<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Masyarakat RI Masih Suka Belanja di Toko</title><description>Ternyata untuk kalangan tertentu berbelanja langsung melalui ritel masih digemari.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/01/27/320/2009951/masyarakat-ri-masih-suka-belanja-di-toko</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/01/27/320/2009951/masyarakat-ri-masih-suka-belanja-di-toko"/><item><title>Masyarakat RI Masih Suka Belanja di Toko</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/01/27/320/2009951/masyarakat-ri-masih-suka-belanja-di-toko</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/01/27/320/2009951/masyarakat-ri-masih-suka-belanja-di-toko</guid><pubDate>Minggu 27 Januari 2019 13:09 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/01/27/320/2009951/masyarakat-ri-masih-suka-belanja-di-toko-B6juYTIvXj.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/01/27/320/2009951/masyarakat-ri-masih-suka-belanja-di-toko-B6juYTIvXj.jpg</image><title>Foto: Okezone</title></images><description>JAKARTA - Ternyata untuk kalangan tertentu berbelanja langsung melalui ritel masih digemari. Terlebih jika barang tersebut tergolong barang mewah. Hal tersebut disampaikan pengamat gaya hidup Amelia Masniari saat dihubungi.

Tergantung jenis produk yang dibeli menjadi acuan pola belanja masyarakat dikatakan berubah atau tidak. Amelia menilai, sekalipun generasi milenial masih banyak dari mereka yang mengunjungi ritel ternama untuk membeli kebutuhan fashion. Barang mewah masih belum banyak karena masih khawatir kualitas. Jasa titip pun dilakukan konsumen kepada para kerabat yang dikenalnya.

&quot;Budaya masyarakat Indonesia masih suka belanja ke toko terlebih brand terkenal karena karakternya senang dilihat dan senang jalan-jalan,&quot; ungkap wanita yang kerap disapa Miss Jinjing ini. Terlebih di era sekarang, semua dapat dilihat khalayak. Datang ke toko brand tertentu menjadi sebuah kebanggaan. &quot;Belum lagi bergaya lalu difoto OOTD (Outfit Of The Day),&quot; sambungnya.
&amp;nbsp;Baca Juga: Dunia Berubah, E-commerce Perkasa dan Ritel Berguguran
Amelia tetap yakin di Indonesia, walaupun online menjamur, tapi ritel akan tetap jalan. Walaupun penjualan berkurang, hal tersebut karena faktor dari konsumennya. Konsumen masa kini sudah mulai bisa mengontrol kebiasaan mereka berbelanja. &quot;Kalau dulu bisa sebulan sekali, sekarang tiga bulan sekali beli bajunya. Tapi, kalau mengunjungi toko bisa setiap minggu sekedar melihat harga atau model. Yang penting jalan-jalan, window shopping saja belinya nanti,&quot; jelasnya.

Amelia yang pernah berprofesi sebagai personal shopper ini mengaku minat pasar ini sudah jarang. Penyebabnya karena produk yang dahulu dicari di luar negeri sudah ada di Indonesia, kendala bea cukai juga membuat pembeli enggan menitip belanja.

Sementara itu, usaha kecil menengah (UKM) yang kini banyak berpindah ke online. Melihat berkembangnya marketplace di Tanah Air membuat para UKM melihat peluang besar untuk meningkatkan penjualan. Rasyid Sarwono, pakar marketing digital, menyebut semua jenis UKM sudah masuk online. Produk impor seperti barang-barang unik juga berguna yang kini sedang banyak tumbuh di pasar online.

Rasyid yang kerap membuatkan website untuk para UKM ini menilai UKM jika sudah masuk online harus lebih serius mengurus manajemen mereka. &quot;Karena pasar online besar bahkan bisa sampai luar negeri, UKM harus serius memiliki manajemen. Ada marketing-nya, tim media sosial sampai customer service. Biasanya yang lengkap akan lebih diminati konsumen,&quot; jelasnya.
&amp;nbsp;Baca Juga: Banyak Ritel Gulung Tikar, Menko Darmin: Ada E-Commerce
Persaingan di pasar online sangat ketat, tidak ada konsumen yang setia dengan satu toko atau brand. Satu hal lagi yang diperhatikan Rasyid ialah setiap toko online harus memiliki website meskipun mereka sudah punya media sosial aktif di marketplace. Alasannya dapat menunjukkan aktivitas pasar atau calon pembeli dapat diolah.

Rasyid menjelaskan, dalam istilah dunia marketing ada yang dinamakan traffic temperature low market, warm market, dan hot market. Konsumen yang tidak pernah beli dan mengunjungi website, konsumer yang tidak pernah membeli, tapi sering melihat website dan terakhir konsumen yang sering mengunjungi dan berbelanja.

&quot;Kalau konsumen membuka website, sekalipun tidak mengisi apa pun hanya sekedar melihat produk. Toko dapat terus mengedukasi agar konsumen selalu melihat toko online tersebut,&quot; ucapnya.
Pengembang website dapat membuat secara tidak diketahui konsumen akan  terus melihat iklan toko online tersebut saat dia membuka Facebook atau  Instagram. Hal tersebut dapat dilakukan sesuai permintaan, toko online  dapat juga meminta calon konsumen yang profilnya hampir sama dengan  konsumen yang baru saja mengunjungi website mereka.

Berjualan online pun dapat dilakukan untuk produk makanan. Tentu  tantangan produk ini lebih besar karena jika ada kendala dalam  pengiriman makanan bisa basi. Seperti Ajeng Aprilia yang meneruskan  bisnis sang ayah. Sejak 1985 menjual daging sapi hingga dua tahun  terakhir diambil alih oleh anak-anaknya.

Ajeng memilih untuk membantu memasarkan daging sapi secara online.  Bahkan kini dia berkreasi dengan membuat baso dan dimsum. Melalui akun  Instagram pribadinya @jeng.april, Ajeng menjajakan dagangan. &quot;Sebenernya  offline atau online itu pada akhirnya bukan sebuah pilihan, tapi kita  harus lebih fleksibel dalam mengikuti perkembangan zaman,&quot; ujarnya.

Rutin mengunggah foto daging, baso, dan dimsum juga tidak lupa  penyajian dalam bentuk berbagai jenis makanan. Bukan hanya itu, Ajeng  juga menggunakan jasa artis dan selebgram untuk mempromosikan  dagangannya.

Terakhir, Ajeng mengirim bakso untuk keluarga Raffi Ahmad. Tentu,  harga endorse artis papan atas seperti keluarga Raffi Ahmad tidak  sedikit. Enggan menyebut angkanya, namun dia mengaku nilai tersebut  hampir sama dengan saat sang ayah menyewa ruko beberapa tahun  silam.&quot;Jualan online seperti ini menyenangkan, meneruskan bisnis orang  tua dan tetap punya kehidupan saya sendiri. Saya bisa sambil mengurus  anak,&quot; ungkapnya. (Ananda Nararya)
</description><content:encoded>JAKARTA - Ternyata untuk kalangan tertentu berbelanja langsung melalui ritel masih digemari. Terlebih jika barang tersebut tergolong barang mewah. Hal tersebut disampaikan pengamat gaya hidup Amelia Masniari saat dihubungi.

Tergantung jenis produk yang dibeli menjadi acuan pola belanja masyarakat dikatakan berubah atau tidak. Amelia menilai, sekalipun generasi milenial masih banyak dari mereka yang mengunjungi ritel ternama untuk membeli kebutuhan fashion. Barang mewah masih belum banyak karena masih khawatir kualitas. Jasa titip pun dilakukan konsumen kepada para kerabat yang dikenalnya.

&quot;Budaya masyarakat Indonesia masih suka belanja ke toko terlebih brand terkenal karena karakternya senang dilihat dan senang jalan-jalan,&quot; ungkap wanita yang kerap disapa Miss Jinjing ini. Terlebih di era sekarang, semua dapat dilihat khalayak. Datang ke toko brand tertentu menjadi sebuah kebanggaan. &quot;Belum lagi bergaya lalu difoto OOTD (Outfit Of The Day),&quot; sambungnya.
&amp;nbsp;Baca Juga: Dunia Berubah, E-commerce Perkasa dan Ritel Berguguran
Amelia tetap yakin di Indonesia, walaupun online menjamur, tapi ritel akan tetap jalan. Walaupun penjualan berkurang, hal tersebut karena faktor dari konsumennya. Konsumen masa kini sudah mulai bisa mengontrol kebiasaan mereka berbelanja. &quot;Kalau dulu bisa sebulan sekali, sekarang tiga bulan sekali beli bajunya. Tapi, kalau mengunjungi toko bisa setiap minggu sekedar melihat harga atau model. Yang penting jalan-jalan, window shopping saja belinya nanti,&quot; jelasnya.

Amelia yang pernah berprofesi sebagai personal shopper ini mengaku minat pasar ini sudah jarang. Penyebabnya karena produk yang dahulu dicari di luar negeri sudah ada di Indonesia, kendala bea cukai juga membuat pembeli enggan menitip belanja.

Sementara itu, usaha kecil menengah (UKM) yang kini banyak berpindah ke online. Melihat berkembangnya marketplace di Tanah Air membuat para UKM melihat peluang besar untuk meningkatkan penjualan. Rasyid Sarwono, pakar marketing digital, menyebut semua jenis UKM sudah masuk online. Produk impor seperti barang-barang unik juga berguna yang kini sedang banyak tumbuh di pasar online.

Rasyid yang kerap membuatkan website untuk para UKM ini menilai UKM jika sudah masuk online harus lebih serius mengurus manajemen mereka. &quot;Karena pasar online besar bahkan bisa sampai luar negeri, UKM harus serius memiliki manajemen. Ada marketing-nya, tim media sosial sampai customer service. Biasanya yang lengkap akan lebih diminati konsumen,&quot; jelasnya.
&amp;nbsp;Baca Juga: Banyak Ritel Gulung Tikar, Menko Darmin: Ada E-Commerce
Persaingan di pasar online sangat ketat, tidak ada konsumen yang setia dengan satu toko atau brand. Satu hal lagi yang diperhatikan Rasyid ialah setiap toko online harus memiliki website meskipun mereka sudah punya media sosial aktif di marketplace. Alasannya dapat menunjukkan aktivitas pasar atau calon pembeli dapat diolah.

Rasyid menjelaskan, dalam istilah dunia marketing ada yang dinamakan traffic temperature low market, warm market, dan hot market. Konsumen yang tidak pernah beli dan mengunjungi website, konsumer yang tidak pernah membeli, tapi sering melihat website dan terakhir konsumen yang sering mengunjungi dan berbelanja.

&quot;Kalau konsumen membuka website, sekalipun tidak mengisi apa pun hanya sekedar melihat produk. Toko dapat terus mengedukasi agar konsumen selalu melihat toko online tersebut,&quot; ucapnya.
Pengembang website dapat membuat secara tidak diketahui konsumen akan  terus melihat iklan toko online tersebut saat dia membuka Facebook atau  Instagram. Hal tersebut dapat dilakukan sesuai permintaan, toko online  dapat juga meminta calon konsumen yang profilnya hampir sama dengan  konsumen yang baru saja mengunjungi website mereka.

Berjualan online pun dapat dilakukan untuk produk makanan. Tentu  tantangan produk ini lebih besar karena jika ada kendala dalam  pengiriman makanan bisa basi. Seperti Ajeng Aprilia yang meneruskan  bisnis sang ayah. Sejak 1985 menjual daging sapi hingga dua tahun  terakhir diambil alih oleh anak-anaknya.

Ajeng memilih untuk membantu memasarkan daging sapi secara online.  Bahkan kini dia berkreasi dengan membuat baso dan dimsum. Melalui akun  Instagram pribadinya @jeng.april, Ajeng menjajakan dagangan. &quot;Sebenernya  offline atau online itu pada akhirnya bukan sebuah pilihan, tapi kita  harus lebih fleksibel dalam mengikuti perkembangan zaman,&quot; ujarnya.

Rutin mengunggah foto daging, baso, dan dimsum juga tidak lupa  penyajian dalam bentuk berbagai jenis makanan. Bukan hanya itu, Ajeng  juga menggunakan jasa artis dan selebgram untuk mempromosikan  dagangannya.

Terakhir, Ajeng mengirim bakso untuk keluarga Raffi Ahmad. Tentu,  harga endorse artis papan atas seperti keluarga Raffi Ahmad tidak  sedikit. Enggan menyebut angkanya, namun dia mengaku nilai tersebut  hampir sama dengan saat sang ayah menyewa ruko beberapa tahun  silam.&quot;Jualan online seperti ini menyenangkan, meneruskan bisnis orang  tua dan tetap punya kehidupan saya sendiri. Saya bisa sambil mengurus  anak,&quot; ungkapnya. (Ananda Nararya)
</content:encoded></item></channel></rss>
