<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Investigator Ethiopia Desak Boeing Tinjau Ulang Teknologi Pesawat 737 MAX</title><description>Para investigator Ethiopia mendesak Boeing meninjau ulang teknologi kontrol penerbangan</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/04/05/320/2039355/investigator-ethiopia-desak-boeing-tinjau-ulang-teknologi-pesawat-737-max</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/04/05/320/2039355/investigator-ethiopia-desak-boeing-tinjau-ulang-teknologi-pesawat-737-max"/><item><title>Investigator Ethiopia Desak Boeing Tinjau Ulang Teknologi Pesawat 737 MAX</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/04/05/320/2039355/investigator-ethiopia-desak-boeing-tinjau-ulang-teknologi-pesawat-737-max</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/04/05/320/2039355/investigator-ethiopia-desak-boeing-tinjau-ulang-teknologi-pesawat-737-max</guid><pubDate>Jum'at 05 April 2019 11:01 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/04/05/320/2039355/investigator-ethiopia-desak-boeing-tinjau-ulang-teknologi-pesawat-737-max-fXzwGTRjhq.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Pabrik Pesawat Boeing</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/04/05/320/2039355/investigator-ethiopia-desak-boeing-tinjau-ulang-teknologi-pesawat-737-max-fXzwGTRjhq.jpg</image><title>Foto: Pabrik Pesawat Boeing</title></images><description>ADDIS ABABA - Para investigator Ethiopia mendesak Boeing meninjau ulang teknologi kontrol penerbangan. Mereka menyatakan para pilot Ethiopian Airlines telah melakukan semua prosedur yang ada sebelum pesawat 737 MAX jatuh dan menewaskan 157 orang.
Hidung pesawat Ethiopian Airlines berulang kali menukik ke bawah saat para pilot berupaya mengontrol seluruh pesawat sebelum mengalami kecelakaan enam menit setelah lepas landas dari Addis Ababa dan kondisi cuaca cerah.
&amp;ldquo;Kru melakukan semua prosedur berulang kali yang disediakan manufaktur, tapi tidak mampu mengontrol pesawat,&amp;rdquo; papar Menteri Transportasi Ethiopia Dagmawit Moges saat konferensi pers menyajikan laporan penyelidikan awal, dilansir Reuters.
Baca Juga: Boeing Gunakan Sistem Baru, 3 Pilot Jajal Terbangkan Pesawat Boeing 737 Max 8
Para investigator berharap dapat merilis laporan itu hari ini. Pesawat Boeing dengan penjualan terbaik itu telah dihentikan operasionalnya di penjuru dunia sejak bencana 10 Maret, hanya lima bulan setelah Lion Air 737 MAX kecelakaan di Indonesia yang menewaskan 189 orang. Laporan awal kecelakaan itu juga memicu banyak pertanyaan tentang software pesawat, serta pelatihan dan perawatannya.
Keluarga korban, regulator, dan para penumpang di penjuru dunia menunggu informasi apakah dua kecelakaan itu terkait dan apakah teknologi Boeing serta tindakan para pilot Ethiopian Airlines memiliki peran. Para investigator Ethiopia tidak menyalahkan siapa pun atas kecelakaan itu, sesuai aturan internasional yang mengharuskan penyelidikan sipil fokus pada rekomendasi teknis untuk penerbangan yang lebih aman.
Baca Juga: Ketemu Boeing, Garuda Minta Batalkan Pembelian 49 Pesawat
Mereka juga belum memberi rincian analisis penerbangan yang diperkirakan membutuhkan waktu beberapa bulan sebelum laporan akhir dalam setahun. Namun, indikasi jelas di mana para investigator Ethiopia mengarahkan perhatian regulator, mereka menepis dugaan bahwa para pilot menggunakan prosedur yang tidak tepat dan mengeluarkan dua rekomendasi keamanan yang fokus pada pesawat tersebut. Mereka menyarankan Boeing meninjau ulang sistem kontrol penerbangan dan otoritas penerbangan mengonfirmasi semua perubahan sebelum mengizinkan model itu kembali ke udara.
&amp;ldquo;Sejak berulangnya hidung pesawat turun tanpa diperintah, kondisi itu disoroti. Ini merekomendasikan bahwa sistem kontrol pesawat harus ditinjau ulang oleh manufaktur itu,&amp;rdquo; papar Dagmawit.Perintah otomatis agar hidung pesawat turun itu oleh Boeing disebut  software MCAS. Laporan awal kecelakaan Lion Air juga menunjukkan para  pilot kehilangan kontrol setelah kesulitan menangani MCAS, fitur  antistall otomatis terbaru yang berulang kali membuat hidung pesawat  turun berdasarkan data salah dari satu sensor. Badan Penerbangan Federal  Amerika Serikat (FAA) yang dikritik terkait keputusannya memberi  sertifikasi software MCAS memperingatkan bahwa investigasi belum  disimpulkan.
&amp;ldquo;Kami terus bekerja untuk sepenuhnya memahami seluruh aspek  kecelakaan ini. Saat kita mempelajari lebih banyak tentang kecelakaan  dan temuan, kami akan mengambil tindakan yang diperlukan,&amp;rdquo; ungkap  pernyataan FAA. Boeing menyatakan pihaknya akan mempelajari laporan itu  saat dirilis secara resmi.
Ethiopian Airlines menegaskan krunya  mengikuti semua panduan dengan tepat untuk menangani kondisi darurat.  Meski demikian, laporan itu dapat memicu debat dengan Boeing tentang  bagaimana kru merespons masalah yang dipicu data yang salah dari sensor  aliran udara, terutama terkait apakah mereka tetap menjalankan prosedur  sebelum mematikan software .
Berbagai pertanyaan tentang apakah pilot telah menerbangkan pesawat  dengan rata sebelum mematikan MCAS dan berapa banyak MCAS diaktifkan,  belum terjawab dalam konferensi pers yang hanya berlangsung sekitar 40  menit itu. Setelah kecelakaan Ethiopian Airlines di Beirut pada 2010,  otoritas Addis Ababa menolak kesimpulan investigasi Lebanon yang  menyatakan kesalahan pilot dan menyatakan pesawat meledak dengan  kemungkinan aksi sabotase.
Penolakan para pejabat atas hasil  laporan itu memicu ketegangan antara pejabat Ethiopia dan investigator  AS serta penyelidik asing lain.
&amp;ldquo;Kami tidak memiliki pesanan lain dari para pemegang saham berbeda  yang terlibat dalam investigasi,&amp;rdquo; ungkap kepala investigator Amdye  Ayalew Fanta. Pengamat keamanan penerbangan Paul Hayes menjelaskan,  investigasi lebih dalam akan mengungkap peran software dan bagaimana  pilot dapat merespons. Dia berharap sisasisa dari konflik 2010 telah  hilang dalam investigasi sekarang.</description><content:encoded>ADDIS ABABA - Para investigator Ethiopia mendesak Boeing meninjau ulang teknologi kontrol penerbangan. Mereka menyatakan para pilot Ethiopian Airlines telah melakukan semua prosedur yang ada sebelum pesawat 737 MAX jatuh dan menewaskan 157 orang.
Hidung pesawat Ethiopian Airlines berulang kali menukik ke bawah saat para pilot berupaya mengontrol seluruh pesawat sebelum mengalami kecelakaan enam menit setelah lepas landas dari Addis Ababa dan kondisi cuaca cerah.
&amp;ldquo;Kru melakukan semua prosedur berulang kali yang disediakan manufaktur, tapi tidak mampu mengontrol pesawat,&amp;rdquo; papar Menteri Transportasi Ethiopia Dagmawit Moges saat konferensi pers menyajikan laporan penyelidikan awal, dilansir Reuters.
Baca Juga: Boeing Gunakan Sistem Baru, 3 Pilot Jajal Terbangkan Pesawat Boeing 737 Max 8
Para investigator berharap dapat merilis laporan itu hari ini. Pesawat Boeing dengan penjualan terbaik itu telah dihentikan operasionalnya di penjuru dunia sejak bencana 10 Maret, hanya lima bulan setelah Lion Air 737 MAX kecelakaan di Indonesia yang menewaskan 189 orang. Laporan awal kecelakaan itu juga memicu banyak pertanyaan tentang software pesawat, serta pelatihan dan perawatannya.
Keluarga korban, regulator, dan para penumpang di penjuru dunia menunggu informasi apakah dua kecelakaan itu terkait dan apakah teknologi Boeing serta tindakan para pilot Ethiopian Airlines memiliki peran. Para investigator Ethiopia tidak menyalahkan siapa pun atas kecelakaan itu, sesuai aturan internasional yang mengharuskan penyelidikan sipil fokus pada rekomendasi teknis untuk penerbangan yang lebih aman.
Baca Juga: Ketemu Boeing, Garuda Minta Batalkan Pembelian 49 Pesawat
Mereka juga belum memberi rincian analisis penerbangan yang diperkirakan membutuhkan waktu beberapa bulan sebelum laporan akhir dalam setahun. Namun, indikasi jelas di mana para investigator Ethiopia mengarahkan perhatian regulator, mereka menepis dugaan bahwa para pilot menggunakan prosedur yang tidak tepat dan mengeluarkan dua rekomendasi keamanan yang fokus pada pesawat tersebut. Mereka menyarankan Boeing meninjau ulang sistem kontrol penerbangan dan otoritas penerbangan mengonfirmasi semua perubahan sebelum mengizinkan model itu kembali ke udara.
&amp;ldquo;Sejak berulangnya hidung pesawat turun tanpa diperintah, kondisi itu disoroti. Ini merekomendasikan bahwa sistem kontrol pesawat harus ditinjau ulang oleh manufaktur itu,&amp;rdquo; papar Dagmawit.Perintah otomatis agar hidung pesawat turun itu oleh Boeing disebut  software MCAS. Laporan awal kecelakaan Lion Air juga menunjukkan para  pilot kehilangan kontrol setelah kesulitan menangani MCAS, fitur  antistall otomatis terbaru yang berulang kali membuat hidung pesawat  turun berdasarkan data salah dari satu sensor. Badan Penerbangan Federal  Amerika Serikat (FAA) yang dikritik terkait keputusannya memberi  sertifikasi software MCAS memperingatkan bahwa investigasi belum  disimpulkan.
&amp;ldquo;Kami terus bekerja untuk sepenuhnya memahami seluruh aspek  kecelakaan ini. Saat kita mempelajari lebih banyak tentang kecelakaan  dan temuan, kami akan mengambil tindakan yang diperlukan,&amp;rdquo; ungkap  pernyataan FAA. Boeing menyatakan pihaknya akan mempelajari laporan itu  saat dirilis secara resmi.
Ethiopian Airlines menegaskan krunya  mengikuti semua panduan dengan tepat untuk menangani kondisi darurat.  Meski demikian, laporan itu dapat memicu debat dengan Boeing tentang  bagaimana kru merespons masalah yang dipicu data yang salah dari sensor  aliran udara, terutama terkait apakah mereka tetap menjalankan prosedur  sebelum mematikan software .
Berbagai pertanyaan tentang apakah pilot telah menerbangkan pesawat  dengan rata sebelum mematikan MCAS dan berapa banyak MCAS diaktifkan,  belum terjawab dalam konferensi pers yang hanya berlangsung sekitar 40  menit itu. Setelah kecelakaan Ethiopian Airlines di Beirut pada 2010,  otoritas Addis Ababa menolak kesimpulan investigasi Lebanon yang  menyatakan kesalahan pilot dan menyatakan pesawat meledak dengan  kemungkinan aksi sabotase.
Penolakan para pejabat atas hasil  laporan itu memicu ketegangan antara pejabat Ethiopia dan investigator  AS serta penyelidik asing lain.
&amp;ldquo;Kami tidak memiliki pesanan lain dari para pemegang saham berbeda  yang terlibat dalam investigasi,&amp;rdquo; ungkap kepala investigator Amdye  Ayalew Fanta. Pengamat keamanan penerbangan Paul Hayes menjelaskan,  investigasi lebih dalam akan mengungkap peran software dan bagaimana  pilot dapat merespons. Dia berharap sisasisa dari konflik 2010 telah  hilang dalam investigasi sekarang.</content:encoded></item></channel></rss>
