<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Infrastruktur Belum Selesai, Macet Tol Cikampek Makin Horor</title><description>Horor kemacetan di jalur tol Jakarta- Cikampek akibat dampak sejumlah proyek infrastruktur belum juga bisa diatasi.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/04/11/320/2041914/infrastruktur-belum-selesai-macet-tol-cikampek-makin-horor</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/04/11/320/2041914/infrastruktur-belum-selesai-macet-tol-cikampek-makin-horor"/><item><title>Infrastruktur Belum Selesai, Macet Tol Cikampek Makin Horor</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/04/11/320/2041914/infrastruktur-belum-selesai-macet-tol-cikampek-makin-horor</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/04/11/320/2041914/infrastruktur-belum-selesai-macet-tol-cikampek-makin-horor</guid><pubDate>Kamis 11 April 2019 10:42 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/04/11/320/2041914/infrastruktur-belum-selesai-macet-tol-cikampek-makin-horor-O5qlr6hm91.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Koran Sindo</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/04/11/320/2041914/infrastruktur-belum-selesai-macet-tol-cikampek-makin-horor-O5qlr6hm91.jpg</image><title>Foto: Koran Sindo</title></images><description>BEKASI - Horor kemacetan di jalur tol Jakarta- Cikampek akibat dampak sejumlah proyek infrastruktur belum juga bisa diatasi. Bahkan kondisinya kian parah. Hal ini dikhawatirkan berlanjut hingga masa liburan Lebaran nanti.
Sejumlah cara pun dilakukan untuk mengantisipasi kemacetan di jalur tol terpadat di Indonesia itu. Salah satunya adalah wacana penerapan ganjil-genap saat musim mudik Lebaran, akhir Mei hingga awal Juni mendatang. Pihak otoritas perhubungan dan kepolisian menyampaikan bahwa penerapan ganjil-genap di tol Jakarta-Cikampek memungkinkan dilakukan. Sementara pihak operator dalam hal ini PT Jasa Marga (Persero) Tbk, juga tidak keberatan apabila aturan tersebut di berlakukan. Corporate Communication Department Head PT Jasa Marga (Persero) Tbk Irra Soenardi mengatakan, wacana kebijakan ganjil-genap di ruas tol Jakarta-Cikampek bisa saja diimplementasikan. Namun, hal itu harus dikoordinasikan bersama banyak pihak seperti kepolisian, Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) serta Kementerian Per hubungan.
Baca Juga: BPJT Masih Optimistis Tol Layang Jakarta-Cikampek Difungsikan saat Lebaran
 
&amp;ldquo;Pada dasarnya kita siap saja mengikuti arahan dari pemerintah. Selama itu bisa mengurai kepadatan dan sesuai dengan arahan dari regulator jalan tol dan pihak terkait lainnya. Tapi ini belum ada omongan dan pemberitahuan,&amp;rdquo; ujar Irra di Jakarta kemarin. Dia menambahkan, Jasa Marga telah memiliki perencanaan sendiri guna mengatasi kepadatan di ruas tol Jakarta-Cikampek menjelang masa mudik Lebaran 2019. Menurutnya ada beberapa langkah yang akan dilakukan untuk mengantisipasi kemacetan, yakni peningkatan pelayanan transaksi, layanan lalu lintas, layanan konstruksi serta rest area. Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Budi Setiyadi mengatakan, akan membicarakan lebih lanjut rencana penerapan ganjil-genap di tol Jakarta-Cikampek saat musim libur Lebaran mendatang.
&amp;ldquo;Tapi itu hasil rapat terakhir dengan pihak Korlantas Polri. Kalau toh akan diterapkan, pastinya akan ada kajian terlebih da - hulu. Karena kita melihat juga kayaknya masih terlampau dini,&amp;rdquo; kata Budi di Jakarta kemarin. Dia menambahkan, pemerintah dalam hal ini Direktorat Per hubungan Darat Kemenhub telah membuat sejumlah alternatif mengantisipasi kepadatan pemudik roda empat di ruas tol. Di antaranya menerapkan contra flow, one way atau penerapan satu lajur dari dua lajur yang ada dengan waktu tertentu, pengalihan arus lalu lintas. Kementerian Perhubungan memprediksi, puncak arus mudik Lebaran tahun ini akan jatuh pada 31 Mei atau H-5 Lebaran, dengan perkiraan waktu ke berangkatan pukul 06.00 WIB hingga pukul 08.00 WIB. Akan tetapi untuk kondisi tertentu ada potensi puncak mudik juga terjadi lebih awal yakni pada 29 atau 30 Mei 2019. Adapun untuk puncak balik diprediksi jatuh pada 9 Juni atau H+3 lebaran.
&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2018/07/19/51836/261745_medium.jpg&quot; alt=&quot;Pemasangan Steel Box Girder Jalan Tol Layang Jakarta-Cikampek II&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Kami imbau juga, supaya masyarakat pemudik pengguna angkut an pribadi roda empat, supaya jangan terlalu bertumpu di jalur tol. Sebab, pilihan moda angkutan lain juga banyak, termasuk ketersediaan angkutan moda gratis bagi sepeda motor,&amp;rdquo; katanya. Diketahui, dalam dua tahun terakhir kemacetan di jalur tol Jakarta-Cikampek semakin menjadi-jadi sejak adanya proyek infrastruktur di wilayah itu. Setidaknya ada tiga proyek yang hingga saat ini masih berjalan, yakni tol Jakarta-Cikampek II Elevated, Light Rail Transit (LRT) dan Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Selain itu proyek lain yang sedang dikerjakan adalah pembangunan tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu). Kemacetan ini disebabkan volume kendaraan yang padat hampir di setiap waktu. Kondisi ini terjadi tidak hanya di pagi atau sore hari.
Bahkan kemacetan parah juga kerap terjadi saat libur akhir pekan atau libur nasional. Ini membuat waktu tempuh para pengendara menjadi lebih lama. Misalnya saja, waktu tempuh dari tol TB Simatupang ke Simpang Susun Cikunir yang normalnya hanya 30 menit, kini bisa satu jam lebih. Yang terbaru, kemacetan parah terjadi pada Selasa (9/4) lalu dan Rabu (10/4). Pada Selasa lalu, kemacetan disebabkan adanya truk yang mogok tak jauh dari gerbang tol Cikunir 2 menuju Rorotan arah Jakarta. Imbasnya, lalu lintas pun macet total hingga tiga jam, dam berdampak pada jalur-jalur tol Cikampek dan sekitarnya serta jalan arteri di wilayah Bekasi. Sementara itu kemarin, kemacetan terjadi karena penyempitan lajur tol yang menuju arah Cikampek.Berimbas ke Jalan Arteri
Kemacetan parah di jalan tol tersebut berdampak pada padatnya jalan  arteri di Bekasi. Hal ini karena banyak pengendara roda empat memilih  keluar tol untuk kemudian mengambil alternatif ke jalan-jalan arteri.  Kondisi ini pun sempat di keluhkan Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi.  Pasalnya kemacetan yang bermula dari jalur tol menjalar ke wilayah mitra  DKI Jakarta tersebut. Wakil Wali Kota Bekasi Tri Adhianto mengatakan,  kemacetan yang terjadi karena wilayahnya sedang banyak pembangunan  proyek strategis nasional.
&amp;ldquo;Kemacetan di Kota Bekasi cukup signifikan dan tidak bisa  dihindarkan, karena setiap pembangunan berdampak pada kemacetan, apalagi  ada empat proyek strategis nasional yang sedang dikerjakan  berbarengan,&amp;rdquo; katanya. Dia mengakui, kendati kerap dilanda kemacetan,  pihaknya mendukung program pemerintah pusat. Tri juga mengaku, banyak  menampung keluhan masyarakat soal kemacetan yang terjadi di wilayahnya.  &amp;ldquo;Karena Bekasi itu strategis, jadi pembangunannya sangat pesat,&amp;rdquo;  ungkapnya. Untuk minimalisasi kemacetan di tol yang berimbas ke jalan  arteri, kata dia, pemerintah melalui Dinas Perhubungan melakukan  tindakan dengan mengoptimalkan jaringan ruas jalan yang kerap timbul  kemacetan.
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2018/07/19/51836/261746_medium.jpg&quot; alt=&quot;Pemasangan Steel Box Girder Jalan Tol Layang Jakarta-Cikampek II&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Bahkan pemerintah juga melakukan pelarangan terhadap kendaraan berat  lebih dari 8 ton dilarang melintas di jalan arteri Bekasi. Pengamat  transportasi Universitas Indonesia (UI) Tri Tjahyono menilai, pengerjaan  proyek di jalur tol Jakarta-Cikampek yang tak kunjung usai berdampak  pada kejenuhan pengendara. Kondisi ini tak jarang menyebabkan buruknya  sikap pengendara sehingga kerap terjadi aksi saling serobot jalur. &amp;ldquo;Ini  karena kapasitasnya jalan turun secara ekstrim. Saya yakin enggak ada  analisa dampak lalu lintas selama pembangunan,&amp;rdquo; katanya. Menurutnya,  kemacetan akibat proyek ini tidak ada solusinya selain segera  menyelesaikan pekerjaan tersebut. Seharusnya, kata dia, operator tol dan  kontraktor harus bekerja dengan orientasi prioritas lalu lintas dan  bukan proyek.
Tri menilai, proyek tersebut dikerjakan tanpa studi traffic  management selama masa konstruksi. Hal ini berbeda dengan proyek yang  dinilai cukup baik mengelola lalu lintas yakni pembangunan MRT Jakarta  terutama di kawasan Sudirman. &amp;ldquo;Analisis dampak lalu lintas selama  pembangunan harus dibuat dan ditaati,&amp;rdquo; tandasnya. Dia menyarankan,  sebaiknya pihak yang berkepentingan memberikan informasi mengenai jadwal  penyempitan jalan dengan baik, khususnya tol layang.Solusi Macet Lebaran
Terkait rencana pengaturan lalu lintas menjelang libur Lebaran akhir   Mei dan awal Juni mendatang, Jasa Marga telah menyiapkan sejumlah   langkah. Di antaranya memaksimalkan pelayanan transaksi dengan menggeser   Gerbang Tol (GT) dari arah Jakarta yakni Gerbang Tol Cikarang Utama di   kilo meter (KM) 29 ke KM 70. &amp;ldquo;Kenapa, karena GT Cikarang Utama se ka   rang sudah tidak representative lagi, akibat pembangunan   Jakarta-Cikampek (Japek) Ele vated,&amp;rdquo; ujar Corporate Communication   Department Head PT Jasa Marga (Persero) Tbk Irra Soenardi. Langkah lain   adalah dengan mengoptimalisasi kapasitas lajur, memperhatikan pelayanan   lalulintas serta menghentikan proyek konstruksi pada H- 10 Lebaran.
&amp;ldquo;Kita maksimalkan, zero portal, karena saat ada perbaikan jalan tak   mengganggu jalan dan tak mengganggu aktivitas konstruksi yang   berlangsung sebelum puncak mudik,&amp;rdquo; ungkapnya. Irra menambahkan, dari   sisi pengaturan layanan lalu lintas, Jasa Marga akan memberikan panduan   mengenai rest area yang tersedia. Diharapkan, masyarakat tidak terpaku   pada rest area yang tersedia di ruas tol, namun juga rest area yang ada   di luar tol namun tetap bisa terkoneksi ke jalur masuk tol.
&amp;ldquo;Makanya nanti akan kita terbitkan buku panduan yang di dalamnya ada   kuliner khas. Jadi tidak harus di area tol, tetapi Area Wisata lain di   luar tol. Jadi ketika mereka (pemudik) beristirahat di luar tol, bisa   kembali masuk ke jalur tol setelahnya. Tentu nilai lebihnya banyak,   kuliner khas dan area menarik lainnya,&amp;rdquo; pungkasnya.
(Ichsan Amin/Abdullah M Surjaya/R Ratna Purnama)</description><content:encoded>BEKASI - Horor kemacetan di jalur tol Jakarta- Cikampek akibat dampak sejumlah proyek infrastruktur belum juga bisa diatasi. Bahkan kondisinya kian parah. Hal ini dikhawatirkan berlanjut hingga masa liburan Lebaran nanti.
Sejumlah cara pun dilakukan untuk mengantisipasi kemacetan di jalur tol terpadat di Indonesia itu. Salah satunya adalah wacana penerapan ganjil-genap saat musim mudik Lebaran, akhir Mei hingga awal Juni mendatang. Pihak otoritas perhubungan dan kepolisian menyampaikan bahwa penerapan ganjil-genap di tol Jakarta-Cikampek memungkinkan dilakukan. Sementara pihak operator dalam hal ini PT Jasa Marga (Persero) Tbk, juga tidak keberatan apabila aturan tersebut di berlakukan. Corporate Communication Department Head PT Jasa Marga (Persero) Tbk Irra Soenardi mengatakan, wacana kebijakan ganjil-genap di ruas tol Jakarta-Cikampek bisa saja diimplementasikan. Namun, hal itu harus dikoordinasikan bersama banyak pihak seperti kepolisian, Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) serta Kementerian Per hubungan.
Baca Juga: BPJT Masih Optimistis Tol Layang Jakarta-Cikampek Difungsikan saat Lebaran
 
&amp;ldquo;Pada dasarnya kita siap saja mengikuti arahan dari pemerintah. Selama itu bisa mengurai kepadatan dan sesuai dengan arahan dari regulator jalan tol dan pihak terkait lainnya. Tapi ini belum ada omongan dan pemberitahuan,&amp;rdquo; ujar Irra di Jakarta kemarin. Dia menambahkan, Jasa Marga telah memiliki perencanaan sendiri guna mengatasi kepadatan di ruas tol Jakarta-Cikampek menjelang masa mudik Lebaran 2019. Menurutnya ada beberapa langkah yang akan dilakukan untuk mengantisipasi kemacetan, yakni peningkatan pelayanan transaksi, layanan lalu lintas, layanan konstruksi serta rest area. Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Budi Setiyadi mengatakan, akan membicarakan lebih lanjut rencana penerapan ganjil-genap di tol Jakarta-Cikampek saat musim libur Lebaran mendatang.
&amp;ldquo;Tapi itu hasil rapat terakhir dengan pihak Korlantas Polri. Kalau toh akan diterapkan, pastinya akan ada kajian terlebih da - hulu. Karena kita melihat juga kayaknya masih terlampau dini,&amp;rdquo; kata Budi di Jakarta kemarin. Dia menambahkan, pemerintah dalam hal ini Direktorat Per hubungan Darat Kemenhub telah membuat sejumlah alternatif mengantisipasi kepadatan pemudik roda empat di ruas tol. Di antaranya menerapkan contra flow, one way atau penerapan satu lajur dari dua lajur yang ada dengan waktu tertentu, pengalihan arus lalu lintas. Kementerian Perhubungan memprediksi, puncak arus mudik Lebaran tahun ini akan jatuh pada 31 Mei atau H-5 Lebaran, dengan perkiraan waktu ke berangkatan pukul 06.00 WIB hingga pukul 08.00 WIB. Akan tetapi untuk kondisi tertentu ada potensi puncak mudik juga terjadi lebih awal yakni pada 29 atau 30 Mei 2019. Adapun untuk puncak balik diprediksi jatuh pada 9 Juni atau H+3 lebaran.
&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2018/07/19/51836/261745_medium.jpg&quot; alt=&quot;Pemasangan Steel Box Girder Jalan Tol Layang Jakarta-Cikampek II&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Kami imbau juga, supaya masyarakat pemudik pengguna angkut an pribadi roda empat, supaya jangan terlalu bertumpu di jalur tol. Sebab, pilihan moda angkutan lain juga banyak, termasuk ketersediaan angkutan moda gratis bagi sepeda motor,&amp;rdquo; katanya. Diketahui, dalam dua tahun terakhir kemacetan di jalur tol Jakarta-Cikampek semakin menjadi-jadi sejak adanya proyek infrastruktur di wilayah itu. Setidaknya ada tiga proyek yang hingga saat ini masih berjalan, yakni tol Jakarta-Cikampek II Elevated, Light Rail Transit (LRT) dan Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Selain itu proyek lain yang sedang dikerjakan adalah pembangunan tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu). Kemacetan ini disebabkan volume kendaraan yang padat hampir di setiap waktu. Kondisi ini terjadi tidak hanya di pagi atau sore hari.
Bahkan kemacetan parah juga kerap terjadi saat libur akhir pekan atau libur nasional. Ini membuat waktu tempuh para pengendara menjadi lebih lama. Misalnya saja, waktu tempuh dari tol TB Simatupang ke Simpang Susun Cikunir yang normalnya hanya 30 menit, kini bisa satu jam lebih. Yang terbaru, kemacetan parah terjadi pada Selasa (9/4) lalu dan Rabu (10/4). Pada Selasa lalu, kemacetan disebabkan adanya truk yang mogok tak jauh dari gerbang tol Cikunir 2 menuju Rorotan arah Jakarta. Imbasnya, lalu lintas pun macet total hingga tiga jam, dam berdampak pada jalur-jalur tol Cikampek dan sekitarnya serta jalan arteri di wilayah Bekasi. Sementara itu kemarin, kemacetan terjadi karena penyempitan lajur tol yang menuju arah Cikampek.Berimbas ke Jalan Arteri
Kemacetan parah di jalan tol tersebut berdampak pada padatnya jalan  arteri di Bekasi. Hal ini karena banyak pengendara roda empat memilih  keluar tol untuk kemudian mengambil alternatif ke jalan-jalan arteri.  Kondisi ini pun sempat di keluhkan Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi.  Pasalnya kemacetan yang bermula dari jalur tol menjalar ke wilayah mitra  DKI Jakarta tersebut. Wakil Wali Kota Bekasi Tri Adhianto mengatakan,  kemacetan yang terjadi karena wilayahnya sedang banyak pembangunan  proyek strategis nasional.
&amp;ldquo;Kemacetan di Kota Bekasi cukup signifikan dan tidak bisa  dihindarkan, karena setiap pembangunan berdampak pada kemacetan, apalagi  ada empat proyek strategis nasional yang sedang dikerjakan  berbarengan,&amp;rdquo; katanya. Dia mengakui, kendati kerap dilanda kemacetan,  pihaknya mendukung program pemerintah pusat. Tri juga mengaku, banyak  menampung keluhan masyarakat soal kemacetan yang terjadi di wilayahnya.  &amp;ldquo;Karena Bekasi itu strategis, jadi pembangunannya sangat pesat,&amp;rdquo;  ungkapnya. Untuk minimalisasi kemacetan di tol yang berimbas ke jalan  arteri, kata dia, pemerintah melalui Dinas Perhubungan melakukan  tindakan dengan mengoptimalkan jaringan ruas jalan yang kerap timbul  kemacetan.
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2018/07/19/51836/261746_medium.jpg&quot; alt=&quot;Pemasangan Steel Box Girder Jalan Tol Layang Jakarta-Cikampek II&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Bahkan pemerintah juga melakukan pelarangan terhadap kendaraan berat  lebih dari 8 ton dilarang melintas di jalan arteri Bekasi. Pengamat  transportasi Universitas Indonesia (UI) Tri Tjahyono menilai, pengerjaan  proyek di jalur tol Jakarta-Cikampek yang tak kunjung usai berdampak  pada kejenuhan pengendara. Kondisi ini tak jarang menyebabkan buruknya  sikap pengendara sehingga kerap terjadi aksi saling serobot jalur. &amp;ldquo;Ini  karena kapasitasnya jalan turun secara ekstrim. Saya yakin enggak ada  analisa dampak lalu lintas selama pembangunan,&amp;rdquo; katanya. Menurutnya,  kemacetan akibat proyek ini tidak ada solusinya selain segera  menyelesaikan pekerjaan tersebut. Seharusnya, kata dia, operator tol dan  kontraktor harus bekerja dengan orientasi prioritas lalu lintas dan  bukan proyek.
Tri menilai, proyek tersebut dikerjakan tanpa studi traffic  management selama masa konstruksi. Hal ini berbeda dengan proyek yang  dinilai cukup baik mengelola lalu lintas yakni pembangunan MRT Jakarta  terutama di kawasan Sudirman. &amp;ldquo;Analisis dampak lalu lintas selama  pembangunan harus dibuat dan ditaati,&amp;rdquo; tandasnya. Dia menyarankan,  sebaiknya pihak yang berkepentingan memberikan informasi mengenai jadwal  penyempitan jalan dengan baik, khususnya tol layang.Solusi Macet Lebaran
Terkait rencana pengaturan lalu lintas menjelang libur Lebaran akhir   Mei dan awal Juni mendatang, Jasa Marga telah menyiapkan sejumlah   langkah. Di antaranya memaksimalkan pelayanan transaksi dengan menggeser   Gerbang Tol (GT) dari arah Jakarta yakni Gerbang Tol Cikarang Utama di   kilo meter (KM) 29 ke KM 70. &amp;ldquo;Kenapa, karena GT Cikarang Utama se ka   rang sudah tidak representative lagi, akibat pembangunan   Jakarta-Cikampek (Japek) Ele vated,&amp;rdquo; ujar Corporate Communication   Department Head PT Jasa Marga (Persero) Tbk Irra Soenardi. Langkah lain   adalah dengan mengoptimalisasi kapasitas lajur, memperhatikan pelayanan   lalulintas serta menghentikan proyek konstruksi pada H- 10 Lebaran.
&amp;ldquo;Kita maksimalkan, zero portal, karena saat ada perbaikan jalan tak   mengganggu jalan dan tak mengganggu aktivitas konstruksi yang   berlangsung sebelum puncak mudik,&amp;rdquo; ungkapnya. Irra menambahkan, dari   sisi pengaturan layanan lalu lintas, Jasa Marga akan memberikan panduan   mengenai rest area yang tersedia. Diharapkan, masyarakat tidak terpaku   pada rest area yang tersedia di ruas tol, namun juga rest area yang ada   di luar tol namun tetap bisa terkoneksi ke jalur masuk tol.
&amp;ldquo;Makanya nanti akan kita terbitkan buku panduan yang di dalamnya ada   kuliner khas. Jadi tidak harus di area tol, tetapi Area Wisata lain di   luar tol. Jadi ketika mereka (pemudik) beristirahat di luar tol, bisa   kembali masuk ke jalur tol setelahnya. Tentu nilai lebihnya banyak,   kuliner khas dan area menarik lainnya,&amp;rdquo; pungkasnya.
(Ichsan Amin/Abdullah M Surjaya/R Ratna Purnama)</content:encoded></item></channel></rss>
