<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Integrasi Transportasi Jabodetabek Butuh Rp600 Triliun</title><description>Upaya membangun transportasi yang terintegrasi antarmoda di kawasan Jabodetabek bukanlah  perkara mudah.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/01/29/320/2010793/integrasi-transportasi-jabodetabek-butuh-rp600-triliun</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/01/29/320/2010793/integrasi-transportasi-jabodetabek-butuh-rp600-triliun"/><item><title>Integrasi Transportasi Jabodetabek Butuh Rp600 Triliun</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/01/29/320/2010793/integrasi-transportasi-jabodetabek-butuh-rp600-triliun</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/01/29/320/2010793/integrasi-transportasi-jabodetabek-butuh-rp600-triliun</guid><pubDate>Selasa 29 Januari 2019 12:24 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/01/29/320/2010793/integrasi-transportasi-jabodetabek-butuh-rp600-triliun-OEmlOpu46P.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Wakil Presiden Jusuf Kalla (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/01/29/320/2010793/integrasi-transportasi-jabodetabek-butuh-rp600-triliun-OEmlOpu46P.jpg</image><title>Wakil Presiden Jusuf Kalla (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Upaya membangun transportasi yang terintegrasi antarmoda di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) bukanlah perkara mudah.
Untuk mewujudkan ambisi tersebut, pemerintah membutuhkan waktu 10 tahun. Anggarannya pun tidak kecil, yakni Rp600 triliun. Perkiraan waktu dan besaran anggaran ini disampaikan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) seusai memimpin rapat koor dinasi integrasi transportasi antarmoda Jabodetabek. Rapat yang digelar di Istana Wapres, Jakarta, kemarin, juga melibatkan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Gubernur Banten Wahidin Halim, Wakil Gubernur Jabar Uu Ruzhanul Ulum, dan seluruh bupati/wali kota di kawasan Jabodetabek. Rapat digelar menindak lanjuti instruksi Presiden Joko Widodo (Jokowi) beberapa waktu lalu untuk mencari solusi kemacetan yang mendera Jakarta dan sekitarnya.
Baca Juga: KRL, MRT hingga LRT Akan Diatur Badan Otoritas Transportasi Jabodetabek
 
Jokowi memprihatinkan kemacetan karena berdasarkan data Bappenas, kemacetan menimbulkan kerugian Rp65 triliun per tahun. Rapat juga mematangkan rencana membentuk badan pengelola transportasi baru di wilayah Jabodetabek. Badan ini akan menjadi wadah koordinasi para kepala daerah di wilayah tersebut. Menurut JK, ada beberapa sumber anggaran yang bisa dimanfaatkan untuk membangun infrastruktur transportasi. Beberapa sumber anggaran itu, misalnya APBN, APBD, ataupun dalam bentuk investasi yang digelontorkan oleh pihak swasta.
&amp;ldquo;Dana tersebut (Rp600 triliun) dibutuhkan untuk periode pembangunan hingga 10 tahun ke depan. Pembangunan atau perbaikan tersebut diperlukan agar para pengguna kendaraan pribadi mau beralih naik kendaraan umum,&amp;rdquo; ujar JK kepada wartawan. Berdasarkan data yang diperoleh Wapres, jumlah penumpang kendaraan umum di Jabodetabek turun dari 49% menjadi 19%. Sebelumnya, pemandangan orang masih mungkin bergelantungan di bus-bus yang tua yang beroperasi dari kota-kota satelit menuju Ibu Kota sebagai hal biasa.

&amp;ldquo;Sekarang semua (penumpang angkutan umum) turun, karena begitu banyaknya mobil pribadi. Jalan-jalan dan jembatan makin baik, (harga) mobil pribadi makin murah maka orang cenderung memakai mobil pribadi. sekarang kita mesti balik kembali, lebih banyak yang memakai angkutan umum. Namun, harus dalam kualitas yang lebih baik,&amp;rdquo; imbuhnya. Untuk mengatasi persoalan tersebut, dia mengakui pemerintah tidak memaksa penduduk untuk memarkir kendaraan pribadi dan beralih ke angkutan umum. Karena itu salah satu cara yakni dengan menyediakan moda transportasi yang nyaman dan berkualitas dan menerapkan kebijakan pendukung. &amp;ldquo;Ada juga cara misalnya biaya parkir dimahalkan. Nanti ada ERP (electronic road pricing ) juga,&amp;rdquo; ucap JK.Lebih jauh dia menjelaskan, pengintegrasian harus dimulai dengan  pembuatan rencana tata ruang wilayah (RTRW) oleh masing-masing  pemerintah daerah (pemda) terkait. Dia pun meminta kepala daerah untuk  segera menyampaikan perkembangan penyusunan RTRW dalam waktu seminggu ke  depan. &amp;ldquo;Seminggu lapor sama saya. Sebulan lapor lagi. Biar prinsip  pokoknya dulu, bagaimana nyambungnya tata ruang. Khususnya DKI  sebenarnya karena DKI yang paling besar,&amp;rdquo; tuturnya. JK juga membebernya  rencana pembentukan otoritas transportasi baru. Menurut dia, dalam  otoritas itu para gubernur dan kepala daerah akan dilibatkan.
Menurut JK, sebenarnya saat ini sudah ada Badan Pengelola  Transportasi Jabodetabek (BPTJ) yang mengelola transportasi di  Jabodetabek. Namun, dia menginginkan adanya koordinasi langsung  antardaerah. &amp;ldquo;Tetapi kami ingin membuat koordinasi langsung dengan  moda-moda itu. Misalnya bagaimana menyambungkan antara Jakarta dan  Bekasi, lalu dengan Tangerang. Kemudian bagaimana Jakarta ini orang  mendorong untuk memakai kendaraan umum,&amp;rdquo; ujar JK.
Baca Juga: Deretan Metode Transportasi Canggih Masa Depan, dari Mobil Terbang hingga Jetpack
Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengatakan, terkait  pembentukan badan otorita baru akan dilihat urgensinya. Pasalnya,  integrasi ini bukan hanya terkait persoalan transportasi semata. Ada  hal-hal yang lebih makro yang perlu juga ditangani. &amp;ldquo;Bahwa transportasi  itu tidak bisa dilepaskan dengan pengaturan tata guna. Dalam hal ini  mendistribusikan jumlah penduduk, mengatur konsentrasi penduduk,  mengatur teknis berkaitan dengan insentif, pendapatan yang diperoleh  pemda dan sebagainya. Ini idenya adalah menyatukan antara transportasi  dan tata guna lahan yang akan diterjemahkan dalam RTRW. Itu isu  besarnya,&amp;rdquo; ucap Budi.
Kepala BPTJ Bambang Prihantoro mengatakan, rencana pembentukan badan  ini muncul dari keinginan pemerintah mengintegrasikan moda transportasi  sekaligus mengelola infrastruktur kota, seperti permukiman dan air  bersih. Lantaran luasnya fungsi dan wilayah, muncullah ide tersebut  dalam rapat koordinasi pengelolaan transportasi di Jabodetabek. &amp;ldquo;Mereka  belajar dari New York. Di Singapura ada LTA (Land Transport Au toriza  tion),&amp;rdquo; katanya. Kemarin pagi JK sempat melakukan peninjauan ke sejumlah  titik kemacetan lalu lintas se-Jabodetabek dari udara.
Untuk itu, dia mengajak Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati,  Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Menteri  Perhubungan Budi Karya Sumadi, dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.
(Dita Angga)</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Upaya membangun transportasi yang terintegrasi antarmoda di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) bukanlah perkara mudah.
Untuk mewujudkan ambisi tersebut, pemerintah membutuhkan waktu 10 tahun. Anggarannya pun tidak kecil, yakni Rp600 triliun. Perkiraan waktu dan besaran anggaran ini disampaikan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) seusai memimpin rapat koor dinasi integrasi transportasi antarmoda Jabodetabek. Rapat yang digelar di Istana Wapres, Jakarta, kemarin, juga melibatkan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Gubernur Banten Wahidin Halim, Wakil Gubernur Jabar Uu Ruzhanul Ulum, dan seluruh bupati/wali kota di kawasan Jabodetabek. Rapat digelar menindak lanjuti instruksi Presiden Joko Widodo (Jokowi) beberapa waktu lalu untuk mencari solusi kemacetan yang mendera Jakarta dan sekitarnya.
Baca Juga: KRL, MRT hingga LRT Akan Diatur Badan Otoritas Transportasi Jabodetabek
 
Jokowi memprihatinkan kemacetan karena berdasarkan data Bappenas, kemacetan menimbulkan kerugian Rp65 triliun per tahun. Rapat juga mematangkan rencana membentuk badan pengelola transportasi baru di wilayah Jabodetabek. Badan ini akan menjadi wadah koordinasi para kepala daerah di wilayah tersebut. Menurut JK, ada beberapa sumber anggaran yang bisa dimanfaatkan untuk membangun infrastruktur transportasi. Beberapa sumber anggaran itu, misalnya APBN, APBD, ataupun dalam bentuk investasi yang digelontorkan oleh pihak swasta.
&amp;ldquo;Dana tersebut (Rp600 triliun) dibutuhkan untuk periode pembangunan hingga 10 tahun ke depan. Pembangunan atau perbaikan tersebut diperlukan agar para pengguna kendaraan pribadi mau beralih naik kendaraan umum,&amp;rdquo; ujar JK kepada wartawan. Berdasarkan data yang diperoleh Wapres, jumlah penumpang kendaraan umum di Jabodetabek turun dari 49% menjadi 19%. Sebelumnya, pemandangan orang masih mungkin bergelantungan di bus-bus yang tua yang beroperasi dari kota-kota satelit menuju Ibu Kota sebagai hal biasa.

&amp;ldquo;Sekarang semua (penumpang angkutan umum) turun, karena begitu banyaknya mobil pribadi. Jalan-jalan dan jembatan makin baik, (harga) mobil pribadi makin murah maka orang cenderung memakai mobil pribadi. sekarang kita mesti balik kembali, lebih banyak yang memakai angkutan umum. Namun, harus dalam kualitas yang lebih baik,&amp;rdquo; imbuhnya. Untuk mengatasi persoalan tersebut, dia mengakui pemerintah tidak memaksa penduduk untuk memarkir kendaraan pribadi dan beralih ke angkutan umum. Karena itu salah satu cara yakni dengan menyediakan moda transportasi yang nyaman dan berkualitas dan menerapkan kebijakan pendukung. &amp;ldquo;Ada juga cara misalnya biaya parkir dimahalkan. Nanti ada ERP (electronic road pricing ) juga,&amp;rdquo; ucap JK.Lebih jauh dia menjelaskan, pengintegrasian harus dimulai dengan  pembuatan rencana tata ruang wilayah (RTRW) oleh masing-masing  pemerintah daerah (pemda) terkait. Dia pun meminta kepala daerah untuk  segera menyampaikan perkembangan penyusunan RTRW dalam waktu seminggu ke  depan. &amp;ldquo;Seminggu lapor sama saya. Sebulan lapor lagi. Biar prinsip  pokoknya dulu, bagaimana nyambungnya tata ruang. Khususnya DKI  sebenarnya karena DKI yang paling besar,&amp;rdquo; tuturnya. JK juga membebernya  rencana pembentukan otoritas transportasi baru. Menurut dia, dalam  otoritas itu para gubernur dan kepala daerah akan dilibatkan.
Menurut JK, sebenarnya saat ini sudah ada Badan Pengelola  Transportasi Jabodetabek (BPTJ) yang mengelola transportasi di  Jabodetabek. Namun, dia menginginkan adanya koordinasi langsung  antardaerah. &amp;ldquo;Tetapi kami ingin membuat koordinasi langsung dengan  moda-moda itu. Misalnya bagaimana menyambungkan antara Jakarta dan  Bekasi, lalu dengan Tangerang. Kemudian bagaimana Jakarta ini orang  mendorong untuk memakai kendaraan umum,&amp;rdquo; ujar JK.
Baca Juga: Deretan Metode Transportasi Canggih Masa Depan, dari Mobil Terbang hingga Jetpack
Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengatakan, terkait  pembentukan badan otorita baru akan dilihat urgensinya. Pasalnya,  integrasi ini bukan hanya terkait persoalan transportasi semata. Ada  hal-hal yang lebih makro yang perlu juga ditangani. &amp;ldquo;Bahwa transportasi  itu tidak bisa dilepaskan dengan pengaturan tata guna. Dalam hal ini  mendistribusikan jumlah penduduk, mengatur konsentrasi penduduk,  mengatur teknis berkaitan dengan insentif, pendapatan yang diperoleh  pemda dan sebagainya. Ini idenya adalah menyatukan antara transportasi  dan tata guna lahan yang akan diterjemahkan dalam RTRW. Itu isu  besarnya,&amp;rdquo; ucap Budi.
Kepala BPTJ Bambang Prihantoro mengatakan, rencana pembentukan badan  ini muncul dari keinginan pemerintah mengintegrasikan moda transportasi  sekaligus mengelola infrastruktur kota, seperti permukiman dan air  bersih. Lantaran luasnya fungsi dan wilayah, muncullah ide tersebut  dalam rapat koordinasi pengelolaan transportasi di Jabodetabek. &amp;ldquo;Mereka  belajar dari New York. Di Singapura ada LTA (Land Transport Au toriza  tion),&amp;rdquo; katanya. Kemarin pagi JK sempat melakukan peninjauan ke sejumlah  titik kemacetan lalu lintas se-Jabodetabek dari udara.
Untuk itu, dia mengajak Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati,  Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Menteri  Perhubungan Budi Karya Sumadi, dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.
(Dita Angga)</content:encoded></item></channel></rss>
