<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Dongkrak Daya Saing Batik dengan Substitusi Impor</title><description>Kementerian Perindustrian terus memacu daya saing industri batik dan tenun dalam negeri.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/03/25/320/2034591/dongkrak-daya-saing-batik-dengan-substitusi-impor</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/03/25/320/2034591/dongkrak-daya-saing-batik-dengan-substitusi-impor"/><item><title>Dongkrak Daya Saing Batik dengan Substitusi Impor</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/03/25/320/2034591/dongkrak-daya-saing-batik-dengan-substitusi-impor</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/03/25/320/2034591/dongkrak-daya-saing-batik-dengan-substitusi-impor</guid><pubDate>Senin 25 Maret 2019 13:17 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/03/25/320/2034591/dongkrak-daya-saing-batik-dengan-substitusi-impor-4ijroL6ajd.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/03/25/320/2034591/dongkrak-daya-saing-batik-dengan-substitusi-impor-4ijroL6ajd.jpg</image><title>Ilustrasi: (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Kementerian Perindustrian terus memacu daya saing industri batik dan tenun dalam negeri. Hal ini dilakukan guna menghasilkan produk yang kompetitif, terutama untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor. Oleh karena itu, para perajin serta pengusaha batik dan tenun diharapkan untuk semakin berinovasi, khususnya dalam hal pemenuhan bahan baku.
&quot;Kami sosialisasikan ke Industri Kecil dan Menengah (IKM) batik dan tenun, bahwa ini ada bahan baku baru yang sangat mirip dengan benang sutra. Namanya Bemberg. Kami mendorong mereka untuk mencoba dan mengaplikasikannya,&quot; kata Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin Gati Wibawaningsih dilansir dari Harian Neraca, Senin (25/3/2019).
Baca Juga: Bangladesh Bangga Pakai Batik Indonesia
Menurut Gati, Bemberg adalah merek dagang bagi kain yang terbuat dari bijih kapas yang selama ini dianggap sampah. Bahan baku ini sudah beberapa tahun terakhir dikembangkan di Jepang, dan sudah lulus uji coba, bahkan ramah lingkungan. Bemberg diharapkan sebagai bahan pengganti sutra, sehingga akan menjadi substitusi impor. &amp;ldquo;Kami akan menggarap Bemberg sebagai bahan pengganti sutra, sehingga akan menjadi substitusi impor, menggantikan serat sutra yang digunakan bahan baku untuk industri batik dan tenun,&amp;rdquo; jelasnya.
Guna melakukan substitusi impor untuk bahan baku industri kain dan batik, pemerintah siap memboyong investor asal Jepang agar dapat membangun pabrik untuk memproduksi Bemberg di Indonesia. Calon investor dari Jepang tersebut telah melakukan penjajakan lahan di kawasan Wajo, Sulawesi Selatan, untuk budidaya tanaman kapas secara besar-besaran.
&amp;ldquo;Kalau sudah ada pabriknya di Indonesia, maka pusatnya ada di sini, karena sebagai sumber bahan baku. Kalau mereka bisa masuk ke pasar Nusantara, ekspor akan lebih besar sekitar 10%. Itu bisa menekan harga bahan baku, sehingga ekspor produk tekstil kita bisa lebih bersaing,&quot; ujarnya.

Gati menuturkan, pihaknya sudah bertemu dengan investor asal Jepang tersebut agar semakin memantapkan untuk berinvestasi sebagai produsen Bemberg di Indonesia. Dengan diproduksinya Bemberg di dalam negeri, diharapkan sejumlah perajin batik dan tenun yang sudah menggunakan Bemberg tidak lagi impor bahan baku itu dari Jepang. &amp;ldquo;Tahun lalu, kami ketemu dengan calon investornya. Mereka bilang sepanjang demand di Indonesia tinggi, akan dipindahkan pabriknya ke Indonesia,&amp;rdquo; katanya.
Gati menambahkan, alasan lain pemerintah mendorong penggunaan Bemberg sebagai bahan baku alternatif pengganti sutra, karena semakin terbatasnya dan mahalnya harga bahan baku sutra. Bemberg sendiri, terbuat dari serat cupro yang merupakan olahan biji kapas yang didaur ulang dengan cara dilelehkan.
Meski benang serat cupro berkilau seperti sutra, harganya justru jauh  lebih murah. Terlebih menurut Gati, penetrasi pewarna yang masuk juga  lebih bagus dan sudah digunakan di beberapa kain tradisional khas  Indonesia. &quot;Sudah dicoba untuk membuat songket dari Palembang dan ulos  dari Sumatera Utara, hasilnya bagus sekali. Kalau ditambah motif dari  Indonesia yang bagus-bagus, pasarnya akan meningkat,&amp;rdquo; imbuhnya.
Untuk memperluas penggunaan Bemberg di Tanah Air, Kemenperin akan  melakukan sosialisasi kepada perajin dan konsumen agar makin dikenal.  Pemerintah pusat mendorong kepala dinas di daerah, terutama untuk daerah  penghasil tenun dan batik, seperti Sumatera Utara, Palembang, Bali, dan  Makassar.

Penggunaan Bemberg sebagai bahan baku untuk industri tenun dan batik  sudah diaplikasikan oleh beberapa peserta Pameran Adiwastra 2019 yang  digelar pada tanggal 20-24 Maret 2019 di Jakarta Convention Center  (JCC). Salah satu yang sudah menggunakan bahan baku Bemberg ini adalah  Zainal Songket yang membuka stan di ajang pameran kain adat terbesar  se-Indonesia itu.
Zainal menjelaskan, produk Bemberg lebih ramah lingkungan karena  industri tak harus memberikan warna pada benang lagi. Menurut dia,  karena tak ada limbahnya, produksi jadi lebih cepat, otomatis ongkos  produksi semakin murah. &amp;ldquo;Tidak ada limbahnya, produksi jadi lebih cepat,  otomatis ongkos produksi semakin murah,&quot; ungkapnya.
Zainal Songket sudah menggunakan bahan baku impor dari Jepang selama  delapan bulan terakhir untuk menghindari persaingan dengan pengrajin  lain di Tanah Air. &amp;ldquo;Apalagi, tahun lalu, Asian Games 2018 juga menjadi  prioritas para pelaku usaha batik dan tenun di Palembang untuk lebih  produktif karena menjadi salah satu kota penyelenggaraan event  tersebut,&amp;rdquo; imbuhnya.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Kementerian Perindustrian terus memacu daya saing industri batik dan tenun dalam negeri. Hal ini dilakukan guna menghasilkan produk yang kompetitif, terutama untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor. Oleh karena itu, para perajin serta pengusaha batik dan tenun diharapkan untuk semakin berinovasi, khususnya dalam hal pemenuhan bahan baku.
&quot;Kami sosialisasikan ke Industri Kecil dan Menengah (IKM) batik dan tenun, bahwa ini ada bahan baku baru yang sangat mirip dengan benang sutra. Namanya Bemberg. Kami mendorong mereka untuk mencoba dan mengaplikasikannya,&quot; kata Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin Gati Wibawaningsih dilansir dari Harian Neraca, Senin (25/3/2019).
Baca Juga: Bangladesh Bangga Pakai Batik Indonesia
Menurut Gati, Bemberg adalah merek dagang bagi kain yang terbuat dari bijih kapas yang selama ini dianggap sampah. Bahan baku ini sudah beberapa tahun terakhir dikembangkan di Jepang, dan sudah lulus uji coba, bahkan ramah lingkungan. Bemberg diharapkan sebagai bahan pengganti sutra, sehingga akan menjadi substitusi impor. &amp;ldquo;Kami akan menggarap Bemberg sebagai bahan pengganti sutra, sehingga akan menjadi substitusi impor, menggantikan serat sutra yang digunakan bahan baku untuk industri batik dan tenun,&amp;rdquo; jelasnya.
Guna melakukan substitusi impor untuk bahan baku industri kain dan batik, pemerintah siap memboyong investor asal Jepang agar dapat membangun pabrik untuk memproduksi Bemberg di Indonesia. Calon investor dari Jepang tersebut telah melakukan penjajakan lahan di kawasan Wajo, Sulawesi Selatan, untuk budidaya tanaman kapas secara besar-besaran.
&amp;ldquo;Kalau sudah ada pabriknya di Indonesia, maka pusatnya ada di sini, karena sebagai sumber bahan baku. Kalau mereka bisa masuk ke pasar Nusantara, ekspor akan lebih besar sekitar 10%. Itu bisa menekan harga bahan baku, sehingga ekspor produk tekstil kita bisa lebih bersaing,&quot; ujarnya.

Gati menuturkan, pihaknya sudah bertemu dengan investor asal Jepang tersebut agar semakin memantapkan untuk berinvestasi sebagai produsen Bemberg di Indonesia. Dengan diproduksinya Bemberg di dalam negeri, diharapkan sejumlah perajin batik dan tenun yang sudah menggunakan Bemberg tidak lagi impor bahan baku itu dari Jepang. &amp;ldquo;Tahun lalu, kami ketemu dengan calon investornya. Mereka bilang sepanjang demand di Indonesia tinggi, akan dipindahkan pabriknya ke Indonesia,&amp;rdquo; katanya.
Gati menambahkan, alasan lain pemerintah mendorong penggunaan Bemberg sebagai bahan baku alternatif pengganti sutra, karena semakin terbatasnya dan mahalnya harga bahan baku sutra. Bemberg sendiri, terbuat dari serat cupro yang merupakan olahan biji kapas yang didaur ulang dengan cara dilelehkan.
Meski benang serat cupro berkilau seperti sutra, harganya justru jauh  lebih murah. Terlebih menurut Gati, penetrasi pewarna yang masuk juga  lebih bagus dan sudah digunakan di beberapa kain tradisional khas  Indonesia. &quot;Sudah dicoba untuk membuat songket dari Palembang dan ulos  dari Sumatera Utara, hasilnya bagus sekali. Kalau ditambah motif dari  Indonesia yang bagus-bagus, pasarnya akan meningkat,&amp;rdquo; imbuhnya.
Untuk memperluas penggunaan Bemberg di Tanah Air, Kemenperin akan  melakukan sosialisasi kepada perajin dan konsumen agar makin dikenal.  Pemerintah pusat mendorong kepala dinas di daerah, terutama untuk daerah  penghasil tenun dan batik, seperti Sumatera Utara, Palembang, Bali, dan  Makassar.

Penggunaan Bemberg sebagai bahan baku untuk industri tenun dan batik  sudah diaplikasikan oleh beberapa peserta Pameran Adiwastra 2019 yang  digelar pada tanggal 20-24 Maret 2019 di Jakarta Convention Center  (JCC). Salah satu yang sudah menggunakan bahan baku Bemberg ini adalah  Zainal Songket yang membuka stan di ajang pameran kain adat terbesar  se-Indonesia itu.
Zainal menjelaskan, produk Bemberg lebih ramah lingkungan karena  industri tak harus memberikan warna pada benang lagi. Menurut dia,  karena tak ada limbahnya, produksi jadi lebih cepat, otomatis ongkos  produksi semakin murah. &amp;ldquo;Tidak ada limbahnya, produksi jadi lebih cepat,  otomatis ongkos produksi semakin murah,&quot; ungkapnya.
Zainal Songket sudah menggunakan bahan baku impor dari Jepang selama  delapan bulan terakhir untuk menghindari persaingan dengan pengrajin  lain di Tanah Air. &amp;ldquo;Apalagi, tahun lalu, Asian Games 2018 juga menjadi  prioritas para pelaku usaha batik dan tenun di Palembang untuk lebih  produktif karena menjadi salah satu kota penyelenggaraan event  tersebut,&amp;rdquo; imbuhnya.</content:encoded></item></channel></rss>
