<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Generasi Milenial Harus Mengerti Kebutuhan Kerja Masa Kini</title><description>Transaksi industri digital di Indonesia sudah USD27 miliar dan ditargetkan menembus USD100 miliar pada 2025</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/04/14/320/2043368/generasi-milenial-harus-mengerti-kebutuhan-kerja-masa-kini</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/04/14/320/2043368/generasi-milenial-harus-mengerti-kebutuhan-kerja-masa-kini"/><item><title>Generasi Milenial Harus Mengerti Kebutuhan Kerja Masa Kini</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/04/14/320/2043368/generasi-milenial-harus-mengerti-kebutuhan-kerja-masa-kini</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/04/14/320/2043368/generasi-milenial-harus-mengerti-kebutuhan-kerja-masa-kini</guid><pubDate>Minggu 14 April 2019 12:40 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/04/14/320/2043368/generasi-milenial-harus-mengerti-kebutuhan-kerja-masa-kini-KcekYz6zBK.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Foto Shutterstock</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/04/14/320/2043368/generasi-milenial-harus-mengerti-kebutuhan-kerja-masa-kini-KcekYz6zBK.jpg</image><title>Ilustrasi: Foto Shutterstock</title></images><description>JAKARTA - Revolusi industri 4.0 yang terjadi di dunia termasuk Indonesia memberi dampak besar bagi pertumbuhan ekonomi. Saat ini transaksi industri digital di Indonesia sudah USD27 miliar dan ditargetkan menembus USD100 miliar pada 2025.
Industri digital memang menjadi salah satu ujung tombak pertumbuhan ekonomi Indonesia, tapi kini memiliki masalah yang cukup memprihatinkan. Indonesia justru kekurangan talenta terbaik di bidang ini.
Indonesia boleh saja menjadi pengguna internet yang besar di dunia. Namun, sangat disayangkan ternyata tidak diikuti peningkatan jumlah profesional di sektor industri digital.
Hal ini dapat menjadi ancaman ekonomi digital Indonesia. Dengan demikian, dibutuhkan calon-calon talenta baru dari para generasi muda.
Ketua Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) Ignatius Untung menyatakan, kebutuhan tenaga kerja di bidang teknologi informasi (TI) di industri digital ratusan ribu. Sementara yang sudah terpenuhi baru 60-70%, sisanya perusahaan digital besar ataupun yang baru merintis masih mencari tenaga TI.
Baca Juga: ShopBack Dapat Suntikan Modal Rp643,5 Miliar
&amp;ldquo;Revolusi 4.0 ini membuat banyak disrupsi yang terjadi di banyak pekerjaan. Kami ingin mengenalkan kepada generasi milenial apa saja pekerjaan di masa depan yang tidak rentan karena sudah sesuai memenuhi kebutuhan pada era revolusi 4.0,&amp;rdquo; kata Untung di Jakarta akhir pekan ini.
Untung juga mengingatkan agar generasi muda segera mengembangkan diri sesuai kebutuhan masa kini yang condong pada sektor digital. Profesi seperti data analyst , SEO specialist , social media manager , product manager , database administrator , behavior scientist merupakan sejumlah pekerjaan pada industri digital sudah seharusnya mulai dilirik.

Pemerintah pun sepakat jika pekerjaan di industri digital harus terus dikenalkan kepada generasi muda untuk pilihan pekerjaan di masa depan. Asisten Deputi Pengembangan Ekonomi Kreatif, Kemenko Bidang Perekonomian, Mira Tayyiba mengapresiasi langkah mengedukasi masyarakat banyak potensi pekerjaan di industri digital.
Mira menjelaskan, pada 2019 pemerintah menerapkan sumber daya manusia (SDM) sebagai prioritas utama. Tidak lagi seperti dulu yang bergantung pada sumber daya alam. Harga komoditas di global yang fluktuatif dan terus terjadi perang dagang sering berdampak bagi perekonomian Indonesia.
Baca Juga: Peta Jalan E-Commerce Bakal Dorong Pertumbuhan Ekonomi
&amp;ldquo;Jumlah masyarakat produktif di Indonesia sampai 2065 berkisar 68% dari total masyarakat sehingga SDM paling berpotensi menjadi sumber pertumbuhan baru. Ke depannya ide, kreativitas, inovasi yang akan ditumbuhkan,&amp;rdquo; ujarnya.
Tantangan pemerintah kini menjamin SDM terutama mereka yang pekerjaannya terotomasi akibat revolusi 4.0. Bagi pekerja yang tidak kehilangan pekerjaan, mereka akan terus dikembangkan kapasitas agar relevan dengan masa depan.Pemerintah juga peka terhadap jenis pekerjaan baru, mengerti  kualifikasi pekerjaan tersebut sehingga dapat menyiapkan sistem  pendidikan yang menyesuaikan dengan kebutuhan industri digital. Mira  menyebut, pengangguran muda meningkat pada 2014-2018 salah satunya  karena tidak sesuainya lulusan SMK dan universitas dengan kebutuhan  industri.
Dia menilai yang harus diperbaiki segera ialah kurikulum yang cocok.  Anak muda harus punya soft skill seperti pemikiran logis, penyelesaian  masalah, gigih, dan terus ingin beradaptasi dengan segala perubahan.  &amp;ldquo;Soft skill itu sangat perlu, terutama logis.
Kurikulum teknologi informasi kompetensi bukan hanya bagaimana cara  menggunakan komputer, tapi dikenalkan coding . Anak SD dikenalkan coding  bisa dilatih berpikir ter struktur karena bahas pemrograman sangat  terstruktur,&amp;rdquo; ungkapnya.
Pemerintah memiliki program untuk talenta di industri digital dengan  road map kebijakan pengembangan vokasi di SMK. Kini sudah dilakukan  pilot project di sembilan daerah. Provinsi Jawa Timur, SMKN 4 Malang dan  SMKN 11 Malang dipilih menjadi pilot project pertama dalam pengembangan  SDM bidang ekonomi digital ini.
SMKN 4 dan 11 Malang sudah memiliki jurusanjurusan sejalan dengan  perkembangan tren global, seperti jurusan Animasi, Rekayasa Perangkat  Lunak, Teknik Komputer &amp;amp; Jaringan dan Mekatronik.
Talent digital dengan keahlian seperti desainer 3D, animator, front  end programmer, dan mobile application programmer, dapat dihasilkan dari  lulusan SMK. Selain program vokasi yang menjadi bagian dari  revitalisasi SMK, Mira juga menyebut dibutuhkan pola kerja sama seperti  magang di perusahaan digital.
&amp;ldquo;Industri sangat terbuka dengan magang namun ada keluhan dari mereka,  yakni waktu magang yang sebentar hanya tiga bulan. Untuk mengembangkan  pemrograman, paling tidak harus enam bulan,&amp;ldquo; ungkapnya.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui SMK  sebagai lembaga pendidikan yang langsung mencetak tenaga kerja mengaku  siap untuk masuk revolusi 4.0. Sebab, revitalisasi SMK telah dilakukan  sejumlah program dilakukan untuk menyesuaikan dengan kebutuhan industri  digital.Kepala Subdit Penyelarasan Kejuruan dan Kerja Sama Industri   Kemendikbud Saryadi Guyatno menjelaskan, jurusan ditambah di SMK yang   sesuai dengan sektor ekonomi digital. Jurusan tersebut adalah rekayasa   perangkat lunak, teknik komputer dan jaringan, multimedia, animasi, dan   bisnis daring jurusan yang disempurnakan agar sesuai dengan sektor   bisnis digital.
&amp;ldquo;Penyusunan kurikulum ditetapkan oleh industri kemudian masing-masing   sekolah diberi keleluasaan untuk penyesuaian. Namanya kurikulum   implementatif, disesuaikan oleh industri yang menjadi mitra,&amp;rdquo; ujarnya.
Di sektor konvensional, seperti Astra Honda Motor yang sudah menjadi   mitra di banyak SMK. Jadi, bengkel resmi mereka tidak pernah sulit   mencari tenaga kerja karena menyerap langsung dari SMK. Saryadi   menambahkan, di sektor digital baru satu perusahaan e-commerce yang   bermitra dengan SMK.
Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) juga tidak mau   kalah dalam menyiapkan talenta di dunia digital yang sangat berpotensi   bagi generasi muda. Staf khusus Menteri Komunikasi dan Informasi Lis   Sutjiati menjelaskan, pada 2030 akan ada 30 juta kebutuhan tenaga kerja   di bidang TI di Indonesia.
Sementara setiap tahunnya industri digital membutuhkan 600.000.   Kemenkominfo memiliki target untuk menghasilkan talenta digital pada   2019 sebanyak 20.000. Masih jauh dari kebutuhan, tapi harus dimulai dari   sekarang melalu beasiswa Digital Talent.
&amp;ldquo;Modelnya public private partnership . Kurikulumnya kami minta dari   mitra global yang memang merekrut tenaga digital, seperti IBM, Cisco,   dan AWS. Saat ini sudah bekerja sama dengan 28 universitas yang   menyediakan guru-gurunya,&amp;rdquo; ungkap Lis.
Lis menegaskan, program ini merupakan terobosan yang dilakukan   Kemenkominfo yang menghabiskan anggaran Rp7,5 miliar pada 2018 dan untuk   tahun ini meningkat menjadi Rp145 miliar. Berdialog dengan Kemendikbud   agar beasiswa ini dapat berjalan sesuai tujuan.
Berjalan sejak tahun lalu sudah menghasilkan 1.000 lulusan, target   20.000 orang tahun ini sehingga akan membuka pendaftaran hingga 25.000   orang. Idealnya pelajaran coding harus jadi kurikulum utama saat anak di   bangku SD.
&amp;ldquo;Menjadi pelajaran wajib seperti matematika, tapi tantangannya   menyiapkan guru yang dapat mengajar coding . Sistem sekarang masih   sulit, program ke depan bersama Kemendikbud diharapkan akan terwujud,&amp;rdquo;   ungkap Lis.</description><content:encoded>JAKARTA - Revolusi industri 4.0 yang terjadi di dunia termasuk Indonesia memberi dampak besar bagi pertumbuhan ekonomi. Saat ini transaksi industri digital di Indonesia sudah USD27 miliar dan ditargetkan menembus USD100 miliar pada 2025.
Industri digital memang menjadi salah satu ujung tombak pertumbuhan ekonomi Indonesia, tapi kini memiliki masalah yang cukup memprihatinkan. Indonesia justru kekurangan talenta terbaik di bidang ini.
Indonesia boleh saja menjadi pengguna internet yang besar di dunia. Namun, sangat disayangkan ternyata tidak diikuti peningkatan jumlah profesional di sektor industri digital.
Hal ini dapat menjadi ancaman ekonomi digital Indonesia. Dengan demikian, dibutuhkan calon-calon talenta baru dari para generasi muda.
Ketua Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) Ignatius Untung menyatakan, kebutuhan tenaga kerja di bidang teknologi informasi (TI) di industri digital ratusan ribu. Sementara yang sudah terpenuhi baru 60-70%, sisanya perusahaan digital besar ataupun yang baru merintis masih mencari tenaga TI.
Baca Juga: ShopBack Dapat Suntikan Modal Rp643,5 Miliar
&amp;ldquo;Revolusi 4.0 ini membuat banyak disrupsi yang terjadi di banyak pekerjaan. Kami ingin mengenalkan kepada generasi milenial apa saja pekerjaan di masa depan yang tidak rentan karena sudah sesuai memenuhi kebutuhan pada era revolusi 4.0,&amp;rdquo; kata Untung di Jakarta akhir pekan ini.
Untung juga mengingatkan agar generasi muda segera mengembangkan diri sesuai kebutuhan masa kini yang condong pada sektor digital. Profesi seperti data analyst , SEO specialist , social media manager , product manager , database administrator , behavior scientist merupakan sejumlah pekerjaan pada industri digital sudah seharusnya mulai dilirik.

Pemerintah pun sepakat jika pekerjaan di industri digital harus terus dikenalkan kepada generasi muda untuk pilihan pekerjaan di masa depan. Asisten Deputi Pengembangan Ekonomi Kreatif, Kemenko Bidang Perekonomian, Mira Tayyiba mengapresiasi langkah mengedukasi masyarakat banyak potensi pekerjaan di industri digital.
Mira menjelaskan, pada 2019 pemerintah menerapkan sumber daya manusia (SDM) sebagai prioritas utama. Tidak lagi seperti dulu yang bergantung pada sumber daya alam. Harga komoditas di global yang fluktuatif dan terus terjadi perang dagang sering berdampak bagi perekonomian Indonesia.
Baca Juga: Peta Jalan E-Commerce Bakal Dorong Pertumbuhan Ekonomi
&amp;ldquo;Jumlah masyarakat produktif di Indonesia sampai 2065 berkisar 68% dari total masyarakat sehingga SDM paling berpotensi menjadi sumber pertumbuhan baru. Ke depannya ide, kreativitas, inovasi yang akan ditumbuhkan,&amp;rdquo; ujarnya.
Tantangan pemerintah kini menjamin SDM terutama mereka yang pekerjaannya terotomasi akibat revolusi 4.0. Bagi pekerja yang tidak kehilangan pekerjaan, mereka akan terus dikembangkan kapasitas agar relevan dengan masa depan.Pemerintah juga peka terhadap jenis pekerjaan baru, mengerti  kualifikasi pekerjaan tersebut sehingga dapat menyiapkan sistem  pendidikan yang menyesuaikan dengan kebutuhan industri digital. Mira  menyebut, pengangguran muda meningkat pada 2014-2018 salah satunya  karena tidak sesuainya lulusan SMK dan universitas dengan kebutuhan  industri.
Dia menilai yang harus diperbaiki segera ialah kurikulum yang cocok.  Anak muda harus punya soft skill seperti pemikiran logis, penyelesaian  masalah, gigih, dan terus ingin beradaptasi dengan segala perubahan.  &amp;ldquo;Soft skill itu sangat perlu, terutama logis.
Kurikulum teknologi informasi kompetensi bukan hanya bagaimana cara  menggunakan komputer, tapi dikenalkan coding . Anak SD dikenalkan coding  bisa dilatih berpikir ter struktur karena bahas pemrograman sangat  terstruktur,&amp;rdquo; ungkapnya.
Pemerintah memiliki program untuk talenta di industri digital dengan  road map kebijakan pengembangan vokasi di SMK. Kini sudah dilakukan  pilot project di sembilan daerah. Provinsi Jawa Timur, SMKN 4 Malang dan  SMKN 11 Malang dipilih menjadi pilot project pertama dalam pengembangan  SDM bidang ekonomi digital ini.
SMKN 4 dan 11 Malang sudah memiliki jurusanjurusan sejalan dengan  perkembangan tren global, seperti jurusan Animasi, Rekayasa Perangkat  Lunak, Teknik Komputer &amp;amp; Jaringan dan Mekatronik.
Talent digital dengan keahlian seperti desainer 3D, animator, front  end programmer, dan mobile application programmer, dapat dihasilkan dari  lulusan SMK. Selain program vokasi yang menjadi bagian dari  revitalisasi SMK, Mira juga menyebut dibutuhkan pola kerja sama seperti  magang di perusahaan digital.
&amp;ldquo;Industri sangat terbuka dengan magang namun ada keluhan dari mereka,  yakni waktu magang yang sebentar hanya tiga bulan. Untuk mengembangkan  pemrograman, paling tidak harus enam bulan,&amp;ldquo; ungkapnya.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui SMK  sebagai lembaga pendidikan yang langsung mencetak tenaga kerja mengaku  siap untuk masuk revolusi 4.0. Sebab, revitalisasi SMK telah dilakukan  sejumlah program dilakukan untuk menyesuaikan dengan kebutuhan industri  digital.Kepala Subdit Penyelarasan Kejuruan dan Kerja Sama Industri   Kemendikbud Saryadi Guyatno menjelaskan, jurusan ditambah di SMK yang   sesuai dengan sektor ekonomi digital. Jurusan tersebut adalah rekayasa   perangkat lunak, teknik komputer dan jaringan, multimedia, animasi, dan   bisnis daring jurusan yang disempurnakan agar sesuai dengan sektor   bisnis digital.
&amp;ldquo;Penyusunan kurikulum ditetapkan oleh industri kemudian masing-masing   sekolah diberi keleluasaan untuk penyesuaian. Namanya kurikulum   implementatif, disesuaikan oleh industri yang menjadi mitra,&amp;rdquo; ujarnya.
Di sektor konvensional, seperti Astra Honda Motor yang sudah menjadi   mitra di banyak SMK. Jadi, bengkel resmi mereka tidak pernah sulit   mencari tenaga kerja karena menyerap langsung dari SMK. Saryadi   menambahkan, di sektor digital baru satu perusahaan e-commerce yang   bermitra dengan SMK.
Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) juga tidak mau   kalah dalam menyiapkan talenta di dunia digital yang sangat berpotensi   bagi generasi muda. Staf khusus Menteri Komunikasi dan Informasi Lis   Sutjiati menjelaskan, pada 2030 akan ada 30 juta kebutuhan tenaga kerja   di bidang TI di Indonesia.
Sementara setiap tahunnya industri digital membutuhkan 600.000.   Kemenkominfo memiliki target untuk menghasilkan talenta digital pada   2019 sebanyak 20.000. Masih jauh dari kebutuhan, tapi harus dimulai dari   sekarang melalu beasiswa Digital Talent.
&amp;ldquo;Modelnya public private partnership . Kurikulumnya kami minta dari   mitra global yang memang merekrut tenaga digital, seperti IBM, Cisco,   dan AWS. Saat ini sudah bekerja sama dengan 28 universitas yang   menyediakan guru-gurunya,&amp;rdquo; ungkap Lis.
Lis menegaskan, program ini merupakan terobosan yang dilakukan   Kemenkominfo yang menghabiskan anggaran Rp7,5 miliar pada 2018 dan untuk   tahun ini meningkat menjadi Rp145 miliar. Berdialog dengan Kemendikbud   agar beasiswa ini dapat berjalan sesuai tujuan.
Berjalan sejak tahun lalu sudah menghasilkan 1.000 lulusan, target   20.000 orang tahun ini sehingga akan membuka pendaftaran hingga 25.000   orang. Idealnya pelajaran coding harus jadi kurikulum utama saat anak di   bangku SD.
&amp;ldquo;Menjadi pelajaran wajib seperti matematika, tapi tantangannya   menyiapkan guru yang dapat mengajar coding . Sistem sekarang masih   sulit, program ke depan bersama Kemendikbud diharapkan akan terwujud,&amp;rdquo;   ungkap Lis.</content:encoded></item></channel></rss>
