<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Menteri Ekspor dan Menteri Investasi, Perlukah?</title><description>Presiden Joko Widodo (Jokowi) ingin menambah kementerian baru untuk menangani investasi dan ekspor.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/03/13/320/2029278/menteri-ekspor-dan-menteri-investasi-perlukah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/03/13/320/2029278/menteri-ekspor-dan-menteri-investasi-perlukah"/><item><title>Menteri Ekspor dan Menteri Investasi, Perlukah?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/03/13/320/2029278/menteri-ekspor-dan-menteri-investasi-perlukah</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/03/13/320/2029278/menteri-ekspor-dan-menteri-investasi-perlukah</guid><pubDate>Rabu 13 Maret 2019 11:26 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/03/13/320/2029278/menteri-ekspor-dan-menteri-investasi-perlukah-IFe9W5bNYo.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Investasi (Ilustrasi: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/03/13/320/2029278/menteri-ekspor-dan-menteri-investasi-perlukah-IFe9W5bNYo.jpg</image><title>Investasi (Ilustrasi: Okezone)</title></images><description>TANGERANG &amp;ndash; Upaya meningkatkan investasi dan ekspor menjadi fokus pemerintah ke depan. Kedua sektor tersebut diprioritaskan karena menjadi andalan dalam menopang pertumbuhan ekonomi dimasa mendatang. Komitmen dalam menyerap investasi dan menggenjot ekspor inilah yang mendorong Presiden Joko Widodo (Jokowi) ingin menambah kementerian baru untuk menangani kedua sektor tersebut. Wacana itu, menurut Presiden, sudah disampaikan saat rapat kabinet bersama beberapa menteri.
&amp;ldquo;Saya sudah sampaikan di rapat kabinet. Apakah dalam situasi seperti ini perlu menteri investasi dan menteri ekspor khusus? Wong negara lain juga sama. Menteri khusus investasi dan menteri khusus ekspor. Jadi ada dua menteri,&amp;rdquo; ujar Presiden disela-sela Rapat Koordinasi Nasional Investasi 2019 di Tangerang, Banten, kemarin. Presiden Jokowi ingin segera menerapkan solusi untuk meningkatkan investasi dan ekspor.
Alasannya, masalah ekspor dan investasi tersebut sudah diketahui dan dimengerti jalan keluarnya, namun tidak bisa dituntaskan. &amp;ldquo;Saya akan lihat alur mana yang enggak benar di titik tertentu,&amp;rdquo; katanya. Pertumbuhan ekspor nasional dan investasi dalam setahun terakhir memang kurang menggembirakan.
Baca Juga: Presiden Ingin Bentuk 2 Kementerian Khusus demi Tingkatkan Investasi dan Ekspor
 
Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyebutkan, realisasi investasi pada 2018 hanya mencapai Rp721,3 triliun, turun dibanding tahun sebelumnya, Rp692,8 triliun. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, pada tahun lalu ekspor mengalami perlambatan karena hanya tumbuh6,74% dibanding tahun sebelumnya 16,28%.
Dengan fakta tersebut wajar apabila Presiden menginginkan adanya kementerian khusus untuk menggenjot investasi dan ekspor. Jokowi bahkan menegaskan perbaikan kedua sektor itu perlu segera dilakukan. &amp;ldquo;Saya sudah berkali-kali sampaikan bahwa kunci pertumbuhan ekonomi itu ada dua, yaitu investasi dan ekspor. Kita sudah terlalu lama sekali ekspornya bahan mentah. Sudah puluhan tahun enggak berani masuk kehilirisasi industri. Para gubernur, bupati, wali kota harus dorong itu. Kuncinya di situ,&amp;rdquo; ucapnya. Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, pemerintah berharap investasi bisa tetap tumbuh tinggi untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi tahun ini.
Hal ini seiring dengan komitmen pemerintah untuk memperbaiki kemudahan berusaha. &amp;ldquo;Pemerintah juga akan tetap meningkatkan berbagai upaya investasi yang melibatkan swasta, menjaga capital spending maupun belanja barang, dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia,&amp;rdquo; tutur Sri Mulyani.

Menurut Sri, Indonesia masih memiliki daya tarik untuk berinvestasi jika melihat dari sisi populasi penduduk dan ekonomi yang cukup kuat. Selain itu, infrastruktur yang sudah mulai terbangun di luar Pulau Jawa menjadikan daya tarik untuk investasi jauh lebih besar.
&amp;ldquo;Kalau pemerintah tetap konsisten menjaga kebijakannya, makro stabil, inflasi rendah, pertumbuhan ekonomi tinggi, dan banyaknya populasi muda, maka itu semua merupakan daya tarik yang luar biasa,&amp;rdquo; ungkapnya.
Sri berharap tingginya investasi di dalam negeri akan bisa menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diprediksi tahun ini mencapai 5,4%. Selama kuartal I/2019 perekonomian Indonesia masih berjalan positif. Meski adanya proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang melambat, dia yakin hal itu tidak akan berdampak cukup signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.&amp;ldquo;Kita lihat kuartal I/2019 ada deflasi. Itu menggambarkan harga cukup  stabil sehingga konsumsi akan tetap terjaga pada angka 5%. Itu penting  kalau kita ingin momentum pertumbuhannya di atas 5%,&amp;rdquo; ujarnya.
Proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang mengalami pelemahan disertai  pertumbuhan perdagangan internasional yang juga melemah sudah  diperingatkan sejak akhir 2018. Apabila Indonesia ingin mencapai  pertumbuhan yang tetap tinggi, di atas 5%, maka perlu meyakinkan  sumber-sumber pertumbuhan di dalam negeri tetap bisa menjadi mesin  pertumbuhan yang kuat.
&amp;ldquo;Investasi, konsumsi, goverment spending, itu semuanya harus mampu  menjalankan fungsinya,&amp;rdquo; ucap Menkeu. Untuk ekspor, kata Sri, Indonesia  masih berpeluang karena ASEAN dan beberapa emerging  countries  di Asia  seperti Filipina, Bangladesh, dan Pakistan mengalami pertumbuhan ekonomi  yang cukup baik dan memiliki pasarnya cukup besar.
Baca Juga: Sri Mulyani Ungkap 3 Daya Tarik RI dalam Menggaet Investor
Selain meningkatkan ekspor, pemerintah melalui berbagai kebijakan  juga berupaya menekan impor melalui program mandatori biodiesel 20%  (B-20) dan substitusi impor agar momentum pertumbuhan ekonomi bisa  dijaga.
Perdagangan Bernilai Tambah
Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menyatakan siap  menghadapi berbagai tantangan global dan domestik yang akan memengaruhi  kinerja perdagangan saat ini. Untuk itu, Kemendag akan meningkatkan  perdagangan yang bernilai tambah dan berdaya saing ditingkat global guna  mencapai target kinerja sektor perdagangan selama 2019.
Salah satunya memanfaatkan transaksi dagang secara online yang  menjadi pasar baru. Enggartiasto menyebutkan, nilai transaksi  perdagangan elektronik Indonesia tumbuh 49% per tahun pada periode  2015-2018 dan nilainya mencapai USD27 miliar pada 2018.

&amp;ldquo;Daya saing digital Indonesia masih perlu ditingkatkan. Produk UMKM  Indonesia harus menjadi tuan rumah diplatform niaga elektronik lokal,&amp;rdquo;  ujarnya. Berikutnya, pengembangan perdagangan luar negeri yang terpadu  akan berkontribusi pada peningkatan partisipasi Indonesia dalam rantai  nilai global (global value chain /GVC).
Mendag menekankan bahwa fokus pemilihan industri menjadi kunci  penting bagi peningkatan ekspor produk bernilai tambah. Chief Economist  BNI Kiryanto secara prinsip mendukung gagasan Jokowi membentuk  kementerian baru.
Masalah struktural Indonesia adalah defisit transaksi berjalan  (current account deficit/CAD) yang terus bertahan mendekati 3% dari  Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Hal ini tidak dapat dibiarkan  terus-menerus, dengan alasan apapun.&amp;ldquo;Untuk memperkecil rasio defisit memang jawabannya dengan   meningkatkan investasi langsung yang kini jadi mandatnya BKPM sekaligus   meningkatkan ekspor nonmigas yang mandatnya di Kemendag,&amp;rdquo; ujarnya.
Kiryanto menambahkan, pemerintah dapat menaikkan level BKPM menjadi   kementerian dengan harapan jadi lebih efektif dan bertenaga untuk   menggairahkan investasi asing langsung. Selain itu, dengan menaikkan   level badan pengembangan ekspor nasional menjadi kementerian dapat jadi   lebih efektif mendorong ekspor, terutama nonmigas.
&amp;ldquo;Implikasinya, postur kementerian makin gemuk. Tidak apa-apa asalkan   koordinasi teknis dan sinkronisasi kebijakan tetap berjalan dengan baik   dan optimal,&amp;rdquo; ujarnya. Pengamat ekonomi dari Institute for Development   of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira justru mendorong   pemerintah untuk mengukur efektivitas kerja, koordinasi, dan anggaran   dari rencana kementerian baru tersebut.
&amp;ldquo;Meskipun BKPM sudah mengurus sektor investasi, tapi hambatannya ada   ego sektoral antarkementerian/lembaga. Izin investasi misalnya sering   bersinggungan dengan Kementerian ESDM dan pemerintah daerah.
Buat kementerian baru belum tentu menyelesaikan masalah itu,&amp;rdquo;   katanya. Anggota Komisi XI Donny Imam Priambodo juga sepakat dengan   wacana pembentukan kementerian investasi dan ekspor.
Menurut dia, pertumbuhan ekonomi negara sangat ditentukan oleh kedua   sektor itu. &amp;ldquo;Yang paling penting adalah bahwa kementerian tersebut   nantinya tidak tumpang tindih dengan lembaga atau institusi lain   sehingga benar-benar efektif,&amp;rdquo; ujarnya.
(Oktiani Endarwati/ Kunthi Fahmar Sandy/Hafid Fuad/Sindonews)</description><content:encoded>TANGERANG &amp;ndash; Upaya meningkatkan investasi dan ekspor menjadi fokus pemerintah ke depan. Kedua sektor tersebut diprioritaskan karena menjadi andalan dalam menopang pertumbuhan ekonomi dimasa mendatang. Komitmen dalam menyerap investasi dan menggenjot ekspor inilah yang mendorong Presiden Joko Widodo (Jokowi) ingin menambah kementerian baru untuk menangani kedua sektor tersebut. Wacana itu, menurut Presiden, sudah disampaikan saat rapat kabinet bersama beberapa menteri.
&amp;ldquo;Saya sudah sampaikan di rapat kabinet. Apakah dalam situasi seperti ini perlu menteri investasi dan menteri ekspor khusus? Wong negara lain juga sama. Menteri khusus investasi dan menteri khusus ekspor. Jadi ada dua menteri,&amp;rdquo; ujar Presiden disela-sela Rapat Koordinasi Nasional Investasi 2019 di Tangerang, Banten, kemarin. Presiden Jokowi ingin segera menerapkan solusi untuk meningkatkan investasi dan ekspor.
Alasannya, masalah ekspor dan investasi tersebut sudah diketahui dan dimengerti jalan keluarnya, namun tidak bisa dituntaskan. &amp;ldquo;Saya akan lihat alur mana yang enggak benar di titik tertentu,&amp;rdquo; katanya. Pertumbuhan ekspor nasional dan investasi dalam setahun terakhir memang kurang menggembirakan.
Baca Juga: Presiden Ingin Bentuk 2 Kementerian Khusus demi Tingkatkan Investasi dan Ekspor
 
Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyebutkan, realisasi investasi pada 2018 hanya mencapai Rp721,3 triliun, turun dibanding tahun sebelumnya, Rp692,8 triliun. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, pada tahun lalu ekspor mengalami perlambatan karena hanya tumbuh6,74% dibanding tahun sebelumnya 16,28%.
Dengan fakta tersebut wajar apabila Presiden menginginkan adanya kementerian khusus untuk menggenjot investasi dan ekspor. Jokowi bahkan menegaskan perbaikan kedua sektor itu perlu segera dilakukan. &amp;ldquo;Saya sudah berkali-kali sampaikan bahwa kunci pertumbuhan ekonomi itu ada dua, yaitu investasi dan ekspor. Kita sudah terlalu lama sekali ekspornya bahan mentah. Sudah puluhan tahun enggak berani masuk kehilirisasi industri. Para gubernur, bupati, wali kota harus dorong itu. Kuncinya di situ,&amp;rdquo; ucapnya. Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, pemerintah berharap investasi bisa tetap tumbuh tinggi untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi tahun ini.
Hal ini seiring dengan komitmen pemerintah untuk memperbaiki kemudahan berusaha. &amp;ldquo;Pemerintah juga akan tetap meningkatkan berbagai upaya investasi yang melibatkan swasta, menjaga capital spending maupun belanja barang, dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia,&amp;rdquo; tutur Sri Mulyani.

Menurut Sri, Indonesia masih memiliki daya tarik untuk berinvestasi jika melihat dari sisi populasi penduduk dan ekonomi yang cukup kuat. Selain itu, infrastruktur yang sudah mulai terbangun di luar Pulau Jawa menjadikan daya tarik untuk investasi jauh lebih besar.
&amp;ldquo;Kalau pemerintah tetap konsisten menjaga kebijakannya, makro stabil, inflasi rendah, pertumbuhan ekonomi tinggi, dan banyaknya populasi muda, maka itu semua merupakan daya tarik yang luar biasa,&amp;rdquo; ungkapnya.
Sri berharap tingginya investasi di dalam negeri akan bisa menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diprediksi tahun ini mencapai 5,4%. Selama kuartal I/2019 perekonomian Indonesia masih berjalan positif. Meski adanya proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang melambat, dia yakin hal itu tidak akan berdampak cukup signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.&amp;ldquo;Kita lihat kuartal I/2019 ada deflasi. Itu menggambarkan harga cukup  stabil sehingga konsumsi akan tetap terjaga pada angka 5%. Itu penting  kalau kita ingin momentum pertumbuhannya di atas 5%,&amp;rdquo; ujarnya.
Proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang mengalami pelemahan disertai  pertumbuhan perdagangan internasional yang juga melemah sudah  diperingatkan sejak akhir 2018. Apabila Indonesia ingin mencapai  pertumbuhan yang tetap tinggi, di atas 5%, maka perlu meyakinkan  sumber-sumber pertumbuhan di dalam negeri tetap bisa menjadi mesin  pertumbuhan yang kuat.
&amp;ldquo;Investasi, konsumsi, goverment spending, itu semuanya harus mampu  menjalankan fungsinya,&amp;rdquo; ucap Menkeu. Untuk ekspor, kata Sri, Indonesia  masih berpeluang karena ASEAN dan beberapa emerging  countries  di Asia  seperti Filipina, Bangladesh, dan Pakistan mengalami pertumbuhan ekonomi  yang cukup baik dan memiliki pasarnya cukup besar.
Baca Juga: Sri Mulyani Ungkap 3 Daya Tarik RI dalam Menggaet Investor
Selain meningkatkan ekspor, pemerintah melalui berbagai kebijakan  juga berupaya menekan impor melalui program mandatori biodiesel 20%  (B-20) dan substitusi impor agar momentum pertumbuhan ekonomi bisa  dijaga.
Perdagangan Bernilai Tambah
Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menyatakan siap  menghadapi berbagai tantangan global dan domestik yang akan memengaruhi  kinerja perdagangan saat ini. Untuk itu, Kemendag akan meningkatkan  perdagangan yang bernilai tambah dan berdaya saing ditingkat global guna  mencapai target kinerja sektor perdagangan selama 2019.
Salah satunya memanfaatkan transaksi dagang secara online yang  menjadi pasar baru. Enggartiasto menyebutkan, nilai transaksi  perdagangan elektronik Indonesia tumbuh 49% per tahun pada periode  2015-2018 dan nilainya mencapai USD27 miliar pada 2018.

&amp;ldquo;Daya saing digital Indonesia masih perlu ditingkatkan. Produk UMKM  Indonesia harus menjadi tuan rumah diplatform niaga elektronik lokal,&amp;rdquo;  ujarnya. Berikutnya, pengembangan perdagangan luar negeri yang terpadu  akan berkontribusi pada peningkatan partisipasi Indonesia dalam rantai  nilai global (global value chain /GVC).
Mendag menekankan bahwa fokus pemilihan industri menjadi kunci  penting bagi peningkatan ekspor produk bernilai tambah. Chief Economist  BNI Kiryanto secara prinsip mendukung gagasan Jokowi membentuk  kementerian baru.
Masalah struktural Indonesia adalah defisit transaksi berjalan  (current account deficit/CAD) yang terus bertahan mendekati 3% dari  Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Hal ini tidak dapat dibiarkan  terus-menerus, dengan alasan apapun.&amp;ldquo;Untuk memperkecil rasio defisit memang jawabannya dengan   meningkatkan investasi langsung yang kini jadi mandatnya BKPM sekaligus   meningkatkan ekspor nonmigas yang mandatnya di Kemendag,&amp;rdquo; ujarnya.
Kiryanto menambahkan, pemerintah dapat menaikkan level BKPM menjadi   kementerian dengan harapan jadi lebih efektif dan bertenaga untuk   menggairahkan investasi asing langsung. Selain itu, dengan menaikkan   level badan pengembangan ekspor nasional menjadi kementerian dapat jadi   lebih efektif mendorong ekspor, terutama nonmigas.
&amp;ldquo;Implikasinya, postur kementerian makin gemuk. Tidak apa-apa asalkan   koordinasi teknis dan sinkronisasi kebijakan tetap berjalan dengan baik   dan optimal,&amp;rdquo; ujarnya. Pengamat ekonomi dari Institute for Development   of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira justru mendorong   pemerintah untuk mengukur efektivitas kerja, koordinasi, dan anggaran   dari rencana kementerian baru tersebut.
&amp;ldquo;Meskipun BKPM sudah mengurus sektor investasi, tapi hambatannya ada   ego sektoral antarkementerian/lembaga. Izin investasi misalnya sering   bersinggungan dengan Kementerian ESDM dan pemerintah daerah.
Buat kementerian baru belum tentu menyelesaikan masalah itu,&amp;rdquo;   katanya. Anggota Komisi XI Donny Imam Priambodo juga sepakat dengan   wacana pembentukan kementerian investasi dan ekspor.
Menurut dia, pertumbuhan ekonomi negara sangat ditentukan oleh kedua   sektor itu. &amp;ldquo;Yang paling penting adalah bahwa kementerian tersebut   nantinya tidak tumpang tindih dengan lembaga atau institusi lain   sehingga benar-benar efektif,&amp;rdquo; ujarnya.
(Oktiani Endarwati/ Kunthi Fahmar Sandy/Hafid Fuad/Sindonews)</content:encoded></item></channel></rss>
