<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Perang Swasta Vs BUMN: Rebutan Pengguna Uang Elektronik</title><description>Kehadiran sistem pembayaran digital kian menggeser kebiasaan bertransaksi dengan uang tunai.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/03/04/320/2024490/perang-swasta-vs-bumn-rebutan-pengguna-uang-elektronik</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/03/04/320/2024490/perang-swasta-vs-bumn-rebutan-pengguna-uang-elektronik"/><item><title>Perang Swasta Vs BUMN: Rebutan Pengguna Uang Elektronik</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/03/04/320/2024490/perang-swasta-vs-bumn-rebutan-pengguna-uang-elektronik</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/03/04/320/2024490/perang-swasta-vs-bumn-rebutan-pengguna-uang-elektronik</guid><pubDate>Senin 04 Maret 2019 07:13 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/03/01/320/2024490/perang-swasta-vs-bumn-rebutan-pengguna-uang-elektronik-K9UygHW6Lg.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Reuters</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/03/01/320/2024490/perang-swasta-vs-bumn-rebutan-pengguna-uang-elektronik-K9UygHW6Lg.jpg</image><title>Foto: Reuters</title></images><description>JAKARTA - Kehadiran sistem pembayaran digital kian menggeser kebiasaan bertransaksi dengan uang tunai. Saat ini, tak lagi harus mengeluarkan uang tunai untuk membayar apapun, karena ada beberapa platform yang mendukung pembayaran secara elektronik.
Seperti dikutip CekAja, Jakarta, Senin (4/5/2019), data Bank Indonesia per 22 Februari 2019 menyebutkan terdapat 36 penyelenggara uang elektronik yang memperoleh izin dari bank sentral baik yang dikeluarkan oleh swasta maupun perusahaan milik pemerintah.
Dari ke-36 penyelenggara uang elektronik tersebut, setidaknya ada tiga pemain besar sistem pembayaran digital yang selama ini digunakan oleh masyarakat antara lain T-Cash keluaran PT Telekomunikasi Indonesia, Gopay keluaran PT Dompet Anak Bangsa, dan OVO yang diterbitkan PT Visionet Internasional grupnya Lippo.
Gebrakan LinkAja
Sudah sekitar 10 tahun beroperasi, layanan T-Cash per 22 Februari 2019 berubah wujud menjadi LinkAja. Layanan dompet digital milik BUMN Telkomsel ini akan menggabungkan uang elektronik dari beberapa bank plat merah antara lain e-cash dari Bank Mandiri, Unikqu dari Bank BNI, Tbank dari Bank BRI dan T-cash serta T-Money dari Telkom Group. Nantinya, LinkAja akan berada di bawah naungan sebuah perusahaan financial technology bernama PT Fintek Karya Nusantara (Finarya).
&amp;nbsp;Baca Juga: Telkomsel Alihkan Modal dan Layanan T-Cash ke LinkAja
Kehadiran Finarya sendiri telah digodok sejak tahun lalu untuk membangkitkan kembali produk uang elektronik milik BUMN yang selama ini kurang diminati masyarakat akibat penetrasi masif dari kehadiran Gopay dan OVO.
Dari pembentukan perusahaan atas nama Finarya tersebut, Telkomsel mendominasi saham paling besar yakni 25 persen. Sisanya yakni BRI 20 persen, BNI 20 persen, Bank Mandiri 20 persen, BTN 7 persen, Pertamina 7 persen, dan Jiwasraya 1 persen.
Produk-produk e-money sebelumnya yang dikeluarkan perusahaan BUMN di atas sengaja digabungkan untuk membetot para pelanggan menggunakan produk e-money keluaran pemerintah. Sebagai gambaran saja, T-Cash memiliki 30 juta pelanggan dari total pelanggan Telkomsel yang mencapai 200 juta. Selain itu, rata-rata bank BUMN memiliki nasabah hingga 10 juta orang. Dengan demikian LinkAja diharapkan bisa menjadi platform yang menyerap pasar para pelanggan produk-produk dompet digital milik BUMN tersebut.
Tampaknya, kehadiran LinkAja akan menghantui dua pemain besar yakni Gopay dan OVO yang selama ini memanjakan masyarakat sebagai alat transaksi. Layanan LinkAja sejauh ini menawarkan dua fasilitas basic service dengan saldo maksimal Rp2 juta dan full service dengan saldo maksimal Rp10 juta.
&amp;nbsp;Baca Juga: BUMN Bakal Luncurkan QR Code LinkAja
Para pelanggan bisa menikmati berbagai layanan yang disediakan antara lain cash in, belanja online, bayar dan beli di ponsel, tap payment, kirim uang hingga cash out.
Cara menggunakannya pun hampir sama dengan para pemain lainnya. Kamu cukup install, registrasi, isi saldo dan tinggal lakukan transaksi dengan mudah. Selain itu, kamu juga bisa nikmati banyak promo yang ditawarkan.Gopay yang Melesat
Sejak memperoleh izin berdasarkan surat yang dikeluarkan oleh Bank  Indonesia No.16/129/DKSP tanggal 18 Juli 2014 dan mulai beroperasi pada 5  Januari 2015, Gopay menjadi salah satu sistem pembayaran para pengguna  Gojek non tunai.
Saat itu, Gopay jor-joran bakar uang sebagai ladang promosi. Maklum,  suntikan modal dari investor kelas kakap macam Tencent, Google hingga  Astra menjadikan produk yang dicetuskan Nadiem Makarim ini rela  bakar-bakar uang demi bisnis yang satu ini. Sampai-sampai Nadiem  mengklaim bahwa Gopay telah berkontribusi sebesar 30 persen atau sekitar  31,34 juta transaksi uang elektronik di Indonesia dari total 104,47  juta transaksi.
Data MDI Ventures pada 2017 menyebutkan jumlah pengguna Gopay  mencapai 10 juta orang dengan jumlah transaksi per hari mencapai 1,5  juta transaksi. Jumlah tersebut kemungkinan terus bertambah seiring  bertambah pula pengguna Gopay saat ini.
Gopay saat ini tak hanya digunakan untuk pembayaran Gojek tetapi  sudah berfungsi untuk transaksi lain seperti mengisi pulsa, transfer,  menarik uang ke rekening bank, tagihan listrik hingga BPJS. Ada juga  promo yang diberikan Gopay kepada pengguna berupa diskon untuk  merchant-merchant tertentu.
Gopay juga saat ini telah keluar dari ekosistem Gojek, artinya Gopay  merupakan perusahaan sendiri meskipun masih di bawah entitas perusahaan  yang menaungi Gojek. Seperti yang pernah dikatakan Nadiem, Gopay ke  depan akan menjadi salah satu kontributor utama pendapatan perusahaannya  selain dari Goride atau Gofood, meskipun hingga saat ini Gopay masih  dalam tahap bakar-bakar uang untuk promosi eksistensinya itu.OVO Tak Mau Kalah
Beroperasi sejak Agustus 2017, OVO sebagai produk pembayaran digital   keluaran PT Visionet Internasional dari Lippo Group mendapat lampu  hijau  dari Bank Indonesia dengan izin nomor 19/661/DKSP/Srt/B tanggal 7   Agustus 2017. Hampir dalam dua tahun terakhir ini OVO juga tak mau  kalah  jor-joran uang untuk promosi eksistensinya melalui perang diskon,  dan  cashback.
Sebagai contoh, belakangan ini mungkin kamu sering melihat promosi   iklan Grabcar ke mana saja dengan hanya Rp1 dengan menggunakan OVO. Saat   ini OVO juga tengah menjalin kerja sama dengan Tokopedia untuk menjadi   partner sistem pembayaran.
Saat ini, platform uang elektronik yang telah bekerja sama dengan   60.000 outlet di seluruh Indonesia ini diklaim telah digunakan oleh 6   hingga 8 juta orang dengan jumlah transaksi per harinya mencapai 250.000   transaksi. Manfaat yang bisa dirasakan pengguna OVO antara lain untuk   pembayaran tagihan listrik, telepon, internet, asuransi, hingga bayar   parkir.
Ketiga pemain dompet digital di atas mulai dari LinkAja, Gopay dan   OVO tentu sudah menerawang jauh-jauh bagaimana skema bisnis dari sistem   cashless ini akan menguntungkan di kemudian hari. Termasuk mengaktivasi   QR Code sebagai salah satu sistem pembayaran transaksinya.
Ketiga platform tersebut juga disebut-sebut sebagai aplikasi   pembayaran digital terpopuler menurut hasil riset Fintech Report 2018   Daily Social. Riset tersebut menyebutkan fintech kategori uang   elektronik paling populer yakni Gopay 79,39 persen, OVO 58,42 persen dan   T-Cash yang saat menjelma LinkAja 55,52 persen.
Selain ketiga pemain tersebut, ada para pemain lain yang sama-sama   berebut pengguna dompet digital atau uang elektronik sebagai alat   transaksi yang mudah, aman, fleksibel dan efisien. Tentu saja, ke depan   para pengguna uang elektronik akan terus bertambah dan menjadi peluang   besar terhadap pengguna e-money. Sehingga para pemain e-money ini akan   terus berlomba-lomba membetot perhatian mereka. Nah, kalau kamu lebih   nyaman menggunakan aplikasi yang mana, LinkAja, Gopay atau OVO?</description><content:encoded>JAKARTA - Kehadiran sistem pembayaran digital kian menggeser kebiasaan bertransaksi dengan uang tunai. Saat ini, tak lagi harus mengeluarkan uang tunai untuk membayar apapun, karena ada beberapa platform yang mendukung pembayaran secara elektronik.
Seperti dikutip CekAja, Jakarta, Senin (4/5/2019), data Bank Indonesia per 22 Februari 2019 menyebutkan terdapat 36 penyelenggara uang elektronik yang memperoleh izin dari bank sentral baik yang dikeluarkan oleh swasta maupun perusahaan milik pemerintah.
Dari ke-36 penyelenggara uang elektronik tersebut, setidaknya ada tiga pemain besar sistem pembayaran digital yang selama ini digunakan oleh masyarakat antara lain T-Cash keluaran PT Telekomunikasi Indonesia, Gopay keluaran PT Dompet Anak Bangsa, dan OVO yang diterbitkan PT Visionet Internasional grupnya Lippo.
Gebrakan LinkAja
Sudah sekitar 10 tahun beroperasi, layanan T-Cash per 22 Februari 2019 berubah wujud menjadi LinkAja. Layanan dompet digital milik BUMN Telkomsel ini akan menggabungkan uang elektronik dari beberapa bank plat merah antara lain e-cash dari Bank Mandiri, Unikqu dari Bank BNI, Tbank dari Bank BRI dan T-cash serta T-Money dari Telkom Group. Nantinya, LinkAja akan berada di bawah naungan sebuah perusahaan financial technology bernama PT Fintek Karya Nusantara (Finarya).
&amp;nbsp;Baca Juga: Telkomsel Alihkan Modal dan Layanan T-Cash ke LinkAja
Kehadiran Finarya sendiri telah digodok sejak tahun lalu untuk membangkitkan kembali produk uang elektronik milik BUMN yang selama ini kurang diminati masyarakat akibat penetrasi masif dari kehadiran Gopay dan OVO.
Dari pembentukan perusahaan atas nama Finarya tersebut, Telkomsel mendominasi saham paling besar yakni 25 persen. Sisanya yakni BRI 20 persen, BNI 20 persen, Bank Mandiri 20 persen, BTN 7 persen, Pertamina 7 persen, dan Jiwasraya 1 persen.
Produk-produk e-money sebelumnya yang dikeluarkan perusahaan BUMN di atas sengaja digabungkan untuk membetot para pelanggan menggunakan produk e-money keluaran pemerintah. Sebagai gambaran saja, T-Cash memiliki 30 juta pelanggan dari total pelanggan Telkomsel yang mencapai 200 juta. Selain itu, rata-rata bank BUMN memiliki nasabah hingga 10 juta orang. Dengan demikian LinkAja diharapkan bisa menjadi platform yang menyerap pasar para pelanggan produk-produk dompet digital milik BUMN tersebut.
Tampaknya, kehadiran LinkAja akan menghantui dua pemain besar yakni Gopay dan OVO yang selama ini memanjakan masyarakat sebagai alat transaksi. Layanan LinkAja sejauh ini menawarkan dua fasilitas basic service dengan saldo maksimal Rp2 juta dan full service dengan saldo maksimal Rp10 juta.
&amp;nbsp;Baca Juga: BUMN Bakal Luncurkan QR Code LinkAja
Para pelanggan bisa menikmati berbagai layanan yang disediakan antara lain cash in, belanja online, bayar dan beli di ponsel, tap payment, kirim uang hingga cash out.
Cara menggunakannya pun hampir sama dengan para pemain lainnya. Kamu cukup install, registrasi, isi saldo dan tinggal lakukan transaksi dengan mudah. Selain itu, kamu juga bisa nikmati banyak promo yang ditawarkan.Gopay yang Melesat
Sejak memperoleh izin berdasarkan surat yang dikeluarkan oleh Bank  Indonesia No.16/129/DKSP tanggal 18 Juli 2014 dan mulai beroperasi pada 5  Januari 2015, Gopay menjadi salah satu sistem pembayaran para pengguna  Gojek non tunai.
Saat itu, Gopay jor-joran bakar uang sebagai ladang promosi. Maklum,  suntikan modal dari investor kelas kakap macam Tencent, Google hingga  Astra menjadikan produk yang dicetuskan Nadiem Makarim ini rela  bakar-bakar uang demi bisnis yang satu ini. Sampai-sampai Nadiem  mengklaim bahwa Gopay telah berkontribusi sebesar 30 persen atau sekitar  31,34 juta transaksi uang elektronik di Indonesia dari total 104,47  juta transaksi.
Data MDI Ventures pada 2017 menyebutkan jumlah pengguna Gopay  mencapai 10 juta orang dengan jumlah transaksi per hari mencapai 1,5  juta transaksi. Jumlah tersebut kemungkinan terus bertambah seiring  bertambah pula pengguna Gopay saat ini.
Gopay saat ini tak hanya digunakan untuk pembayaran Gojek tetapi  sudah berfungsi untuk transaksi lain seperti mengisi pulsa, transfer,  menarik uang ke rekening bank, tagihan listrik hingga BPJS. Ada juga  promo yang diberikan Gopay kepada pengguna berupa diskon untuk  merchant-merchant tertentu.
Gopay juga saat ini telah keluar dari ekosistem Gojek, artinya Gopay  merupakan perusahaan sendiri meskipun masih di bawah entitas perusahaan  yang menaungi Gojek. Seperti yang pernah dikatakan Nadiem, Gopay ke  depan akan menjadi salah satu kontributor utama pendapatan perusahaannya  selain dari Goride atau Gofood, meskipun hingga saat ini Gopay masih  dalam tahap bakar-bakar uang untuk promosi eksistensinya itu.OVO Tak Mau Kalah
Beroperasi sejak Agustus 2017, OVO sebagai produk pembayaran digital   keluaran PT Visionet Internasional dari Lippo Group mendapat lampu  hijau  dari Bank Indonesia dengan izin nomor 19/661/DKSP/Srt/B tanggal 7   Agustus 2017. Hampir dalam dua tahun terakhir ini OVO juga tak mau  kalah  jor-joran uang untuk promosi eksistensinya melalui perang diskon,  dan  cashback.
Sebagai contoh, belakangan ini mungkin kamu sering melihat promosi   iklan Grabcar ke mana saja dengan hanya Rp1 dengan menggunakan OVO. Saat   ini OVO juga tengah menjalin kerja sama dengan Tokopedia untuk menjadi   partner sistem pembayaran.
Saat ini, platform uang elektronik yang telah bekerja sama dengan   60.000 outlet di seluruh Indonesia ini diklaim telah digunakan oleh 6   hingga 8 juta orang dengan jumlah transaksi per harinya mencapai 250.000   transaksi. Manfaat yang bisa dirasakan pengguna OVO antara lain untuk   pembayaran tagihan listrik, telepon, internet, asuransi, hingga bayar   parkir.
Ketiga pemain dompet digital di atas mulai dari LinkAja, Gopay dan   OVO tentu sudah menerawang jauh-jauh bagaimana skema bisnis dari sistem   cashless ini akan menguntungkan di kemudian hari. Termasuk mengaktivasi   QR Code sebagai salah satu sistem pembayaran transaksinya.
Ketiga platform tersebut juga disebut-sebut sebagai aplikasi   pembayaran digital terpopuler menurut hasil riset Fintech Report 2018   Daily Social. Riset tersebut menyebutkan fintech kategori uang   elektronik paling populer yakni Gopay 79,39 persen, OVO 58,42 persen dan   T-Cash yang saat menjelma LinkAja 55,52 persen.
Selain ketiga pemain tersebut, ada para pemain lain yang sama-sama   berebut pengguna dompet digital atau uang elektronik sebagai alat   transaksi yang mudah, aman, fleksibel dan efisien. Tentu saja, ke depan   para pengguna uang elektronik akan terus bertambah dan menjadi peluang   besar terhadap pengguna e-money. Sehingga para pemain e-money ini akan   terus berlomba-lomba membetot perhatian mereka. Nah, kalau kamu lebih   nyaman menggunakan aplikasi yang mana, LinkAja, Gopay atau OVO?</content:encoded></item></channel></rss>
