<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Polemik Kenaikan Harga Tiket Pesawat yang Dianggap Belum Tepat</title><description>Kenaikan harga tiket pesawat oleh sejumlah maskapai sejak beberapa bulan terakhir tidak banyak memberikan dampak positif.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/02/13/320/2017230/polemik-kenaikan-harga-tiket-pesawat-yang-dianggap-belum-tepat</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/02/13/320/2017230/polemik-kenaikan-harga-tiket-pesawat-yang-dianggap-belum-tepat"/><item><title>Polemik Kenaikan Harga Tiket Pesawat yang Dianggap Belum Tepat</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/02/13/320/2017230/polemik-kenaikan-harga-tiket-pesawat-yang-dianggap-belum-tepat</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/02/13/320/2017230/polemik-kenaikan-harga-tiket-pesawat-yang-dianggap-belum-tepat</guid><pubDate>Rabu 13 Februari 2019 11:11 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/02/13/320/2017230/polemik-kenaikan-harga-tiket-pesawat-yang-dianggap-belum-tepat-wm3DmpqoV7.JPG" expression="full" type="image/jpeg">Pesawat (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/02/13/320/2017230/polemik-kenaikan-harga-tiket-pesawat-yang-dianggap-belum-tepat-wm3DmpqoV7.JPG</image><title>Pesawat (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Kenaikan harga tiket pesawat oleh sejumlah maskapai sejak beberapa bulan terakhir tidak banyak memberikan dampak positif.
Kebijakan ini justru menimbulkan efek berantai yang panjang, mulai sepinya penumpang, pengurangan frekuensi penerbangan, hingga lesunya pariwisata dalam negeri. Kenaikan harga tiket pesawat dinilai tidak proporsional.
Besaran kenaikan yang mencapai rata-rata 100% membuat masyarakat keberatan. Mereka kaget karena tidak menyangka kenaikan sedemikian cepat dan sangat besar. Upaya maskapai yang tergabung dalam Indonesia National Air Carrier (Inaca) merespons keluhan masyarakat dengan menurunkan tarif antara 20-60% pada pertengahan Januari lalu, juga tidak banyak memberikan pengaruh.
Baca Juga: Presiden Jokowi Buka Peluang Swasta Jual Avtur
 
Penurunan diketahui hanya terjadi di sejumlah rute penerbangan. Di banyak rute lain, tiket dianggap masih selangit. Maskapai awalnya sangat berharap tarif baru dan pengenaan biaya bagasi bisa menutup biaya operasional yang melonjak akibat menguatnya dolar Amerika Serikat terhadap mata uang rupiah dan tingginya harga avtur.
Namun, niatan itu tidak mulus. Lantaran sepi penumpang, maskapai justru mengurangi sejumlah rute penerbangan. Di Bandara Hang Nadim Batam misalnya, pada Kamis (7/2) lalu setidaknya ada 14 penerbangan yang dibatalkan karena jumlah penumpang menurun drastis.
Pembatalan dilakukan hampir semua maskapai seperti Garuda Indonesia, Lion Air, Wing Air, Citilink. Pengurangan frekuensi penerbangan ini tidak terelakkan. Sejumlah penumpang terpaksa membatasi naik pesawat terbang lantaran tarif baru yang tidak bersahabat.
Suwondo, pegawai negeri sipil Kementerian Keuangan yang bertugas di Kota Palembang, tidak lagi bisa bolak-balik ke Jakarta tiap pekan. Sebelum ada kenaikan tarif, tiket Lion Air termurah dibanderolRp350.000.

Namun harga baru saat ini, besaran tiket mencapai Rp860.000. Harga tidak jauh beda juga diterapkan Sriwijaya Air yang mencapai sekitar Rp700.000- an. &amp;ldquo;Demi menghemat, saya akhirnya pulang paling cepat dua pekan sekali,&amp;rdquo; ujar warga yang tinggal di Ciputat, Tangerang Selatan ini.
Keberatan juga disampaikan Hojin, pelanggan maskapai untuk jalur Jakarta-Pekan baru. &amp;ldquo;Harga tiket via platform online sebelum ada kenaikan untuk LionAir sekitar Rp584.000 sampai Rp650.000. Kini dengan maskapai yang sama, harganya menjadi Rp1.120.000. Ada 100% kenaikannya,&amp;rdquo; ujar dia.
Kenaikan pada maskapai Lion Air yang mencapai 100%, juga terjadi pada Batik Air, Citilink, dan Garuda Indonesia. Akibat kenaikan harga tiket tersebut, penumpang saat ini harus menghitung tingkat urgensinya guna melakukan perjalanan dengan jalur udara.&amp;ldquo;Kami biasanya bisa tiga minggu sekali pulang-pergi  Jakarta-Pekanbaru. Kini kami kurangi 5-6 minggu sekali,&amp;rdquo; ujar dia. Hojin  berharap kenaikan tiket pesawat mestinya diatur secara proporsional dan  bertahap agar konsumen tidak terbebani secara mendadak.
Apalagi, kenaikan yang hampir 100% ini tentunya akan berdampak pada  sektor ekonomi lainnya, misalnya pariwisata dan okupasi hotel. Soal  lesunya pariwisata juga dikeluhkan langsung Menteri Pariwisata Arif  Yahya.
Di Lombok, NTB misalnya, angka kunjungan anjlok drastis hingga  menyisakan 30%. &amp;ldquo;Saya ingatkan juga ke rekan industri, ini tidak hanya  memengaruhi industri airlines. Ujungnya dulu, semua dirugikan. Industri  pariwisata dirugikan,&amp;rdquo; ujar Arief di Jakarta, Senin (11/2).
Baca Juga: Jumlah Penumpang Pesawat Turun Gara-Gara Tiket Mahal?
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sukamdani juga  menegaskan bahwa kenaikan tiket sangat berimbas pada sektor pariwisata  khususnya bisnis hotel, restoran dan usaha mikro kecil menengah (UMKM),  petani sayur, dan peternak ayam.
Dampaknya panjang, karena rantai bisnis pariwisata itu memang  mengakar sampai dasar. &amp;ldquo;Jangan sampai terjadi kartel di industri pesawat  terbang. Faktanya, Pak Menhub Budi Karya Sumadi sudah memanggil  industri airlines, Inaca, tetap saja bandel, turunnya dikit.  Masyarakat  masih menjerit, padahal ketua Inaca adalah dirut Garuda yang juga  BUMN,&amp;rdquo; ujar Hariyadi.
Keganjilan soal tingginya tiket ini juga dilontarkan Presiden Joko  Widodo.&amp;ldquo;Ini memang aneh. Saya dapat penghargaan sebagai Bapak Pariwisata  Indonesia, padahal harga tiket mahal,&amp;rdquo; terang Presiden saat menghadiri  Gala Dinner 50 Tahun PHRI di Jakarta, Senin (11/2) malam. Adapun dalam  pandangan Wakil Presiden Jusuf Kalla, kenaikan tiket pesawat disebabkan  adanya persaingan yang tidak sehat antarmaskapai yang sebelumnya  berlomba menjual tiket penerbangan harga murah.

Dia menjelaskan, tiket penerbangan komersial dengan harga murah  memang menguntungkan dengan mendapat banyak peminat penumpang, namun  keuntungan itu hanya berlaku dalam jangka pendek. &amp;ldquo;Jangka panjangnya  kalau mereka tidak bisa beli pesawat, akhirnya kita yang kena juga,&amp;rdquo;  kata dia di Jakarta kemarin.
Akibat persaingan tidak sehat itu, industri transportasi udara di  Indonesia banyak yang berguguran. Kini industri ini didominasi dua  perusahaan besar, yakni PT Garuda Indonesia (persero) dan PT Lion  Mentari Airlines.
Adapun pemerintah ada pada posisi sebagai regulator. &amp;ldquo;Menurut saya,  (ini) bukan kartel, karena mereka terlalu murah akhirnya yang lain mati.  Jadi bukan karena didesain, tapi karena mereka mencoba-coba masuk  airlines dengan tarif murah, ya mati,&amp;rdquo; katanya.Avtur Bukan Faktor Utama
Inaca memberikan klarifikasi terkait tingginya harga tiket dan avtur.   Ketua Umum Inaca IG N Askhara Danadiputra mengatakan pihaknya   memastikan harga avtur tidak secara langsung mengakibatkan harga tiket   pesawat menjadi lebih mahal.
&amp;ldquo;Beban biaya operasional penerbangan lainnya seperti leasing pesawat,   maintenance, dan sebagainya memang menjadi tinggi di tengah   meningkatnya nilai tukar dolar AS terhadap rupiah saat ini,&amp;rdquo; ucapnya.
PT Pertamina (persero) pun tengah mengkaji penyesuaian harga avtur di   seluruh depot bandara di dalam negeri. Hal itu merespons permintaan   Presiden Jokowi atas mahalnya harga avtur sehingga berimbas pada   mahalnya tiket pesawat terbang.
&amp;ldquo;Dalam rangka itu, kemungkinan seperti itu (akan disesuaikan). Nanti   kita lihat,&amp;rdquo; ujar Direktur Pemasaran Retail Pertamina Mas&amp;rsquo;ud Khamid.   Pengamat penerbangan Alvin Lie mengatakan pasokan avtur untuk maskapai   di Indonesia selama ini didominasi oleh PT Pertamina.
Menurutnya, jika terjadi monopoli avtur tanpa berdasarkan peraturan   resmi maka kemungkinan terbentuknya juga secara alamiah. &amp;ldquo;Setahu saya,   pemasok avtur swasta boleh masuk. Tapi tuntutan infrastruktur dan   manajemen bandara membuat perusahaan swasta sulit tembus atau masuk ke   pasar avtur di dalam negeri,&amp;rdquo; ucapnya.
Vice President Corporate Communication PT Angkasa Pura II (persero)   Yado Yarismano mengatakan, PT AP II menyatakan akan mengikuti regulasi   yang memungkinkan masuknya pihak lain pemasok avtur di luar Pertamina.
&amp;ldquo;Kami siap saja dan tinggal ikut regulasi yang ada, kalau ada pemasok   avtur yang lain selain Pertamina,&amp;rdquo; ungkapnya. Meski demikian, Menteri   Keuangan Sri Mulyani Indrawati berjanji akan mengkaji harga avtur   bersama Pertamina. Dia juga bersedia mengkaji kembali pajak pertambahan   nilai (PPN) avtur di Indonesia dengan negara lain.
Menurut Sri Mulyani, implikasi PPN mengenai kenaikan harga avtur   untuk mencegah kompetisi yang tidak sehat dengan negara lain. Direktur   Pusat Studi Kebijakan Publik Sofyano Zakaria menilai otoritas dapat   memeriksa struktur pembentuk harga tiket pesawat. Berapa sebenarnya   harga pokok produksi (HPP) yang membentuknya dan berapa margin yang   diambil Garuda Indonesia.
(Oktiani Endarwati/Ichsan Amin/Nanang Wijayanto/Ant)</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Kenaikan harga tiket pesawat oleh sejumlah maskapai sejak beberapa bulan terakhir tidak banyak memberikan dampak positif.
Kebijakan ini justru menimbulkan efek berantai yang panjang, mulai sepinya penumpang, pengurangan frekuensi penerbangan, hingga lesunya pariwisata dalam negeri. Kenaikan harga tiket pesawat dinilai tidak proporsional.
Besaran kenaikan yang mencapai rata-rata 100% membuat masyarakat keberatan. Mereka kaget karena tidak menyangka kenaikan sedemikian cepat dan sangat besar. Upaya maskapai yang tergabung dalam Indonesia National Air Carrier (Inaca) merespons keluhan masyarakat dengan menurunkan tarif antara 20-60% pada pertengahan Januari lalu, juga tidak banyak memberikan pengaruh.
Baca Juga: Presiden Jokowi Buka Peluang Swasta Jual Avtur
 
Penurunan diketahui hanya terjadi di sejumlah rute penerbangan. Di banyak rute lain, tiket dianggap masih selangit. Maskapai awalnya sangat berharap tarif baru dan pengenaan biaya bagasi bisa menutup biaya operasional yang melonjak akibat menguatnya dolar Amerika Serikat terhadap mata uang rupiah dan tingginya harga avtur.
Namun, niatan itu tidak mulus. Lantaran sepi penumpang, maskapai justru mengurangi sejumlah rute penerbangan. Di Bandara Hang Nadim Batam misalnya, pada Kamis (7/2) lalu setidaknya ada 14 penerbangan yang dibatalkan karena jumlah penumpang menurun drastis.
Pembatalan dilakukan hampir semua maskapai seperti Garuda Indonesia, Lion Air, Wing Air, Citilink. Pengurangan frekuensi penerbangan ini tidak terelakkan. Sejumlah penumpang terpaksa membatasi naik pesawat terbang lantaran tarif baru yang tidak bersahabat.
Suwondo, pegawai negeri sipil Kementerian Keuangan yang bertugas di Kota Palembang, tidak lagi bisa bolak-balik ke Jakarta tiap pekan. Sebelum ada kenaikan tarif, tiket Lion Air termurah dibanderolRp350.000.

Namun harga baru saat ini, besaran tiket mencapai Rp860.000. Harga tidak jauh beda juga diterapkan Sriwijaya Air yang mencapai sekitar Rp700.000- an. &amp;ldquo;Demi menghemat, saya akhirnya pulang paling cepat dua pekan sekali,&amp;rdquo; ujar warga yang tinggal di Ciputat, Tangerang Selatan ini.
Keberatan juga disampaikan Hojin, pelanggan maskapai untuk jalur Jakarta-Pekan baru. &amp;ldquo;Harga tiket via platform online sebelum ada kenaikan untuk LionAir sekitar Rp584.000 sampai Rp650.000. Kini dengan maskapai yang sama, harganya menjadi Rp1.120.000. Ada 100% kenaikannya,&amp;rdquo; ujar dia.
Kenaikan pada maskapai Lion Air yang mencapai 100%, juga terjadi pada Batik Air, Citilink, dan Garuda Indonesia. Akibat kenaikan harga tiket tersebut, penumpang saat ini harus menghitung tingkat urgensinya guna melakukan perjalanan dengan jalur udara.&amp;ldquo;Kami biasanya bisa tiga minggu sekali pulang-pergi  Jakarta-Pekanbaru. Kini kami kurangi 5-6 minggu sekali,&amp;rdquo; ujar dia. Hojin  berharap kenaikan tiket pesawat mestinya diatur secara proporsional dan  bertahap agar konsumen tidak terbebani secara mendadak.
Apalagi, kenaikan yang hampir 100% ini tentunya akan berdampak pada  sektor ekonomi lainnya, misalnya pariwisata dan okupasi hotel. Soal  lesunya pariwisata juga dikeluhkan langsung Menteri Pariwisata Arif  Yahya.
Di Lombok, NTB misalnya, angka kunjungan anjlok drastis hingga  menyisakan 30%. &amp;ldquo;Saya ingatkan juga ke rekan industri, ini tidak hanya  memengaruhi industri airlines. Ujungnya dulu, semua dirugikan. Industri  pariwisata dirugikan,&amp;rdquo; ujar Arief di Jakarta, Senin (11/2).
Baca Juga: Jumlah Penumpang Pesawat Turun Gara-Gara Tiket Mahal?
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sukamdani juga  menegaskan bahwa kenaikan tiket sangat berimbas pada sektor pariwisata  khususnya bisnis hotel, restoran dan usaha mikro kecil menengah (UMKM),  petani sayur, dan peternak ayam.
Dampaknya panjang, karena rantai bisnis pariwisata itu memang  mengakar sampai dasar. &amp;ldquo;Jangan sampai terjadi kartel di industri pesawat  terbang. Faktanya, Pak Menhub Budi Karya Sumadi sudah memanggil  industri airlines, Inaca, tetap saja bandel, turunnya dikit.  Masyarakat  masih menjerit, padahal ketua Inaca adalah dirut Garuda yang juga  BUMN,&amp;rdquo; ujar Hariyadi.
Keganjilan soal tingginya tiket ini juga dilontarkan Presiden Joko  Widodo.&amp;ldquo;Ini memang aneh. Saya dapat penghargaan sebagai Bapak Pariwisata  Indonesia, padahal harga tiket mahal,&amp;rdquo; terang Presiden saat menghadiri  Gala Dinner 50 Tahun PHRI di Jakarta, Senin (11/2) malam. Adapun dalam  pandangan Wakil Presiden Jusuf Kalla, kenaikan tiket pesawat disebabkan  adanya persaingan yang tidak sehat antarmaskapai yang sebelumnya  berlomba menjual tiket penerbangan harga murah.

Dia menjelaskan, tiket penerbangan komersial dengan harga murah  memang menguntungkan dengan mendapat banyak peminat penumpang, namun  keuntungan itu hanya berlaku dalam jangka pendek. &amp;ldquo;Jangka panjangnya  kalau mereka tidak bisa beli pesawat, akhirnya kita yang kena juga,&amp;rdquo;  kata dia di Jakarta kemarin.
Akibat persaingan tidak sehat itu, industri transportasi udara di  Indonesia banyak yang berguguran. Kini industri ini didominasi dua  perusahaan besar, yakni PT Garuda Indonesia (persero) dan PT Lion  Mentari Airlines.
Adapun pemerintah ada pada posisi sebagai regulator. &amp;ldquo;Menurut saya,  (ini) bukan kartel, karena mereka terlalu murah akhirnya yang lain mati.  Jadi bukan karena didesain, tapi karena mereka mencoba-coba masuk  airlines dengan tarif murah, ya mati,&amp;rdquo; katanya.Avtur Bukan Faktor Utama
Inaca memberikan klarifikasi terkait tingginya harga tiket dan avtur.   Ketua Umum Inaca IG N Askhara Danadiputra mengatakan pihaknya   memastikan harga avtur tidak secara langsung mengakibatkan harga tiket   pesawat menjadi lebih mahal.
&amp;ldquo;Beban biaya operasional penerbangan lainnya seperti leasing pesawat,   maintenance, dan sebagainya memang menjadi tinggi di tengah   meningkatnya nilai tukar dolar AS terhadap rupiah saat ini,&amp;rdquo; ucapnya.
PT Pertamina (persero) pun tengah mengkaji penyesuaian harga avtur di   seluruh depot bandara di dalam negeri. Hal itu merespons permintaan   Presiden Jokowi atas mahalnya harga avtur sehingga berimbas pada   mahalnya tiket pesawat terbang.
&amp;ldquo;Dalam rangka itu, kemungkinan seperti itu (akan disesuaikan). Nanti   kita lihat,&amp;rdquo; ujar Direktur Pemasaran Retail Pertamina Mas&amp;rsquo;ud Khamid.   Pengamat penerbangan Alvin Lie mengatakan pasokan avtur untuk maskapai   di Indonesia selama ini didominasi oleh PT Pertamina.
Menurutnya, jika terjadi monopoli avtur tanpa berdasarkan peraturan   resmi maka kemungkinan terbentuknya juga secara alamiah. &amp;ldquo;Setahu saya,   pemasok avtur swasta boleh masuk. Tapi tuntutan infrastruktur dan   manajemen bandara membuat perusahaan swasta sulit tembus atau masuk ke   pasar avtur di dalam negeri,&amp;rdquo; ucapnya.
Vice President Corporate Communication PT Angkasa Pura II (persero)   Yado Yarismano mengatakan, PT AP II menyatakan akan mengikuti regulasi   yang memungkinkan masuknya pihak lain pemasok avtur di luar Pertamina.
&amp;ldquo;Kami siap saja dan tinggal ikut regulasi yang ada, kalau ada pemasok   avtur yang lain selain Pertamina,&amp;rdquo; ungkapnya. Meski demikian, Menteri   Keuangan Sri Mulyani Indrawati berjanji akan mengkaji harga avtur   bersama Pertamina. Dia juga bersedia mengkaji kembali pajak pertambahan   nilai (PPN) avtur di Indonesia dengan negara lain.
Menurut Sri Mulyani, implikasi PPN mengenai kenaikan harga avtur   untuk mencegah kompetisi yang tidak sehat dengan negara lain. Direktur   Pusat Studi Kebijakan Publik Sofyano Zakaria menilai otoritas dapat   memeriksa struktur pembentuk harga tiket pesawat. Berapa sebenarnya   harga pokok produksi (HPP) yang membentuknya dan berapa margin yang   diambil Garuda Indonesia.
(Oktiani Endarwati/Ichsan Amin/Nanang Wijayanto/Ant)</content:encoded></item></channel></rss>
