<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Konsumsi Rumah Tangga Jadi Pendorong Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,17%</title><description>Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia di  2018 tumbuh 5,17%. Angka ini tertinggi sejak tahun 2014 lalu.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/02/06/20/2014321/konsumsi-rumah-tangga-jadi-pendorong-ekonomi-indonesia-tumbuh-5-17</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/02/06/20/2014321/konsumsi-rumah-tangga-jadi-pendorong-ekonomi-indonesia-tumbuh-5-17"/><item><title>Konsumsi Rumah Tangga Jadi Pendorong Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,17%</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/02/06/20/2014321/konsumsi-rumah-tangga-jadi-pendorong-ekonomi-indonesia-tumbuh-5-17</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/02/06/20/2014321/konsumsi-rumah-tangga-jadi-pendorong-ekonomi-indonesia-tumbuh-5-17</guid><pubDate>Rabu 06 Februari 2019 12:59 WIB</pubDate><dc:creator>Giri Hartomo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/02/06/20/2014321/konsumsi-rumah-tangga-jadi-pendorong-ekonomi-indonesia-tumbuh-5-17-1Y0Hjuc7ly.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Shutterstock</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/02/06/20/2014321/konsumsi-rumah-tangga-jadi-pendorong-ekonomi-indonesia-tumbuh-5-17-1Y0Hjuc7ly.jpg</image><title>Ilustrasi: Shutterstock</title></images><description>JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2018 tumbuh 5,17%. Angka ini tertinggi sejak tahun 2014 lalu.
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, sumber pertumbuhan ekonomi tertinggi Indonesia di 2018 yakni konsumsi rumah tangga yakni sebesar 2,74%. Konsumsi rumah tangga sendiri meningkat sebesar 5,08% lebih tinggi dibandingkan triwulan III-2018 yang tumbuh 5,00%.
&quot;Pertumbuhan ekonomi yang menjadi penunjang tertinggi memang konsumsi rumah tangga,&quot; ujarnya dalam acara konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Rabu (6/2/2019).
Adapun pendorong pertumbuhan konsumsi rumah tangga antara lain dipengaruhi penjualan eceran yang tumbuh 4,74% dan penjualan wholeshale sepeda motor dan mobil yang tumbuh masing-masing 7,44% dan 5,42%.
Baca Juga: Ekonomi RI 2018 Tumbuh 5,17%, Meleset dari Target APBN 5,4%
 
Selain itu, ada peningkatan nilai transaksi  uang elektronik, kartu debit  yang tumbuh 13,77%. Ini lebih tinggi dibandingkan triwulan IV-2017 yang hanya tumbuh 9,06%.
&quot;Penjualan mobil sampai ke tingkat dieler mencapai 294.657 unit di triwulan IV. Penjualan sepeda motor bagus naik sebesar 7,44% atau sebesar 1.660.866 unit,&quot; jelasnya.
Sementara itu, konsumsi makanan dan minuman selain restoran tercatat tumbuh melambat pada 2018 sebesar 4,81% dibandingkan kuartal III-2018 5,22% dan periode yang sama tahun lalu 5,36%. Sektor kesehatan juga melambat hanya tumbuh 4,82% di 2018 atau 5,36% di kuartal III-2018 dan periode yang sama tahun lalu 5,52%.
Meski demikian, sektor transportasi dan komunikasi tumbuh apik 6,14% di 2018 atau 5,40% di kuartal III-2018 dan 5,04% periode yang sama tahun lalu.

&quot;Makanan dan minuman selain restoran sekarang tumbuh melambat jadi 4,81%,&quot; jelas Kecuk.
Sementara, dari sisi investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh melambat 6,01% atau berkontribusi 2,17% terhadap perekonomian 2018. Kemudian konsumsi pemerintah tumbuh 4,56% atau berkontribusi 0,38% terhadap perekonomian di 2018 .
Di sisi lain, kinerja ekspor tumbuh melambat 4,33% selama  2018 atau berkontribusi 0,99% pada perekonomian. Namun masih kalah dari pertumbuhan impor yang sebesar 7,10%.
&quot;Tentunya ini masih menjadi PR pemerintah karena akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi,&quot; kaya Kecil</description><content:encoded>JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2018 tumbuh 5,17%. Angka ini tertinggi sejak tahun 2014 lalu.
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, sumber pertumbuhan ekonomi tertinggi Indonesia di 2018 yakni konsumsi rumah tangga yakni sebesar 2,74%. Konsumsi rumah tangga sendiri meningkat sebesar 5,08% lebih tinggi dibandingkan triwulan III-2018 yang tumbuh 5,00%.
&quot;Pertumbuhan ekonomi yang menjadi penunjang tertinggi memang konsumsi rumah tangga,&quot; ujarnya dalam acara konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Rabu (6/2/2019).
Adapun pendorong pertumbuhan konsumsi rumah tangga antara lain dipengaruhi penjualan eceran yang tumbuh 4,74% dan penjualan wholeshale sepeda motor dan mobil yang tumbuh masing-masing 7,44% dan 5,42%.
Baca Juga: Ekonomi RI 2018 Tumbuh 5,17%, Meleset dari Target APBN 5,4%
 
Selain itu, ada peningkatan nilai transaksi  uang elektronik, kartu debit  yang tumbuh 13,77%. Ini lebih tinggi dibandingkan triwulan IV-2017 yang hanya tumbuh 9,06%.
&quot;Penjualan mobil sampai ke tingkat dieler mencapai 294.657 unit di triwulan IV. Penjualan sepeda motor bagus naik sebesar 7,44% atau sebesar 1.660.866 unit,&quot; jelasnya.
Sementara itu, konsumsi makanan dan minuman selain restoran tercatat tumbuh melambat pada 2018 sebesar 4,81% dibandingkan kuartal III-2018 5,22% dan periode yang sama tahun lalu 5,36%. Sektor kesehatan juga melambat hanya tumbuh 4,82% di 2018 atau 5,36% di kuartal III-2018 dan periode yang sama tahun lalu 5,52%.
Meski demikian, sektor transportasi dan komunikasi tumbuh apik 6,14% di 2018 atau 5,40% di kuartal III-2018 dan 5,04% periode yang sama tahun lalu.

&quot;Makanan dan minuman selain restoran sekarang tumbuh melambat jadi 4,81%,&quot; jelas Kecuk.
Sementara, dari sisi investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh melambat 6,01% atau berkontribusi 2,17% terhadap perekonomian 2018. Kemudian konsumsi pemerintah tumbuh 4,56% atau berkontribusi 0,38% terhadap perekonomian di 2018 .
Di sisi lain, kinerja ekspor tumbuh melambat 4,33% selama  2018 atau berkontribusi 0,99% pada perekonomian. Namun masih kalah dari pertumbuhan impor yang sebesar 7,10%.
&quot;Tentunya ini masih menjadi PR pemerintah karena akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi,&quot; kaya Kecil</content:encoded></item></channel></rss>
