<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Banyak Masalah, KRL Commuter Line Sudah Uzur</title><description>Gangguan pada kereta rel listrik (KRL) Jabodetabek atau Commuter Line karena peralatan yang ada sudah uzur</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/04/05/320/2039378/banyak-masalah-krl-commuter-line-sudah-uzur</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/04/05/320/2039378/banyak-masalah-krl-commuter-line-sudah-uzur"/><item><title>Banyak Masalah, KRL Commuter Line Sudah Uzur</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/04/05/320/2039378/banyak-masalah-krl-commuter-line-sudah-uzur</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/04/05/320/2039378/banyak-masalah-krl-commuter-line-sudah-uzur</guid><pubDate>Jum'at 05 April 2019 11:36 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/04/05/320/2039378/banyak-masalah-krl-commuter-line-sudah-uzur-1hK5g6jKSZ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Foto Okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/04/05/320/2039378/banyak-masalah-krl-commuter-line-sudah-uzur-1hK5g6jKSZ.jpg</image><title>Ilustrasi: Foto Okezone</title></images><description>BOGOR &amp;ndash; Gangguan pada kereta rel listrik (KRL) Jabodetabek atau Commuter Line karena peralatan yang ada sudah uzur. Maka itu, perlu evaluasi dan penanganan serius supaya tidak terulang di kemudian hari.
&amp;ldquo;Kami melihat dalam tiga hari terakhir ini ada gangguan-gangguan di PT KAI, khususnya KRL Jabodetabek. Saya sengaja hadir di Stasiun Bogor untuk mengevaluasi apa saja yang terjadi dan menentukan langkah - langkah berikutnya,&amp;ldquo; ujar Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi saat rapat tertutup dengan Dirjen Perhubungan Darat, Direksi PT KAI, dan Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) di Stasiun Besar Bogor, kemarin.
Baca Juga: KRL Sering Gangguan, Menhub: Saya Minta KAI Bentuk Satgas
Berdasarkan hasil evaluasi, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyimpulkan permasalahan yang menimbulkan gangguan KRL disebabkan banyak peralatan yang sudah berusia tua.
&amp;ldquo;Dan, ada kejadian ekstrem baik cuaca, hujan, maupun petir sebagai indikasi, yang biasanya 200 kiloamper. Ini terjadi dalam kisaran dua kali lipat sehingga terjadilah gangguan-gangguan,&amp;rdquo; ungkap Budi.

Identifikasi yang lain memang frekuensi saat ini semakin cepat karena itu perlu upaya jangka pendek. &amp;ldquo;Saya minta KAI membentuk Task Force dalam menyelesaikan pekerjaan - pekerjaan ini. Jadi, secara khusus berkaitan petir ada tim yang menganalisisnya dan cepat menyelesaikan dengan cara-cara teknis yang baik,&amp;rdquo; katanya.
Baca Juga: BPTJ Minta Operasional KRL Dievaluasi Total
Kemudian tim Task Force juga menyelesaikan tugas yang berkaitan dengan rel sebab ada beberapa spot yang sudah teridentifikasi memiliki masalah. Task Force harus segera bekerja. Dia akan kembali mengumpulkan jajarannya guna kembali membahas lebih rinci apa saja yang harus dilakukan KAI.
&amp;ldquo;Untuk membuat suatu pekerjaan yang lebih prima dibutuhkan rencana dan cara. Minggu depan kita akan rapat lagi sambil Task Force tetap bekerja menyelesaikan masalah - masalah yang terjadi belakangan ini,&amp;rdquo; ucap Budi.Menurut dia, target penyelesaian perbaikan dilakukan beberapa tahap  mulai dari jangka pendek, yakni selesai dua pekan hingga dua bulan ke  depan. &amp;ldquo;Ada juga jangka menengah, yaitu enam bulan sampai satu tahun  karena berkaitan dengan anggaran. Kita akan koordinasikan berapa  anggaran dan apa saja yang mesti direalisasikan,&amp;rdquo; tuturnya.
Menhub tak memungkiri ada hubungannya antara peralatan yang sudah tua  dengan insiden KRL anjlok di Kebon Pedes, Tanah Sareal, Kota Bogor,  beberapa waktu lalu. &amp;ldquo;Kalau kita lihat, memang ada penurunan tanah  karena hujan yang berlebih sehingga sambungan rel juga mengalami  penurunan,&amp;rdquo; sebutnya.
Maka itu, cuaca ekstrem ada kaitannya dengan persoalan maintenance  rel. &amp;ldquo;Katakanlah cuaca ekstrem yang semula skalanya enam sekarang  sembilan sehingga perawatan yang berbanding lurus dengan skala enam  sudah tak bisa. Ini yang mesti diidentifikasi, apalagi rel-relnya sudah  berumur. Tim adhoc Task Force harus bekerja lebih ekstra dari  sebelumnya,&amp;rdquo; kata Budi.
Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengaku tidak mempermasalahkan  peralatan perkeretaapian yang sudah tua sepanjang masih layak dan sesuai  standar. &amp;ldquo;Saya kira tak ada masalah meskipun sudah berusia tua,&amp;rdquo;  ucapnya.
Dalam kesempatan itu, dia tidak bisa menemukan penyebab pasti  kecelakaan transportasi lantaran tak ada yang single factor. &amp;ldquo;Dari hasil  investigasi KNKT, salah satu faktor penyebab kecelakaan KRL relasi  Jatinegara-Bogor di perlintasan Kebon Pedes karena rel menurun. Ketika  hujan, air masuk ke tubuh rel itu terlihat adanya gejrotan, diperbaiki  dua bulan jebol lagi, dua bulan jebol lagi,&amp;rdquo; ungkapnya.
Menurut dia, harus ada koordinasi antara Kementerian Pe kerjaan Umum  dan Perumahan Rakyat (PUPR), Kemenhub, dan PT KAI supaya di lokasi  perlintasan sebidang Kebon Pedes tidak terjadi penurunan rel. &amp;ldquo;Ini  sebenarnya banyak yang terlibat, kita pelan-pelan mencari siapa  penanggung jawab tunggalnya. Kalau tanggung jawab bersama jika ada  masalah seperti ini, pasti saling lempar sehingga tak akan selesai,&amp;rdquo;  ucap Soerjanto.</description><content:encoded>BOGOR &amp;ndash; Gangguan pada kereta rel listrik (KRL) Jabodetabek atau Commuter Line karena peralatan yang ada sudah uzur. Maka itu, perlu evaluasi dan penanganan serius supaya tidak terulang di kemudian hari.
&amp;ldquo;Kami melihat dalam tiga hari terakhir ini ada gangguan-gangguan di PT KAI, khususnya KRL Jabodetabek. Saya sengaja hadir di Stasiun Bogor untuk mengevaluasi apa saja yang terjadi dan menentukan langkah - langkah berikutnya,&amp;ldquo; ujar Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi saat rapat tertutup dengan Dirjen Perhubungan Darat, Direksi PT KAI, dan Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) di Stasiun Besar Bogor, kemarin.
Baca Juga: KRL Sering Gangguan, Menhub: Saya Minta KAI Bentuk Satgas
Berdasarkan hasil evaluasi, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyimpulkan permasalahan yang menimbulkan gangguan KRL disebabkan banyak peralatan yang sudah berusia tua.
&amp;ldquo;Dan, ada kejadian ekstrem baik cuaca, hujan, maupun petir sebagai indikasi, yang biasanya 200 kiloamper. Ini terjadi dalam kisaran dua kali lipat sehingga terjadilah gangguan-gangguan,&amp;rdquo; ungkap Budi.

Identifikasi yang lain memang frekuensi saat ini semakin cepat karena itu perlu upaya jangka pendek. &amp;ldquo;Saya minta KAI membentuk Task Force dalam menyelesaikan pekerjaan - pekerjaan ini. Jadi, secara khusus berkaitan petir ada tim yang menganalisisnya dan cepat menyelesaikan dengan cara-cara teknis yang baik,&amp;rdquo; katanya.
Baca Juga: BPTJ Minta Operasional KRL Dievaluasi Total
Kemudian tim Task Force juga menyelesaikan tugas yang berkaitan dengan rel sebab ada beberapa spot yang sudah teridentifikasi memiliki masalah. Task Force harus segera bekerja. Dia akan kembali mengumpulkan jajarannya guna kembali membahas lebih rinci apa saja yang harus dilakukan KAI.
&amp;ldquo;Untuk membuat suatu pekerjaan yang lebih prima dibutuhkan rencana dan cara. Minggu depan kita akan rapat lagi sambil Task Force tetap bekerja menyelesaikan masalah - masalah yang terjadi belakangan ini,&amp;rdquo; ucap Budi.Menurut dia, target penyelesaian perbaikan dilakukan beberapa tahap  mulai dari jangka pendek, yakni selesai dua pekan hingga dua bulan ke  depan. &amp;ldquo;Ada juga jangka menengah, yaitu enam bulan sampai satu tahun  karena berkaitan dengan anggaran. Kita akan koordinasikan berapa  anggaran dan apa saja yang mesti direalisasikan,&amp;rdquo; tuturnya.
Menhub tak memungkiri ada hubungannya antara peralatan yang sudah tua  dengan insiden KRL anjlok di Kebon Pedes, Tanah Sareal, Kota Bogor,  beberapa waktu lalu. &amp;ldquo;Kalau kita lihat, memang ada penurunan tanah  karena hujan yang berlebih sehingga sambungan rel juga mengalami  penurunan,&amp;rdquo; sebutnya.
Maka itu, cuaca ekstrem ada kaitannya dengan persoalan maintenance  rel. &amp;ldquo;Katakanlah cuaca ekstrem yang semula skalanya enam sekarang  sembilan sehingga perawatan yang berbanding lurus dengan skala enam  sudah tak bisa. Ini yang mesti diidentifikasi, apalagi rel-relnya sudah  berumur. Tim adhoc Task Force harus bekerja lebih ekstra dari  sebelumnya,&amp;rdquo; kata Budi.
Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengaku tidak mempermasalahkan  peralatan perkeretaapian yang sudah tua sepanjang masih layak dan sesuai  standar. &amp;ldquo;Saya kira tak ada masalah meskipun sudah berusia tua,&amp;rdquo;  ucapnya.
Dalam kesempatan itu, dia tidak bisa menemukan penyebab pasti  kecelakaan transportasi lantaran tak ada yang single factor. &amp;ldquo;Dari hasil  investigasi KNKT, salah satu faktor penyebab kecelakaan KRL relasi  Jatinegara-Bogor di perlintasan Kebon Pedes karena rel menurun. Ketika  hujan, air masuk ke tubuh rel itu terlihat adanya gejrotan, diperbaiki  dua bulan jebol lagi, dua bulan jebol lagi,&amp;rdquo; ungkapnya.
Menurut dia, harus ada koordinasi antara Kementerian Pe kerjaan Umum  dan Perumahan Rakyat (PUPR), Kemenhub, dan PT KAI supaya di lokasi  perlintasan sebidang Kebon Pedes tidak terjadi penurunan rel. &amp;ldquo;Ini  sebenarnya banyak yang terlibat, kita pelan-pelan mencari siapa  penanggung jawab tunggalnya. Kalau tanggung jawab bersama jika ada  masalah seperti ini, pasti saling lempar sehingga tak akan selesai,&amp;rdquo;  ucap Soerjanto.</content:encoded></item></channel></rss>
