<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>MRT Jakarta Dongkrak Harga Tanah Lebak Bulus hingga Blok M</title><description>Impian Indonesia lebih dari 30 tahun lalu untuk memiliki sarana transportasi massal berbasis rel MRT kini telah terwujud.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/03/27/470/2035639/mrt-jakarta-dongkrak-harga-tanah-lebak-bulus-hingga-blok-m</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/03/27/470/2035639/mrt-jakarta-dongkrak-harga-tanah-lebak-bulus-hingga-blok-m"/><item><title>MRT Jakarta Dongkrak Harga Tanah Lebak Bulus hingga Blok M</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/03/27/470/2035639/mrt-jakarta-dongkrak-harga-tanah-lebak-bulus-hingga-blok-m</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/03/27/470/2035639/mrt-jakarta-dongkrak-harga-tanah-lebak-bulus-hingga-blok-m</guid><pubDate>Rabu 27 Maret 2019 14:45 WIB</pubDate><dc:creator>Okky Wanda lestari</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/03/27/470/2035639/mrt-jakarta-dongkrak-harga-tanah-lebak-bulus-hingga-blok-m-B0AYdqQnnT.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: MRT Jakarta (Giri/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/03/27/470/2035639/mrt-jakarta-dongkrak-harga-tanah-lebak-bulus-hingga-blok-m-B0AYdqQnnT.jpg</image><title>Foto: MRT Jakarta (Giri/Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Impian Indonesia lebih dari 30 tahun lalu untuk memiliki sarana transportasi massal berbasis rel Mass Rapid Transit (MRT) kini telah terwujud.
Gagasan membangun transportasi MRT di Jakarta sebenarnya sudah ada sejak tahun 1985, namun baru pada 10 Oktober 2013 akhirnya dilakukan groundbreaking pembangunan konstruksi MRT Jakarta Fase I.
MRT Jakarta Fase I dengan rute Lebak Bulus menuju Bunderan HI dan sebaliknya memiliki jalur sepanjang 16 kilometer meliputi 10 kilometer jalur layang dan 6 kilometer jalur bawah tanah serta 7 stasiun layang dan 6 stasiun bawah tanah.
&amp;nbsp;Baca Juga: YLKI: Tarif MRT Rp10.000 Masih Masuk Akal
MRT Jakarta Fase I ini diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo sekaligus melakukan groundbreaking MRT Jakarta Fase II sepanjang 8,3 km dari Bundaran HI menuju Kampung Bandan/Ancol pada 24 Maret 2019
Country Manager Rumah.com Marine Novita menjelaskan, sistem transportasi massal dalam kota memiliki dampak yang sangat nyata pada kenaikan harga properti.
Keberadaan koridor transportasi baru atau perubahan sistem transportasi massal akan meningkatkan potensi investasi properti di suatu wilayah. Terealisasinya MRT Jakarta Fase I ini akan mendongkrak harga properti karena akan meningkatkan konektivitas, akses masyarakat, dan mengurangi waktu perjalanan.
&amp;ldquo;Dengan beroperasinya MRT Jakarta Fase I, investasi di bidang properti, akan meningkat di sepanjang jalur MRT tersebut. Harga tanah dan aset properti di sekitar wilayah Jalan Thamrin, Sudirman, Blok M, Fatmawati dan TB Simatupang yang dilalui jalur MRT ini akan terdongrak. Sedangkan wilayah sekitar Lebak Bulus dan TB Simatupang bisa menjadi kawasan pusat niaga baru di Jakarta Selatan,&amp;rdquo; ujarnya di Jakarta, Rabu (27/3/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Tarik Ulur Tarif MRT, dari Rp8.500 Jadi Rp14.000
Kecenderungan kenaikan harga properti di sepanjang jalur MRT ini juga terlihat dari Rumah.com Property Index (RPI). Data RPI ini memiliki akurasi yang cukup tinggi untuk mengetahui dinamika yang terjadi di pasar properti di Indonesia, karena merupakan hasil analisis dari 400.000 listing properti dijual dan disewa dari seluruh Indonesia, dengan lebih dari 17 juta halaman yang dikunjungi setiap bulan dan diakses oleh lebih dari 5,5 juta pencari properti setiap bulannya.
Menurut Marine, Rumah.com Property Index menunjukkan rata-rata indeks harga per kuartal DKI Jakarta sepanjang tahun 2018 adalah sebesar 122 poin, naik 4% dari indeks harga per kuartal rata-rata DKI Jakarta di 2017 (year-on-year). Jika dibandingkan dengan rata-rata indeks harga per kuartal DKI Jakarta, rata-rata indeks harga per kuartal Jakarta Selatan adalah sebesar 149 poin, naik 5% dibandingkan tahun sebelumnya.
&amp;ldquo;Kenaikan rata-rata indeks harga per kuartal di Jakarta Selatan 2018 ini, bersama Jakarta Timur adalah yang tertinggi di seluruh wilayah DKI Jakarta. Jakarta Pusat dan Jakarta Barat mencatat kenaikan sebesar 4% (y-o-y), sementara Jakarta Utara yang terendah, sebesar 2%. (y-o-y). Kenaikan indeks di Jakarta Selatan diperkirakan sebagai akibat pembangunan MRT Jakarta Fase I. Selaras dengan kenaikan di Jakarta Selatan, daerah perbatasannya pun mengalami kenaikan yang sama. Tangerang Selatan mengalami kenaikan indeks sebesar 4%(y-o-y),&amp;rdquo; jelasnya.Perkembangan properti di Jakarta Selatan juga tak lepas dari faktor  perkembangan properti di ruas jalan TB Simatupang, yang berubah menjadi  kawasan bisnis baru. Kemunculan gedung-gedung perkantoran baru diimbangi  dengan munculnya hunian-hunian baru, khususnya apartemen. Sebut saja  Arumaya, Izzara, ataupun Midtown Residence, yang terletak tepat di ruas  jalan TB Simatupang.
Kemudian ada pula yang sedikit menjorok ke dalam seperti Apple  Residence di jalan Jatipadang, serta satu dari sedikit landed house baru  di sekitar Simatupang, yakni Simatupang Residence, yang terletak di  kawasan Pasar Minggu, sekitar 600 meter dari jalan TB Simatupang. Untuk  apartemen, harga unit studio-nya sudah berada pada kisaran Rp1 miliar ke  atas sementara rumah tapak dimulai pada kisararn Rp4 miliaran.
Pilihan yang lebih terjangkau ada di sekitar area Ciputat, ruas jalan  Ir. H. Juanda-Dewi Sartika-Otista Raya. Apartemen Seperti Green Lake  View, Bailey's Lagoon, City Light, dan The Spring masih menawarkan tipe  studio dengan harga mulai Rp300 jutaan. Sementara untuk rumah tapak,  harga unit di perumahan cluster di kawasan Ciputat dimulai pada kisaran  Rp1 miliaran.
Menurut Marine, kehadiran MRT Jakarta juga bisa mendorong masyarakat  yang selama ini tinggal di pinggiran Jakarta untuk kembali tinggal di  tengah kota.
Apalagi menurut data Diskominfo DKI Jakarta, kepadatan penduduk di  kelurahan-kelurahan yang memiliki stasiun MRT rata-rata kurang dari  setengah dari kepadatan per kelurahan di DKI Jakarta yaitu 22,483  jiwa/km. Sehingga bisa dijadikan agenda pemerintah untuk melakukan  pemerataan kepadatan penduduk ke wilayah yang kepadatannya masih rendah  dan dekat dengan stasiun MRT.
Hal ini juga sejalan dengan hasil survei Rumah.com Property  Affordability Sentiment Index H1 2019 yang menunjukkan bahwa 76%  responden survei menempatkan kedekatan dengan transportasi publik  menempati posisi teratas sebagai faktor pertimbangan untuk membeli  properti selain pertimbangan tentang lokasi, keamanan, infrastruktur dan  fasilitas, harga per meter persegi serta kemampuan finansial.
&amp;ldquo;MRT Jakarta akan berdampak positif dan bisa mendongkrak industri  properti yang ada di Jakarta karena bisa memunculkan pusat-pusat hunian,  bisnis dan komersial baru. Selain itu akan juga bisa meramaikan wilayah  selatan Jakarta dan Tangerang Selatan yang memiliki kedekatan akses  menuju stasiun MRT,&amp;rdquo; katanya.</description><content:encoded>JAKARTA - Impian Indonesia lebih dari 30 tahun lalu untuk memiliki sarana transportasi massal berbasis rel Mass Rapid Transit (MRT) kini telah terwujud.
Gagasan membangun transportasi MRT di Jakarta sebenarnya sudah ada sejak tahun 1985, namun baru pada 10 Oktober 2013 akhirnya dilakukan groundbreaking pembangunan konstruksi MRT Jakarta Fase I.
MRT Jakarta Fase I dengan rute Lebak Bulus menuju Bunderan HI dan sebaliknya memiliki jalur sepanjang 16 kilometer meliputi 10 kilometer jalur layang dan 6 kilometer jalur bawah tanah serta 7 stasiun layang dan 6 stasiun bawah tanah.
&amp;nbsp;Baca Juga: YLKI: Tarif MRT Rp10.000 Masih Masuk Akal
MRT Jakarta Fase I ini diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo sekaligus melakukan groundbreaking MRT Jakarta Fase II sepanjang 8,3 km dari Bundaran HI menuju Kampung Bandan/Ancol pada 24 Maret 2019
Country Manager Rumah.com Marine Novita menjelaskan, sistem transportasi massal dalam kota memiliki dampak yang sangat nyata pada kenaikan harga properti.
Keberadaan koridor transportasi baru atau perubahan sistem transportasi massal akan meningkatkan potensi investasi properti di suatu wilayah. Terealisasinya MRT Jakarta Fase I ini akan mendongkrak harga properti karena akan meningkatkan konektivitas, akses masyarakat, dan mengurangi waktu perjalanan.
&amp;ldquo;Dengan beroperasinya MRT Jakarta Fase I, investasi di bidang properti, akan meningkat di sepanjang jalur MRT tersebut. Harga tanah dan aset properti di sekitar wilayah Jalan Thamrin, Sudirman, Blok M, Fatmawati dan TB Simatupang yang dilalui jalur MRT ini akan terdongrak. Sedangkan wilayah sekitar Lebak Bulus dan TB Simatupang bisa menjadi kawasan pusat niaga baru di Jakarta Selatan,&amp;rdquo; ujarnya di Jakarta, Rabu (27/3/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Tarik Ulur Tarif MRT, dari Rp8.500 Jadi Rp14.000
Kecenderungan kenaikan harga properti di sepanjang jalur MRT ini juga terlihat dari Rumah.com Property Index (RPI). Data RPI ini memiliki akurasi yang cukup tinggi untuk mengetahui dinamika yang terjadi di pasar properti di Indonesia, karena merupakan hasil analisis dari 400.000 listing properti dijual dan disewa dari seluruh Indonesia, dengan lebih dari 17 juta halaman yang dikunjungi setiap bulan dan diakses oleh lebih dari 5,5 juta pencari properti setiap bulannya.
Menurut Marine, Rumah.com Property Index menunjukkan rata-rata indeks harga per kuartal DKI Jakarta sepanjang tahun 2018 adalah sebesar 122 poin, naik 4% dari indeks harga per kuartal rata-rata DKI Jakarta di 2017 (year-on-year). Jika dibandingkan dengan rata-rata indeks harga per kuartal DKI Jakarta, rata-rata indeks harga per kuartal Jakarta Selatan adalah sebesar 149 poin, naik 5% dibandingkan tahun sebelumnya.
&amp;ldquo;Kenaikan rata-rata indeks harga per kuartal di Jakarta Selatan 2018 ini, bersama Jakarta Timur adalah yang tertinggi di seluruh wilayah DKI Jakarta. Jakarta Pusat dan Jakarta Barat mencatat kenaikan sebesar 4% (y-o-y), sementara Jakarta Utara yang terendah, sebesar 2%. (y-o-y). Kenaikan indeks di Jakarta Selatan diperkirakan sebagai akibat pembangunan MRT Jakarta Fase I. Selaras dengan kenaikan di Jakarta Selatan, daerah perbatasannya pun mengalami kenaikan yang sama. Tangerang Selatan mengalami kenaikan indeks sebesar 4%(y-o-y),&amp;rdquo; jelasnya.Perkembangan properti di Jakarta Selatan juga tak lepas dari faktor  perkembangan properti di ruas jalan TB Simatupang, yang berubah menjadi  kawasan bisnis baru. Kemunculan gedung-gedung perkantoran baru diimbangi  dengan munculnya hunian-hunian baru, khususnya apartemen. Sebut saja  Arumaya, Izzara, ataupun Midtown Residence, yang terletak tepat di ruas  jalan TB Simatupang.
Kemudian ada pula yang sedikit menjorok ke dalam seperti Apple  Residence di jalan Jatipadang, serta satu dari sedikit landed house baru  di sekitar Simatupang, yakni Simatupang Residence, yang terletak di  kawasan Pasar Minggu, sekitar 600 meter dari jalan TB Simatupang. Untuk  apartemen, harga unit studio-nya sudah berada pada kisaran Rp1 miliar ke  atas sementara rumah tapak dimulai pada kisararn Rp4 miliaran.
Pilihan yang lebih terjangkau ada di sekitar area Ciputat, ruas jalan  Ir. H. Juanda-Dewi Sartika-Otista Raya. Apartemen Seperti Green Lake  View, Bailey's Lagoon, City Light, dan The Spring masih menawarkan tipe  studio dengan harga mulai Rp300 jutaan. Sementara untuk rumah tapak,  harga unit di perumahan cluster di kawasan Ciputat dimulai pada kisaran  Rp1 miliaran.
Menurut Marine, kehadiran MRT Jakarta juga bisa mendorong masyarakat  yang selama ini tinggal di pinggiran Jakarta untuk kembali tinggal di  tengah kota.
Apalagi menurut data Diskominfo DKI Jakarta, kepadatan penduduk di  kelurahan-kelurahan yang memiliki stasiun MRT rata-rata kurang dari  setengah dari kepadatan per kelurahan di DKI Jakarta yaitu 22,483  jiwa/km. Sehingga bisa dijadikan agenda pemerintah untuk melakukan  pemerataan kepadatan penduduk ke wilayah yang kepadatannya masih rendah  dan dekat dengan stasiun MRT.
Hal ini juga sejalan dengan hasil survei Rumah.com Property  Affordability Sentiment Index H1 2019 yang menunjukkan bahwa 76%  responden survei menempatkan kedekatan dengan transportasi publik  menempati posisi teratas sebagai faktor pertimbangan untuk membeli  properti selain pertimbangan tentang lokasi, keamanan, infrastruktur dan  fasilitas, harga per meter persegi serta kemampuan finansial.
&amp;ldquo;MRT Jakarta akan berdampak positif dan bisa mendongkrak industri  properti yang ada di Jakarta karena bisa memunculkan pusat-pusat hunian,  bisnis dan komersial baru. Selain itu akan juga bisa meramaikan wilayah  selatan Jakarta dan Tangerang Selatan yang memiliki kedekatan akses  menuju stasiun MRT,&amp;rdquo; katanya.</content:encoded></item></channel></rss>
