<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Dulu Diolok-olok, Kini Tol Laut Buktikan Mampu Turunkan Harga</title><description>Dulu Tol Laut adalah program yang menjadi olok-olok karena dinilai tidak akan berhasil menekan disparitas harga bahan pokok</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/02/04/320/2013599/dulu-diolok-olok-kini-tol-laut-buktikan-mampu-turunkan-harga</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/02/04/320/2013599/dulu-diolok-olok-kini-tol-laut-buktikan-mampu-turunkan-harga"/><item><title>Dulu Diolok-olok, Kini Tol Laut Buktikan Mampu Turunkan Harga</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/02/04/320/2013599/dulu-diolok-olok-kini-tol-laut-buktikan-mampu-turunkan-harga</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/02/04/320/2013599/dulu-diolok-olok-kini-tol-laut-buktikan-mampu-turunkan-harga</guid><pubDate>Senin 04 Februari 2019 15:22 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/02/04/320/2013599/dulu-diolok-olok-kini-tol-laut-buktikan-mampu-turunkan-harga-kDcCouDoCW.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi Tol Laut (Foto: Kemenhub)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/02/04/320/2013599/dulu-diolok-olok-kini-tol-laut-buktikan-mampu-turunkan-harga-kDcCouDoCW.jpg</image><title>Ilustrasi Tol Laut (Foto: Kemenhub)</title></images><description>JAKARTA - Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menilai dulu Tol Laut adalah program yang menjadi olok-olok karena dinilai tidak akan berhasil menekan disparitas harga bahan pokok di wilayah Indonesia Timur.
&quot;Ini program Tol Laut semula semua orang sangat skeptis, banyak yang menjadikan olok-olok, tapi Pak Jokowi dengan tegas melanjutkan,&quot; kata Enggartiasto dalam seminar nasional bertajuk &quot;Melanjutkan Konektivitas Membuka Jalur Logistik dan Menekan Disparitas Harga&quot; di KM Dorolonda, Pelabuhan Tanjung Perak, dikutip dari Antara News, Surabaya, Senin (4/2/2019).
Dia mengatakan untuk menekan disparitas harga yang perlu dibangun adalah infrastrukturnya terlebih dahulu, salah satunya dengan Tol Laut.
&quot;Ini harga yang harus kita bayar. Kita kapan mau bangun Indonesia Timur selama infrastruktur tidak terbangun,&quot; katanya.
Baca Juga: Menhub-Mendag Tandatangani Deklarasi KM Dorolonda soal Tol Laut
Apabila disparitas masih ada di antara Indonesia Barat dan Timur, menurut Enggar, artinya keadilan belum terwujud.
&quot;Maluku di Papua belum sama, disparitas masih ada, ini menunjukkan tidak ada keadilan,&quot; katanya.
Enggartiasto mengaku masih adanya egosektoral dalam implementasi tol laut, untuk itu diperlukan koordinasi, terutama terkait bongkar muat dan informasi akurat mengenai kebutuhan serta potensi di suatu daerah.

&quot;Bukan masalah terjadi di Pelindo tapi di bongkar muat kita akan segera menyesuaikan pekerjaan rumah kita dengan kementerian terkait kapan di sana  panen kapan daerah di sini membutuhkan,&quot; katanya.
Dalam kesempatan sama, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyebutkan harga bahan pokok di wilayah Indonesia Timur rata-rata sudah turun 15-20%.
Dia menyebutkan tahun ini juga akan ditambah 100 kapal untuk tol laut yang diberikan 50 kapal untuk BUMN dan 50 kapal untuk swasta.
Baca Juga: Kemenhub Dorong Swasta Investasi di Program Tol Laut
&quot;Ditambah subsidi angkutan kita 'all out' bukan hanya subsidi, angkutan kapalnya pun kita siapkan. Di pulau-pulau, seperti Morotai sudah minta kapal bergerak dari Barat ke Timur,&quot; katanya.
Dia menambahkan tol laut juga berpotensi untuk merebut pasar kargo udara karena saat inu harganya bersaing.
&quot;Jakarta ke Bitung kalau hari itu laku, kalau dua  minggu sulit bersaing. Sekarang muatan tol laut 80%, kalau muatannya baliknya 80% juga Pak Enggar, kita enggak perlu subsidi,&quot; katanya.</description><content:encoded>JAKARTA - Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menilai dulu Tol Laut adalah program yang menjadi olok-olok karena dinilai tidak akan berhasil menekan disparitas harga bahan pokok di wilayah Indonesia Timur.
&quot;Ini program Tol Laut semula semua orang sangat skeptis, banyak yang menjadikan olok-olok, tapi Pak Jokowi dengan tegas melanjutkan,&quot; kata Enggartiasto dalam seminar nasional bertajuk &quot;Melanjutkan Konektivitas Membuka Jalur Logistik dan Menekan Disparitas Harga&quot; di KM Dorolonda, Pelabuhan Tanjung Perak, dikutip dari Antara News, Surabaya, Senin (4/2/2019).
Dia mengatakan untuk menekan disparitas harga yang perlu dibangun adalah infrastrukturnya terlebih dahulu, salah satunya dengan Tol Laut.
&quot;Ini harga yang harus kita bayar. Kita kapan mau bangun Indonesia Timur selama infrastruktur tidak terbangun,&quot; katanya.
Baca Juga: Menhub-Mendag Tandatangani Deklarasi KM Dorolonda soal Tol Laut
Apabila disparitas masih ada di antara Indonesia Barat dan Timur, menurut Enggar, artinya keadilan belum terwujud.
&quot;Maluku di Papua belum sama, disparitas masih ada, ini menunjukkan tidak ada keadilan,&quot; katanya.
Enggartiasto mengaku masih adanya egosektoral dalam implementasi tol laut, untuk itu diperlukan koordinasi, terutama terkait bongkar muat dan informasi akurat mengenai kebutuhan serta potensi di suatu daerah.

&quot;Bukan masalah terjadi di Pelindo tapi di bongkar muat kita akan segera menyesuaikan pekerjaan rumah kita dengan kementerian terkait kapan di sana  panen kapan daerah di sini membutuhkan,&quot; katanya.
Dalam kesempatan sama, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyebutkan harga bahan pokok di wilayah Indonesia Timur rata-rata sudah turun 15-20%.
Dia menyebutkan tahun ini juga akan ditambah 100 kapal untuk tol laut yang diberikan 50 kapal untuk BUMN dan 50 kapal untuk swasta.
Baca Juga: Kemenhub Dorong Swasta Investasi di Program Tol Laut
&quot;Ditambah subsidi angkutan kita 'all out' bukan hanya subsidi, angkutan kapalnya pun kita siapkan. Di pulau-pulau, seperti Morotai sudah minta kapal bergerak dari Barat ke Timur,&quot; katanya.
Dia menambahkan tol laut juga berpotensi untuk merebut pasar kargo udara karena saat inu harganya bersaing.
&quot;Jakarta ke Bitung kalau hari itu laku, kalau dua  minggu sulit bersaing. Sekarang muatan tol laut 80%, kalau muatannya baliknya 80% juga Pak Enggar, kita enggak perlu subsidi,&quot; katanya.</content:encoded></item></channel></rss>
