<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ada Sentimen Pilpres, IHSG Sepekan Berpotensi Menguat</title><description>Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak menguat sepanjang pekan ini.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/04/01/278/2037659/ada-sentimen-pilpres-ihsg-sepekan-berpotensi-menguat</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/04/01/278/2037659/ada-sentimen-pilpres-ihsg-sepekan-berpotensi-menguat"/><item><title>Ada Sentimen Pilpres, IHSG Sepekan Berpotensi Menguat</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/04/01/278/2037659/ada-sentimen-pilpres-ihsg-sepekan-berpotensi-menguat</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/04/01/278/2037659/ada-sentimen-pilpres-ihsg-sepekan-berpotensi-menguat</guid><pubDate>Senin 01 April 2019 11:41 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/04/01/278/2037659/ada-sentimen-pilpres-ihsg-sepekan-berpotensi-menguat-UqsFA0FLKa.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Indeks Harga Saham Gabungan (Ilustrasi: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/04/01/278/2037659/ada-sentimen-pilpres-ihsg-sepekan-berpotensi-menguat-UqsFA0FLKa.jpg</image><title>Indeks Harga Saham Gabungan (Ilustrasi: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak menguat sepanjang pekan ini. Sentimen pemilihan umum (pemilu) yang akan segera dilakukan masyarakat Indonesia pada 17 April 2019 mendatang dan diproyeksikan dalam keadaan kondusif akan menjadi kekuatan utama menopang IHSG sepekan.
Baca Juga: Transaksi Harian Turun, IHSG Sepekan Lesu 0,87%
Associate Director Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus, Nico Demus mengatakan, di tengah sentimen perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China yang mereda, kini pasar menanti isu terpenting, yaitu efek pemilu. Pemilihan presiden, DPR, dan DPD akan diadakan pada 17 April, tentu hal ini akan membuat beberapa saham pilihan akan mengalami kenaikan. &amp;ldquo;Dari pengalaman sejak 2004, IHSG dan rupiah selalu menguat, terlebih pemenangnya petahana. Diharapkan IHSG menembus level psikologis 6.550. Karena sudah sekian kali gagal ditembus. Indeks awal April diperkirakan di kisaran 6.435-6.485, namun berpotensi untuk berada di atas 6.500,&amp;rdquo; ujar Nico di Jakarta, kemarin.
Sementara itu, sentimen dari global katalisnya sejauh ini masih seputar perang dagang AS dan China. Pada akhir pekan lalu, delegasi Amerika Serikat dan China menyampaikan mereka membuat kemajuan baru dalam negosiasi perdagangan. Negosiator juga mengatakan telah membahas baris demi baris teks perjanjian yang dapat di ajukan kepada Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping. &amp;ldquo;Semoga saja hal ini menandakan bahwa kesepakatan tersebut kian dekat,&amp;rdquo; ujarnya. Kemudian dari Amerika Serikat juga ada sentimen potensi resesi yang disebut mantan Ketua The Fed Janet Yellen bahwa ekonomi AS tidak mungkin tergelincir ke resesi dalam waktu dekat. Tidak ada alasan bagi The Fed memangkas suku bunga, meskipun tidak menutup kemungkinan The Fed memotong tingkat suku bunga karena itu bukanlah sesuatu yang mustahil.
&amp;nbsp;
Perlambatan ekonomi Amerika merupakan sesuatu yang sudah diperkirakan namun itu bukan resesi. Yellen justru lebih terfokus pada deflasi daripada inflasi saat ini yang di mana inflasi secara perlahan terus melambat. Dari Eropa terdapat sentimen Brexit yang akhirnya kembali ditolak sehingga Inggris berpotensi keluar tanpa kesepakatan. Langkah selanjutnya adalah Pe - mim pin Uni Eropa akan bertemu mengadakan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) darurat pada 10 April sebelum menghadapi deadline terakhir, yaitu 12 April. Prosesi Brexit memang tidak begitu memberikan dampak langsung. &amp;ldquo;Untungnya, damai dagang dan potensi re sesi kian diredam sehingga memberikan potensi pada IHSG untuk bisa melaju,&amp;rdquo; ujarnya.
Analis BNI Sekuritas Dessy Lapagu memperkirakan pergerakan IHSG pada pekan ini berpotensi menguat dengan ekspektasi terdorong oleh sentimen rilis data indikator ekonomi Indonesia. Data indikator tersebut adalah inflasi Indonesia per Maret 2019 yang akan di rilis pada Senin 1 April 2019 dengan ekspektasi sedikit naik dibandingkan inflasi Februari 2019. &amp;ldquo;IHSG pada pekan depan ini perkirakan akan bergerak menguat dengan rentang 6.431-6.509,&amp;rdquo; ujarnya. Pergerakan IHSG pada pekan lalu lemah akibat sentimen mayoritas berasal dari sektor perbankan dan konsumsi.Namun, pekan ini IHSG berpotensi menjadi peluang bagi investor  kembali melakukan akumulasi beli terhadap sektor-sektor yang masih kuat  secara fundamental. Sekretaris Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI)  Yulianto Aji Sadono menjelaskan, pergerakan IHSG pada pekan kemarin  mengalami perubahan, yaitu sebesar 0,87% ke level 6.468,75 dari 6.525,27  pada penutupan pekan sebelumnya. Nilai kapitalisasi pasar juga  mencatatkan perubahan sebesar 0,86% menjadi sebesar Rp7.356,38 triliun  dari Rp7.420,50 triliun pada penutupan pekan lalu. Sementara pekan  kemarin, data rata-rata nilai transaksi harian BEI mengalami perubahan  sebesar 2,47% menjadi Rp8,175 triliun dari Rp8,382 triliun pada  penutupan pekan sebelumnya.

Namun, rata-rata volume transaksi harian BEI mengalami perubahan  sebesar 18,58% menjadi 13,54 miliar unit saham dari 16,63 miliar unit  saham pada pekan sebelumnya. Kemudian untuk rata-rata frekuensi  transaksi harian BEI juga mengalami perubahan sebesar 0,34% menjadi  410,52 ribu kali transaksi dari 411,92 ribu kali transaksi pa da pekan  lalu. &amp;ldquo;Sepanjang tahun 2019, investor asing mencatatkan beli bersih  sebesar Rp12,13 triliun dan pada akhir pekan lalu, investor asing  mencatatkan beli bersih sebesar Rp831,98 miliar,&amp;rdquo; katanya. Dengan  perekonomian baik serta dukungan yang positif dari pemerintah, BEI tetap  optimistis akan lebih banyak perusahaan tertarik melakukan pencatatan  efek baru, khususnya pencatatan saham baru di BEI.
Optimisme tersebut tergambar dengan telah tercatatnya tujuh saham  perusahaan baru sepanjang tahun 2019. Jumlah perusahaan tercatat baru  pada kuartal pertama tahun 2019 sampai dengan Maret ini merupakan  periode dengan jumlah perusahaan tercatat saham baru tertinggi di  bandingkan dengan jumlah perusahaan tercatat baru pada kuartal pertama  selama lima tahun terakhir. Berdasarkan data Maret 2019, terdapat 16  pipeline saham, sembilan pipeline emisi obligasi dan sukuk, serta dua  pipeline pencatatan ETF. Dari 16 perusahaan yang telah ada dalam  pipeline saham, sebagian besar berasal dari sektor trade, service dan  investment, serta dari sektor property, real estate, and building  construction.
(Hafid Fuad)</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak menguat sepanjang pekan ini. Sentimen pemilihan umum (pemilu) yang akan segera dilakukan masyarakat Indonesia pada 17 April 2019 mendatang dan diproyeksikan dalam keadaan kondusif akan menjadi kekuatan utama menopang IHSG sepekan.
Baca Juga: Transaksi Harian Turun, IHSG Sepekan Lesu 0,87%
Associate Director Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus, Nico Demus mengatakan, di tengah sentimen perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China yang mereda, kini pasar menanti isu terpenting, yaitu efek pemilu. Pemilihan presiden, DPR, dan DPD akan diadakan pada 17 April, tentu hal ini akan membuat beberapa saham pilihan akan mengalami kenaikan. &amp;ldquo;Dari pengalaman sejak 2004, IHSG dan rupiah selalu menguat, terlebih pemenangnya petahana. Diharapkan IHSG menembus level psikologis 6.550. Karena sudah sekian kali gagal ditembus. Indeks awal April diperkirakan di kisaran 6.435-6.485, namun berpotensi untuk berada di atas 6.500,&amp;rdquo; ujar Nico di Jakarta, kemarin.
Sementara itu, sentimen dari global katalisnya sejauh ini masih seputar perang dagang AS dan China. Pada akhir pekan lalu, delegasi Amerika Serikat dan China menyampaikan mereka membuat kemajuan baru dalam negosiasi perdagangan. Negosiator juga mengatakan telah membahas baris demi baris teks perjanjian yang dapat di ajukan kepada Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping. &amp;ldquo;Semoga saja hal ini menandakan bahwa kesepakatan tersebut kian dekat,&amp;rdquo; ujarnya. Kemudian dari Amerika Serikat juga ada sentimen potensi resesi yang disebut mantan Ketua The Fed Janet Yellen bahwa ekonomi AS tidak mungkin tergelincir ke resesi dalam waktu dekat. Tidak ada alasan bagi The Fed memangkas suku bunga, meskipun tidak menutup kemungkinan The Fed memotong tingkat suku bunga karena itu bukanlah sesuatu yang mustahil.
&amp;nbsp;
Perlambatan ekonomi Amerika merupakan sesuatu yang sudah diperkirakan namun itu bukan resesi. Yellen justru lebih terfokus pada deflasi daripada inflasi saat ini yang di mana inflasi secara perlahan terus melambat. Dari Eropa terdapat sentimen Brexit yang akhirnya kembali ditolak sehingga Inggris berpotensi keluar tanpa kesepakatan. Langkah selanjutnya adalah Pe - mim pin Uni Eropa akan bertemu mengadakan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) darurat pada 10 April sebelum menghadapi deadline terakhir, yaitu 12 April. Prosesi Brexit memang tidak begitu memberikan dampak langsung. &amp;ldquo;Untungnya, damai dagang dan potensi re sesi kian diredam sehingga memberikan potensi pada IHSG untuk bisa melaju,&amp;rdquo; ujarnya.
Analis BNI Sekuritas Dessy Lapagu memperkirakan pergerakan IHSG pada pekan ini berpotensi menguat dengan ekspektasi terdorong oleh sentimen rilis data indikator ekonomi Indonesia. Data indikator tersebut adalah inflasi Indonesia per Maret 2019 yang akan di rilis pada Senin 1 April 2019 dengan ekspektasi sedikit naik dibandingkan inflasi Februari 2019. &amp;ldquo;IHSG pada pekan depan ini perkirakan akan bergerak menguat dengan rentang 6.431-6.509,&amp;rdquo; ujarnya. Pergerakan IHSG pada pekan lalu lemah akibat sentimen mayoritas berasal dari sektor perbankan dan konsumsi.Namun, pekan ini IHSG berpotensi menjadi peluang bagi investor  kembali melakukan akumulasi beli terhadap sektor-sektor yang masih kuat  secara fundamental. Sekretaris Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI)  Yulianto Aji Sadono menjelaskan, pergerakan IHSG pada pekan kemarin  mengalami perubahan, yaitu sebesar 0,87% ke level 6.468,75 dari 6.525,27  pada penutupan pekan sebelumnya. Nilai kapitalisasi pasar juga  mencatatkan perubahan sebesar 0,86% menjadi sebesar Rp7.356,38 triliun  dari Rp7.420,50 triliun pada penutupan pekan lalu. Sementara pekan  kemarin, data rata-rata nilai transaksi harian BEI mengalami perubahan  sebesar 2,47% menjadi Rp8,175 triliun dari Rp8,382 triliun pada  penutupan pekan sebelumnya.

Namun, rata-rata volume transaksi harian BEI mengalami perubahan  sebesar 18,58% menjadi 13,54 miliar unit saham dari 16,63 miliar unit  saham pada pekan sebelumnya. Kemudian untuk rata-rata frekuensi  transaksi harian BEI juga mengalami perubahan sebesar 0,34% menjadi  410,52 ribu kali transaksi dari 411,92 ribu kali transaksi pa da pekan  lalu. &amp;ldquo;Sepanjang tahun 2019, investor asing mencatatkan beli bersih  sebesar Rp12,13 triliun dan pada akhir pekan lalu, investor asing  mencatatkan beli bersih sebesar Rp831,98 miliar,&amp;rdquo; katanya. Dengan  perekonomian baik serta dukungan yang positif dari pemerintah, BEI tetap  optimistis akan lebih banyak perusahaan tertarik melakukan pencatatan  efek baru, khususnya pencatatan saham baru di BEI.
Optimisme tersebut tergambar dengan telah tercatatnya tujuh saham  perusahaan baru sepanjang tahun 2019. Jumlah perusahaan tercatat baru  pada kuartal pertama tahun 2019 sampai dengan Maret ini merupakan  periode dengan jumlah perusahaan tercatat saham baru tertinggi di  bandingkan dengan jumlah perusahaan tercatat baru pada kuartal pertama  selama lima tahun terakhir. Berdasarkan data Maret 2019, terdapat 16  pipeline saham, sembilan pipeline emisi obligasi dan sukuk, serta dua  pipeline pencatatan ETF. Dari 16 perusahaan yang telah ada dalam  pipeline saham, sebagian besar berasal dari sektor trade, service dan  investment, serta dari sektor property, real estate, and building  construction.
(Hafid Fuad)</content:encoded></item></channel></rss>
