<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pasar Automotif Tak Terpengaruh Hadirnya MRT, tapi...</title><description>Pasar automotif di wilayah Jakarta dan sekitarnya dinilai tidak akan terpengaruh dengan kehadiran Moda Raya Terpadu</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/02/22/320/2021423/pasar-automotif-tak-terpengaruh-hadirnya-mrt-tapi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/02/22/320/2021423/pasar-automotif-tak-terpengaruh-hadirnya-mrt-tapi"/><item><title>Pasar Automotif Tak Terpengaruh Hadirnya MRT, tapi...</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/02/22/320/2021423/pasar-automotif-tak-terpengaruh-hadirnya-mrt-tapi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/02/22/320/2021423/pasar-automotif-tak-terpengaruh-hadirnya-mrt-tapi</guid><pubDate>Jum'at 22 Februari 2019 12:27 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/02/22/320/2021423/pasar-automotif-tak-terpengaruh-hadirnya-mrt-tapi-7Q62lXCN30.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kondisi Jalanan di Jakarta (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/02/22/320/2021423/pasar-automotif-tak-terpengaruh-hadirnya-mrt-tapi-7Q62lXCN30.jpg</image><title>Kondisi Jalanan di Jakarta (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Pasar automotif di wilayah Jakarta dan sekitarnya dinilai tidak akan terpengaruh dengan kehadiran Moda Raya Terpadu atau Mass Rapid Transit (MRT) yang menurut rencana beroperasi secara komersial pada Maret.
Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie D Sugiarto di mengatakan, bahwa kehadiran sistem transportasi umum tidak akan mempengaruhi penjualan produk automotif, namun bisa jadi mengubah pola masyarakat dalam menggunakan kendaraannya.
&quot;Tentunya penjualan automotif akan bergantung pada pertumbuhan ekonomi, juga pendapatan per kapita. Bukan tergantung pada sistem transportasi. Saya melihat di negara dengan sistem transportasi mapan, dengan angkutan massal yang sudah baik misalnya Singapura sampai Hong Kong melalui jaringan bus, LRT, MRT, hingga monorail, penjualan mobil mereka tidak berkurang,&quot; kata Jongkie, dikutip dari Harian Neraca, Jakarta, Jumat (22/2/2019).
Baca Juga: Industri Kaca dalam Negeri Pasok 90% Produk Automotif
Menurut Jongkie, pendapatan masyarakat merupakan faktor utama yang mempengaruhi penjualan produk automotif. Sedangkan kehadiran transportasi umum yang baik layaknya negara maju, justru memudahkan mobilitas masyarakat saat hari kerja, dan mereka bisa menggunakan kendaraan pribadi saat akhir pekan.
&quot;Jika pendapatannya meningkat, mereka akan tetap membeli mobil. Kalau pendapatannya termasuk golongan mampu beli, saya yakin mereka tetap membeli. Tapi bisa yang berubah adalah penggunaannya. Jika Senin sampai Jumat pakai angkutan massal, nanti akhir pekan pakai mobil bersama-sama keluarga, entah makan bareng atau ke mana pun sesuai kebutuhan,&quot; kata Wakil Presiden Komisaris PT Hyundai Mobil Indonesia itu.

Kendati demikian, Jongkie tidak menampik apabila ada calon konsumen yang mengurungkan niatnya memiliki kendaraan pribadi apabila sistem transportasi di Indonesia semakin mapan. &quot;Memang ada persentasi ke sana, tapi kecil,&quot; ucap Jongkie, kemudian menambahkan bahwa mobil akan tetap dibeli sesuai kebutuhan.
Jodie O'tania selaku Vice President Corporate Communication BMW Group Indonesia juga menuturkan hal yang sama, yakni kehadiran MRT tidak akan berpengaruh signifikan pada penjualan otomotif. Dia meyakini ada saja konsumen mobil mewah yang menggunakan transportasi massal yang nyaman, namun mereka akan menggunakan mobil pribadinya saat libur atau akhir pekan guna menunjang gaya hidup.
Baca Juga: Industri Automotif RI Makin Berdaya Saing dengan Penyederhanaan Aturan Baru
&quot;Kami bermain di segmen premium dengan karakter konsumen premium yang berbeda. Jika memang mereka pakai transportasi massal, bisa saja saat weekend pakai mobil bersama keluarga. Jadi pengaruhnya (MRT terhadap penjualan otomotif) tidak signifikan,&quot; kata Jodie seusai peluncuran BMW X4 di Jakarta.
Peluang Jongkie mengatakan, rencana kehadiran MRT Jakarta fase I rute Lebak Bulus-Bundaran HI juga bisa dijadikan peluang oleh produsen kendaraan komersial untuk menawarkan produk bus kecil atau sedang, sebagai armada pengumpan dari wilayah permukiman menuju stasiun MRT.Kendati menurut rencana akan terdapat sejumlah halte Transjakarta  yang terintegrasi dengan stasiun MRT, namun menurut dia, apabila  pengguna MRT banyak dari daerah penyangga, misalnya Tangerang Selatan,  armada bus pengumpan akan dibutuhkan guna memudahkan akses para  penumpang.
Kemudahan akses tentunya akan menjadi stimulus bagi masyarakat untuk  beralih menggunakan transportasi umum. &quot;Itu angkutan umum bus, baik  sedang atau kecil, jadi mungkin saja akan ada kebutuhan untuk kendaraan  komersial sebagai pengumpan. Dari rumah naik bus ke stasiun MRT,&quot; kata  Jongkie.
Nikmati pembangunan Jongkie mengatakan, pembangunan infrastruktur,  mulai sistem transportasi hingga pembangunan jalan tol di daerah, turut  memberikan stimulus positif bagi industri automotif. Menurut dia, sistem  transportasi massal yang mapan berpotensi mengurangi kemacetan dan  menciptakan mobilitas yang cepat kepada warganya, yang tetap bisa  menggunakan kendaraan pribadi saat akhir pekan.
Pembangunan infrastruktur jalan tol, katanya, juga membuat pemilik  kendaraan tidak ragu menjajal kemampuan kendaraan pribadinya untuk  menempuh perjalanan keluar kota bersama keluarga. &quot;Pastinya mendukung  positif pembangunan infrastruktur. Pengguna mobil akan menikmati  kenyamanan, kedinamisan, dan performa kendaraan saat melakukan  perjalanan jarak jauh,&quot; kata dia.
Jongkie mengatakan, tidak hanya kendaran komersial yang menikmati  akses jalan tol di luar kota untuk pengiriman barang. Pemilik kendaraan  pribadi juga menikmati keleluasaan, efisiensi waktu dan biaya saat  mengemudi keluar kota.
&quot;Jika pakai jalan biasa, berapa kali injak rem dan berapa biaya  bensin yang dihabiskan? coba hitung. Tol memang berbiaya, tapi kendaraan  komersial dan penumpang sama-sama menikmatinya,&quot; katanya.</description><content:encoded>JAKARTA - Pasar automotif di wilayah Jakarta dan sekitarnya dinilai tidak akan terpengaruh dengan kehadiran Moda Raya Terpadu atau Mass Rapid Transit (MRT) yang menurut rencana beroperasi secara komersial pada Maret.
Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie D Sugiarto di mengatakan, bahwa kehadiran sistem transportasi umum tidak akan mempengaruhi penjualan produk automotif, namun bisa jadi mengubah pola masyarakat dalam menggunakan kendaraannya.
&quot;Tentunya penjualan automotif akan bergantung pada pertumbuhan ekonomi, juga pendapatan per kapita. Bukan tergantung pada sistem transportasi. Saya melihat di negara dengan sistem transportasi mapan, dengan angkutan massal yang sudah baik misalnya Singapura sampai Hong Kong melalui jaringan bus, LRT, MRT, hingga monorail, penjualan mobil mereka tidak berkurang,&quot; kata Jongkie, dikutip dari Harian Neraca, Jakarta, Jumat (22/2/2019).
Baca Juga: Industri Kaca dalam Negeri Pasok 90% Produk Automotif
Menurut Jongkie, pendapatan masyarakat merupakan faktor utama yang mempengaruhi penjualan produk automotif. Sedangkan kehadiran transportasi umum yang baik layaknya negara maju, justru memudahkan mobilitas masyarakat saat hari kerja, dan mereka bisa menggunakan kendaraan pribadi saat akhir pekan.
&quot;Jika pendapatannya meningkat, mereka akan tetap membeli mobil. Kalau pendapatannya termasuk golongan mampu beli, saya yakin mereka tetap membeli. Tapi bisa yang berubah adalah penggunaannya. Jika Senin sampai Jumat pakai angkutan massal, nanti akhir pekan pakai mobil bersama-sama keluarga, entah makan bareng atau ke mana pun sesuai kebutuhan,&quot; kata Wakil Presiden Komisaris PT Hyundai Mobil Indonesia itu.

Kendati demikian, Jongkie tidak menampik apabila ada calon konsumen yang mengurungkan niatnya memiliki kendaraan pribadi apabila sistem transportasi di Indonesia semakin mapan. &quot;Memang ada persentasi ke sana, tapi kecil,&quot; ucap Jongkie, kemudian menambahkan bahwa mobil akan tetap dibeli sesuai kebutuhan.
Jodie O'tania selaku Vice President Corporate Communication BMW Group Indonesia juga menuturkan hal yang sama, yakni kehadiran MRT tidak akan berpengaruh signifikan pada penjualan otomotif. Dia meyakini ada saja konsumen mobil mewah yang menggunakan transportasi massal yang nyaman, namun mereka akan menggunakan mobil pribadinya saat libur atau akhir pekan guna menunjang gaya hidup.
Baca Juga: Industri Automotif RI Makin Berdaya Saing dengan Penyederhanaan Aturan Baru
&quot;Kami bermain di segmen premium dengan karakter konsumen premium yang berbeda. Jika memang mereka pakai transportasi massal, bisa saja saat weekend pakai mobil bersama keluarga. Jadi pengaruhnya (MRT terhadap penjualan otomotif) tidak signifikan,&quot; kata Jodie seusai peluncuran BMW X4 di Jakarta.
Peluang Jongkie mengatakan, rencana kehadiran MRT Jakarta fase I rute Lebak Bulus-Bundaran HI juga bisa dijadikan peluang oleh produsen kendaraan komersial untuk menawarkan produk bus kecil atau sedang, sebagai armada pengumpan dari wilayah permukiman menuju stasiun MRT.Kendati menurut rencana akan terdapat sejumlah halte Transjakarta  yang terintegrasi dengan stasiun MRT, namun menurut dia, apabila  pengguna MRT banyak dari daerah penyangga, misalnya Tangerang Selatan,  armada bus pengumpan akan dibutuhkan guna memudahkan akses para  penumpang.
Kemudahan akses tentunya akan menjadi stimulus bagi masyarakat untuk  beralih menggunakan transportasi umum. &quot;Itu angkutan umum bus, baik  sedang atau kecil, jadi mungkin saja akan ada kebutuhan untuk kendaraan  komersial sebagai pengumpan. Dari rumah naik bus ke stasiun MRT,&quot; kata  Jongkie.
Nikmati pembangunan Jongkie mengatakan, pembangunan infrastruktur,  mulai sistem transportasi hingga pembangunan jalan tol di daerah, turut  memberikan stimulus positif bagi industri automotif. Menurut dia, sistem  transportasi massal yang mapan berpotensi mengurangi kemacetan dan  menciptakan mobilitas yang cepat kepada warganya, yang tetap bisa  menggunakan kendaraan pribadi saat akhir pekan.
Pembangunan infrastruktur jalan tol, katanya, juga membuat pemilik  kendaraan tidak ragu menjajal kemampuan kendaraan pribadinya untuk  menempuh perjalanan keluar kota bersama keluarga. &quot;Pastinya mendukung  positif pembangunan infrastruktur. Pengguna mobil akan menikmati  kenyamanan, kedinamisan, dan performa kendaraan saat melakukan  perjalanan jarak jauh,&quot; kata dia.
Jongkie mengatakan, tidak hanya kendaran komersial yang menikmati  akses jalan tol di luar kota untuk pengiriman barang. Pemilik kendaraan  pribadi juga menikmati keleluasaan, efisiensi waktu dan biaya saat  mengemudi keluar kota.
&quot;Jika pakai jalan biasa, berapa kali injak rem dan berapa biaya  bensin yang dihabiskan? coba hitung. Tol memang berbiaya, tapi kendaraan  komersial dan penumpang sama-sama menikmatinya,&quot; katanya.</content:encoded></item></channel></rss>
