<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>RI Sibuk Kejar Industri 4.0, Jepang Masuki Era Society 5.0</title><description>Ketika Indonesia sibuk mengejar revolusi industri 4.0, Jepang lebih maju satu langkah</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/02/08/320/2015152/ri-sibuk-kejar-industri-4-0-jepang-masuki-era-society-5-0</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/02/08/320/2015152/ri-sibuk-kejar-industri-4-0-jepang-masuki-era-society-5-0"/><item><title>RI Sibuk Kejar Industri 4.0, Jepang Masuki Era Society 5.0</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/02/08/320/2015152/ri-sibuk-kejar-industri-4-0-jepang-masuki-era-society-5-0</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/02/08/320/2015152/ri-sibuk-kejar-industri-4-0-jepang-masuki-era-society-5-0</guid><pubDate>Jum'at 08 Februari 2019 08:43 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/02/08/320/2015152/ri-sibuk-kejar-industri-4-0-jepang-masuki-era-society-5-0-kZgGONQIEo.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Foto Koran Sindo</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/02/08/320/2015152/ri-sibuk-kejar-industri-4-0-jepang-masuki-era-society-5-0-kZgGONQIEo.jpg</image><title>Ilustrasi: Foto Koran Sindo</title></images><description>JAKARTA - Ketika Indonesia sibuk mengejar revolusi industri 4.0, Jepang lebih maju satu langkah dengan kesiapan mereka menerapkan Society 5.0.

Negeri Sakura kini berambisi mendigitalisasi seluruh aspek kehidupan mengingat semakin memburuknya krisis buruh dan pesatnya penuaan penduduk di negara itu.

Kesiapan Jepang menuju era society 5.0 sebenarnya sudah dimulai diperkenalkan pada Juni 2017 silam. Saat itu, Kantor Perdana Menteri Jepang merilis rincian strategis, termasuk penggunaan teknologi baru untuk menyelesaikan permasalahan sosial dan ekonomi. Tekad menerapkan era super pintar itu kembali disampaikan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe pada ajang Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) akhir bulan lalu di Davos, Swiss.

&amp;ldquo;Kami menemukan solusi untuk berbagai masalah yang sebelumnya sulit diselesaikan,&amp;rdquo; ujar Abe dikutip Reuters.
&amp;nbsp;Baca Juga: Aspek Penting Memenangkan Revolusi Industri 4.0
Menurut Abe masalah utama Jepang adalah populasi yang menua, di mana sekitar 26% penduduk Jepang berusia di atas 65 tahun. Kondisi itu membuat Jepang kekurangan tenaga kerja produktif dan menebarkan pesimisme di masyarakat Jepang.

&amp;ldquo;Lima tahun lalu, ada tembok keputusasaan, tembok pesimisme dan sejak saat itu, populasi usia kerja kami anjlok 4,5 juta orang,&amp;rdquo; ujar Abe.

Atas kondisi tersebut, Pemerintahan Abe meluncurkan kebijakan untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam tenaga kerja dan dilakukan legislasi yang membuka pintu bagi lebih banyak tenaga kerja asing.

Dilansir dari www.gov-online.go.jap, contoh implementasi Society 5.0 di Jepang ialah seperti pengiriman paket menggunakan drone tanpa awak.

Kehidupan sehari-hari juga akan berubah dengan hadirnya aplikasi pintar berbasis AI yang dipasang di rumah seperti di pintu kulkas. Melalui teknologi tersebut, warga Jepang dapat melihat saran makanan dan bumbu sesuai musim atau resep memasak. Mereka juga dapat melihat data pasokan pangan yang masih tersedia.
&amp;nbsp;Baca Juga: 150 CEO Bahas Peluang Industri 4.0
Society 5.0 bukan hanya tentang teknologi, tapi juga kebijakan dan regulasi. Pemerintah Jepang mendorong pebisnis setempat untuk berbagi big data dan meningkatkan kerja sama untuk menciptakan inovasi baru. Saat ini, kemampuan perusahaan masih terbatas karena data yang diperlukan dimiliki entitas lain.

Pada masa depan, sektor swasta dan umum dapat bekerja sama untuk menciptakan sistem baru yang lebih aman dan efektif. Hal itu dinilai akan mendorong lebih banyak perusahaan untuk berbagi informasi dan mengizinkan perusahaan lain menggunakan data mereka guna mengembangkan produk yang lebih baik dan bagus.
&amp;nbsp;Baca Juga: Hadapi Era Industri 4.0, Menko Darmin Revitalisasi SMK Digital
Lalu, bagaimana dengan di Indonesia? Saat ini Pemerintah sedang menggalakan penerapan revolusi industri 4.0. Semua sektor terutama di industri gencar mengampanyekan revolusi industri yang memanfaatkan teknologi internet sebagai back bone-nya.

Di samping itu, pemerintah juga juga bersama-sama dengan para pemangku kepentingan terus mengembangkan peran dan kemampuan skill sumber daya manusia (SDM) untuk mengisi era industri 4.0.
Untuk mengejar ketertinggalan dari Jepang yang memasuki era 5.0,  Indonesia dinilai masih perlu waktu. Pasalnya, masih banyak kebutuhan  dasar masyarakat yang perlu dibenahi. Misalnya saja, transportasi, SDM,  hingga infrastruktur.

Deputi Bidang Koordinasi Pendidikan dan Agama Kementerian Koordinator  Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) R Agus Sartono  mengakui, saat ini Indonesia masih kalah satu hingga dua langkah  dibelakang Jepang.

&amp;ldquo;Ambil contoh kita masih berkutat mengintegrasikan moda transportasi.  Sementara di era Society 5.0 masalah transportasi itu sudah nirdriver  atau autodriver,&quot; ujar Agus ketika dihubungi.

Profesor di bidang keuangan ini melanjutkan, Jepang memang lebih maju  karena sudah membangun big data jauh sebelum Indonesia heboh membahas  Revolusi Industri 4.0. Sementara saat ini, kata dia, Indonesia masih  jauh dari membangun big data.

Menurut Agus, yang terpenting dilakukan saat ini adalah Indonesia  harus menjalankan Revolusi Industri 4.0 sementara di saat bersamaan  Jepang menyiapkan untuk masuk ke 5.0.

Dia menambahkan, keberlanjutan sebuah program sangat penting, sebab  jika tidak dikejar akan muncul kesenjangan (gap) kemampuan beradaptasi  antar era teknologi.

&amp;ldquo;Kita harus fokus ke 4.0 sambil memperkecil disparitas. Sebab  disparitas itu akan membahayakan. Kuncinya yakni di kerja keras,  kualitas pendidikan diperbaiki karena dengan pendidikan yang baik maka  gap akan mengecil,&amp;rdquo; ujarnya.

Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Komaruddin Hidayat berpendapat,  perkembangan masyarakat di Indonesia tidak linier dan homogen seperti di  Jepang. Di Indonesia, kata dia, populasinya sangat besar, beragam dan  tidak merata.

Dia menambahkan, saat ini Indonesia juga menghadapi tantangan yakni  anggaran riset yang masih terbagi-bagi sehingga hasilnya tidak optimal  untuk mendongkrak inovasi teknologi. Selain itu juga Indonesia saat ini  masih menjadi pangsa pasar produk asing. &amp;ldquo;Padahal kita punya bahan  dasarnya. Banyak orang pintar tapi banyak yang idle atau akhirnya kerja  diluar negeri,&amp;rsquo;&amp;rsquo; ucapnya.

Perlombaan Teknologi

Pengamat Marketing Yuswohady mengatakan, kemunculan grand inisiatif  Society 5.0 yang dicanangkan Jepang tidak lepas dari perlombaan  teknologi antar negara-negara maju utama khususnya Amerika Serikat (AS),  Jerman, dan Jepang.

Menurut dia, kelahiran teknologi yang mendisrupsi dengan memanfaatkan  big data, internet of thing (IoT), artificial intelligence (AI),  robotic hingga blockchain telah memicu negara-negara maju untuk berlomba  agar bisa memimpin dunia melalui kekuatan ekonomi dan teknologi.

&amp;ldquo;Itulah yang mendorong Jerman pada 2014 mengeluarkan inisiatif  high-tech strategies yang kini dikenal luar sebagai Industry 4.0,&amp;rdquo; kata  pria yang akrab dipanggil Yuswo itu.

Yuswo menambahkan, negara seperti AS sebenarnya tidak memiliki  inisiatif khusus dari pemerintahnya. Namun, inisiatif perkembangan  teknologi tersebut dijalankan secara efektif oleh swasta melalui  raksasa-raksasa digital di Silicon Valley seperti Google, Facebook,  Apple, dan Amazon.
Terkait pesatnya perkembangan teknologi di Jepang yang mengarah pada   inisiatif Society 5.0, Yuswo menilai hal tersebut sebagai respons atas   populasi penduduk di negara itu yang kian menua. Untuk itu, Jepang   mengambil spesialisasi di empat bidang yang berbeda dari Jerman maupun   AS yaitu: healtcare, mobility, infrastructure, fintech.


&amp;ldquo;Dari sisi teknologi yang diimplementasi, pendekatan Society 5.0   sesungguhnya tak jauh beda. Yang membedakan adalah titik pandang dan   perspektifnya. Kalau Industry 4.0 (Jerman) dan AS lebih fokus kepada   pengembangan teknologi, maka Society 5.0 menggunakan pendekatan yang   lebih &amp;ldquo;human-focused&amp;rdquo;,&amp;rdquo; ujar Yuswo.

Dengan konsep seperti itu, Pemerintah Jepang melihat bahwa teknologi   masa depan seperti AI, harus tetap menempatkan manusia sebagai   pengendali dan dimanfaatkan untuk sebesar-besar kemanfaatan manusia   yaitu dengan menciptakan super-smart society untuk meningkatkan kualitas   hidup masyarakat Jepang.

Yuswo menambahkan, Jepang terbukti telah berhasil membuat inisiatif   dalam pengembangan industri autpomotif pada tahun 1970-an. Saat itu   Jepang melakukan hal yang sama dengan konsep lean manufacturing yang   kemudian menempatkan Toyota sebagai pemimpin industri otomotif dunia.   &amp;ldquo;Kejayaan itu rupanya mau diulang lagi dengan inisiatif Society 5.0   ini,&amp;rdquo; katanya.

Sementara itu, pengamat ekonomi Raden Pardede mengatakan, Indonesia   mau tidak mau harus mengejar ketertinggalan revolusi industri. Pasalnya   Indonesia masih berada pada old industry di mana masih banyak   menggunakan Industri 1.0 dengan keterampilan rendah dan menengah.

&amp;ldquo;Di sini dunia Industri Indonesia akan menghadapi berbagai tantangan   maupun peluang di era industri 4.0, khususnya bagi tenaga kerja   Indonesia terjadi job destruction,&amp;rdquo; kata dia.

Menurut Pardede, pada prosesnya maka harus pandai melihat tantangan   maupun peluang Industri 4.0. Adapun tantangan utama menghadapi Industri   4.0 ialah SDM karena revolusi industri keempat ini mengalami dua fase   yakni fase job disruption dan fase job creation.

Pemerhati Komunikasi Digital Firman Kurniawan menilai, harus ada   pelibatan perguruan tinggi dalam menyiapkan SDM menghadapi Industri 4.0.

Dia mengkritisi, kesiapan SDM menghadapi Industri 4.0 masih gagap.   Untuk itu, pemerintah wajib mengejar ketertinggalan revolusi industri   untuk menyesuaikan dengan perkembangan teknologi. (Neneng   Zubaidah/Ichsan Amin/Nanang Wijayanto/Muh Shamil)</description><content:encoded>JAKARTA - Ketika Indonesia sibuk mengejar revolusi industri 4.0, Jepang lebih maju satu langkah dengan kesiapan mereka menerapkan Society 5.0.

Negeri Sakura kini berambisi mendigitalisasi seluruh aspek kehidupan mengingat semakin memburuknya krisis buruh dan pesatnya penuaan penduduk di negara itu.

Kesiapan Jepang menuju era society 5.0 sebenarnya sudah dimulai diperkenalkan pada Juni 2017 silam. Saat itu, Kantor Perdana Menteri Jepang merilis rincian strategis, termasuk penggunaan teknologi baru untuk menyelesaikan permasalahan sosial dan ekonomi. Tekad menerapkan era super pintar itu kembali disampaikan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe pada ajang Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) akhir bulan lalu di Davos, Swiss.

&amp;ldquo;Kami menemukan solusi untuk berbagai masalah yang sebelumnya sulit diselesaikan,&amp;rdquo; ujar Abe dikutip Reuters.
&amp;nbsp;Baca Juga: Aspek Penting Memenangkan Revolusi Industri 4.0
Menurut Abe masalah utama Jepang adalah populasi yang menua, di mana sekitar 26% penduduk Jepang berusia di atas 65 tahun. Kondisi itu membuat Jepang kekurangan tenaga kerja produktif dan menebarkan pesimisme di masyarakat Jepang.

&amp;ldquo;Lima tahun lalu, ada tembok keputusasaan, tembok pesimisme dan sejak saat itu, populasi usia kerja kami anjlok 4,5 juta orang,&amp;rdquo; ujar Abe.

Atas kondisi tersebut, Pemerintahan Abe meluncurkan kebijakan untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam tenaga kerja dan dilakukan legislasi yang membuka pintu bagi lebih banyak tenaga kerja asing.

Dilansir dari www.gov-online.go.jap, contoh implementasi Society 5.0 di Jepang ialah seperti pengiriman paket menggunakan drone tanpa awak.

Kehidupan sehari-hari juga akan berubah dengan hadirnya aplikasi pintar berbasis AI yang dipasang di rumah seperti di pintu kulkas. Melalui teknologi tersebut, warga Jepang dapat melihat saran makanan dan bumbu sesuai musim atau resep memasak. Mereka juga dapat melihat data pasokan pangan yang masih tersedia.
&amp;nbsp;Baca Juga: 150 CEO Bahas Peluang Industri 4.0
Society 5.0 bukan hanya tentang teknologi, tapi juga kebijakan dan regulasi. Pemerintah Jepang mendorong pebisnis setempat untuk berbagi big data dan meningkatkan kerja sama untuk menciptakan inovasi baru. Saat ini, kemampuan perusahaan masih terbatas karena data yang diperlukan dimiliki entitas lain.

Pada masa depan, sektor swasta dan umum dapat bekerja sama untuk menciptakan sistem baru yang lebih aman dan efektif. Hal itu dinilai akan mendorong lebih banyak perusahaan untuk berbagi informasi dan mengizinkan perusahaan lain menggunakan data mereka guna mengembangkan produk yang lebih baik dan bagus.
&amp;nbsp;Baca Juga: Hadapi Era Industri 4.0, Menko Darmin Revitalisasi SMK Digital
Lalu, bagaimana dengan di Indonesia? Saat ini Pemerintah sedang menggalakan penerapan revolusi industri 4.0. Semua sektor terutama di industri gencar mengampanyekan revolusi industri yang memanfaatkan teknologi internet sebagai back bone-nya.

Di samping itu, pemerintah juga juga bersama-sama dengan para pemangku kepentingan terus mengembangkan peran dan kemampuan skill sumber daya manusia (SDM) untuk mengisi era industri 4.0.
Untuk mengejar ketertinggalan dari Jepang yang memasuki era 5.0,  Indonesia dinilai masih perlu waktu. Pasalnya, masih banyak kebutuhan  dasar masyarakat yang perlu dibenahi. Misalnya saja, transportasi, SDM,  hingga infrastruktur.

Deputi Bidang Koordinasi Pendidikan dan Agama Kementerian Koordinator  Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) R Agus Sartono  mengakui, saat ini Indonesia masih kalah satu hingga dua langkah  dibelakang Jepang.

&amp;ldquo;Ambil contoh kita masih berkutat mengintegrasikan moda transportasi.  Sementara di era Society 5.0 masalah transportasi itu sudah nirdriver  atau autodriver,&quot; ujar Agus ketika dihubungi.

Profesor di bidang keuangan ini melanjutkan, Jepang memang lebih maju  karena sudah membangun big data jauh sebelum Indonesia heboh membahas  Revolusi Industri 4.0. Sementara saat ini, kata dia, Indonesia masih  jauh dari membangun big data.

Menurut Agus, yang terpenting dilakukan saat ini adalah Indonesia  harus menjalankan Revolusi Industri 4.0 sementara di saat bersamaan  Jepang menyiapkan untuk masuk ke 5.0.

Dia menambahkan, keberlanjutan sebuah program sangat penting, sebab  jika tidak dikejar akan muncul kesenjangan (gap) kemampuan beradaptasi  antar era teknologi.

&amp;ldquo;Kita harus fokus ke 4.0 sambil memperkecil disparitas. Sebab  disparitas itu akan membahayakan. Kuncinya yakni di kerja keras,  kualitas pendidikan diperbaiki karena dengan pendidikan yang baik maka  gap akan mengecil,&amp;rdquo; ujarnya.

Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Komaruddin Hidayat berpendapat,  perkembangan masyarakat di Indonesia tidak linier dan homogen seperti di  Jepang. Di Indonesia, kata dia, populasinya sangat besar, beragam dan  tidak merata.

Dia menambahkan, saat ini Indonesia juga menghadapi tantangan yakni  anggaran riset yang masih terbagi-bagi sehingga hasilnya tidak optimal  untuk mendongkrak inovasi teknologi. Selain itu juga Indonesia saat ini  masih menjadi pangsa pasar produk asing. &amp;ldquo;Padahal kita punya bahan  dasarnya. Banyak orang pintar tapi banyak yang idle atau akhirnya kerja  diluar negeri,&amp;rsquo;&amp;rsquo; ucapnya.

Perlombaan Teknologi

Pengamat Marketing Yuswohady mengatakan, kemunculan grand inisiatif  Society 5.0 yang dicanangkan Jepang tidak lepas dari perlombaan  teknologi antar negara-negara maju utama khususnya Amerika Serikat (AS),  Jerman, dan Jepang.

Menurut dia, kelahiran teknologi yang mendisrupsi dengan memanfaatkan  big data, internet of thing (IoT), artificial intelligence (AI),  robotic hingga blockchain telah memicu negara-negara maju untuk berlomba  agar bisa memimpin dunia melalui kekuatan ekonomi dan teknologi.

&amp;ldquo;Itulah yang mendorong Jerman pada 2014 mengeluarkan inisiatif  high-tech strategies yang kini dikenal luar sebagai Industry 4.0,&amp;rdquo; kata  pria yang akrab dipanggil Yuswo itu.

Yuswo menambahkan, negara seperti AS sebenarnya tidak memiliki  inisiatif khusus dari pemerintahnya. Namun, inisiatif perkembangan  teknologi tersebut dijalankan secara efektif oleh swasta melalui  raksasa-raksasa digital di Silicon Valley seperti Google, Facebook,  Apple, dan Amazon.
Terkait pesatnya perkembangan teknologi di Jepang yang mengarah pada   inisiatif Society 5.0, Yuswo menilai hal tersebut sebagai respons atas   populasi penduduk di negara itu yang kian menua. Untuk itu, Jepang   mengambil spesialisasi di empat bidang yang berbeda dari Jerman maupun   AS yaitu: healtcare, mobility, infrastructure, fintech.


&amp;ldquo;Dari sisi teknologi yang diimplementasi, pendekatan Society 5.0   sesungguhnya tak jauh beda. Yang membedakan adalah titik pandang dan   perspektifnya. Kalau Industry 4.0 (Jerman) dan AS lebih fokus kepada   pengembangan teknologi, maka Society 5.0 menggunakan pendekatan yang   lebih &amp;ldquo;human-focused&amp;rdquo;,&amp;rdquo; ujar Yuswo.

Dengan konsep seperti itu, Pemerintah Jepang melihat bahwa teknologi   masa depan seperti AI, harus tetap menempatkan manusia sebagai   pengendali dan dimanfaatkan untuk sebesar-besar kemanfaatan manusia   yaitu dengan menciptakan super-smart society untuk meningkatkan kualitas   hidup masyarakat Jepang.

Yuswo menambahkan, Jepang terbukti telah berhasil membuat inisiatif   dalam pengembangan industri autpomotif pada tahun 1970-an. Saat itu   Jepang melakukan hal yang sama dengan konsep lean manufacturing yang   kemudian menempatkan Toyota sebagai pemimpin industri otomotif dunia.   &amp;ldquo;Kejayaan itu rupanya mau diulang lagi dengan inisiatif Society 5.0   ini,&amp;rdquo; katanya.

Sementara itu, pengamat ekonomi Raden Pardede mengatakan, Indonesia   mau tidak mau harus mengejar ketertinggalan revolusi industri. Pasalnya   Indonesia masih berada pada old industry di mana masih banyak   menggunakan Industri 1.0 dengan keterampilan rendah dan menengah.

&amp;ldquo;Di sini dunia Industri Indonesia akan menghadapi berbagai tantangan   maupun peluang di era industri 4.0, khususnya bagi tenaga kerja   Indonesia terjadi job destruction,&amp;rdquo; kata dia.

Menurut Pardede, pada prosesnya maka harus pandai melihat tantangan   maupun peluang Industri 4.0. Adapun tantangan utama menghadapi Industri   4.0 ialah SDM karena revolusi industri keempat ini mengalami dua fase   yakni fase job disruption dan fase job creation.

Pemerhati Komunikasi Digital Firman Kurniawan menilai, harus ada   pelibatan perguruan tinggi dalam menyiapkan SDM menghadapi Industri 4.0.

Dia mengkritisi, kesiapan SDM menghadapi Industri 4.0 masih gagap.   Untuk itu, pemerintah wajib mengejar ketertinggalan revolusi industri   untuk menyesuaikan dengan perkembangan teknologi. (Neneng   Zubaidah/Ichsan Amin/Nanang Wijayanto/Muh Shamil)</content:encoded></item></channel></rss>
