<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Smelter Nikel Senilai USD1 Miliar Beroperasi di Konawe</title><description>Memperkenalkan industri smelter nikel yang bernilai USD1 miliar dan sudah beroperasi di Konawe.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/02/25/320/2022509/smelter-nikel-senilai-usd1-miliar-beroperasi-di-konawe</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/02/25/320/2022509/smelter-nikel-senilai-usd1-miliar-beroperasi-di-konawe"/><item><title>Smelter Nikel Senilai USD1 Miliar Beroperasi di Konawe</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/02/25/320/2022509/smelter-nikel-senilai-usd1-miliar-beroperasi-di-konawe</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/02/25/320/2022509/smelter-nikel-senilai-usd1-miliar-beroperasi-di-konawe</guid><pubDate>Senin 25 Februari 2019 14:33 WIB</pubDate><dc:creator>Retno Tri Wardani</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/02/25/320/2022509/smelter-nikel-senilai-usd1-miliar-beroperasi-di-konawe-oPYCyKWUM8.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Smelter Nikel (Foto: Website Kemenperin)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/02/25/320/2022509/smelter-nikel-senilai-usd1-miliar-beroperasi-di-konawe-oPYCyKWUM8.jpeg</image><title>Smelter Nikel (Foto: Website Kemenperin)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Pemerintah terus berupaya meningkatkan nilai tambah sumber daya alam dalam negeri. Salah satunya memperkenalkan industri smelter nikel yang bernilai USD1 miliar dan sudah beroperasi di Konawe.
Industri pengolahan dan pemurnian (smelter) berbasis nikel semakin menggeliat seiring dengan peningkatan investasi yang masuk ke Indonesia. Terlebih lagi, industri smelter dinilai berperan penting dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional lantaran sejalan terhadap program peningkatan nilai tambah sumber daya alam.
&amp;ldquo;Pemerintah berkomitmen melaksanakan kebijakan hilirisasi industri, karena mampu meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri, penyerapan tenaga kerja lokal dan penerimaan devisa dari ekspor,&amp;rdquo; kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto. dikutip dari laman Kementerian Perindustrian, Jakarta, Senin (25/2/2019).
Baca Juga: Daftar Perusahaan Tambang 'Malas-malasan' Bangun Smelter
 
Untuk itu, Menperin memberikan apresiasi kepada PT VDNI yang telah merealisasikan investasinya sebesar USD1miliar untuk membangun 15 tungku Rotary Kiln-Electric Furnace (RKEF) dengan total kapasitas produksi bisa mencapai 800 ribu metrik ton per tahun untuk menghasilkan Nickel Pig Iron (NPI) yang memiliki kadar nikel 10-12%.
&amp;ldquo;Kami menyambut baik proyek ini, apalagi akan dilanjutkan menjadi industri yang terintegrasi dan menghasilkan stainless steel berkelas dunia,&amp;rdquo; ujarnya.
PT VDNI telah memberikan kontribusi cukup signfikanterhadap pertumbuhan nilai ekspor nasional, yang menyumbang sebesar USD142,2 juta hingga akhir tahun 2018 dari pengapalan produk NPI.
&amp;ldquo;Selain itu, proyek ini telah menyerap tenaga kerja sebanyak enam 6.000 orang yang sebagian besar merupakan warga asli Sulawesi Tenggara. Tenaga kerja tidak langsung juga terserap sebanyak 10.000 orang yang merupakan bagian dari multiplier effect,&amp;rdquo; paparnya.
Airlangga pun berharap, aktivitas industrialisasi ini mendapat dukungan harmonis dari masyarakat, pemerintah daerah dan stakeholder. &amp;ldquo;Dengan kerja sama yang baik, keberadaan industri ini bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar,&amp;rdquo; ujarnya.

Fasilitas smelter dengan luas area 700 hektare tersebut menjadi salah satu fasilitas pemurnian bijih nikel terbesar di Indonesia. PT VDNI adalah anak perusahaan Jiangsu Delong Nickel Industry Co., Ltd, produsen feronikel terkemuka.
Bahkan, perusahaan afiliasi PT VDNI, sedang membangun pabrik smelter nikel dengan kapasitas produksi NPI sebanyak 1,2 juta ton per tahun dan pabrik untuk memproduksi stainless steel dengan kapasitas sebanyak 3 juta ton per tahun. Total nilai investasi ini diperkirakan mencapai USD2 miliar. Dengan diproduksinya stainless steel di PT VDNI sangat sesuai dengan program hilirisasi smelter di Indonesia yang sedang di dorong terus oleh Kementerian Perindustrian.
&amp;ldquo;Pembangunan pabrik di luar Pulau Jawa ini sesuai arahan Presiden Joko Widodo yang menginginkan pemerataan industri dan ekonomi sehingga terwujudnya Indonesia sentris,&amp;rdquo; tegasnya. Pemerintah memproyeksikan akan terjadi peningkatan kontribusi sektor industri pengolahan nonmigas di luar Jawa sebesar 60% dibanding di Jawa.
Presiden Direktur PT VDNI Zhu Min Dong menyampaikan, pihaknya bertekad untuk menjadi industri smelter terbesar di Indonesia dan berkelas dunia di masa mendatang.
&amp;ldquo;Fasilitas ini memiliki potensi besar untuk memberikan dampak positif terhadap pembangunan dan kemajuan Sulawesi Tenggara pada khususnya serta umumnya bagi kemajuan Indonesia,&amp;rdquo; tuturnya.Dia menambahkan,sumber daya manusia merupakan aset yang sangat  penting dalam menunjang kinerja perusahaan. Untuk itu, PT VDNI terus  melakukan peningkatan keterampilan dalam bidang smelter nikel. &amp;ldquo;Salah  satunya adalah dengan memberangkatkan putra-putri daerah terbaik untuk  belajar di Tiongkok pada tahun 2018 lalu,&amp;rdquo; imbuhnya.
Kehadiran fasilitas smelter PT VDNI dapat memberi efek berantaiyang  luas dalam berbagai aktivitas industrialisasi di banyak bidang. Salah  satunya adalah penggunaan tenaga kerja kontraktor yang menjadi rekanan  bagi PT VDNI, seperti misalnya jasa logistik, penggunaan kapal tongkang,  tenaga kerja konstruksi dan bongkar muat, serta pekerja pertambangan.
Zhu Min Dong juga mengemukakan, dengan adanya fasilitas dermaga yang  memiliki kapasitas hingga 2.500.000 DWT per tahun, dapat menunjang  mobilitas dan mempermudah proses logistik serta pengapalan mineral hasil  olahan pabriknya.
&amp;ldquo;Pada September 2017 lalu, untuk pertama kalinya PT VDNI telah  melakukan kegiatan ekspor NPI sebanyak 7.733 metrik ton dengan tujuan ke  Tiongkok,&amp;rdquo; ungkapnya.
Baca Juga: Rapat 5 Jam soal Tambang, Komisi VII Minta Pembangunan Smelter Diawasi
 
Target 6 juta
Pada kesempatan yang sama, Menperin optimistis, dengan beroperasinya  pabrik-pabrik smelter di Konawe, Sulawesi Tenggara dan Morowali,  Sulawesi Tengah akan menjadikan pulau Sulawesi sebagai pusat  industriberbasis stainless steel berkelas dunia dengan total kapasitas  melampaui 6 juta ton per tahun.
Rencananya di Konawe akan mampu memproduksi stainless steel dengan  kapasitas sebanyak tiga juta ton per tahun, sedangkan di Morowali sudah  menghasilkan 3,5 juta ton stainless steel per tahun. Apabila Indonesia  mampu menembus kapasitas enam juta ton stainless steel per tahun saja,  itu dinilai menjadi produsen baja nirkarat keempat terbesar di dunia.
&amp;ldquo;Sebagai komponen utama, sektor industri logam berpotensi memberikan  kontribusi besar terhadap pembangunan ekonomi nasional melalui  peningkatan added value sehingga akan terjadi multiplier effectdengan  tumbuhnya industri lain serta terjadinya aktivitas sosial ekonomi, yang  pada akhirnya akan menjadi push factor bagi peningkatan daya saing  ekonomi bangsa,&amp;rdquo; paparnya.
Sektor industri logam memiliki peranan besar dalam pembangunan dan  perkembangan industri nasional. Hal ini disebabkan karena hasil industri  logam adalah sebagai bahan baku utama bagi kegiatan sektor industri  lainnya, seperti permesinan dan peralatan pabrik, otomotif, maritim  serta elektronika.Di samping itu, produk logam sangat dibutuhkan oleh banyak sektor, di   antaranya adalah sektor konstruksi yang meliputi bangunan dan  properti,  jalan dan jembatan, ketenagalistrikan, dan lain-lain.
Seiring maraknya berbagai proyek infrastruktur dan tumbuhnya industri   pengguna, kinerja industri logam terlihat gemilang. Ini ditandai dari   catatan pertumbuhan sektor industri logam pada tahun 2018 yang  menyentuh  angka 7,6%, naik dibandingkan pada tahun 2017 dan 2016 yang   masing-masing sebesar 6,33% dan 2,35%.
Oleh karena itu, pemerintah akan terus berupaya untuk menciptakan   iklim usaha yang kondusif agar dunia industri tetap bergairah melakukan   investasinya di Indonesia. Sebagai langkah mendorong penumbuhan   investasi baru di sektor manufaktur, termasuk industri logam, pemerintah   telah memberikan berbagai fasilitas di antaranya tax holiday, tax   allowance serta pembebasan bea masuk terhadap barang modal untuk   investasi serta tata niaga.
Selanjutnya, dalam rangka menciptakan tenaga kerja yang kompeten dan   sesuai dengan kebutuhan dunia industri saat ini, Kemenperin telah   meluncurkan program pendidikan vokasi yang link and match antara Sekolah   Menengah Kejuruan (SMK) dengan industri di beberapa wilayah di   Indonesia. Dalam hal ini, pemerintah akan menyiapkan insentif kepada   industri dalam negeri yang melakukan pengembangan SDM melalui pemberian   super dedutible tax sebesar 200%.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Pemerintah terus berupaya meningkatkan nilai tambah sumber daya alam dalam negeri. Salah satunya memperkenalkan industri smelter nikel yang bernilai USD1 miliar dan sudah beroperasi di Konawe.
Industri pengolahan dan pemurnian (smelter) berbasis nikel semakin menggeliat seiring dengan peningkatan investasi yang masuk ke Indonesia. Terlebih lagi, industri smelter dinilai berperan penting dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional lantaran sejalan terhadap program peningkatan nilai tambah sumber daya alam.
&amp;ldquo;Pemerintah berkomitmen melaksanakan kebijakan hilirisasi industri, karena mampu meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri, penyerapan tenaga kerja lokal dan penerimaan devisa dari ekspor,&amp;rdquo; kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto. dikutip dari laman Kementerian Perindustrian, Jakarta, Senin (25/2/2019).
Baca Juga: Daftar Perusahaan Tambang 'Malas-malasan' Bangun Smelter
 
Untuk itu, Menperin memberikan apresiasi kepada PT VDNI yang telah merealisasikan investasinya sebesar USD1miliar untuk membangun 15 tungku Rotary Kiln-Electric Furnace (RKEF) dengan total kapasitas produksi bisa mencapai 800 ribu metrik ton per tahun untuk menghasilkan Nickel Pig Iron (NPI) yang memiliki kadar nikel 10-12%.
&amp;ldquo;Kami menyambut baik proyek ini, apalagi akan dilanjutkan menjadi industri yang terintegrasi dan menghasilkan stainless steel berkelas dunia,&amp;rdquo; ujarnya.
PT VDNI telah memberikan kontribusi cukup signfikanterhadap pertumbuhan nilai ekspor nasional, yang menyumbang sebesar USD142,2 juta hingga akhir tahun 2018 dari pengapalan produk NPI.
&amp;ldquo;Selain itu, proyek ini telah menyerap tenaga kerja sebanyak enam 6.000 orang yang sebagian besar merupakan warga asli Sulawesi Tenggara. Tenaga kerja tidak langsung juga terserap sebanyak 10.000 orang yang merupakan bagian dari multiplier effect,&amp;rdquo; paparnya.
Airlangga pun berharap, aktivitas industrialisasi ini mendapat dukungan harmonis dari masyarakat, pemerintah daerah dan stakeholder. &amp;ldquo;Dengan kerja sama yang baik, keberadaan industri ini bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar,&amp;rdquo; ujarnya.

Fasilitas smelter dengan luas area 700 hektare tersebut menjadi salah satu fasilitas pemurnian bijih nikel terbesar di Indonesia. PT VDNI adalah anak perusahaan Jiangsu Delong Nickel Industry Co., Ltd, produsen feronikel terkemuka.
Bahkan, perusahaan afiliasi PT VDNI, sedang membangun pabrik smelter nikel dengan kapasitas produksi NPI sebanyak 1,2 juta ton per tahun dan pabrik untuk memproduksi stainless steel dengan kapasitas sebanyak 3 juta ton per tahun. Total nilai investasi ini diperkirakan mencapai USD2 miliar. Dengan diproduksinya stainless steel di PT VDNI sangat sesuai dengan program hilirisasi smelter di Indonesia yang sedang di dorong terus oleh Kementerian Perindustrian.
&amp;ldquo;Pembangunan pabrik di luar Pulau Jawa ini sesuai arahan Presiden Joko Widodo yang menginginkan pemerataan industri dan ekonomi sehingga terwujudnya Indonesia sentris,&amp;rdquo; tegasnya. Pemerintah memproyeksikan akan terjadi peningkatan kontribusi sektor industri pengolahan nonmigas di luar Jawa sebesar 60% dibanding di Jawa.
Presiden Direktur PT VDNI Zhu Min Dong menyampaikan, pihaknya bertekad untuk menjadi industri smelter terbesar di Indonesia dan berkelas dunia di masa mendatang.
&amp;ldquo;Fasilitas ini memiliki potensi besar untuk memberikan dampak positif terhadap pembangunan dan kemajuan Sulawesi Tenggara pada khususnya serta umumnya bagi kemajuan Indonesia,&amp;rdquo; tuturnya.Dia menambahkan,sumber daya manusia merupakan aset yang sangat  penting dalam menunjang kinerja perusahaan. Untuk itu, PT VDNI terus  melakukan peningkatan keterampilan dalam bidang smelter nikel. &amp;ldquo;Salah  satunya adalah dengan memberangkatkan putra-putri daerah terbaik untuk  belajar di Tiongkok pada tahun 2018 lalu,&amp;rdquo; imbuhnya.
Kehadiran fasilitas smelter PT VDNI dapat memberi efek berantaiyang  luas dalam berbagai aktivitas industrialisasi di banyak bidang. Salah  satunya adalah penggunaan tenaga kerja kontraktor yang menjadi rekanan  bagi PT VDNI, seperti misalnya jasa logistik, penggunaan kapal tongkang,  tenaga kerja konstruksi dan bongkar muat, serta pekerja pertambangan.
Zhu Min Dong juga mengemukakan, dengan adanya fasilitas dermaga yang  memiliki kapasitas hingga 2.500.000 DWT per tahun, dapat menunjang  mobilitas dan mempermudah proses logistik serta pengapalan mineral hasil  olahan pabriknya.
&amp;ldquo;Pada September 2017 lalu, untuk pertama kalinya PT VDNI telah  melakukan kegiatan ekspor NPI sebanyak 7.733 metrik ton dengan tujuan ke  Tiongkok,&amp;rdquo; ungkapnya.
Baca Juga: Rapat 5 Jam soal Tambang, Komisi VII Minta Pembangunan Smelter Diawasi
 
Target 6 juta
Pada kesempatan yang sama, Menperin optimistis, dengan beroperasinya  pabrik-pabrik smelter di Konawe, Sulawesi Tenggara dan Morowali,  Sulawesi Tengah akan menjadikan pulau Sulawesi sebagai pusat  industriberbasis stainless steel berkelas dunia dengan total kapasitas  melampaui 6 juta ton per tahun.
Rencananya di Konawe akan mampu memproduksi stainless steel dengan  kapasitas sebanyak tiga juta ton per tahun, sedangkan di Morowali sudah  menghasilkan 3,5 juta ton stainless steel per tahun. Apabila Indonesia  mampu menembus kapasitas enam juta ton stainless steel per tahun saja,  itu dinilai menjadi produsen baja nirkarat keempat terbesar di dunia.
&amp;ldquo;Sebagai komponen utama, sektor industri logam berpotensi memberikan  kontribusi besar terhadap pembangunan ekonomi nasional melalui  peningkatan added value sehingga akan terjadi multiplier effectdengan  tumbuhnya industri lain serta terjadinya aktivitas sosial ekonomi, yang  pada akhirnya akan menjadi push factor bagi peningkatan daya saing  ekonomi bangsa,&amp;rdquo; paparnya.
Sektor industri logam memiliki peranan besar dalam pembangunan dan  perkembangan industri nasional. Hal ini disebabkan karena hasil industri  logam adalah sebagai bahan baku utama bagi kegiatan sektor industri  lainnya, seperti permesinan dan peralatan pabrik, otomotif, maritim  serta elektronika.Di samping itu, produk logam sangat dibutuhkan oleh banyak sektor, di   antaranya adalah sektor konstruksi yang meliputi bangunan dan  properti,  jalan dan jembatan, ketenagalistrikan, dan lain-lain.
Seiring maraknya berbagai proyek infrastruktur dan tumbuhnya industri   pengguna, kinerja industri logam terlihat gemilang. Ini ditandai dari   catatan pertumbuhan sektor industri logam pada tahun 2018 yang  menyentuh  angka 7,6%, naik dibandingkan pada tahun 2017 dan 2016 yang   masing-masing sebesar 6,33% dan 2,35%.
Oleh karena itu, pemerintah akan terus berupaya untuk menciptakan   iklim usaha yang kondusif agar dunia industri tetap bergairah melakukan   investasinya di Indonesia. Sebagai langkah mendorong penumbuhan   investasi baru di sektor manufaktur, termasuk industri logam, pemerintah   telah memberikan berbagai fasilitas di antaranya tax holiday, tax   allowance serta pembebasan bea masuk terhadap barang modal untuk   investasi serta tata niaga.
Selanjutnya, dalam rangka menciptakan tenaga kerja yang kompeten dan   sesuai dengan kebutuhan dunia industri saat ini, Kemenperin telah   meluncurkan program pendidikan vokasi yang link and match antara Sekolah   Menengah Kejuruan (SMK) dengan industri di beberapa wilayah di   Indonesia. Dalam hal ini, pemerintah akan menyiapkan insentif kepada   industri dalam negeri yang melakukan pengembangan SDM melalui pemberian   super dedutible tax sebesar 200%.</content:encoded></item></channel></rss>
