online menjadi pemicunya.

&amp;ldquo;Produk-produk murah dan sejenis modelnya sudah banyak di toko online  sehingga masyarakat mencari yang lebih mudah. Begitu pun dengan  elektronik, daripada jauh dan repot bawa, lebih baik yang diantar  langsung ke rumah,&amp;rdquo; ujar Solihin.

Pola belanja masyarakat menurut Solihin kini cenderung telah  bergeser. Terlebih selektivitas masyarakat dalam menggunakan uang sudah  meningkat. &amp;ldquo;Mereka tahu mana yang kebutuhan mendesak dan yang bisa  dibeli lain waktu. Jadi bukan daya beli masyarakat yang turun,&amp;rdquo;  tuturnya.

Menurutnya daya beli masyarakat masih besar. Upah minimum yang terus  meningkat membuat potensi daya beli naik serta inflasi yang lebih kecil  sehingga industri ritel masih punya peluang besar.

Solihin mengharapkan pemerintah dapat mendukung penambahan omzet  perusahaan ritel dengan cara penambahan gerai. Dia mengungkapkan,  bantuan kemudahan perizinan masih menjadi harapan sejak lama.

Meskipun kini sudah tersedia online single submission (OSS) atau  pelayanan terpadu satu pintu dari pemerintah pusat, kenyataannya di  daerah masih kurang implementasinya. Direktur Jenderal Perdagangan Dalam  Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Tjahja Widayanti mengatakan,  soal kewenangan perizinan yang dahulu dilimpahkan ke pemerintah daerah  menjadi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang  perizinan atau melalui OSS.

Dukungan Kemendag untuk ritel adalah dengan mengeluarkan Permendag  Nomor 77/2018. &amp;ldquo;Dalam permendag ini terdapat penyederhanaan dokumen  persyaratan perizinan bidang usaha toko swalayan dan pusat perbelanjaan  dari semula tujuh dokumen menjadi empat dokumen,&amp;rdquo; jelasnya.

Kementerian Perdagangan menurutnya ikut membantu pengembangan ritel  dengan menurunkan batasan luas lantai penjualan department store.Semula  ditetapkan minimal 400 meter persegi, kini diubah menjadi 200 meter  persegi.

Adapun bagi perkulakan semula memiliki batas minimal 5.000 meter  persegi, kini menjadi 2.000 meter persegi. Tjahja menilai hal ini  bertujuan memberikan banyak pilihan luas lantai penjualan bagi pelaku  usaha PMDN di Indonesia yang ingin membuka usaha di bidang toko swalayan  sesuai dengan kemampuan modalnya.

&amp;ldquo;Kami juga telah menginisiasi penyusunan Standar Kerja Kompetensi  Nasional Indonesia (SKKNI) di bidang ritel untuk mendukung kompetensi  SDM peritel sehingga ritel di Indonesia semakin berkualitas,&amp;rdquo; ungkapnya.

Dukungan pemerintah sudah dirasakan para peritel untuk membantu usaha  mereka. Namun tentu inovasi tetap harus dijalankan setiap perusahaan.  Salah satunya dengan masuk ke pasar online seperti yang dilakukan  Alfamart.
Bagi Alfamart, kunci untuk bertahan dan terus berkembang di bisnis   ritel adalah efisiensi, pelayanan yang terbaik, dan inovasi. Head of   Business Digital PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk, Viendra Primadia,   menjelaskan, Alfamart berusaha selalu berinovasi memenuhi kebutuhan   konsumennya.

Termasuk di saat dunia memasuki era industri 4.0 di mana teknologi   dan manusia sudah tidak bisa dipisahkan lagi. Hal ini tentu berdampak   mengubah tren cara belanja masyarakat. Sebagai bentuk inovasi dan   memperluas pasar di luar konsumen Alfamart, pada 2016 Alfaonline.com   berevolusi menjadi Alfacart.com.

&amp;ldquo;Ini brand baru dengan bentuk bisnis baru. Bentuk bisnis marketplace   dipilih dengan fokus pada produk nonkebutuhan sehari-hari seperti   gadget, elektronik, dan fashion,&amp;rdquo; papar Viendra.

Selain mengubah bentuk bisnis Alfacart.com, pada awal tahun 2018   Alfamart menempatkan Alfacart.com sebagai bagian dari 6 pilar Alfamart   Digital Business. Alfamart Digital Business ditetapkan sebagai payung   dari berbagai inovasi bisnis Alfamart di dunia digital.

Enam pilar tersebut terdiri atas Alfamikro, Alfamind, Alfapop,   Alfagift, Alfacart, Alfatrex. &amp;ldquo;Alfamart Digital Business membuktikan   bahwa kami lebih siap memasuki era industri 4.0 dengan kesadaran baru.   Tiga kunci keberhasilan di atas tidak lagi cukup untuk besar di bisnis   ritel online.

Dibutuhkan kolaborasi, sharing resource s, dan transparansi,&amp;rdquo; tutur   Viendra. Inovasi lainnya, Alfamart tidak lagi memenuhi kebutuhan end   user konsumen saja, tapi juga e-commerce lain untuk menjadi konsumen   Alfamart. Bahkan melalui Alfamikro, warung-warung tradisional kami   layani sebagai konsumen.

&amp;ldquo;Kami mengangkat mereka untuk lebih maju dengan memberikan pelatihan   manajemen ritel, upgrade cara pemenuhan barang modal secara digital   hingga bantuan permodalan yang bekerja sama dengan Toko Modal,&amp;rdquo;   tambahnya. (Ananda Nararya)</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Industri ritel kembali bergeliat dan siap bersaing dengan e-commerce. Pasar ritel yang sempat lesu pada 2016-2017 kini mulai berbenah dan siap mengembangkan bisnis ke berbagai daerah untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang tetap menyukai berbelanja offline.

Dewan Pembina Asosiasi Pengelola Pusat Belanja (APPBI) Handaka Santosa mengungkapkan, ritel masih memiliki banyak harapan berkembang lebih besar. Penutupan sejumlah gerai ritel di sejumlah mal merupakan salah satu strategi bisnis perusahaan.

Penutupan gerai ritel menurut Handaka sepenuhnya bukan merupakan faktor dari pelemahan industri. &amp;ldquo;Misalnya perusahaan punya 30 toko, 4 di antaranya merugi, pemilik melakukan suatu strategi. Maka diambil keputusan lebih baik 4 toko ditutup, khawatir merusak kestabilan toko yang lain,&amp;rdquo; ujar Handaka saat dihubungi.
Baca Juga: 11.11 dan 12.12 Buat Bisnis Online Makin Perkasa, Mal Pun Runtuh
Presiden Direktur Sogo Indonesia itu mengungkapkan, pasar ritel masih memiliki nilai besar di Indonesia. Namun kini tugas perusahaan mencari tempat terbaik yang dapat menarik pelanggan. &amp;ldquo;Selama masih ada perusahaan ritel yang membuka toko barunya, industri ini masih stabil. Misalnya Sogo Department Store yang siap hadir di Medan,&amp;rdquo; tandasnya.

Menurut Handaka, persaingan dengan belanja online secara keseluruhan di berbagai negara hanya sekitar 20% dari ritel. Di Amerika Serikat pasar belanja online hanya menguasai ritel sekitar 10%, sedangkan di Indonesia kurang dari 3%.

&amp;ldquo;Kuncinya tentu ada pada konsumen dan pasar ritel sangat memperhatikan kebutuhan pelanggan,&amp;rdquo; tandasnya. Bangkitnya ritel juga berasal dari lingkup internal perusahaan yang giat mengevaluasi kinerja dan cara menghadapi tantangan pasar.

Head of Corporate Communication Mitra Adi Perkasa (MAP) Fetty Kwartati mengungkapkan, selama tiga tahun terakhir MAP telah melakukan konsolidasi. MAP menambah jumlah stok brand yang menjadi favorit konsumen Indonesia, termasuk mengkaji toko mana saja yang tidak menguntungkan untuk ditutup.
&amp;nbsp;Baca Juga: Tommy Soeharto Bangkitkan Supermarket Goro di Cibubur
MAP juga melalukan perbaikan inventori manajemen, termasuk memperkuat sistem serta sumber daya manusia. &amp;ldquo;Hasilnya, pertumbuhan MAP tahun 2017 sebesar 18% dari asumsi awal tahun yang hanya sekitar 13- 14%.

Sebab dalam tiga tahun terakhir pertumbuhan ada di angka 8-9%. Ini pencapaian yang sangat baik, tahun ini kami makin optimistis,&amp;rdquo; tutur Fetty. Menurutnya, segmentasi pasar MAP memang masuk dalam kelas menengah ke atas sehingga aktivitas belanja online tidak terlalu menjadi ancaman.

Selain itu MAP memiliki base customer atau pelanggan loyal brand mereka. &amp;ldquo;Pelanggan tetap setia karena juga melihat kualitas serta tidak adanya kompetitor di jenis produk tertentu serta usaha kami memberi merchandising,&amp;rdquo; sambungnya.
&amp;nbsp;Baca Juga: Dunia Berubah, E-commerce Perkasa dan Ritel Berguguran
Meski kelas segmen menengah ke atas tidak berbelanja online,MAP telah siap mengantisipasi perkembangan pasar online di masa depan. MAP memiliki e- m all yang kontribusi penjualannya masih di bawah 1% untuk penjualan mereka. Bahkan beberapa brand MAP telah memiliki marketplace.
Pergeseran Pola Belanja

Sekjen Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Solihin menilai,  segmentasi dari jenis ritel memang mem buat perbedaan pandangan. Banyak  jenis ritel di kelas menengah bawah yang tumbang, antara lain di sektor  fashion dan elektronik. Faktor perdagangan online menjadi pemicunya.

&amp;ldquo;Produk-produk murah dan sejenis modelnya sudah banyak di toko online  sehingga masyarakat mencari yang lebih mudah. Begitu pun dengan  elektronik, daripada jauh dan repot bawa, lebih baik yang diantar  langsung ke rumah,&amp;rdquo; ujar Solihin.

Pola belanja masyarakat menurut Solihin kini cenderung telah  bergeser. Terlebih selektivitas masyarakat dalam menggunakan uang sudah  meningkat. &amp;ldquo;Mereka tahu mana yang kebutuhan mendesak dan yang bisa  dibeli lain waktu. Jadi bukan daya beli masyarakat yang turun,&amp;rdquo;  tuturnya.

Menurutnya daya beli masyarakat masih besar. Upah minimum yang terus  meningkat membuat potensi daya beli naik serta inflasi yang lebih kecil  sehingga industri ritel masih punya peluang besar.

Solihin mengharapkan pemerintah dapat mendukung penambahan omzet  perusahaan ritel dengan cara penambahan gerai. Dia mengungkapkan,  bantuan kemudahan perizinan masih menjadi harapan sejak lama.

Meskipun kini sudah tersedia online single submission (OSS) atau  pelayanan terpadu satu pintu dari pemerintah pusat, kenyataannya di  daerah masih kurang implementasinya. Direktur Jenderal Perdagangan Dalam  Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Tjahja Widayanti mengatakan,  soal kewenangan perizinan yang dahulu dilimpahkan ke pemerintah daerah  menjadi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang  perizinan atau melalui OSS.

Dukungan Kemendag untuk ritel adalah dengan mengeluarkan Permendag  Nomor 77/2018. &amp;ldquo;Dalam permendag ini terdapat penyederhanaan dokumen  persyaratan perizinan bidang usaha toko swalayan dan pusat perbelanjaan  dari semula tujuh dokumen menjadi empat dokumen,&amp;rdquo; jelasnya.

Kementerian Perdagangan menurutnya ikut membantu pengembangan ritel  dengan menurunkan batasan luas lantai penjualan department store.Semula  ditetapkan minimal 400 meter persegi, kini diubah menjadi 200 meter  persegi.

Adapun bagi perkulakan semula memiliki batas minimal 5.000 meter  persegi, kini menjadi 2.000 meter persegi. Tjahja menilai hal ini  bertujuan memberikan banyak pilihan luas lantai penjualan bagi pelaku  usaha PMDN di Indonesia yang ingin membuka usaha di bidang toko swalayan  sesuai dengan kemampuan modalnya.

&amp;ldquo;Kami juga telah menginisiasi penyusunan Standar Kerja Kompetensi  Nasional Indonesia (SKKNI) di bidang ritel untuk mendukung kompetensi  SDM peritel sehingga ritel di Indonesia semakin berkualitas,&amp;rdquo; ungkapnya.

Dukungan pemerintah sudah dirasakan para peritel untuk membantu usaha  mereka. Namun tentu inovasi tetap harus dijalankan setiap perusahaan.  Salah satunya dengan masuk ke pasar online seperti yang dilakukan  Alfamart.
Bagi Alfamart, kunci untuk bertahan dan terus berkembang di bisnis   ritel adalah efisiensi, pelayanan yang terbaik, dan inovasi. Head of   Business Digital PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk, Viendra Primadia,   menjelaskan, Alfamart berusaha selalu berinovasi memenuhi kebutuhan   konsumennya.

Termasuk di saat dunia memasuki era industri 4.0 di mana teknologi   dan manusia sudah tidak bisa dipisahkan lagi. Hal ini tentu berdampak   mengubah tren cara belanja masyarakat. Sebagai bentuk inovasi dan   memperluas pasar di luar konsumen Alfamart, pada 2016 Alfaonline.com   berevolusi menjadi Alfacart.com.

&amp;ldquo;Ini brand baru dengan bentuk bisnis baru. Bentuk bisnis marketplace   dipilih dengan fokus pada produk nonkebutuhan sehari-hari seperti   gadget, elektronik, dan fashion,&amp;rdquo; papar Viendra.

Selain mengubah bentuk bisnis Alfacart.com, pada awal tahun 2018   Alfamart menempatkan Alfacart.com sebagai bagian dari 6 pilar Alfamart   Digital Business. Alfamart Digital Business ditetapkan sebagai payung   dari berbagai inovasi bisnis Alfamart di dunia digital.

Enam pilar tersebut terdiri atas Alfamikro, Alfamind, Alfapop,   Alfagift, Alfacart, Alfatrex. &amp;ldquo;Alfamart Digital Business membuktikan   bahwa kami lebih siap memasuki era industri 4.0 dengan kesadaran baru.   Tiga kunci keberhasilan di atas tidak lagi cukup untuk besar di bisnis   ritel online.

Dibutuhkan kolaborasi, sharing resource s, dan transparansi,&amp;rdquo; tutur   Viendra. Inovasi lainnya, Alfamart tidak lagi memenuhi kebutuhan end   user konsumen saja, tapi juga e-commerce lain untuk menjadi konsumen   Alfamart. Bahkan melalui Alfamikro, warung-warung tradisional kami   layani sebagai konsumen.

&amp;ldquo;Kami mengangkat mereka untuk lebih maju dengan memberikan pelatihan   manajemen ritel, upgrade cara pemenuhan barang modal secara digital   hingga bantuan permodalan yang bekerja sama dengan Toko Modal,&amp;rdquo;   tambahnya. (Ananda Nararya)</content:encoded></item></channel></rss>
