<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Menperin: Indonesia Sudah Siap Era Industri 4.0</title><description>Indonesia perlu menyiapkan diri dalam upaya mengambil peluang di era digital</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/02/22/320/2021602/menperin-indonesia-sudah-siap-era-industri-4-0</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/02/22/320/2021602/menperin-indonesia-sudah-siap-era-industri-4-0"/><item><title>Menperin: Indonesia Sudah Siap Era Industri 4.0</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/02/22/320/2021602/menperin-indonesia-sudah-siap-era-industri-4-0</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/02/22/320/2021602/menperin-indonesia-sudah-siap-era-industri-4-0</guid><pubDate>Jum'at 22 Februari 2019 18:12 WIB</pubDate><dc:creator>Retno Tri Wardani</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/02/22/320/2021602/menperin-indonesia-sudah-siap-era-industri-4-0-dOG74kOvGQ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (Foto: Giri)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/02/22/320/2021602/menperin-indonesia-sudah-siap-era-industri-4-0-dOG74kOvGQ.jpg</image><title>Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (Foto: Giri)</title></images><description>JAKARTA - Implementasi industri 4.0 tidak hanya memiliki potensi luar biasa dalam mendorong perubahan kebijakan industri manufaktur, tetapi juga mampu mengubah berbagai aspek dalam kehidupan peradaban manusia. Untuk itu, Indonesia perlu menyiapkan diri dalam upaya mengambil peluang di era digital saat ini guna memacu pertumbuhan ekonomi nasional.
&amp;ldquo;Kita telah melihat banyak negara, baik negara maju maupun negara berkembang, menyerap pergerakan ini ke dalam agenda nasional mereka,untuk merevolusi strategi industri dan meningkatkan daya saing dalam pasar global,&amp;rdquo; kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto. dilansir dari laman Kementerian Perindustrian, Jakarta, Jumat (22/2/2019).
Menurut Menperin, Indonesia sudah siap memasuki era industri 4.0. Hal ini ditandai melalui peluncuran peta jalan Making Indonesia 4.0 oleh Presiden Joko Widodo pada 4 April 2018. Peta jalan tersebut menjadi strategi dan arah yang jelas dalam upaya merevitalisasi sektor manufaktur.
&amp;ldquo;Roadmap ini untuk mewujudkan aspirasi besar yang hendak kita capai dengan aplikasi industri 4.0 di Indonesia, yaitu  menjadi peringkat 10 besar ekonomi dunia pada 2030 dengan meningkatkan nett export, meningkatkan kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB, mencapai produktivitas yang kompetitif. Ini merupakan hasil dari penerapan teknologi dan inovasi,&amp;rdquo; ungkapnya.
Baca Juga: Kurangi Ketergantungan Impor, Industri Komponen dan Bahan Baku Diberikan Insentif
Airlangga menegaskan, Indonesia memiliki potensi besar untuk menerapkan industri 4.0, karena sedang menikmati bonus demografi hingga tahun 2030. &amp;ldquo;Negara-negara seperti China, Jepang dan Korea mengalami booming pertumbuhan pada saat bonus demografi dan masa ini adalah peak performance bagi Indonesia untuk mengakselerasi ekonominya,&amp;rdquo; katanya.
Selain meningkatkan net export sebesar 10% atau 13 kali lipat dibandingkan saat ini, sasaran Making Indonesia 4.0 juga meliputi peningkatan produktivitas tenaga kerja hingga dua kali lipat dibandingkan peningkatan biaya tenaga kerja, dan alokasi aktivitas R&amp;amp;D teknologi dan inovasi sebesar 2% dari PDB.
&amp;ldquo;Sangatlah jelas bahwa aspirasi tersebut adalah lompatan yang besar, kerja keras yang luar biasa yang perlu didukung oleh segenap pemangku kepentingan yang ada,&amp;rdquo; ujarnya.
&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2018/04/04/48801/248319_medium.jpg&quot; alt=&quot;Making Indonesia 4.0 untuk Industri Manufaktur Berdaya Saing Global&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Airlangga menambahkan, penerapan industri 4.0 juga akan mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi hingga 1-2%, penyerapan tambahan lebih dari 10 juta tenaga kerja, dan peningkatan kontribusi industri manufaktur pada perekonomian.
Berdasarkan riset Mckinsey, guna mencapai sasaran tersebut, Indonesia membutuhkan 17 juta tenaga kerja melek digital, dengan komposisi 30% di industri manufaktur dan 70% di industri penunjangnya.
&amp;ldquo;Ini berpotensi memberikan tambahan hingga USD150 miliar kepada ekonomi Indonesia,&amp;rdquo; tuturnya.
Baca Juga: Kapasitas Produksi Industri Kaca Lembaran Terus Meningkat
Adapun lima sektor industri yang akan menjadi tulang punggung untuk mencapai aspirasi besar Making Indonesia 4.0, yakni industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, kimia, serta elektronika. Kelompok manufaktur ini dipilih karena dinilai mempunya daya ungkit yang tinggi.
&amp;ldquo;Pendekatan pick the winner dalam hal menetapkan target bertujuan memberikan contoh yang nantinya akan dapat diikuti oleh sektor-sektor lain yang secara tidak langsung akan membawa kita ke sektor-sektor yang perlu kita prioritaskan dalam berkontribusi terhadap aspirasi yang dimaksud,&amp;rdquo; paparnya.
Menperin optimistis, Indonesia akan melompat jauh ke arah ekonomi yang lebih kuat. &amp;ldquo;Kita bisa lihat bahwa langkah-langkah awal pelibatan teknologi dalam ekonomi Indonesia telah melahirkan empat unicorn, yaitu GoJek, Traveloka, Tokopedia dan Bukalapak,&amp;rdquo; sebutnya.&amp;nbsp;Menurutnya, Indonesia adalah negara dengan jumlah unicorn terbanyak  di ASEAN. Unicorn, atau perusahaan start up dengan valuasi di atas USD1  miliar, tidak hanya mendorong pemanfaatan teknologi yang makin  luas,namun juga mengangkat perekonomian masyarakat dengan memudahkan  para pelaku ekonomi mikro mendapat akses pasar.
&amp;ldquo;Semenjak peluncuran Making Indonesia 4.0, revolusi industri 4.0  menjadi word of mouth di berbagai kalangan perguruan tinggi,&amp;rdquo; ungkapnya.  Inisiatif ini disambut positif berbagai pihak di Indonesia. Bahkan  menjadi rujukan untuk industri dan mendapat apresiasi dari beberapa  perusahaan dunia yang terkesan dengan inisiatif ini. Mereka berencana  untuk menjadikan Indonesia sebagai hub teknologi mereka.
Di luar itu, Indonesia juga menjadi salah satu negara yang menarik  perhatian dalam hal pembelajaran mengenai industri 4.0. Dalam berbagai  forum dunia seperti World Economic Forum, Indonesia diminta untuk bicara  mengenai strategi Making Indonesia 4.0 dan berbagi dengan  pemimpin-pemimpin dunia.
Dalam kesempatan ini, Menperinjuga mengajak generasi muda dan para  sivitas akademika untuk berpartisipasi dan mengambil peran secara aktif  dalam melaksanakan peta jalan Making Indonesia 4.0. Misalnya, ikut  berperan dalam memilih lighthouses atau champions untuk masing-masing  industri prioritas yang telah dipilih.
Konsep lighthouse ini secara resmi telah diadopsi oleh World Economic  Forum dalam dokumen Shaping the Future of Advanced Manufacturing &amp;amp;  Production sebagai hasil dari World Economic Forum Annual Meeting 2019.  &amp;ldquo;Sebuahlighthouse atau champion akan menjadi role model sekaligus juga  mitra dialog pemerintah dalam implementasiindustri 4.0 di Indonesia,&amp;rdquo;  imbuhnya.
Guna mendukung hal tersebut, diperlukan pula langkah dalam upaya  peningkatan kompetensi SDM. Langkah ini sesuai arahan Presiden Joko  Widodo, yang menginginkan pembangunan nasional saat ini difokuskan pada  pembangunan SDM yang berkualitas, sehingga perlu dilakukan berbagai  program pendidikan dan pelatihan vokasi secara lebih masif.
&amp;ldquo;Peningkatan kompetensi SDM menjadi salah satu program prioritas  karena dapat memacu produktivtas dan daya saing sektor industri  nasional,&amp;rdquo; tegas Menperin. Penyiapan menghadapi perkembangan industri  4.0, di antaranya melalui penguatan pendidikan vokasi industri.
Upaya yang telah dijalankan oleh Kemenperin, antara lain melalui  pendidikan vokasi berbasis kompetensi menggunakan sistem ganda atau dual  system, pembangunan politeknik industri atau akademi komunitas di  kawasan industri, sertaprogram pendidikan vokasi industri yang link and  matchantara SMK dengan industri.
&amp;ldquo;Untuk program link and match antara SMK dengan industri, yang telah  diluncurkan sejak tahun 2017, kami telah menjangkau wilayah Jawa,  Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi,&amp;rdquo; ungkapnya. Sejak digulirkan pada  tahun 2017, program ini telah mampu menggandeng sebanyak 2.074 SMK dan  745 perusahaan dengan melibatkan sebanyak 441.800 siswa.
Sementara itu, penyelenggaraan program pelatihan industri berbasis  kompetensi dengan sistem 3 in 1 (Pelatihan, Sertifikasi, dan Penempatan  Kerja) ditargetkan dapat menjaring 72.000 peserta pada Tahun 2019, serta  program Diploma I yang lulusannya langsung terserap bekerja di industri  dengan target 600 mahasiswa.</description><content:encoded>JAKARTA - Implementasi industri 4.0 tidak hanya memiliki potensi luar biasa dalam mendorong perubahan kebijakan industri manufaktur, tetapi juga mampu mengubah berbagai aspek dalam kehidupan peradaban manusia. Untuk itu, Indonesia perlu menyiapkan diri dalam upaya mengambil peluang di era digital saat ini guna memacu pertumbuhan ekonomi nasional.
&amp;ldquo;Kita telah melihat banyak negara, baik negara maju maupun negara berkembang, menyerap pergerakan ini ke dalam agenda nasional mereka,untuk merevolusi strategi industri dan meningkatkan daya saing dalam pasar global,&amp;rdquo; kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto. dilansir dari laman Kementerian Perindustrian, Jakarta, Jumat (22/2/2019).
Menurut Menperin, Indonesia sudah siap memasuki era industri 4.0. Hal ini ditandai melalui peluncuran peta jalan Making Indonesia 4.0 oleh Presiden Joko Widodo pada 4 April 2018. Peta jalan tersebut menjadi strategi dan arah yang jelas dalam upaya merevitalisasi sektor manufaktur.
&amp;ldquo;Roadmap ini untuk mewujudkan aspirasi besar yang hendak kita capai dengan aplikasi industri 4.0 di Indonesia, yaitu  menjadi peringkat 10 besar ekonomi dunia pada 2030 dengan meningkatkan nett export, meningkatkan kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB, mencapai produktivitas yang kompetitif. Ini merupakan hasil dari penerapan teknologi dan inovasi,&amp;rdquo; ungkapnya.
Baca Juga: Kurangi Ketergantungan Impor, Industri Komponen dan Bahan Baku Diberikan Insentif
Airlangga menegaskan, Indonesia memiliki potensi besar untuk menerapkan industri 4.0, karena sedang menikmati bonus demografi hingga tahun 2030. &amp;ldquo;Negara-negara seperti China, Jepang dan Korea mengalami booming pertumbuhan pada saat bonus demografi dan masa ini adalah peak performance bagi Indonesia untuk mengakselerasi ekonominya,&amp;rdquo; katanya.
Selain meningkatkan net export sebesar 10% atau 13 kali lipat dibandingkan saat ini, sasaran Making Indonesia 4.0 juga meliputi peningkatan produktivitas tenaga kerja hingga dua kali lipat dibandingkan peningkatan biaya tenaga kerja, dan alokasi aktivitas R&amp;amp;D teknologi dan inovasi sebesar 2% dari PDB.
&amp;ldquo;Sangatlah jelas bahwa aspirasi tersebut adalah lompatan yang besar, kerja keras yang luar biasa yang perlu didukung oleh segenap pemangku kepentingan yang ada,&amp;rdquo; ujarnya.
&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2018/04/04/48801/248319_medium.jpg&quot; alt=&quot;Making Indonesia 4.0 untuk Industri Manufaktur Berdaya Saing Global&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Airlangga menambahkan, penerapan industri 4.0 juga akan mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi hingga 1-2%, penyerapan tambahan lebih dari 10 juta tenaga kerja, dan peningkatan kontribusi industri manufaktur pada perekonomian.
Berdasarkan riset Mckinsey, guna mencapai sasaran tersebut, Indonesia membutuhkan 17 juta tenaga kerja melek digital, dengan komposisi 30% di industri manufaktur dan 70% di industri penunjangnya.
&amp;ldquo;Ini berpotensi memberikan tambahan hingga USD150 miliar kepada ekonomi Indonesia,&amp;rdquo; tuturnya.
Baca Juga: Kapasitas Produksi Industri Kaca Lembaran Terus Meningkat
Adapun lima sektor industri yang akan menjadi tulang punggung untuk mencapai aspirasi besar Making Indonesia 4.0, yakni industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, kimia, serta elektronika. Kelompok manufaktur ini dipilih karena dinilai mempunya daya ungkit yang tinggi.
&amp;ldquo;Pendekatan pick the winner dalam hal menetapkan target bertujuan memberikan contoh yang nantinya akan dapat diikuti oleh sektor-sektor lain yang secara tidak langsung akan membawa kita ke sektor-sektor yang perlu kita prioritaskan dalam berkontribusi terhadap aspirasi yang dimaksud,&amp;rdquo; paparnya.
Menperin optimistis, Indonesia akan melompat jauh ke arah ekonomi yang lebih kuat. &amp;ldquo;Kita bisa lihat bahwa langkah-langkah awal pelibatan teknologi dalam ekonomi Indonesia telah melahirkan empat unicorn, yaitu GoJek, Traveloka, Tokopedia dan Bukalapak,&amp;rdquo; sebutnya.&amp;nbsp;Menurutnya, Indonesia adalah negara dengan jumlah unicorn terbanyak  di ASEAN. Unicorn, atau perusahaan start up dengan valuasi di atas USD1  miliar, tidak hanya mendorong pemanfaatan teknologi yang makin  luas,namun juga mengangkat perekonomian masyarakat dengan memudahkan  para pelaku ekonomi mikro mendapat akses pasar.
&amp;ldquo;Semenjak peluncuran Making Indonesia 4.0, revolusi industri 4.0  menjadi word of mouth di berbagai kalangan perguruan tinggi,&amp;rdquo; ungkapnya.  Inisiatif ini disambut positif berbagai pihak di Indonesia. Bahkan  menjadi rujukan untuk industri dan mendapat apresiasi dari beberapa  perusahaan dunia yang terkesan dengan inisiatif ini. Mereka berencana  untuk menjadikan Indonesia sebagai hub teknologi mereka.
Di luar itu, Indonesia juga menjadi salah satu negara yang menarik  perhatian dalam hal pembelajaran mengenai industri 4.0. Dalam berbagai  forum dunia seperti World Economic Forum, Indonesia diminta untuk bicara  mengenai strategi Making Indonesia 4.0 dan berbagi dengan  pemimpin-pemimpin dunia.
Dalam kesempatan ini, Menperinjuga mengajak generasi muda dan para  sivitas akademika untuk berpartisipasi dan mengambil peran secara aktif  dalam melaksanakan peta jalan Making Indonesia 4.0. Misalnya, ikut  berperan dalam memilih lighthouses atau champions untuk masing-masing  industri prioritas yang telah dipilih.
Konsep lighthouse ini secara resmi telah diadopsi oleh World Economic  Forum dalam dokumen Shaping the Future of Advanced Manufacturing &amp;amp;  Production sebagai hasil dari World Economic Forum Annual Meeting 2019.  &amp;ldquo;Sebuahlighthouse atau champion akan menjadi role model sekaligus juga  mitra dialog pemerintah dalam implementasiindustri 4.0 di Indonesia,&amp;rdquo;  imbuhnya.
Guna mendukung hal tersebut, diperlukan pula langkah dalam upaya  peningkatan kompetensi SDM. Langkah ini sesuai arahan Presiden Joko  Widodo, yang menginginkan pembangunan nasional saat ini difokuskan pada  pembangunan SDM yang berkualitas, sehingga perlu dilakukan berbagai  program pendidikan dan pelatihan vokasi secara lebih masif.
&amp;ldquo;Peningkatan kompetensi SDM menjadi salah satu program prioritas  karena dapat memacu produktivtas dan daya saing sektor industri  nasional,&amp;rdquo; tegas Menperin. Penyiapan menghadapi perkembangan industri  4.0, di antaranya melalui penguatan pendidikan vokasi industri.
Upaya yang telah dijalankan oleh Kemenperin, antara lain melalui  pendidikan vokasi berbasis kompetensi menggunakan sistem ganda atau dual  system, pembangunan politeknik industri atau akademi komunitas di  kawasan industri, sertaprogram pendidikan vokasi industri yang link and  matchantara SMK dengan industri.
&amp;ldquo;Untuk program link and match antara SMK dengan industri, yang telah  diluncurkan sejak tahun 2017, kami telah menjangkau wilayah Jawa,  Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi,&amp;rdquo; ungkapnya. Sejak digulirkan pada  tahun 2017, program ini telah mampu menggandeng sebanyak 2.074 SMK dan  745 perusahaan dengan melibatkan sebanyak 441.800 siswa.
Sementara itu, penyelenggaraan program pelatihan industri berbasis  kompetensi dengan sistem 3 in 1 (Pelatihan, Sertifikasi, dan Penempatan  Kerja) ditargetkan dapat menjaring 72.000 peserta pada Tahun 2019, serta  program Diploma I yang lulusannya langsung terserap bekerja di industri  dengan target 600 mahasiswa.</content:encoded></item></channel></rss>
