<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Strategi Bangun Hotel di Tengah Tantangan Brexit</title><description>Mendirikan hotel-hotel baru di Inggris saat negara itu hendak keluar dari Uni Eropa (Brexit) bukan sesuatu yang mudah</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/04/05/470/2039396/strategi-bangun-hotel-di-tengah-tantangan-brexit</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/04/05/470/2039396/strategi-bangun-hotel-di-tengah-tantangan-brexit"/><item><title>Strategi Bangun Hotel di Tengah Tantangan Brexit</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/04/05/470/2039396/strategi-bangun-hotel-di-tengah-tantangan-brexit</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/04/05/470/2039396/strategi-bangun-hotel-di-tengah-tantangan-brexit</guid><pubDate>Jum'at 05 April 2019 11:57 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/04/05/470/2039396/strategi-bangun-hotel-di-tengah-tantangan-brexit-a0j2jkOPXS.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Hotel (Asiarooms.com)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/04/05/470/2039396/strategi-bangun-hotel-di-tengah-tantangan-brexit-a0j2jkOPXS.jpg</image><title>Foto: Hotel (Asiarooms.com)</title></images><description>JAKARTA - Mendirikan hotel-hotel baru di Inggris saat negara itu hendak keluar dari Uni Eropa (Brexit) bukan sesuatu yang mudah. Meski demikian, Pendiri dan Chief Executive Officer (CEO) Home Grown Hotels dan Lime Wood Group Robin Hutson memiliki strateginya sendiri.
Dua grup hotel itu merupakan koleksi sejumlah hotel, restoran, dan pondok penginapan mewah yang fokus pada autentitas dan informalitas desain, makanan, dan layanan. Dimulai pada 2009 dengan membuka Lime Wood, Robin Hutson menciptakan sesuatu yang berbeda bagi para tamu hotel dan restorannya.
Dia ingin para tamunya merasa di rumah di mana pun mereka berada, mulai New Forest yang damai hingga pemandangan pegunungan menakjubkan Courchevel Moriond dan pantai mengesankan Studland Bay di Dorset. Hotel-hotel yang dikelola Lime Wood Group sebagian besar memiliki peringkat bintang lima dan merupakan hotel-hotel ternama di Inggris.
Baca Juga: Harga Tiket Pesawat Naik, Tamu Hotel Turun
Restoran di Lime Wood, Hartnett Hol der &amp;amp; Co merupakan perusahaan patungan antara chef Angela Hartnett dan Luke Holder dan menawarkan makanan yang berkualitas tertinggi di negeri itu. Robin juga mengelola hotel di kawasan ski, Portetta di Alpina Prancis di Courchevel Moriond dan empat Mountain Lodges yang mewah di Belvedere.
Semua itu menambah dimensi Eropa pada grup hotel yang dikelola Robin. Home Grown Hotels pun menjadi grup hotel yang paling banyak dibicarakan orang dalam beberapa tahun terakhir. The Pig yang dikelola Home Grown Hotels disebut sebagai restoran dengan kamar-kamar dan taman dapur.

Konsep itu diciptakan Robin pada 2011 dan diakui banyak pihak hingga mendapat banyak penghargaan dalam industri hotel dan restoran. Grup itu memiliki enam hotel dengan tambahan baru dari yang pertama The Pig. Beberapa hotel baru itu adalah The Pig dekat Bath, The Pig di pantai, The Pig di Combe, dan The Pig di Bridge Place, dengan dua The Pig baru dibuka pada 2020.
Baca Juga: Tiket Pesawat Mahal dan Bagasi Berbayar Bikin Kamar Hotel Nganggur 40%
&amp;ldquo;Kami menekankan filosofi sangat sederhana dan jujur untuk hanya menggunakan produk yang dapat kami tanam sendiri di kebun dapur atau sumber dalam jarak 25 mil, restoran-restoran kami dengan kamar-kamar merupakan rumah tempat menanam,&amp;rdquo; ungkap Robin.
Menurut Robin, semua hotel The Pig memiliki identitas sendiri dan semua memiliki kebun dapur yang di kelola dengan sangat baik.
&amp;ldquo;Komitmen obsesif untuk menanam di rumah dan produk lokal berarti kami dapat menyambut berbagai musim dan hanya menggunakan apa yang segar dan tersedia untuk kami,&amp;rdquo; ucapnya.Robin menuturkan, para chef, tukang kebun dapur, dan pegawai di  hotelnya bekerja keras menciptakan menu yang tidak rumit dan makanan  kebun Inggris yang sederhana, benar-benar musim-musim mikro yang  menekankan pada rasa yang segar dan bersih. Editor majalah Boutique  Hotelier, Zoe Monk menyatakan, rahasia kesuksesan Robin adalah  kemampuannya mengetahui kemana pasar mengarah dan mengidentifikasi  peluang dalam sektor hospitality.
&amp;ldquo;Dia menciptakan tren dan pengalaman yang membawa pada pola pikir  baru setelah mengetahui apa yang hilang dari pasar mainstream,&amp;rdquo; tutur  Monk.
Tahun lalu, majalah The Caterer menempatkan Robin sebagai pebisnis  hotel paling berpengaruh nomor dua di Inggris. Melihat kedepan, editor  The Caterer, Chris Gamm, menjelaskan bahwa Robin dan para pemilik hotel  lainnya mungkin menghadapi kesulitan rekrutmen akibat Brexit.
&amp;ldquo;Tantangan utama industri yang dihadapi sekarang adalah rekrutmen dan  mempertahankan staf yang cukup, yang akan sulit bagi Robin karena dia  dalam proses membuka hotel-hotel baru,&amp;rdquo; papar Gamm.
Robin sepakat bahwa Brexit mengkhawatirkan. &amp;ldquo;Semua orang dalam  industri hospitality khawatir bagaimana mempertahankan karyawan. Dalam  industri ini kami sangat bergantung pada banyak pekerja dari luar  Inggris. Sekitar 25% dari 700 pegawai kami bukan warga Inggris,&amp;rdquo; kata  Robin.
Demi masa depan jaringan The Pig dan bisnis hotel lain miliknya, Lime  Wood Group, dia mempertahankan aspirasinya tetap terjaga. &amp;ldquo;Saya tidak  memiliki ambisi untuk membuat 50 jaringan hotel yang kuat. Itu bukan  target saya. Saya tidak tahu berapa banyak lagi yang akan saya buka.  Hotel itu harus menjadi properti yang tepat dan memiliki lokasi yang  tepat,&amp;rdquo; tutur
Robin yang pada Desember lalu mengendarai sepeda motor sejauh 7.000 km melintasi Cile dan Argentina.</description><content:encoded>JAKARTA - Mendirikan hotel-hotel baru di Inggris saat negara itu hendak keluar dari Uni Eropa (Brexit) bukan sesuatu yang mudah. Meski demikian, Pendiri dan Chief Executive Officer (CEO) Home Grown Hotels dan Lime Wood Group Robin Hutson memiliki strateginya sendiri.
Dua grup hotel itu merupakan koleksi sejumlah hotel, restoran, dan pondok penginapan mewah yang fokus pada autentitas dan informalitas desain, makanan, dan layanan. Dimulai pada 2009 dengan membuka Lime Wood, Robin Hutson menciptakan sesuatu yang berbeda bagi para tamu hotel dan restorannya.
Dia ingin para tamunya merasa di rumah di mana pun mereka berada, mulai New Forest yang damai hingga pemandangan pegunungan menakjubkan Courchevel Moriond dan pantai mengesankan Studland Bay di Dorset. Hotel-hotel yang dikelola Lime Wood Group sebagian besar memiliki peringkat bintang lima dan merupakan hotel-hotel ternama di Inggris.
Baca Juga: Harga Tiket Pesawat Naik, Tamu Hotel Turun
Restoran di Lime Wood, Hartnett Hol der &amp;amp; Co merupakan perusahaan patungan antara chef Angela Hartnett dan Luke Holder dan menawarkan makanan yang berkualitas tertinggi di negeri itu. Robin juga mengelola hotel di kawasan ski, Portetta di Alpina Prancis di Courchevel Moriond dan empat Mountain Lodges yang mewah di Belvedere.
Semua itu menambah dimensi Eropa pada grup hotel yang dikelola Robin. Home Grown Hotels pun menjadi grup hotel yang paling banyak dibicarakan orang dalam beberapa tahun terakhir. The Pig yang dikelola Home Grown Hotels disebut sebagai restoran dengan kamar-kamar dan taman dapur.

Konsep itu diciptakan Robin pada 2011 dan diakui banyak pihak hingga mendapat banyak penghargaan dalam industri hotel dan restoran. Grup itu memiliki enam hotel dengan tambahan baru dari yang pertama The Pig. Beberapa hotel baru itu adalah The Pig dekat Bath, The Pig di pantai, The Pig di Combe, dan The Pig di Bridge Place, dengan dua The Pig baru dibuka pada 2020.
Baca Juga: Tiket Pesawat Mahal dan Bagasi Berbayar Bikin Kamar Hotel Nganggur 40%
&amp;ldquo;Kami menekankan filosofi sangat sederhana dan jujur untuk hanya menggunakan produk yang dapat kami tanam sendiri di kebun dapur atau sumber dalam jarak 25 mil, restoran-restoran kami dengan kamar-kamar merupakan rumah tempat menanam,&amp;rdquo; ungkap Robin.
Menurut Robin, semua hotel The Pig memiliki identitas sendiri dan semua memiliki kebun dapur yang di kelola dengan sangat baik.
&amp;ldquo;Komitmen obsesif untuk menanam di rumah dan produk lokal berarti kami dapat menyambut berbagai musim dan hanya menggunakan apa yang segar dan tersedia untuk kami,&amp;rdquo; ucapnya.Robin menuturkan, para chef, tukang kebun dapur, dan pegawai di  hotelnya bekerja keras menciptakan menu yang tidak rumit dan makanan  kebun Inggris yang sederhana, benar-benar musim-musim mikro yang  menekankan pada rasa yang segar dan bersih. Editor majalah Boutique  Hotelier, Zoe Monk menyatakan, rahasia kesuksesan Robin adalah  kemampuannya mengetahui kemana pasar mengarah dan mengidentifikasi  peluang dalam sektor hospitality.
&amp;ldquo;Dia menciptakan tren dan pengalaman yang membawa pada pola pikir  baru setelah mengetahui apa yang hilang dari pasar mainstream,&amp;rdquo; tutur  Monk.
Tahun lalu, majalah The Caterer menempatkan Robin sebagai pebisnis  hotel paling berpengaruh nomor dua di Inggris. Melihat kedepan, editor  The Caterer, Chris Gamm, menjelaskan bahwa Robin dan para pemilik hotel  lainnya mungkin menghadapi kesulitan rekrutmen akibat Brexit.
&amp;ldquo;Tantangan utama industri yang dihadapi sekarang adalah rekrutmen dan  mempertahankan staf yang cukup, yang akan sulit bagi Robin karena dia  dalam proses membuka hotel-hotel baru,&amp;rdquo; papar Gamm.
Robin sepakat bahwa Brexit mengkhawatirkan. &amp;ldquo;Semua orang dalam  industri hospitality khawatir bagaimana mempertahankan karyawan. Dalam  industri ini kami sangat bergantung pada banyak pekerja dari luar  Inggris. Sekitar 25% dari 700 pegawai kami bukan warga Inggris,&amp;rdquo; kata  Robin.
Demi masa depan jaringan The Pig dan bisnis hotel lain miliknya, Lime  Wood Group, dia mempertahankan aspirasinya tetap terjaga. &amp;ldquo;Saya tidak  memiliki ambisi untuk membuat 50 jaringan hotel yang kuat. Itu bukan  target saya. Saya tidak tahu berapa banyak lagi yang akan saya buka.  Hotel itu harus menjadi properti yang tepat dan memiliki lokasi yang  tepat,&amp;rdquo; tutur
Robin yang pada Desember lalu mengendarai sepeda motor sejauh 7.000 km melintasi Cile dan Argentina.</content:encoded></item></channel></rss>
