<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pacu Pertumbuhan Industri Gula Demi Tekan Volume Impor</title><description>Kementerian Perindustrian terus memacu tumbuhnya industri gula untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/03/19/320/2031995/pacu-pertumbuhan-industri-gula-demi-tekan-volume-impor</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/03/19/320/2031995/pacu-pertumbuhan-industri-gula-demi-tekan-volume-impor"/><item><title>Pacu Pertumbuhan Industri Gula Demi Tekan Volume Impor</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/03/19/320/2031995/pacu-pertumbuhan-industri-gula-demi-tekan-volume-impor</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/03/19/320/2031995/pacu-pertumbuhan-industri-gula-demi-tekan-volume-impor</guid><pubDate>Selasa 19 Maret 2019 11:59 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/03/19/320/2031995/pacu-pertumbuhan-industri-gula-demi-tekan-volume-impor-hwYQcQ9UNa.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Reuters</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/03/19/320/2031995/pacu-pertumbuhan-industri-gula-demi-tekan-volume-impor-hwYQcQ9UNa.jpg</image><title>Foto: Reuters</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Kementerian Perindustrian terus memacu tumbuhnya industri gula untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik sehingga dapat menurunkan ketergantungan terhadap bahan baku impor. Salah satunya memasok kebutuhan produksi di industri makanan dan minuman, yang selama ini menjadi sektor manufaktur andalan bagi perekonomian nasional melalui penerimaan devisa dari ekspor.
&amp;ldquo;Berdasarkan data tren produksi dan konsumsi gula nasional, terdapat kesenjangan antara supply dan demand sehingga terpaksa kekurangan dipenuhi melalui impor. Terutama raw sugar atau gula kristal mentah, di antaranya untuk memenuhi kebutuhan industri makanan dan minuman,&amp;rdquo; kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto saat melakukan kunjungan ke PT Kebun Tebu Mas (KTM), dikutip dari Harian Neraca, di Lamongan, Jawa Timur, Selasa (19/3/2019).
Produksi gula berbasis tebu pada tahun 2018 sebesar 2,17 juta ton, sementara kebutuhan gula nasional mencapai 6,6 juta ton. Saat ini, produksi gula nasional dipasok oleh 48 pabrik gula milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan 17 pabrik gula milik swasta. &amp;ldquo;Ada 12 pabrik baru yang akan didirikan di Jawa dan luar Jawa. Semuanya akan diberikan insentif oleh pemerintah,&amp;rdquo; tuturnya.
Baca Juga: Begini Cara Pemerintah Tekan Ketergantungan Impor Gula
Lebih lanjut, Menurut Airlangga, pemerintah telah berupaya menekan volume impor. Pada tahun 2019, izin kuota impor gula industri sekitar 2,8 juta ton, turun dibanding pada tahun lalu sebanyak 3,6 juta ton.
&amp;ldquo;Kuota impor dipotong lantaran masih ada stok gula impor sekitar 1 juta ton di gudang-gudang industri,&amp;rdquo; ungkapnya.
Airlangga menambahkan, guna menekan volume impor, pemerintah juga aktif mendorong investasi industri gula terintegrasi dengan kebun. Dalam upaya memacu tumbuhnya pabrik-pabrik gula baru dan perluasan pabrik gula yang sudah eksisting, Kemenperin telah menerbitkan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 10 Tahun 2017 tentang Fasilitas Memperoleh Bahan Baku Dalam Rangka Pembangunan Industri Gula.
Baca Juga: Jokowi Bahas Kenaikan Harga Gula dengan Tim Independen
&amp;ldquo;Fasilitas ini disambut baik oleh investor yang melakukan pembangunan pabrik gula baru sejak tahun 2010 dengan total investasi sampai saat ini mencapai Rp30 triliun, meliputi 12 pabrik gula baru diantaranya dua pabrik gula akan commissioning tahun 2019-2020 serta satu pabrik gula eksisting yang sudah melakukan perluasan,&amp;rdquo; paparnya.
Airlangga pun menjelaskan, kebutuhan gula setiap tahunnya terus meningkat, seperti misalnya gula kristal rafinasi (GKR) atau gula mentah yang telah mengalami proses pemurnian untuk sektor industri makanan dan minuman serta industri farmasi. Kebutuhan GKR angkanya naik sebesar 5-6 persen per tahun. Peningkatan ini mengikuti pertumbuhan kedua sektor industri tersebut yang mampu di atas 7 persen per tahun.
Sepanjang 2018, industri makanan dan minuman tumbuh mencapai 7,91  persen, sedangkan industri farmasi tumbuh 7,51 persen pada kuartal I  tahun 2018. Tahun ini, industri makanan dan minuman diproyeksi tumbuh  signifikan seiring peningkatan konsumsi karena adanya momen pemilihan  umum, sedangkan kinerja industri farmasi terkatrol melalui program  Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). &amp;ldquo;Kami optimis, pertumbuhan kedua  sektor itu mampu di atas 7-8 persen pada tahun 2019,&amp;rdquo; jelasnya.
Untuk itu, dalam menjaga keberlanjutan produktivitas di sektor  industri, Kemenperin terus berupaya memastikan ketersediaan bahan baku.  Selama ini, aktivitas manufaktur konsisten memberikan efek berantai bagi  perekonomian nasional, di antaranya melalui peningkatan pada nilai  tambah bahan baku dalam negeri, penyerapan tenaga kerja lokal, dan  penerimaan devisa dari ekspor.
Dalam upaya peningkatan produksi gula, pemerintah tidak hanya  tergantung pada peran pabrik gula atau off-farm, namun peran dari sisi  para petani tebu atau on-farm yang pengaruhnya sangat besar. &amp;ldquo;Petani  tebu diyakini bisa memberikan kontribusi besar dalam pemenuhan kebutuhan  gula nasional karena hasil tebu yang berkualitas akan menghasilkan  rendemen gula yang tinggi,&amp;rdquo; imbuhnya.
Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2010 yang direvisi  menjadi Peraturan Presiden Nomor 44 Tahun 2016 tentang Daftar Negatif  Investasi, setiap pembangunan pabrik gula baru wajib terintegrasi dengan  perkebunan tebu.
&amp;ldquo;Petani tebu memegang peranan sangat besar dalam industri ini,  sehingga pemerintah perlu memberikan stimulus bagi petani tebu agar  tetap bergairah dalam menanam tebu dan tidak beralih ke tanaman lain  yang dikhawatirkan akan semakin menurunnya produksi gula nasional,&amp;rdquo; ujar  Airlangga.
Menperin menambahkan, pembangunan pabrik gula baru juga diharapkan  dapat memberikan dampak yang positif kepada masyarakat yang berada di  sekitar wilayah pabrik, yaitu kesejahteraan ekonomi yang meningkat.  Termasuk di dalamnya sopir-sopir tebu yang turut serta membantu  kelancaran operasi pabrik gula dan juga masyarakat yang tinggal di  sekitar pabrik gula.
&amp;ldquo;Kami terus mendorong agar pabrik gula dan petani dapat berupaya  optimal meningkatkan produksi tebu dan gula sehingga berkontribusi pada  pengembangan industri gula nasional dan pemenuhan gula nasional,&amp;rdquo;  tandasnya.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Kementerian Perindustrian terus memacu tumbuhnya industri gula untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik sehingga dapat menurunkan ketergantungan terhadap bahan baku impor. Salah satunya memasok kebutuhan produksi di industri makanan dan minuman, yang selama ini menjadi sektor manufaktur andalan bagi perekonomian nasional melalui penerimaan devisa dari ekspor.
&amp;ldquo;Berdasarkan data tren produksi dan konsumsi gula nasional, terdapat kesenjangan antara supply dan demand sehingga terpaksa kekurangan dipenuhi melalui impor. Terutama raw sugar atau gula kristal mentah, di antaranya untuk memenuhi kebutuhan industri makanan dan minuman,&amp;rdquo; kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto saat melakukan kunjungan ke PT Kebun Tebu Mas (KTM), dikutip dari Harian Neraca, di Lamongan, Jawa Timur, Selasa (19/3/2019).
Produksi gula berbasis tebu pada tahun 2018 sebesar 2,17 juta ton, sementara kebutuhan gula nasional mencapai 6,6 juta ton. Saat ini, produksi gula nasional dipasok oleh 48 pabrik gula milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan 17 pabrik gula milik swasta. &amp;ldquo;Ada 12 pabrik baru yang akan didirikan di Jawa dan luar Jawa. Semuanya akan diberikan insentif oleh pemerintah,&amp;rdquo; tuturnya.
Baca Juga: Begini Cara Pemerintah Tekan Ketergantungan Impor Gula
Lebih lanjut, Menurut Airlangga, pemerintah telah berupaya menekan volume impor. Pada tahun 2019, izin kuota impor gula industri sekitar 2,8 juta ton, turun dibanding pada tahun lalu sebanyak 3,6 juta ton.
&amp;ldquo;Kuota impor dipotong lantaran masih ada stok gula impor sekitar 1 juta ton di gudang-gudang industri,&amp;rdquo; ungkapnya.
Airlangga menambahkan, guna menekan volume impor, pemerintah juga aktif mendorong investasi industri gula terintegrasi dengan kebun. Dalam upaya memacu tumbuhnya pabrik-pabrik gula baru dan perluasan pabrik gula yang sudah eksisting, Kemenperin telah menerbitkan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 10 Tahun 2017 tentang Fasilitas Memperoleh Bahan Baku Dalam Rangka Pembangunan Industri Gula.
Baca Juga: Jokowi Bahas Kenaikan Harga Gula dengan Tim Independen
&amp;ldquo;Fasilitas ini disambut baik oleh investor yang melakukan pembangunan pabrik gula baru sejak tahun 2010 dengan total investasi sampai saat ini mencapai Rp30 triliun, meliputi 12 pabrik gula baru diantaranya dua pabrik gula akan commissioning tahun 2019-2020 serta satu pabrik gula eksisting yang sudah melakukan perluasan,&amp;rdquo; paparnya.
Airlangga pun menjelaskan, kebutuhan gula setiap tahunnya terus meningkat, seperti misalnya gula kristal rafinasi (GKR) atau gula mentah yang telah mengalami proses pemurnian untuk sektor industri makanan dan minuman serta industri farmasi. Kebutuhan GKR angkanya naik sebesar 5-6 persen per tahun. Peningkatan ini mengikuti pertumbuhan kedua sektor industri tersebut yang mampu di atas 7 persen per tahun.
Sepanjang 2018, industri makanan dan minuman tumbuh mencapai 7,91  persen, sedangkan industri farmasi tumbuh 7,51 persen pada kuartal I  tahun 2018. Tahun ini, industri makanan dan minuman diproyeksi tumbuh  signifikan seiring peningkatan konsumsi karena adanya momen pemilihan  umum, sedangkan kinerja industri farmasi terkatrol melalui program  Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). &amp;ldquo;Kami optimis, pertumbuhan kedua  sektor itu mampu di atas 7-8 persen pada tahun 2019,&amp;rdquo; jelasnya.
Untuk itu, dalam menjaga keberlanjutan produktivitas di sektor  industri, Kemenperin terus berupaya memastikan ketersediaan bahan baku.  Selama ini, aktivitas manufaktur konsisten memberikan efek berantai bagi  perekonomian nasional, di antaranya melalui peningkatan pada nilai  tambah bahan baku dalam negeri, penyerapan tenaga kerja lokal, dan  penerimaan devisa dari ekspor.
Dalam upaya peningkatan produksi gula, pemerintah tidak hanya  tergantung pada peran pabrik gula atau off-farm, namun peran dari sisi  para petani tebu atau on-farm yang pengaruhnya sangat besar. &amp;ldquo;Petani  tebu diyakini bisa memberikan kontribusi besar dalam pemenuhan kebutuhan  gula nasional karena hasil tebu yang berkualitas akan menghasilkan  rendemen gula yang tinggi,&amp;rdquo; imbuhnya.
Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2010 yang direvisi  menjadi Peraturan Presiden Nomor 44 Tahun 2016 tentang Daftar Negatif  Investasi, setiap pembangunan pabrik gula baru wajib terintegrasi dengan  perkebunan tebu.
&amp;ldquo;Petani tebu memegang peranan sangat besar dalam industri ini,  sehingga pemerintah perlu memberikan stimulus bagi petani tebu agar  tetap bergairah dalam menanam tebu dan tidak beralih ke tanaman lain  yang dikhawatirkan akan semakin menurunnya produksi gula nasional,&amp;rdquo; ujar  Airlangga.
Menperin menambahkan, pembangunan pabrik gula baru juga diharapkan  dapat memberikan dampak yang positif kepada masyarakat yang berada di  sekitar wilayah pabrik, yaitu kesejahteraan ekonomi yang meningkat.  Termasuk di dalamnya sopir-sopir tebu yang turut serta membantu  kelancaran operasi pabrik gula dan juga masyarakat yang tinggal di  sekitar pabrik gula.
&amp;ldquo;Kami terus mendorong agar pabrik gula dan petani dapat berupaya  optimal meningkatkan produksi tebu dan gula sehingga berkontribusi pada  pengembangan industri gula nasional dan pemenuhan gula nasional,&amp;rdquo;  tandasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
