<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>WTO Sebut Perdagangan Global Kian Melorot</title><description>Indikator triwulanan terkemuka perdagangan barang dagangan merosot ke angka terendah dalam sembilan tahun</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/02/21/320/2020974/wto-sebut-perdagangan-global-kian-melorot</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/02/21/320/2020974/wto-sebut-perdagangan-global-kian-melorot"/><item><title>WTO Sebut Perdagangan Global Kian Melorot</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/02/21/320/2020974/wto-sebut-perdagangan-global-kian-melorot</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/02/21/320/2020974/wto-sebut-perdagangan-global-kian-melorot</guid><pubDate>Kamis 21 Februari 2019 13:00 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/02/21/320/2020974/wto-sebut-perdagangan-global-kian-merorot-WyXQHIa3kk.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Reuters</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/02/21/320/2020974/wto-sebut-perdagangan-global-kian-merorot-WyXQHIa3kk.jpg</image><title>Foto: Reuters</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) menyatakan, indikator triwulanan terkemuka perdagangan barang dagangan merosot ke angka terendah dalam sembilan tahun. Hal demikian seharusnya membuat para pembuat kebijakan waspada terhadap perlambatan yang lebih tajam jika ketegangan perdagangan global terus berlanjut.
Indikator prospek triwulanan WTO, gabungan dari tujuh pendorong perdagangan, menunjukkan angka 96,3, terlemah sejak Maret 2010 dan turun dari 98,6 pada November. Angka di bawah 100 menandakan tren di bawah pertumbuhan dalam perdagangan.
&quot;Kehilangan momentum yang berkelanjutan ini menyoroti urgensi mengurangi ketegangan perdagangan, yang bersama dengan bertahannya risiko-risiko politik dan volatilitas keuangan dapat menandakan perlambatan ekonomi yang lebih luas,&quot; ungkap WTO dalam sebuah pernyataan, sebagaimana dikutip Antara, Kamis (21/2/2019).
Baca Juga: Indonesia Gugat Australia ke WTO soal Produk Kertas
Perkiraan WTO September lalu bahwa pertumbuhan perdagangan global akan melambat menjadi 3,7% pada 2019 dari perkiraan 3,9% pada 2018, tetapi mungkin ada perlambatan yang lebih curam atau &quot;rebound&quot; tergantung pada langkah-langkah kebijakan.
Indikator triwulanan didasarkan pada volume perdagangan barang dagangan pada triwulan sebelumnya, pesanan ekspor, angkutan udara internasional, jumlah peti kemas yang ditangani pelabuhan (container port throughput), produksi dan penjualan mobil, komponen elektronik dan bahan baku pertanian.
&quot;Indeks untuk pesanan ekspor (95,3), angkutan udara internasional (96,8), produksi dan penjualan mobil (92,5), komponen elektronik (88,7) dan bahan baku pertanian (94,3) telah menunjukkan penyimpangan terkuat dari tren, mendekati atau melampaui posisi terendah sebelumnya sejak krisis keuangan,&quot; ungkap pernyataan WTO.
Baca Juga: Mendag: AS Tunda Denda Rp5 Triliun ke Indonesia
Indeks untuk &quot;container port throughput&quot; (ukuran standar untuk produktivitas pelabuhan) cenderung naik di 100,3, tetapi itu mungkin telah dipengaruhi oleh pengiriman lebih awal sebelum kenaikan tarif AS-China yang diantisipasi, kata WTO.
Menurut badan perdagangan PBB UNCTAD, ketegangan perdagangan internasional dapat melonjak bulan depan jika Amerika Serikat dan China meningkatkan perang tarif mereka, sebuah langkah yang dapat memiliki konsekuensi negatif bagi sistem perdagangan dunia.
Gedung Putih pada Senin (18/2/2019) mengatakan, putaran baru perundingan AS-China berlangsung di Washington pada Selasa waktu setempat, dengan sesi tindak lanjut di tingkat yang lebih tinggi di akhir pekan ini, setelah putaran di Beijing pekan lalu.Sebelumnya, sengketa perdagangan China dan Amerika Serikat memasuki  babak baru setelah para pejabat tinggi di bidang perekonomian dan  perdagangan kedua negara mengadakan pertemuan di Beijing, Kamis hingga  Jumat (15/2).
Delegasi China dipimpin oleh Wakil Perdana Menteri sekaligus anggota  Biro Politik Komite Pusat Partai Komunis China (PKC) Liu He. Mereka  bertemu dengan delegasi AS yang dipimpin Duta Besar Perwakilan  Perdagangan AS (USTR) Robert Lighthizer dan Menteri Keuangan (USTS)  Steven Mnuchin.
Sampai saat ini, pertemuan kedua belah pihak masih berlangsung dan  belum ada pernyataan resmi mengenai materi pembahasan. Sejumlah pengamat  di China berpendapat bahwa kerja sama masih menjadi opsi terbaik dalam  mengakhiri perang dagang antara dua pemimpin ekonomi dunia itu.
Perang dagang bermula pada 22 Januari 2018, saat Presiden AS Donald  Trump memberlakukan tarif sebesar 30% terhadap panel tenaga surya.  Langkah itu dilanjutkan dengan pengenaan tarif 20%  atas 1,2 juta unit  mesin cuci pertama yang diimpor dari China pada 2018.
Lalu, sebanyak 1.300 kategori barang impor dari China, termasuk  komponen pesawat, baterai, panel televisi, peralatan kesehatan, satelit,  dan beragam senjata masuk dalam kebijakan pengenaan tarif baru Trump.
China membalasnya dengan mengenakan tarif sebesar 25% atas 128 jenis  produk AS, di antaranya aluminium, pesawat terbang, mobil, daging babi  beku, dan kedelai. Pengenaan tarif sebesar 15% diberlakukan China atas  produk-produk AS berupa buah-buahan, kacang, dan pipa baja.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) menyatakan, indikator triwulanan terkemuka perdagangan barang dagangan merosot ke angka terendah dalam sembilan tahun. Hal demikian seharusnya membuat para pembuat kebijakan waspada terhadap perlambatan yang lebih tajam jika ketegangan perdagangan global terus berlanjut.
Indikator prospek triwulanan WTO, gabungan dari tujuh pendorong perdagangan, menunjukkan angka 96,3, terlemah sejak Maret 2010 dan turun dari 98,6 pada November. Angka di bawah 100 menandakan tren di bawah pertumbuhan dalam perdagangan.
&quot;Kehilangan momentum yang berkelanjutan ini menyoroti urgensi mengurangi ketegangan perdagangan, yang bersama dengan bertahannya risiko-risiko politik dan volatilitas keuangan dapat menandakan perlambatan ekonomi yang lebih luas,&quot; ungkap WTO dalam sebuah pernyataan, sebagaimana dikutip Antara, Kamis (21/2/2019).
Baca Juga: Indonesia Gugat Australia ke WTO soal Produk Kertas
Perkiraan WTO September lalu bahwa pertumbuhan perdagangan global akan melambat menjadi 3,7% pada 2019 dari perkiraan 3,9% pada 2018, tetapi mungkin ada perlambatan yang lebih curam atau &quot;rebound&quot; tergantung pada langkah-langkah kebijakan.
Indikator triwulanan didasarkan pada volume perdagangan barang dagangan pada triwulan sebelumnya, pesanan ekspor, angkutan udara internasional, jumlah peti kemas yang ditangani pelabuhan (container port throughput), produksi dan penjualan mobil, komponen elektronik dan bahan baku pertanian.
&quot;Indeks untuk pesanan ekspor (95,3), angkutan udara internasional (96,8), produksi dan penjualan mobil (92,5), komponen elektronik (88,7) dan bahan baku pertanian (94,3) telah menunjukkan penyimpangan terkuat dari tren, mendekati atau melampaui posisi terendah sebelumnya sejak krisis keuangan,&quot; ungkap pernyataan WTO.
Baca Juga: Mendag: AS Tunda Denda Rp5 Triliun ke Indonesia
Indeks untuk &quot;container port throughput&quot; (ukuran standar untuk produktivitas pelabuhan) cenderung naik di 100,3, tetapi itu mungkin telah dipengaruhi oleh pengiriman lebih awal sebelum kenaikan tarif AS-China yang diantisipasi, kata WTO.
Menurut badan perdagangan PBB UNCTAD, ketegangan perdagangan internasional dapat melonjak bulan depan jika Amerika Serikat dan China meningkatkan perang tarif mereka, sebuah langkah yang dapat memiliki konsekuensi negatif bagi sistem perdagangan dunia.
Gedung Putih pada Senin (18/2/2019) mengatakan, putaran baru perundingan AS-China berlangsung di Washington pada Selasa waktu setempat, dengan sesi tindak lanjut di tingkat yang lebih tinggi di akhir pekan ini, setelah putaran di Beijing pekan lalu.Sebelumnya, sengketa perdagangan China dan Amerika Serikat memasuki  babak baru setelah para pejabat tinggi di bidang perekonomian dan  perdagangan kedua negara mengadakan pertemuan di Beijing, Kamis hingga  Jumat (15/2).
Delegasi China dipimpin oleh Wakil Perdana Menteri sekaligus anggota  Biro Politik Komite Pusat Partai Komunis China (PKC) Liu He. Mereka  bertemu dengan delegasi AS yang dipimpin Duta Besar Perwakilan  Perdagangan AS (USTR) Robert Lighthizer dan Menteri Keuangan (USTS)  Steven Mnuchin.
Sampai saat ini, pertemuan kedua belah pihak masih berlangsung dan  belum ada pernyataan resmi mengenai materi pembahasan. Sejumlah pengamat  di China berpendapat bahwa kerja sama masih menjadi opsi terbaik dalam  mengakhiri perang dagang antara dua pemimpin ekonomi dunia itu.
Perang dagang bermula pada 22 Januari 2018, saat Presiden AS Donald  Trump memberlakukan tarif sebesar 30% terhadap panel tenaga surya.  Langkah itu dilanjutkan dengan pengenaan tarif 20%  atas 1,2 juta unit  mesin cuci pertama yang diimpor dari China pada 2018.
Lalu, sebanyak 1.300 kategori barang impor dari China, termasuk  komponen pesawat, baterai, panel televisi, peralatan kesehatan, satelit,  dan beragam senjata masuk dalam kebijakan pengenaan tarif baru Trump.
China membalasnya dengan mengenakan tarif sebesar 25% atas 128 jenis  produk AS, di antaranya aluminium, pesawat terbang, mobil, daging babi  beku, dan kedelai. Pengenaan tarif sebesar 15% diberlakukan China atas  produk-produk AS berupa buah-buahan, kacang, dan pipa baja.</content:encoded></item></channel></rss>
