<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Menperin Dorong Diversifikasi Produk Kopi untuk Pasar Ekspor</title><description>Kemenperin terus mendorong diversifikasi produk industri untuk mengisi pasar ekspor kopi</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/02/20/320/2020506/menperin-dorong-diversifikasi-produk-kopi-untuk-pasar-ekspor</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/02/20/320/2020506/menperin-dorong-diversifikasi-produk-kopi-untuk-pasar-ekspor"/><item><title>Menperin Dorong Diversifikasi Produk Kopi untuk Pasar Ekspor</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/02/20/320/2020506/menperin-dorong-diversifikasi-produk-kopi-untuk-pasar-ekspor</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/02/20/320/2020506/menperin-dorong-diversifikasi-produk-kopi-untuk-pasar-ekspor</guid><pubDate>Rabu 20 Februari 2019 13:13 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/02/20/320/2020506/menperin-dorong-diversifikasi-produk-kopi-untuk-pasar-ekspor-QRJQZ02lwz.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/02/20/320/2020506/menperin-dorong-diversifikasi-produk-kopi-untuk-pasar-ekspor-QRJQZ02lwz.jpg</image><title>Foto: Okezone</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyambut baik adanya upaya industri makanan dan minuman di Indonesia yang terus meningkatkan nilai tambah sumber daya alam lokal, salah satunya adalah sektor pengolahan kopi. Langkah hilirisasi ini dinilai membawa efek berantai yang luas bagi perekonomian nasional.
&amp;ldquo;Contohnya Mayora, melalui permen Kopiko menjadi produk nomor satu di dunia. Bahkan, Kopiko juga menjadi salah satu kebutuhan astronot di luar angkasa. Selain itu, produk kopi instan Torabika yang juga diminati oleh konsumen mancanegara,&amp;rdquo; ungkapnya, dikutip dari Harian Neraca, Jakarta, Rabu (20/2/2019).
Untuk itu, Airlangga menyatakan, pihaknya terus mendorong diversifikasi produk industri untuk mengisi pasar ekspor. &amp;ldquo;Kami melihat industri semakin agresif untuk membuka akses pasar baru dan meningkatkan nilai ekspornya. Hal ini seiring komitmen pemerintah menciptakan iklim usaha yang kondusif dan memberikan kemudahan perizinan termasuk prosedur ekspor,&amp;rdquo; tuturnya.
Baca Juga: Gandeng Korea, Indonesia Promosikan Kopi Jabar
Di kancah global, ekspor produk kopi olahan nasional terus meningkat setiap tahunnya. Pada 2016, ekspornya mencapai 145 ribu ton atau senilai USD428 juta, kemudian meningkat hingga 178 ribu ton atau senilai USD487 juta di tahun 2017. Pada 2018, terjadi lonjakan peningkatan ekspor hingga 21,49% atau sebanyak 216 ribu ton dengan peningkatan nilai 19,01% atau mencapai USD580 juta.
Ekspor tersebut didominasi oleh kopi olahan berbentuk instan sebesar 87,9 persen dan sisanya berbasis ekstrak dan essence. Tujuan ekspor utama industri pengolahan kopi nasional, antara lain Filipina, Malaysia, Iran, China dan Uni Emirat Arab.
Airlangga juga menyebutkan, Indonesia merupakan negara penghasil biji kopi terbesar keempat di dunia setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia. Hal ini menjadi potensi pengembangan industri pengolahan kopi di dalam negeri.
&amp;ldquo;Produksi kopi kita sebesar 639.000 ton pada 2017 atau 8 persen dari produksi kopi dunia dengan komposisi 72,84 persen merupakan kopi jenis robusta dan 27,16 persen kopi jenis arabika,&amp;rdquo; ujarnya. Pada 2017, tercatat ada 101 perusahaan kopi olahan yang meliputi skala besar dan sedang dengan jumlah penyerapan tenaga kerja sebanyak 24 ribu orang dan total kapasitas produksi lebih dari 260 ribu ton per tahun.
Baca Juga: RI Berhasil Lobi Buka Pasar Kopi Instan Rp8 Triliun ke Filipina
Selain itu, Indonesia juga memiliki berbagai jenis kopi specialty yang dikenal di dunia, termasuk Luwak Coffee dengan rasa dan aroma khas sesuai indikasi geografis yang menjadi keunggulan Indonesia.
Hingga saat ini, sudah terdaftar sebanyak 24 indikasi geografis untuk kopi Indonesia, di antaranya Kopi Arabika Gayo, Kopi Arabika Toraja, Kopi Robusta Pupuan Bali, Kopi Arabika Sumatera Koerintji, Kopi Liberika Tungkal Jambi, dan Kopi Liberika Rangsang Meranti.Dalam rangka meningkatkan kinerja industri pengolahan kopi nasional  di tengah menghadapi era globalisasi perdagangan dan pasar bebas,  diperlukan upaya strategis guna menggenjot daya saing dan  produktivitasnya.
Langkah tersebut, antara lain melalui penggunaan teknologi yang  meningkatkan efisiensi dan inovasi, peningkatan kualitas produk dengan  penerapan sistem manajemen mutu dan keamanan pangan, serta peningkatan  SDM seperti barista, roaster, dan penguji cita rasa atau cupper.
Sementara itu, pemerintah menyiapkan langkah strategis perekonomian  2020-2024 yang dirancang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional  melalui sektor manufaktur. Ada tiga arah kebijakan utama yang disiapkan,  antara lain peningkatan produktivitas melalui peningkatan keterampilan  tenaga kerja, peningkatan daya saing ekspor manufaktur, dan penguatan  strategi industri hulu.
&amp;ldquo;Program ini untuk menjaga sustainability pembangunan ekonomi dengan  baseline pertumbuhan 5,4%. Kami juga sudah berbicara kebijakannya.  Dengan langkah strategis ini, capaian hari ini harus dilanjutkan dengan  target selanjutnya,&amp;rdquo; ucap Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di  Jakarta, disalin dari siaran resmi.
Implementasi inisiatif Making Indonesia 4.0 juga diyakini dapat  mendongkrak tiga aspek, yaitu Produk Domestik Bruto (PDB) secara umum,  kontribusi menufaktur dan kesempatan kerja. Target yang diproyeksikan  adalah pertumbuhan PDB hingga 1-2% dari baseline, membuka lebih dari 10  juta lapangan kerja tambahan dan lebih dari 25% kontribusi PDB sektor  manufaktur.
Salah satu prioritas pemerintah dalam Making Indonesia 4.0 adalah  peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Upaya yang dilakukan  melalui pengembangan pendidikan vokasi bidang industri, agar kompetensi  SDM meningkat dan berdaya saing tinggi. (fbn)</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyambut baik adanya upaya industri makanan dan minuman di Indonesia yang terus meningkatkan nilai tambah sumber daya alam lokal, salah satunya adalah sektor pengolahan kopi. Langkah hilirisasi ini dinilai membawa efek berantai yang luas bagi perekonomian nasional.
&amp;ldquo;Contohnya Mayora, melalui permen Kopiko menjadi produk nomor satu di dunia. Bahkan, Kopiko juga menjadi salah satu kebutuhan astronot di luar angkasa. Selain itu, produk kopi instan Torabika yang juga diminati oleh konsumen mancanegara,&amp;rdquo; ungkapnya, dikutip dari Harian Neraca, Jakarta, Rabu (20/2/2019).
Untuk itu, Airlangga menyatakan, pihaknya terus mendorong diversifikasi produk industri untuk mengisi pasar ekspor. &amp;ldquo;Kami melihat industri semakin agresif untuk membuka akses pasar baru dan meningkatkan nilai ekspornya. Hal ini seiring komitmen pemerintah menciptakan iklim usaha yang kondusif dan memberikan kemudahan perizinan termasuk prosedur ekspor,&amp;rdquo; tuturnya.
Baca Juga: Gandeng Korea, Indonesia Promosikan Kopi Jabar
Di kancah global, ekspor produk kopi olahan nasional terus meningkat setiap tahunnya. Pada 2016, ekspornya mencapai 145 ribu ton atau senilai USD428 juta, kemudian meningkat hingga 178 ribu ton atau senilai USD487 juta di tahun 2017. Pada 2018, terjadi lonjakan peningkatan ekspor hingga 21,49% atau sebanyak 216 ribu ton dengan peningkatan nilai 19,01% atau mencapai USD580 juta.
Ekspor tersebut didominasi oleh kopi olahan berbentuk instan sebesar 87,9 persen dan sisanya berbasis ekstrak dan essence. Tujuan ekspor utama industri pengolahan kopi nasional, antara lain Filipina, Malaysia, Iran, China dan Uni Emirat Arab.
Airlangga juga menyebutkan, Indonesia merupakan negara penghasil biji kopi terbesar keempat di dunia setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia. Hal ini menjadi potensi pengembangan industri pengolahan kopi di dalam negeri.
&amp;ldquo;Produksi kopi kita sebesar 639.000 ton pada 2017 atau 8 persen dari produksi kopi dunia dengan komposisi 72,84 persen merupakan kopi jenis robusta dan 27,16 persen kopi jenis arabika,&amp;rdquo; ujarnya. Pada 2017, tercatat ada 101 perusahaan kopi olahan yang meliputi skala besar dan sedang dengan jumlah penyerapan tenaga kerja sebanyak 24 ribu orang dan total kapasitas produksi lebih dari 260 ribu ton per tahun.
Baca Juga: RI Berhasil Lobi Buka Pasar Kopi Instan Rp8 Triliun ke Filipina
Selain itu, Indonesia juga memiliki berbagai jenis kopi specialty yang dikenal di dunia, termasuk Luwak Coffee dengan rasa dan aroma khas sesuai indikasi geografis yang menjadi keunggulan Indonesia.
Hingga saat ini, sudah terdaftar sebanyak 24 indikasi geografis untuk kopi Indonesia, di antaranya Kopi Arabika Gayo, Kopi Arabika Toraja, Kopi Robusta Pupuan Bali, Kopi Arabika Sumatera Koerintji, Kopi Liberika Tungkal Jambi, dan Kopi Liberika Rangsang Meranti.Dalam rangka meningkatkan kinerja industri pengolahan kopi nasional  di tengah menghadapi era globalisasi perdagangan dan pasar bebas,  diperlukan upaya strategis guna menggenjot daya saing dan  produktivitasnya.
Langkah tersebut, antara lain melalui penggunaan teknologi yang  meningkatkan efisiensi dan inovasi, peningkatan kualitas produk dengan  penerapan sistem manajemen mutu dan keamanan pangan, serta peningkatan  SDM seperti barista, roaster, dan penguji cita rasa atau cupper.
Sementara itu, pemerintah menyiapkan langkah strategis perekonomian  2020-2024 yang dirancang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional  melalui sektor manufaktur. Ada tiga arah kebijakan utama yang disiapkan,  antara lain peningkatan produktivitas melalui peningkatan keterampilan  tenaga kerja, peningkatan daya saing ekspor manufaktur, dan penguatan  strategi industri hulu.
&amp;ldquo;Program ini untuk menjaga sustainability pembangunan ekonomi dengan  baseline pertumbuhan 5,4%. Kami juga sudah berbicara kebijakannya.  Dengan langkah strategis ini, capaian hari ini harus dilanjutkan dengan  target selanjutnya,&amp;rdquo; ucap Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di  Jakarta, disalin dari siaran resmi.
Implementasi inisiatif Making Indonesia 4.0 juga diyakini dapat  mendongkrak tiga aspek, yaitu Produk Domestik Bruto (PDB) secara umum,  kontribusi menufaktur dan kesempatan kerja. Target yang diproyeksikan  adalah pertumbuhan PDB hingga 1-2% dari baseline, membuka lebih dari 10  juta lapangan kerja tambahan dan lebih dari 25% kontribusi PDB sektor  manufaktur.
Salah satu prioritas pemerintah dalam Making Indonesia 4.0 adalah  peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Upaya yang dilakukan  melalui pengembangan pendidikan vokasi bidang industri, agar kompetensi  SDM meningkat dan berdaya saing tinggi. (fbn)</content:encoded></item></channel></rss>
