<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Perubahan Sistem Fiskal Tingkatkan Daya Saing Industri Migas</title><description>Pemerintah terus berupaya meningkatkan iklim investasi hulu minyak dan gas bumi (migas)</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/03/05/320/2025919/perubahan-sistem-fiskal-tingkatkan-daya-saing-industri-migas</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/03/05/320/2025919/perubahan-sistem-fiskal-tingkatkan-daya-saing-industri-migas"/><item><title>Perubahan Sistem Fiskal Tingkatkan Daya Saing Industri Migas</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/03/05/320/2025919/perubahan-sistem-fiskal-tingkatkan-daya-saing-industri-migas</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/03/05/320/2025919/perubahan-sistem-fiskal-tingkatkan-daya-saing-industri-migas</guid><pubDate>Selasa 05 Maret 2019 09:59 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/03/05/320/2025919/perubahan-sistem-fiskal-tingkatkan-daya-saing-industri-migas-UxZCymmjSn.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Produksi Migas (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/03/05/320/2025919/perubahan-sistem-fiskal-tingkatkan-daya-saing-industri-migas-UxZCymmjSn.jpg</image><title>Produksi Migas (Foto: Reuters)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Pemerintah terus berupaya meningkatkan iklim investasi hulu minyak dan gas bumi (migas). Peningkatan iklim investasi tersebut diwujudkan dengan perubahan sistem fiskal pada industri hulu migas dari sistem cost recovery menjadi gross split.
&amp;ldquo;Era sekarang penuh dengan disrupsi. Sebab itu, industri migas juga perlu melakukan disruption, salah satunya dengan mengubah sistem fiskal dari cost recovery menjadi gross split ,&amp;rdquo; ujar Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar di acara forum diskusi bertajuk &amp;euml;Menilik Industri Migas Indonesia&amp;iacute; di Gedung Media Indonesia, Jakarta, kemarin.
Menurut dia, sejak perubahan sistem fiskal itu diterapkan pada 2017 lalu, industri migas lebih berdaya saing. Pasalnya, gross split memiliki prinsip dasar. Certainty, yaitu mempunyai parameter pemberian insentif jelas dan terukur. Simplicity , yaitu tidak ada perdebatan menge nai biaya dan pengadaan independen.
Baca Juga: Strategi ESDM Penuhi Kebutuhan Migas Nasional
Efficiency, yaitu mendorong industri migas untuk efisien sehingga mampu menghadapi gejolak harga minyak. Perubahan kebijakan ini merupakan langkah disruptif pemerintah dalam pengembangan migas di Indonesia.
&amp;ldquo;Semuanya ditentukan di awal, kalau sebuah lapangan memiliki CO2 yang besar, maka mereka mendapatkan insentif. Kalau lapangan tersebut di remote area, maka akan diberikan insentif. Kalau oil price rendah, maka mereka akan dikasih insentif lebih. Tapi, kalau oil price tinggi, negara akan memberikan insentif lebih,&amp;rdquo; kata dia.
Baca Juga: Indonesia Punya Potensi 10 Wilayah Cadangan Gas
Arcandra mengatakan, sebagai bukti bahwa perubahan sistem fiskal bisa meningkatkan daya saing industri hulu mi gas di dalam negeri terlihat dalam laporan Petroleum Economics and Policy Solution (PEPS) Global E&amp;amp;P Attractiveness Ranking, yang dikeluarkan IHS Markit menempatkan Indonesia pada peringkat ke-25 dari 131 negara.
Berdasarkan laporanyang sama, Indonesia juga menduduki peringkat terbaik dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. Apabila dikomparasikan dengan Malaysia, katanya, pada 2017 menduduki peringkat ke-23 sekarang ini melorot ke posisi 35.
&amp;rdquo;Begitu juga dengan laporan yang dikeluarkan lembaga Wood Mackenzie menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki citra posi if dalam pengembangan hulu migas,&amp;rdquo; kata dia.Cadangan Raksasa
Di sisi lain, Arcandra mengatakan, akan terus memburu cadangan migas  baru untuk di - eksplorasi. Saat ini Indonesia masih memiliki potensi  migas raksasa (giant discovery) di beberapa wilayah. Salah satu wilayah  tersebut adalah South Sumatera (frac tured basement play). Di sana telah  ditemukan cadangan gas bumi sebesar 2 triliun kaki kubik (TCF) gas di  Wilayah Kerja Sakakemang, Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi  Banyuasin, Sumatera Selatan, dengan Repsol sebagai operator.
&amp;ldquo;Semoga ini bisa membangkitkan semangat eksplorasi di Indonesia ke  depan, karena ma sih banyak basin kita dan play kita yang belum  dieksplorasi, ternyata kita menemukan yang baru,&amp;rdquo; kata dia.
Arcandra menyebut potensi cekungan gas yang ada akan bisa  dioptimalkan dengan kerja keras, teknologi baru, dan sejalan dengan  penyesuaian kebijakan sistem fiskal industri migas.
&amp;ldquo;Selama kita bersungguh-sungguh menjalankan semua pro gram eksplorasi  dan dukungan dari pemerintah untuk mempermudah bisnis hulu migas di  Indonesia, termasuk mendorong untuk penggunaan gross split,&amp;rdquo; ungkapnya.
Berdasarkan data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu  Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) terdapat 10 potensi cadangan gas raksasa  yang ada di Indonesia. Kesepuluh potensi cadangan gas tersebut, antara  lain Discovery Giant yakni North Sumatera (Mesozoic Play), Center of  Sumatera (Basin Center), South Sumatera (Fractured Basement Play), dan  Offshore Tarakan.
Selain itu, NE Java-Makassar Strait, Kutai Offshore, Buton Offshore,  Northern Papua (Plio-Pleis to ce ne &amp;amp; Miocene Sandtone Play), Bird  Body Papua (Jurassic Sandstone Play), dan Warim Papua.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Pemerintah terus berupaya meningkatkan iklim investasi hulu minyak dan gas bumi (migas). Peningkatan iklim investasi tersebut diwujudkan dengan perubahan sistem fiskal pada industri hulu migas dari sistem cost recovery menjadi gross split.
&amp;ldquo;Era sekarang penuh dengan disrupsi. Sebab itu, industri migas juga perlu melakukan disruption, salah satunya dengan mengubah sistem fiskal dari cost recovery menjadi gross split ,&amp;rdquo; ujar Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar di acara forum diskusi bertajuk &amp;euml;Menilik Industri Migas Indonesia&amp;iacute; di Gedung Media Indonesia, Jakarta, kemarin.
Menurut dia, sejak perubahan sistem fiskal itu diterapkan pada 2017 lalu, industri migas lebih berdaya saing. Pasalnya, gross split memiliki prinsip dasar. Certainty, yaitu mempunyai parameter pemberian insentif jelas dan terukur. Simplicity , yaitu tidak ada perdebatan menge nai biaya dan pengadaan independen.
Baca Juga: Strategi ESDM Penuhi Kebutuhan Migas Nasional
Efficiency, yaitu mendorong industri migas untuk efisien sehingga mampu menghadapi gejolak harga minyak. Perubahan kebijakan ini merupakan langkah disruptif pemerintah dalam pengembangan migas di Indonesia.
&amp;ldquo;Semuanya ditentukan di awal, kalau sebuah lapangan memiliki CO2 yang besar, maka mereka mendapatkan insentif. Kalau lapangan tersebut di remote area, maka akan diberikan insentif. Kalau oil price rendah, maka mereka akan dikasih insentif lebih. Tapi, kalau oil price tinggi, negara akan memberikan insentif lebih,&amp;rdquo; kata dia.
Baca Juga: Indonesia Punya Potensi 10 Wilayah Cadangan Gas
Arcandra mengatakan, sebagai bukti bahwa perubahan sistem fiskal bisa meningkatkan daya saing industri hulu mi gas di dalam negeri terlihat dalam laporan Petroleum Economics and Policy Solution (PEPS) Global E&amp;amp;P Attractiveness Ranking, yang dikeluarkan IHS Markit menempatkan Indonesia pada peringkat ke-25 dari 131 negara.
Berdasarkan laporanyang sama, Indonesia juga menduduki peringkat terbaik dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. Apabila dikomparasikan dengan Malaysia, katanya, pada 2017 menduduki peringkat ke-23 sekarang ini melorot ke posisi 35.
&amp;rdquo;Begitu juga dengan laporan yang dikeluarkan lembaga Wood Mackenzie menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki citra posi if dalam pengembangan hulu migas,&amp;rdquo; kata dia.Cadangan Raksasa
Di sisi lain, Arcandra mengatakan, akan terus memburu cadangan migas  baru untuk di - eksplorasi. Saat ini Indonesia masih memiliki potensi  migas raksasa (giant discovery) di beberapa wilayah. Salah satu wilayah  tersebut adalah South Sumatera (frac tured basement play). Di sana telah  ditemukan cadangan gas bumi sebesar 2 triliun kaki kubik (TCF) gas di  Wilayah Kerja Sakakemang, Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi  Banyuasin, Sumatera Selatan, dengan Repsol sebagai operator.
&amp;ldquo;Semoga ini bisa membangkitkan semangat eksplorasi di Indonesia ke  depan, karena ma sih banyak basin kita dan play kita yang belum  dieksplorasi, ternyata kita menemukan yang baru,&amp;rdquo; kata dia.
Arcandra menyebut potensi cekungan gas yang ada akan bisa  dioptimalkan dengan kerja keras, teknologi baru, dan sejalan dengan  penyesuaian kebijakan sistem fiskal industri migas.
&amp;ldquo;Selama kita bersungguh-sungguh menjalankan semua pro gram eksplorasi  dan dukungan dari pemerintah untuk mempermudah bisnis hulu migas di  Indonesia, termasuk mendorong untuk penggunaan gross split,&amp;rdquo; ungkapnya.
Berdasarkan data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu  Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) terdapat 10 potensi cadangan gas raksasa  yang ada di Indonesia. Kesepuluh potensi cadangan gas tersebut, antara  lain Discovery Giant yakni North Sumatera (Mesozoic Play), Center of  Sumatera (Basin Center), South Sumatera (Fractured Basement Play), dan  Offshore Tarakan.
Selain itu, NE Java-Makassar Strait, Kutai Offshore, Buton Offshore,  Northern Papua (Plio-Pleis to ce ne &amp;amp; Miocene Sandtone Play), Bird  Body Papua (Jurassic Sandstone Play), dan Warim Papua.</content:encoded></item></channel></rss>
