<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ekspor Industri Turun karena Sawit, BPS: Bukan Deindustrialisasi</title><description>Penurunan ekspor industri pengolahan pada Februari 2019 bukan karena terjadinya deindustrialisasi</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/03/15/320/2030369/ekspor-industri-turun-karena-sawit-bps-bukan-deindustrialisasi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/03/15/320/2030369/ekspor-industri-turun-karena-sawit-bps-bukan-deindustrialisasi"/><item><title>Ekspor Industri Turun karena Sawit, BPS: Bukan Deindustrialisasi</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/03/15/320/2030369/ekspor-industri-turun-karena-sawit-bps-bukan-deindustrialisasi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/03/15/320/2030369/ekspor-industri-turun-karena-sawit-bps-bukan-deindustrialisasi</guid><pubDate>Jum'at 15 Maret 2019 14:01 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/03/15/320/2030369/ekspor-industri-turun-karena-sawit-bps-bukan-deindustrialisasi-hSJQypjCz7.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi Perdagangan di Pelabuhan (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/03/15/320/2030369/ekspor-industri-turun-karena-sawit-bps-bukan-deindustrialisasi-hSJQypjCz7.jpg</image><title>Ilustrasi Perdagangan di Pelabuhan (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suharyanto menyampaikan bahwa terjadinya penurunan ekspor industri pengolahan pada Februari 2019 bukan karena terjadinya deindustrialisasi di Indonesia.
&quot;Tidak deindustrialisasi. Ekspor industri pengolahan mengalami penurunan karena minyak kelapa sawit, produksinya tetap baik, namun terjadi penurunan harga,&quot; kata Suharyanto, dikutip dari Antaranews, di Jakarta, Jumat (15/3/2019).
Kecuk, sapaan akrabnya, menyampaikan bahwa penurunan ekspor tekstil dan produk tekstil serta produk sepatu ke Amerika Serikat lebih dipengaruhi oleh musim yang tengah terjadi di Negeri Paman Sam itu.
Baca Juga: Jabar dan Jatim Dominasi 21,52% Ekspor, Kaltim Tak Mau Ketinggalan
Menurut data BPS, ekspor industri pengolahan pada Februari 2019 mencapai USD9,41 miliar atau turun 7,71% jika dibandingkan Januari 2019 dan turun 8,06% jika dibandingkan Februari 2018.
Kendati demikian, sektor industri pengolahan masih berkontribusi paling tinggi, yakni sebesar 75,12%, jika dibandingkan dengan ekspor sektor lainnya, yaitu tambang 14,33%, migas 14,33%, dan pertanian 1,86%. Adapun ekspor nonmigas menyumbang 91,31% dari total ekspor pada Februari 2019.
Baca Juga: Turun 11,33%, Ekspor Februari Tercatat USD12,53 Miliar
Penurunan terbesar ekspor nonmigas terhadap Januari 2019 yakni bahan kimia organik turun 98,4%, alas kaki turun 138,7%, kelompok bijih, kerak, dan abu logam turun 149,5%,  kelompok lemak dan minyak hewan/nabati turun 208,9%,  serta bahan bakar mineral turun 282,1%.
Kendati demikian, ekspor beberapa golongan barang mengalami peningkatan, di antaranya perhiasan naik 227,5%, tembaga naik 62,9%, bubur kayu atau pulp naik 38,7 persen, timah 33,1%, dan bahan kimia anorganik 21,1%.
</description><content:encoded>JAKARTA - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suharyanto menyampaikan bahwa terjadinya penurunan ekspor industri pengolahan pada Februari 2019 bukan karena terjadinya deindustrialisasi di Indonesia.
&quot;Tidak deindustrialisasi. Ekspor industri pengolahan mengalami penurunan karena minyak kelapa sawit, produksinya tetap baik, namun terjadi penurunan harga,&quot; kata Suharyanto, dikutip dari Antaranews, di Jakarta, Jumat (15/3/2019).
Kecuk, sapaan akrabnya, menyampaikan bahwa penurunan ekspor tekstil dan produk tekstil serta produk sepatu ke Amerika Serikat lebih dipengaruhi oleh musim yang tengah terjadi di Negeri Paman Sam itu.
Baca Juga: Jabar dan Jatim Dominasi 21,52% Ekspor, Kaltim Tak Mau Ketinggalan
Menurut data BPS, ekspor industri pengolahan pada Februari 2019 mencapai USD9,41 miliar atau turun 7,71% jika dibandingkan Januari 2019 dan turun 8,06% jika dibandingkan Februari 2018.
Kendati demikian, sektor industri pengolahan masih berkontribusi paling tinggi, yakni sebesar 75,12%, jika dibandingkan dengan ekspor sektor lainnya, yaitu tambang 14,33%, migas 14,33%, dan pertanian 1,86%. Adapun ekspor nonmigas menyumbang 91,31% dari total ekspor pada Februari 2019.
Baca Juga: Turun 11,33%, Ekspor Februari Tercatat USD12,53 Miliar
Penurunan terbesar ekspor nonmigas terhadap Januari 2019 yakni bahan kimia organik turun 98,4%, alas kaki turun 138,7%, kelompok bijih, kerak, dan abu logam turun 149,5%,  kelompok lemak dan minyak hewan/nabati turun 208,9%,  serta bahan bakar mineral turun 282,1%.
Kendati demikian, ekspor beberapa golongan barang mengalami peningkatan, di antaranya perhiasan naik 227,5%, tembaga naik 62,9%, bubur kayu atau pulp naik 38,7 persen, timah 33,1%, dan bahan kimia anorganik 21,1%.
</content:encoded></item></channel></rss>
