<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Miliarder Ini Hidup Hemat dan Jauh dari Budaya Konsumtif</title><description>Arokiaswamy Velumani, 57, merupakan seorang wiraswasta teladan di India.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/02/08/320/2015196/miliarder-ini-hidup-hemat-dan-jauh-dari-budaya-konsumtif</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/02/08/320/2015196/miliarder-ini-hidup-hemat-dan-jauh-dari-budaya-konsumtif"/><item><title>Miliarder Ini Hidup Hemat dan Jauh dari Budaya Konsumtif</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/02/08/320/2015196/miliarder-ini-hidup-hemat-dan-jauh-dari-budaya-konsumtif</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/02/08/320/2015196/miliarder-ini-hidup-hemat-dan-jauh-dari-budaya-konsumtif</guid><pubDate>Jum'at 08 Februari 2019 12:31 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/02/08/320/2015196/miliarder-ini-hidup-hemat-dan-jauh-dari-budaya-konsumtif-hBTSCEGFzv.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Arokiaswamy Velumani (Ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/02/08/320/2015196/miliarder-ini-hidup-hemat-dan-jauh-dari-budaya-konsumtif-hBTSCEGFzv.jpg</image><title>Foto: Arokiaswamy Velumani (Ist)</title></images><description>JAKARTA - Arokiaswamy Velumani, 57, merupakan seorang wiraswasta teladan di India. Dia sendiri tak menyangka dapat sukses menjalankan bisnis diagnostik dan patologi di bawah payung Thyrocare Technologies Limited yang kini memiliki valuasi sekitar 3,6 triliun rupee India. Kesuksesan itu dia panjat dari kemiskinan dan kemelaratan.

Velumani juga memiliki cara dan jalan tersendiri dalam menjalankan bisnisnya. Dia tidak mengikuti praktik mainstream atau strategi konvensional. Dalam hal perekrutan karyawan misalnya, ilmuwan India itu lebih senang mem pekerjakan dan melatih karyawan baru di perusahaannya dibanding karyawan berpengalaman.

&amp;ldquo;Saat ini saya memiliki lebih dari 1.000 karyawan. Hampir semuanya melihat saya sebagai majikan pertama, hanya sekitar 2% karyawan saya yang memiliki pengalaman kerja sebelumnya,&amp;rdquo; ujar Velumani sambil duduk di kantor perusahaannya di Navi Mumbai, dikutip theweekend leader. com. &amp;ldquo;Usianya rata-rata 25 tahun,&amp;rdquo; sebutnya.
&amp;nbsp;Baca Juga: Orang Tionghoa Selalu Sukses Berbisnis, Ternyata Ini Rahasianya
Velumani menambahkan, Thyrocare memperoleh omzet sekitar 2,35 miliar rupee India pada 2015-2016 dan memberikan rata-rata gaji kepada kar yawan sekitar 270.000 rupee India per tahun.

Pada April 2016, Thyrocare membuat sebuah kejutan di bursa saham India karena kelebihan permintaan sebanyak 73 kali lipat saat me lakukan IPO. Thyrocare memiliki 1.200 waralaba di seluruh India, tempat sampel darah dan serum yang dikumpulkan langsung dari pasien atau rumah sakit.

Semua sampel itu kemudian dibawa menuju laboratorium yang dilengkapi teknologi otomatis di Mumbai untuk pengujian. Pangsa pasarnya untuk pengujian tiroid mencapai 10%. Velumani merupakan seorang pengusaha yang tumbuh di sebuah wilayah terpencil di dekat Coimbatore, Tamil Nadu.

Saat kecil, sepulang sekolah, dia bekerja di ladang untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarganya. Meski orang tuanya petani, mereka tidak me miliki tanah sejengkal pun dan bekerja di tanah orang.
&amp;nbsp;Baca Juga: Kisah Zubin Karkaria Bangun Perusahaan Jasa Layanan Visa Terbesar di Dunia
Dengan penghasilan yang pas-pasan, Velumani dan ketiga saudaranya; 1 kakak sulung dan 2 adik, kesulitan membayar biaya sekolah. Dia mengandalkan subsidi dan beasiswa dari pemerintah untuk dapat terus mencari ilmu hingga keperguruan tinggi.

Dengan kegigihan dan kecerdasannya, Velumani akhirnya kuliah. &amp;ldquo;Dalam piramida, saya berada di barisan paling bawah, tapi kini berada paling atas. Dulu, saya tidak punya uang, tapi banyak waktu. Kini, saya punya banyak uang, tapi tidak punya banyak waktu,&amp;rdquo; ujar Velumani.

&amp;ldquo;Dulu, saya kelaparan, tapi tidak punya makanan. Kini, saya punya banyak makanan dan tidak kelaparan lagi,&amp;rdquo; tukasnya. Velumani tidak lupa daratan dan selalu mengingat masa lalunya yang suram.
Dia mengaku selalu membawa piring ke sekolah untuk mengambil makanan  yang dibagikan pemerintah pada siang hari. Dia juga menjadi satusatunya  murid sekolah yang tidak menerima album perpisahan karena tidak mampu  membayar.

Meski demikian, Velumani patut bersyukur karena banyak anak lain yang  lebih menderita dari dirinya. &amp;ldquo;Saya tetap optimistis dan merasa tetap  lebih kaya. Saya masih bisa makan 60 kali dalam sebulan ketika anak-anak  seusia saya yang lain bahkan tidak makan sampai 30 kali sebulan. Mereka  lebih miskin,&amp;rdquo; katanya.

Velumani mulai mendaki piramida kesuksesan pada 1978 saat memperoleh  pekerjaan pertama sebagai ahli kimia di Gemini Cap sules, perusahaan  pembuat tablet, dengan gaji 150 rupee India.

Lulusan Rama krishna Mission Vidyalaya tersebut berharap dapat  bekerja di India South Viscose, perusahaan besar rayon yang kini  bangkrut.

&amp;ldquo;Karyawan Viscose mendapatkan bonus sebesar 40% dari gaji mereka dan  itu menarik saya untuk bekerja di sana. Namun, saya tidak masuk karena  tidak memiliki pengalaman mumpuni. Banyak perusahaan lain yang juga  menolak lamaran saya dengan alasan yang sama,&amp;rdquo; papar Velumani. &amp;ldquo;Cap  sules pun tidak lama bertahan,&amp;rdquo; ucapnya.

Pada usia 23 tahun, Velumani mencari pekerjaan baru dan di terima di  Pusat Penelitian Atom Bhaba (BARC) di Mumbai pada 1982. Bagi dirinya,  gaji sebesar 880 rupee India merupakan sebuah kemewahan. Faktanya, dia  dapat membantu mengangkat kesejahteraan keluarganya di kampung dan  merayakan pesta pernikahan dengan Sumathi.

Saat bekerja di BARC, Velumani melanjutkan pendidikan S-2 melalui  program kolaboratif antara BARC dan Universitas Mumbai dan mendapatkan  gelar doktor di bidang biokimia tiroid. Pada 1995 atau hampir 15 tahun  setelah bergabung dengan BARC, Velumani merasa terlalu nyaman dan  menginginkan tantangan baru.

&amp;ldquo;Ketika saya resign, keluarga saya menangis. Namun, istri saya  mendukung saya dan meninggalkan pekerjaannya untuk membantu bisnis  saya,&amp;rdquo; terang Velumani. &amp;ldquo;Kami menghasilkan 10.000 rupee India per bulan  dan mengelola keuangan sebaik mungkin. Kami bukan kikir, tapi tidak  ingin diperbudak dengan perilaku konsumtif,&amp;rdquo; tandasnya. (Muh Shamil)</description><content:encoded>JAKARTA - Arokiaswamy Velumani, 57, merupakan seorang wiraswasta teladan di India. Dia sendiri tak menyangka dapat sukses menjalankan bisnis diagnostik dan patologi di bawah payung Thyrocare Technologies Limited yang kini memiliki valuasi sekitar 3,6 triliun rupee India. Kesuksesan itu dia panjat dari kemiskinan dan kemelaratan.

Velumani juga memiliki cara dan jalan tersendiri dalam menjalankan bisnisnya. Dia tidak mengikuti praktik mainstream atau strategi konvensional. Dalam hal perekrutan karyawan misalnya, ilmuwan India itu lebih senang mem pekerjakan dan melatih karyawan baru di perusahaannya dibanding karyawan berpengalaman.

&amp;ldquo;Saat ini saya memiliki lebih dari 1.000 karyawan. Hampir semuanya melihat saya sebagai majikan pertama, hanya sekitar 2% karyawan saya yang memiliki pengalaman kerja sebelumnya,&amp;rdquo; ujar Velumani sambil duduk di kantor perusahaannya di Navi Mumbai, dikutip theweekend leader. com. &amp;ldquo;Usianya rata-rata 25 tahun,&amp;rdquo; sebutnya.
&amp;nbsp;Baca Juga: Orang Tionghoa Selalu Sukses Berbisnis, Ternyata Ini Rahasianya
Velumani menambahkan, Thyrocare memperoleh omzet sekitar 2,35 miliar rupee India pada 2015-2016 dan memberikan rata-rata gaji kepada kar yawan sekitar 270.000 rupee India per tahun.

Pada April 2016, Thyrocare membuat sebuah kejutan di bursa saham India karena kelebihan permintaan sebanyak 73 kali lipat saat me lakukan IPO. Thyrocare memiliki 1.200 waralaba di seluruh India, tempat sampel darah dan serum yang dikumpulkan langsung dari pasien atau rumah sakit.

Semua sampel itu kemudian dibawa menuju laboratorium yang dilengkapi teknologi otomatis di Mumbai untuk pengujian. Pangsa pasarnya untuk pengujian tiroid mencapai 10%. Velumani merupakan seorang pengusaha yang tumbuh di sebuah wilayah terpencil di dekat Coimbatore, Tamil Nadu.

Saat kecil, sepulang sekolah, dia bekerja di ladang untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarganya. Meski orang tuanya petani, mereka tidak me miliki tanah sejengkal pun dan bekerja di tanah orang.
&amp;nbsp;Baca Juga: Kisah Zubin Karkaria Bangun Perusahaan Jasa Layanan Visa Terbesar di Dunia
Dengan penghasilan yang pas-pasan, Velumani dan ketiga saudaranya; 1 kakak sulung dan 2 adik, kesulitan membayar biaya sekolah. Dia mengandalkan subsidi dan beasiswa dari pemerintah untuk dapat terus mencari ilmu hingga keperguruan tinggi.

Dengan kegigihan dan kecerdasannya, Velumani akhirnya kuliah. &amp;ldquo;Dalam piramida, saya berada di barisan paling bawah, tapi kini berada paling atas. Dulu, saya tidak punya uang, tapi banyak waktu. Kini, saya punya banyak uang, tapi tidak punya banyak waktu,&amp;rdquo; ujar Velumani.

&amp;ldquo;Dulu, saya kelaparan, tapi tidak punya makanan. Kini, saya punya banyak makanan dan tidak kelaparan lagi,&amp;rdquo; tukasnya. Velumani tidak lupa daratan dan selalu mengingat masa lalunya yang suram.
Dia mengaku selalu membawa piring ke sekolah untuk mengambil makanan  yang dibagikan pemerintah pada siang hari. Dia juga menjadi satusatunya  murid sekolah yang tidak menerima album perpisahan karena tidak mampu  membayar.

Meski demikian, Velumani patut bersyukur karena banyak anak lain yang  lebih menderita dari dirinya. &amp;ldquo;Saya tetap optimistis dan merasa tetap  lebih kaya. Saya masih bisa makan 60 kali dalam sebulan ketika anak-anak  seusia saya yang lain bahkan tidak makan sampai 30 kali sebulan. Mereka  lebih miskin,&amp;rdquo; katanya.

Velumani mulai mendaki piramida kesuksesan pada 1978 saat memperoleh  pekerjaan pertama sebagai ahli kimia di Gemini Cap sules, perusahaan  pembuat tablet, dengan gaji 150 rupee India.

Lulusan Rama krishna Mission Vidyalaya tersebut berharap dapat  bekerja di India South Viscose, perusahaan besar rayon yang kini  bangkrut.

&amp;ldquo;Karyawan Viscose mendapatkan bonus sebesar 40% dari gaji mereka dan  itu menarik saya untuk bekerja di sana. Namun, saya tidak masuk karena  tidak memiliki pengalaman mumpuni. Banyak perusahaan lain yang juga  menolak lamaran saya dengan alasan yang sama,&amp;rdquo; papar Velumani. &amp;ldquo;Cap  sules pun tidak lama bertahan,&amp;rdquo; ucapnya.

Pada usia 23 tahun, Velumani mencari pekerjaan baru dan di terima di  Pusat Penelitian Atom Bhaba (BARC) di Mumbai pada 1982. Bagi dirinya,  gaji sebesar 880 rupee India merupakan sebuah kemewahan. Faktanya, dia  dapat membantu mengangkat kesejahteraan keluarganya di kampung dan  merayakan pesta pernikahan dengan Sumathi.

Saat bekerja di BARC, Velumani melanjutkan pendidikan S-2 melalui  program kolaboratif antara BARC dan Universitas Mumbai dan mendapatkan  gelar doktor di bidang biokimia tiroid. Pada 1995 atau hampir 15 tahun  setelah bergabung dengan BARC, Velumani merasa terlalu nyaman dan  menginginkan tantangan baru.

&amp;ldquo;Ketika saya resign, keluarga saya menangis. Namun, istri saya  mendukung saya dan meninggalkan pekerjaannya untuk membantu bisnis  saya,&amp;rdquo; terang Velumani. &amp;ldquo;Kami menghasilkan 10.000 rupee India per bulan  dan mengelola keuangan sebaik mungkin. Kami bukan kikir, tapi tidak  ingin diperbudak dengan perilaku konsumtif,&amp;rdquo; tandasnya. (Muh Shamil)</content:encoded></item></channel></rss>
